Warga berjalan di antara tentara yang menegakkan protokol Covid-19 di Bogota, Columbia, Senin (13/7). WHO menilai banyak negara salah arah dalam menangani pandemi. | Fernando Vergara/AP

Internasional

WHO: Banyak Negara Salah Arah Tangani Pandemi

Hong Kong akan memberlakukan kebijakan paling ketat selama pandemi.

JENEWA -- Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan banyak negara yang salah arah dalam penanganan pandemi Covid-19. Dia menyoroti tentang tak dipatuhinya tindakan pencegahan kesehatan dasar.

"Biarkan saya berterus terang, terlalu banyak negara yang salah arah, padahal virus tetap menjadi musuh publik nomor satu," kata Ghebreyesus pada Senin (13/7). 

Dalam briefing di Jenewa Ghebreyesus mengatakan, terlalu banyak pesan yang berbeda-beda dari para pemimpin sehingga merusak kepercayaan publik dalam upaya untuk mengendalikan pandemi. Menurutnya, virus korona jenis baru atau Covid-19 masih tetap menjadi musuh nomor satu. 

 "Kasus meningkat di mana langkah-langkah (pedoman kesehatan) terbukti tidak diadopsi atau diikuti," ujar Ghebreyesus, dilansir BBC, Selasa (14/7). 

Namun, saat ini banyak orang maupun negara yang mengabaikannya. Selain itu, protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO untuk mencegah penyebaran Covid-19 mulai banyak dilanggar. Misalnya, katanya, mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak. Ghebreyesus memperingatkan, jika situasi ini terus berlanjut maka kehidupan tidak akan kembali lagi menjadi normal di masa mendatang.

Direktur Kedaruratan WHO, Mike Ryan mengatakan, pelonggaran lockdown yang terlalu cepat di sejumlah negara membuat kasus infeksi virus korona melonjak tajam. Dia mencontohkan, pelonggaran pembatasan di Amerika Serikat (AS) telah menyebabkan lonjakan kasus di sejumlah negara bagian. 

Menurut penghitungan yang dilakukan Reuters, kasus Covid-19 global bertambah sebanyak satu juta hanya dalam lima hari. Hal itu membuat kasus virus korona global menembus angka 13 juta. Sementara jumlah korban meninggal melampaui 571 ribu jiwa. AS, India, dan Brasil merupakan negara-negara yang melaporkan kasus harian dengan jumlah tertinggi. 

Sementara itu mulai Selasa malam Hong Kong akan memberlakukan langkah-langkah pembatasan sosial yang paling ketat yang pernah dilakukan sejak pandemi. Langkah-langkah jarak sosial yang baru membuat masker menjadi benda wajib untuk orang yang menggunakan transportasi umum. Restoran tidak akan lagi menyediakan layanan makan di tempat dan hanya menawarkan opsi pesan antar setelah pukul 18.00 waktu setempat. Kedua aturan ini sebelumnya tidak diterapkan selama gelombang pertama dan kedua kota awal tahun ini. Jika seseorang tidak mengenakan masker di transportasi umum, mereka menghadapi denda 5.000 dolar HK. 

Kepala Eksekutif, Carrie Lam, mengatakan pemerintah akan membatasi pertemuan kelompok hanya untuk empat orang yang sebelumnya hingga 50. Sebanyak 12 jenis tempat usaha, termasuk pusat kebugaran dan tempat hiburan juga harus ditutup selama sepekan. 

photo
Pengunjuk rasa prodemokrasi melakukan aksi mengenakan masker di Kowloon, Hong Kong, Senin (13/7).  - (EPA-EFE/JEROME FAVRE)

Sementara  Uni Emirat Arab (UEA) akan menguji dua kandidat vaksin Covid-19 yang dikembangkannya pada manusia. Lebih dari 15 ribu sukarelawan bersedia berpartisipasi dalam proses tersebut.  

Asal usul korona

Dua pakar WHO memulai penyelidikan asal-usul virus korona baru penyebab Covid-19. "Dua ahli WHO telah tiba di Cina. Konsensus dasar antara Cina dan WHO adalah bahwa pelacakan virus adalah masalah ilmiah yang harus dipelajari oleh para ilmuwan melalui penelitian serta kerja sama internasional di seluruh dunia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Hua Chunying pada Senin, dikutip laman resmi Kemlu Cina.  

Namun Hua mengaku belum memperoleh informasi mendetail tentang kunjungan dua pakar WHO, termasuk perihal siapa saja ahli dan ilmuwan Cina yang mereka temui. "Apa yang dapat saya katakan adalah bahwa para pakar WHO memang ada di Cina sekarang setelah konsultasi antara kedua belah pihak," ujarnya.

Pada akhir Juni lalu, WHO mengumumkan akan mengutus tim ke Cina untuk menyelidiki asal-usul virus korona. AS, Australia, dan beberapa negara lain telah menyerukan dilakukannya penyelidikan independen tentang asal-usul virus korona. 

Kebijakan Saudi

Sementara, Kementerian Urusan Islam Arab Saudi pada Senin (13/7) mengumumkan, sholat Idul Adha hanya dilakukan di masjid dan tidak wilayah yang terbuka. Hanya masjid-masjid yang telah disetujui saja yang dapat melaksanakan solat di dalam ruangan. 

photo
Seorang pria memakai masker saat melewati mural Raja Salman di Saudi Arabia, Ahad (28/6). - (AP/Amr Nabil)

AlArabiya melaporkan, Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan, Sheikh Abdullatif Al-Sheikh, menginstruksikan kantor cabang di semua wilayah Arab Saudi untuk menyetujui diadakannya shalat Idul Adha hanya di masjid-masjid besar dan sedang. Tempat ini akan menjadi tempat untuk menampung jamaah melakukan ibadah ketika virus korona masih menyebar di negara tersebut. 

Untuk merealisasikan perintah tersebut, kementerian terkait telah mengintensifkan upayanya dalam beberapa pekan terakhir. Dengan memanfaatkan berbagai macam media, pemerintah telah berupaya meningkatkan kesadaran mengikuti langkah-langkah kesehatan dan protokol yang masih berlaku. 

Sebelum persiapan kali ini, pemerintah Arab Saudi telah meniadakan penyelenggara sholat Idul Fitri pada Mei lalu. Warga diminta untuk melakukan kegiatan ibadah di rumah karena seluruh masjid tutup akibat pandemi virus korona. 

Arab Saudi membuka kembali masjid pada 31 Mei setelah pembatasan perlahan-lahan dicabut di seluruh wilayah Kerajaan. Keputusan untuk membuka kembali masjid datang sebagai bagian dari rencana bertahap pemerintah untuk meredakan pembatasan virus korona dan kembali ke kondisi normal. 

Sejak pembukaan kembali masjid, 90.000 masjid telah didesinfeksi dan dipersiapkan untuk menyambut kembali jamaah yang ingin beribadah.. Dikutip dari Alarabiya, hari Idul Adha diperkirakan akan jatuh pada 31 Juli. Perkiraan ini telah disampaikan langsung oleh anggota Persatuan Ilmu Ilmu Astronomi dan Antariksa Arab pada bulan lalu. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat