Suasana area Banten Lama | ANTARA FOTO

Nusantara

28 May 2020, 01:04 WIB

Pandemi tak Surutkan Angka Pengunjung Banten Lama

Para pengunjung banten lama datang melalui jalan-jalan tikus sehingga luput pengawasan petugas.

Tujuan wisata religi Banten Lama di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, tetap ramai dikunjungi para peziarah seusai Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriyah meski dalam kondisi pandemi Covid-19. Ribuan orang diperkirakan mendatangi lokasi yang terdapat di Masjid Agung Banten dan makam Sultan Maulana Hasanuddin itu. 

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang menyatakan, belum mencabut larangan aktivitas wisata di lokasi wisata tersebut dan mengingatkan pengelola ataupun masyarakat tetap menaati peraturan. Kepala Dinas Pemuda Dan Olahraga (Disparpora) Kota Serang, Akhmad Zubaidillah, mengatakan, ramainya peziarah yang mendatangi situs Banten Lama memang tidak bisa dibendung. 

Para peziarah datang melalui jalan-jalan tikus sehingga luput pengawasan petugas. Padahal, pihaknya juga sudah mengeluarkan surat edaran untuk manajemen kenaziran di lokasi Banten Lama untuk melarang membuka aktivitas ziarah sampai waktu yang belum ditentukan. "Masih kita dalami ini orang luar atau warga Kota Serang yang mungkin sudah jenuh dalam situasi sekarang ini sehingga menerobos masuk," ujar Zubaidillah menjelaskan saat dikonfirmasi, Rabu (27/5).

Menurut dia, petugas gabungan terdiri atas Satpol PP, kepolisian, dan TNI terus melakukan sosialisasi dan pencegahan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas wisata. Sayangnya, masyarakat seolah tidak mengindahkan imbauan tersebut. "Memang sebenarnya Banten Lama kalau setiap habis Lebaran pasti penuh orang berziarah di sana. Kalau bukan karena Covid-19, bisa lebih dari yang terjadi sekarang," ucap Zubaidillah.

Sebagai solusinya, Zubaidillah telah meminta pengelola situs Banten Lama agar tidak memberikan pelayanan lagi bagi peziarah yang datang ke makam para sultan Banten tersebut. Dia menyebut, masyarakat sebenarnya tetap berdatangan ke Banten Lama karena ada yang melayani aktivitas ziarah. Dia memastikan, kalau pengelola tertib dan mengabaikan layanan ziarah, pasti pengunjung akan langsung pulang. "Tapi, karena ada yang melayani, memimpin kegiatan ziarah, jadi peziarah tetap datang," kata dia.

photo
Ilustrasi keramaian di area Banten Lama - (ANTARA FOTO)

Hingga kini sebenarnya sudah banyak pengelola tempat wisata di Kota Serang yang meminta agar larangan aktivitas berkunjung untuk dicabut. Namun, pihaknya tidak dapat memenuhi tuntutan itu. Pasalnya, selama pandemi Covid-19 belum berlalu, kegiatan wisata yang menciptakan kerumunan manusia tetap dilarang. "Kita kan melihat situasi Covid-19 di tingkat nasional dan kota. Sempat kemarin secara nasional angka positif korona hampir 1.000 dalam sehari, kalau kita buka kegiatan wisata, saya khawatir angkanya bisa lebih besar," ujarnya.

Kabid Destinasi Pariwisata Dispar Banten, Paundra Bayyu Ajie, mengakui, kondisi pariwisata di wilayahnya selama masa Covid-19 membuat para pengelola wisata berada dalam situasi sulit. Dia memahami kerugian yang didapat para pengelola wisata karena mereka sudah terpukul sejak 2019 pascabencana tsunami Pandeglang. Paundra hanya bisa merasakan keprihatinan yang sama, tetapi tetap tegas tak bisa berkompromi memberikan izin pembukaan lokasi wisata. "Contohnya di Pandeglang saja, banyak pengelola destinasi yang akhirnya kucing-kucingan membuka, padahal masih dilarang oleh pemerintah di sana," kata Paundra.

