Mudah lelah menjadi gejala awal sindrom Sjogren | Freepik
27 Oct 2020, 04:37 WIB

Apa Itu Sindrom Sjogren?

Gejala mata kering dan mudah lelah menjadi awal tanda sindrom Sjogren.

Sejak 2012, Yennel S Suzia, MSc merasakan sejumlah gejala yang ringan namun terasa mengganggu. Satu di antara gejala tersebut adalah mulut kering. Saat itu sepanjang perjalanan menuju kantor di wilayah Kebayoran, Jakarta Selatan, dari tempat tinggalnya di Bekasi, Jawa Barat, ia bisa menghabiskan dua sampai tiga botol air minum atau sekitar satu sampai dua liter.

Tapi kala itu, ia tidak menyadari gejala tersebut. “Saya tidak pernah diskusikan juga ke dokter,” ungkapnya dalam acara Media Webinar Vitamin D3 Series: Kenali Sjogren’s Syndrome: Penyakit Autoimun Yang Sering Tidak Terdiagnosis, Kamis (6/8).

Hingga akhirnya ia sering merasakan nyeri dan lemas. Akhirnya ia konsultasi ke dokter saraf. Dia lantas diminta melakukan pemeriksaan seperti cek darah dan pemeriksaan lainnya. Saat itu dokter hanya mengatakan tidak terlalu bermasalah dan menyebutkan Yennel terlalu stres.

Berselang tiga tahun setelah gejala awal itu, ketika kembali dari luar negeri karena urusan pekerjaan, tiba-tiba ia pingsan tak sadarkan diri dan masuk rumah sakit. Namun begitu sadar, keesokan harinya ia memaksakan untuk kembali berangkat kerja. Sayangnya, malam setelah pulang kerja, ia kembali pingsan dan dibawa ke RSCM. Bahkan saat itu, ia mengalami kelumpuhan dan tidak bisa berjalan.

Ia akhirnya menjalani pemeriksaan intensif  dan harus menempuh  beberapa tes termasuk pengecekan autoimun. Setelah diperiksa dokter selama satu sampai dua minggu, ternyata tidak ada masalah apa pun. Akan tetapi, setelah bertemu seorang dokter, baru ketahuan ia menderita sindrom Sjogren. “Akhirnya saya diberitahu dokter bahwa saya menderita Sjogren’s syndrome,” ungkapnya.

Sindrom ini mengakibatkan mulutnya kering, mata kering dan badan terasa sakit.Setelah berkonsultasi, dokter menyarankan agar rutin mengonsumsi vitamin D dosis tinggi, serta menerapkan pola hidup sehat dan seimbang. “Sindrom ini tidak membuat saya putus asa dan tetap semangat menjalani kehidupan dengan motivasi dan kegiatan positif,” ujarnya.

Penyakit autoimun

Dewan Pembina Yayasan Sjogren’s Syndrome Indonesia, Dr dr Alvina Widhani, SpPD, K-AI, mengatakan masih banyak orang belum familier dengan penyakit ini. Ia menjelaskan sindrom Sjogren merupakan salah satu penyakit autoimun yang bersifat kronik dan sistemik. Inilah penyakit yang muncul ketika ada gangguan dari sistem kekebalan tubuh kita.

Ia memaparkan sistem kekebalan tubuh yang harusnya digunakan untuk menyerang bakteri, virus, atau parasit dari luar, ternyata tidak bisa berfungsi dengan baik. Sistem kekebalan tubuh ini justru malah menyerang sel tubuh sendiri.  Sel tubuh yang seharusnya dikenali sebagai teman, tapi malah justru dianggap sebagai musuh dan dihancurkan oleh kekebalan tubuh yang tidak bisa berfungsi dengan baik.

Sjogren’s syndrome sifatnya kronik, terjadi bisa jangka panjang pada seseorang. Dan sifatnya sistemik seperti lupus. Sistemik berarti bisa mengenai berbagai organ,” ujar perwakilan Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM/RSUI tersebut.

Ia menambahkan saat ini prevalensi sindrom Sjogren di Indonesia belum diketahui, kemungkinan karena penyakit ini memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain sehingga menyulitkan diagnosis. Gejala juga dapat muncul tidak dalam satu waktu sehingga pasien kadang tidak menyadari dan tidak menganggapnya sebagai suatu masalah yang perlu diobati.

