Warga mengeluakan roti isi keju dari oven untuk dijual melalui media sosial, di Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu (6/5/2020). Perlu kesabaran dan ketekunan dalam bisnis rumahan saat pandemi Covid-19. | Prasetia Fauzani/ANTARA FOTO
26 Nov 2020, 02:12 WIB

Nasib Bisnis Rumahan di Tengah Pandemi

Perlu strategi yang sabar dan tekun dalam menjalani bisnis rumahan saat pandemi Covid-19.

OLEH DESY SUSILAWATI 

Omzet penjualan Jamila Puspita Dewi (38 tahun) menurun drastis. Dia biasa berdagang baju Muslim di pusat grosir pasar Jatinegara-Mester, Jakarta. Penurunan tersebut dia rasakan sejak pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada April 2020 akibat pandemi Covid-19.

"Ya, pada masa pandemi ini, penjualan sangat menurun drastis hingga 90 persen," ujarnya kepada Republika, beberapa waktu lalu. Dia mencontohkan, pada bulan puasa tahun-tahun lalu, bisa mengantongi pendapatan Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per hari.

"Namun, pada masa pandemi ini paling hanya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 5 juta per hari," kata dia. Selama PSBB, dia terpaksa menutup tokonya dan mengalihkan semua penjualan secara daring. Perempuan yang akrab disapa Mila ini memanfaat kan media sosial Instagram @mila_grosirbaju ataupun lewat aplikasi pesan singkat Whatsapp.

Terkait

Salah satu strategi yang dia lakukan agar tidak kehilangan pelanggan adalah dengan menjaga kepercayaan pelanggan kepadanya. Misalnya, dengan memberikan pelayanan yang baik seperti menjawab pertanyaan pelanggan lewat aplikasi pesan dengan baik dan sabar.

Dia pun tidak menunda pengiriman barang yang sudah dipesan dan dibayar pelanggan. "Pelanggan yang order dan sudah melakukan pembayaran, barang langsung kami kirim hari itu juga sesuai dengan tanggal transfer," ujarnya.

Untuk pengiriman dalam kota, pembayaran bisa dilakukan di tempat. Sementara, untuk pengiriman luar kota dikirim melalui jasa pengiriman.

Mila sudah mulai berjualan sejak 2008. Dia biasa menjual gamis dewasa dan gamis remaja untuk usia 12 sampai 17 tahun. Barang-barang ini biasanya banyak dicari pelanggan, apalagi pada bulan puasa menjelang Lebaran.

Banjir pesanan

Hal sebaliknya dirasakan Nur Hanifah, penjual makanan rumahan. Menurut dia, saat pandemi justru banyak orang memesan makanan. Apalagi, saat bulan puasa tiba, dia justru kebanjiran pesanan.

Perempuan yang akrab disapa Hanoy ini berjualan makanan yang biasa dijadikan takjil. Mulai dari lopis, lontong, bihun, tahu sakura, pastel, hingga paket camilan dan kue Lebaran dengan merek Adellie Cake pun dia jual.

Hanoy menjajakan dagangannya via Whatsapp. Dia bercerita, saat memasuki bulan Ramadhan beberapa waktu lalu, banyak pelanggan yang mencari takjil dan kue kering untuk Lebaran. Meski omzetnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, dia tetap bersyukur. "Semoga pejuang receh seperti saya selalu semangat, jangan putus asa terus berusaha sabar dan ikhlas," ujar perempuan kelahiran Jakarta, 9 Mei 1989 ini.

 
Semoga pejuang receh seperti saya selalu semangat, jangan putus asa terus berusaha sabar dan ikhlas.
 
 

Sebagai strategi pemasaran, dia memberikan penawaran menarik untuk produk-produknya seperti gratis ongkos kirim, harga terjangkau, dan kualitas rasa yang enak. Hanoy mulai berjualan kecil-kecilan sejak 2012. Kala itu, dia resmi menjadi ibu tinggal. Dia berusaha keras mencari pemasukan untuknya dan anak semata wayangnya.

Dia memutuskan untuk menjalankan bisnis rumahan supaya bisa sambil menjaga bayinya. Awal mencoba berdagang, pembeli hanya satu hingga dua orang. Tanpa putus asa dan menyerah, dia meyakinkan diri untuk mencoba belajar tentang bagaimana cara berjualan yang asyik.

Saat pertama kali berjualan, dia pernah mengalami kegagalan. Namun, karena hobi berjualan, dia berusaha lagi untuk bisa menarik minat pelanggan, berusaha meyakinkan pelanggan bahwa jajanan yang dia jual aman, enak, dan sehat.

"Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk mencari rezeki lewat berjualan walau belum besar usahanya, tapi tetap senang," kata Hanoy.

Delicia Amanda (35 tahun) merupakan salah satu orang yang senang berbelanja daring saat pandemi. Dia memilih memesan makanan maupun barang secara daring untuk mengurangi aktivitasnya keluar rumah.

Dia merasa dimudahkan dengan pembelian daring, baik itu memesan dari temannya yang berjualan rumahan maupun dari platform niaga daring. Tinggal memesan makanan atau barang yang diinginkan, dan membayar lewat transfer bank, maka barang diantar ke rumah, entah oleh si penjual langsung atau melalui jasa pengiriman.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Sekali2 ownernua mejeng ya


,
×