Sebenarnya kasus pengunjung mendatangi tempat wisata tidak hanya terjadi di kawasan Banten Lama. Hal itu juga terpantau terjadi di beberapa lokasi wisata, seperti di Pulau Cangkir di Kabupaten Tangerang. Bahkan, dia menambahkan, Muspika Kabupaten Tangerang sampai turun ke lapangan menghalau wisatawan untuk pergi meninggalkan lokasi demi mencegah penyebaran Covid-19. "Tapi, harus berhadapan dengan pedagang dan wisatawan yang meminta untuk dibuka," ujar Paundra.

Pihaknya pun hanya bisa mengingatkan masyarakat yang bandel untuk tertib mematuhi anjuran pemerintah dengan menunda mengunjungi tempat wisata sampai pandemi Covid-19 berlalu. Menurut Paundra, selama masyarakat masih ada yang membandel, konsekuensinya orang yang terjangkit virus korona semakin banyak. Kalau hal itu terjadi, penutupan tempat wisata semakin lama dan kerugian yang ditanggung banyak pihak semakin besar.

Untuk itu, satu-satunya cara agar situasi kembali normal adalah masyarakat tetap di rumah dengan harapan pandemi segera berakhir. "Penutupan ini tidak selamanya, justru kalau angka orang terjangkit korona semakin meninggi, maka kita akan semakin lama menikmati wisata," ujar Paundra. 

 

Makam ramai

makam yang dipenuhi warga ialah tempat pemakaman warga Kampung Cadas dan Lebak, Kabupaten Tangerang, Banten. "Kan niatnya baik ya mendoakan keluarga yang sudah meninggal. Semoga enggak ada itu corona, insya allah," ujar Larasati (30) warga Kampung Lebakwangi ditemui Republika di lokasi, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pantauan Republika, tak ada imbauan penerapan protokol kesehatan yang dipasang di pintu makam. Tak ada sabun cuci tangan disiapkan di dekat keran air yang digunakan peziarah untuk berwudhu. Setiap orang juga bebas berdekatan tanpa ada jarak minimal satu meter untuk mencegah penularan virus corona. Bahkan, masyarakat tak ragu bersalaman atau berjabat tangan dengan orang lain yang bertemu di makam.

Kendati demikian, masih ada sejumlah warga yang memakai masker. Setidaknya, mereka ikut berupaya mencegah penyebaran virus corona di tengah kerumunan. "Iya pakai masker biar aman, jadi kita tetap bisa ziarah," kata Salamah (27).

Di sisi lain, menurut penjual bunga, Ahyar (30), penziarah lebih sepi dibandingkan Lebaran tahun lalu. Hal itu terlihat dari hasil penjualan bunga yang berkurang jika dibandingkan dengan H+2 Lebaran tahun lalu.

"Kalau Lebaran kemarin sih kejual 100 kantong plastik (harga Rp 5.000) lebih kali. Kalau sekarang lebih sedikit yang kejual, mungkin corona kali ya ada yang enggak ke makam," ungkap Ahyar.

Di makam itu, tak hanya penziarah dan penjual bunga. Ada beberapa pedagang lainnya yang ikut meramaikan kerumunan pintu gerbang makam, seperti penjual makanan dan minuman dan mainan anak-anak.

Tak ada kasus Covid-19 di kampung tersebut menjadi alasan tradisi Lebaran tetap dilakukan. Selain berziarah, masyarakat juga tetap berjabat tangan saat Hari Raya Idul Fitri untuk bermaaf-maafan.

Tangan mereka bersentuhan tanpa memakai sarung tangan maupun masker. Setelah itu juga mereka tidak cepat-cepat mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. "Kita salaman sama orang kenal ini. Insya allah enggak ada corona," tutur Rosmawati.

Mereka masih melaksanakan tradisi Lebaran seperti bersalam-salaman, mengunjungi rumah satu sama lain, berziarah, kegiatan syukuran, dan berkumpul-kumpul. Dengan demikian, saat Covid-19 masih menjangkiti Indonesia, sebagian warga masih ada yang belum melaksanakan protokol kesehatan.


×