Padahal penyakit ini seperti penyakit autoimun lain dan berbagai penyakit kronik lain yang bisa muncul pada seseorang, karena ada interaksi berbagai faktor. Faktor itu di antaranya adalah faktor predisposisi secara genetik pada seseorang atau dia sudah memiliki genetik tertentu yang menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuhnya.

Sedangkan faktor pencetusnya bisa beragam, sehingga sulit menentukan mana faktor yang lebih dominan menjadi pemcetus. Dari berbagai penelitian diketahui ada peran dari faktor lingkungan, hormonal dan stres. “Seringkali baru muncul atau makin berat ketika mengalami stres yang cukup berat dan cukup lama,” ujarnya.

 

 
Seringkali baru muncul atau makin berat ketika mengalami stres yang cukup berat dan cukup lama.
Dr dr Alvina Widhani, SpPD, K-AI
 

 

Faktor lingkungan yang berperan di antaranya faktor infeksi virus, yaitu faktor yang muncul setelah terinfeksi virus tertentu. Penggunaan bahan seperti silikon juga mampu menjadi pencetus. Selain itu, polusi, ketidakseimbangan mikrobiota dalam saluran cerna, hingga hormon dapat pula masuk dalam daftar pencetus.

Sebagian besar pasien sindrom Sjogren ini perempuan. Sama seperti kebanyakan penyakit autoimun lain seperti lupus yang penderitanya hampir 90 persen adalah perempuan. Berbeda dengan lupus yang biasa  ditemukan pada perempuan yang lebih muda, sindrom Sjogren umumnya ditemukan pada perempuan berusia 40 tahun ke atas. Kendati begitu, tak menutup kemudian, ada pasien yang terdiagnosis penyakit ini yang berusia lebih muda. ‘’Tapi memang jumlahnya lebih meningkat seiring bertambahnya umur seseorang,” jelasnya.

 

 

photo
Mudah lelah menjadi gejala awal sindrom Sjogren - (Pixabay)

 

Menyerang Kelenjar

Istilah sindrom Sjogren pertama kali dimunculkan karena ada seorang dokter spesialis mata. Karena memang keluhannya lebih banyak ke arah mata yang kering karena kelenjar air mata tidak dapat berfungsi dengan baik. Istilah ini diambil dari nama dokter Henrik Sjogren.

Dia menemukan bahwa ada pasien memiliki berbagai gejala sebagai suatu sindrom. Saat itu ditemukan bahwa ternyata ada kekeringan dari air mata, kemudian kekeringan mulut dan bisa ditemukan adanya pembesaran pada kelenjar pada bagian leher.

Secara khas, penyakit ini menyerang bagian kelenjar seperti kelenjar air liur, kelenjar air mata, dan kelenjar keringat. Kelenjar tersebut tidak bisa berfungsi dengan baik. Akibatnya, berbagai keluhan muncul seperti mata kering, mulut kering serta kulit kering.

“Ini menjadi awal munculnya gejala. Hanya sering kali tidak disadari karena menganggap kulit kering adalah hal biasa. Mungkin karena bertambah usia, maka kulit kering. Mata kering juga tidak terlalu dirasa, kadang mata berpasir atau mata terasa gatal juga dianggap biasa,” ungkap Dewan Pembina Yayasan Sjogren’s Syndrome Indonesia, Dr dr Alvina Widhani, SpPD, K-AI.

Gejala penyakit ini juga mirip dengan keluhan penyakit lain. Misalnya mulut kering juga bisa disebabkan oleh penyebab lain, karena itu sering kali membuat penyakit ini lambat terdiagnosis. “Sering kali karena memang gejalanya itu awalnya beragam, seperti gejala mata kering dulu, (maka penyakitnya) belum dirasakan,'' ujar Alvina.

Selanjutnya, ketika muncul gejala lain, ada gangguan pada saraf, memori, konsentrasi atau keluhan pada paru dan saluran cerna, barulah pasien mencari pengobatan ke rumah sakit atau dokter. “Sehingga sering menyebabkan diagnosis ini menjadi terlambat,” paparnya.

Untuk penyembuhan, asupan vitamin D pun menjadi unsur krusial. Maka, menurut Alvina,  kita perlu memeriksa apakah orang tersebut memiliki kadar vitamin D yang cukup dalam darahnya. Bila rendah, maka kondisi ini perlu diperbaiki, baik dengan asupan makanan atau paparan matahari.

 

 

 

 

 

 


,
×