JAKARTA, 5/8 - NUZURUL QURAN. Seorang santri Pondok Pesantren Darunnajah melakukan hafalan ayat suci Al-Quran sambil mengikuti shalat tarawih berjamaah di Pesanggrahan, Jakarta, Minggu (5/8) | ANTARA

Opini

Pesantren 4.0. Pola Pesantren Setelah Covid-19 Berakhir?

Akan sangat sulit jika pola belajar pesantren yang sudah berjalan selama ini digantikan pola online.

Oleh Oleh Hadiyanto Arief

Oleh Hadiyanto Arief

Praktisi pendidikan, pengasuh Pesantren Annur Darunnajah 8 Cidokom

 

Rapat online, kuliah online, kerja online, seminar online, belajar online. Begitulah wabah korona memaksa manusia di seluruh dunia untuk menyesuaikan pola hidup terkait aktivitas diri mereka dan mendorong beradaptasi dengan teknologi 4.0. 

Sebagai praktisi yang lama menggeluti dunia pendidikan pesantren, banyak pertanyaan muncul bagaimana respon dari dunia pondok pesantren? Apakah pola study from home yang beberapa bulan terpaksa kita jalani ini bisa layak diterapkan secara permanen dalam dunia pondok pesantren?

Tidak ada jawaban pasti terkait hal itu menurut penulis. Karena jawaban itu harus dikembalikan kepada tujuan dan visi dari masing-masing pesantren.

Pesantren, seperti yang mungkin telah lama diketahui umum, tidak memiliki visi dan pola yang seragam satu sama lain layaknya sekolah umum. 

Pola dan keunikan pesantren sedikit banyak bergantung kepada tradisi yang ada di masing-masing pesantren. 

Sebagai contoh, pesantren tradisional yang fokus kepada pembelajaran kitab kuning, pesantren tahfidz yang memfokuskan kepada hafalan Alquran, dan puluhan bahkan ratusan varian lainnya.

Maka izinkan saya mencoba menjawab dari perspektif apa yang pesantren kami lakukan selama ini, pesantren Darunnajah, sebagai salah satu pesantren modern yang berlokasi di Ibukota. Pesantren yang kebetulan paling terdampak wabah korona karena berada di episentrum wabah di zona merah Jakarta Selatan.

Pengalaman Pesantren Darunnajah

photo
Ilustrasi santri Pesantren Darunnajah sedang belajar sebelum wabah korona  - (Republika/ Yasin Habibi)

Pesantren Darunnajah sendiri adalah satu dari ribuan model pesantren yang dikategorikan sebagai pesantren modern (pesantren khalaf). Model pesantren yang salah satunya dipelopori oleh sejumlah sekolah Islam seperti Thawalib di Sumatra Barat dan Pondok Modern Gontor di Ponorogo.

Selama wabah ini berlangsung, pesantren Darunnajah langsung menerapkan system pembelajaran online saat santri terpaksa dirumahkan untuk mencegah penyebaran virus. 

Beberapa inisiatif untuk memberdayakan beberapa program berbasis daring langsung dimanfaatkan untuk tujuan manajemen dan belajar santri. Rapat-rapat online serta belajar online melalui aplikasi aplikasi internet pun cepat diserap sebagai media komunikasi selama wabah. 

Sebagai pesantren kota, Darunnajah sendiri cukup beruntung karena dekat pusat ekonomi dan perkembangan teknologi di Ibukota. Pesantren ini telah lama memiliki infrastruktur daring dan teknologi yang lumayan lengkap. Internet dan system IT bukan barang baru bagi Lembaga yang pada tahun 2021 nanti berusia 60 tahun. 

Darunnajah bahkan telah memiliki sistem pembelajaran dan manajemen berbasis IT yang bertumpu dinamakan Darunnajah Smart System (DSS). Sistem yang akhirnya pada era wabah ini diberdayakan secara maksimal untuk proses pembelajaran dan ujian sekitar 10 ribuan santri di berbagai level pendidikan dan tersebar di beberapa cabang lokasi.

Kembali kepada fokus pembahasan, pada umumnya, pesantren dengan pola pendidikan ala pondok modern biasanya memiliki kesamaan dalam pola pendidikan yang menjadi basis kurikulumnya. Meskipun pada perkembangannya di setiap pesantren modern pun memiliki kekhasan atau keunikan masing masing yang kadang bahkan dipadukan dengan model pesantren lain, baik dari unsur tradisional maupun lainnya, seperti kombinasi modern-plus kitab kuning, modern plus tahfidz, dan seterusnya.

Maka untuk menjawab pertanyaan diatas perlu lebih melihat lebih jauh dari sekedar pengkategorian pesantren, yaitu melihat secara mendetail apa visi atau tujuan masing-masing pendidikan pesantren. Sehingga bisa terlihat apakah tujuan dari pendidikan pesantren bisa terwujud jika harus bertumpu kepada pendidikan berbasis IT.

Dalam konteks pesantren Darunnajah misalnya, visi pendidikannya adalah menjadi lembaga kaderisasi pemimpin yang mutafaqqih fiddin

Dua tujuan jelas terangkum didalam visi yang singkat ini: pertama adalah mengkader pemimpin dan yang kedua adalah harapan adanya kualitas tafaqquh fiddin dalam pemimpin tersebut.

Tafaqquh fiddin bermakna mendalami pemahaman agama. Faham akan urusan agama. Kualitas tafaqquh fiddin bisa dikatakan banyak berkaitan dengan kemampuan kognitif seseorang. Pemahaman dan penguasaan akan ilmu-ilmu terkait agama Islam.

Namun perlu difahami bahwa tidak terdapat dikotomi pemahaman agama didalam konteks pendidikan pesantren. Ilmu agama dalam pengertian pesantren mencakup seluruh aspek baik pelajaran yang terkait langsung dengan petunjuk petunjuk keagamaan (ahkamullah) seperti ilmu ilmu terkait ibadah (fikih, bahasa Arab, dan turunannya seperti nahwu shorof), ataupun pelajaran-pelajaran umum seperti matematika, rumpun pelajaran IPA maupun IPS pun diyakini oleh pesantren sebagai bagian integral dari pelajaran agama, yang menjadi bagian dari mempelajari dan mengembangkan potensi-potensi kemanusiaan (sunnatullah)

Secara umum, pencapaian dari tujuan ini kebanyakan ditempuh melalui proses belajar mengajar di kelas. Baik melalui proses formal berjenjang maupun informal, seperti pengajian, tausiyah, pengarahan dsb. Bisa dikatakan, ranah tafaqquh fiddin mayoritas terletak didalam aspek kognitif. 

Menurut Benjamin Bloom dkk dalam Taxonomi-nya, aspek kognitif menjadi aspek utama dalam banyak kurikulum pendidikan dan menjadi tolok ukur penilaian perkembangan anak. Kognitif yang berasal dari bahasa latin cognitio memiliki arti pengenalan, yang mengacu kepada proses mengetahui maupun kepada pengetahuan itu sendiri.

Dengan kata lain, aspek kognitif merupakan aspek yang berkaitan dengan nalar atau proses berpikir, yaitu kemampuan dan aktivitas otak untuk mengembangkan kemampuan rasional

Mewujudkan visi

photo
Santri Pesantren Darunnajah Jakarta  - (ANTARA)

Lalu, bisakah tujuan dari visi pesantren menciptakan manusia yang mutafaqqih fiddin dicapai dengan pola belajar online?

Sejauh ini, meskipun banyak yang harus disempurnakan, ada potensi besar yang bisa diberdayakan dari pola belajar online untuk bisa mencapai tujuan di atas. Proses pengajaran sebuah materi pelajaran bisa dusahakan melalui aplikasi aplikasi berbasis daring.

Dari pengalaman pesantren Darunnajah, pencapaian pemahaman santri terkait silabus yang sudah dicanangkan jauh hari sedikit banyak bisa diusahakan meskipun tidak bisa ideal tercapai. Keberagaman kapasitas infrastruktur santri dari beragam latar ekonomi menjadi kendala terbesar. 

Dari pengalaman Darunnajah pula yang memiliki beragam bentuk pendidikan, pondok pesantren yang memiliki program tahfidz relatif lebih mudah dikelola secara distance-learning karena proses hafalan bisa dilaksanakan secara mandiri dimanapun santri berada. Begitu pun materi materi yang biasanya di ajarkan melalui model sorogan/pengajian yang bersifat satu arah dengan pemirsa yang berjumlah banyak.

Pada intinya, proses belajar yang bersifat penyampaian materi sangat bisa dilaksanakan dalam proses belajar online meskipun banyak tantangan yang harus dijawab.

Tantangan jauh lebih kompleks menghadang saat menyangkut visi mengkader pemimpin.

Visi pendidikan kaderisasi sangat bertumpu kepada proses yang harus dialami oleh santri. Visi yang sangat bergantung kepada dinamika pergerakan tidak hanya fisik, namun juga harus melibatkan seluruh pengalaman dan emosi santri di kehidupan nyata mereka. 

Membentuk pemimpin terkait erat dengan pendidikan karakter yang menjadi salah satu keunikan utama pesantren-pesantren modern seperti Gontor. 

Pembentukan kepemimpinan diyakini tidak bisa dibentuk melalui proses yang melibatkan aspek kognitif semata, namun juga harus melibatkan aspek psikomotorik dan afektif. 

Masih menurut Benjamin Bloom dkk dalam Taxonominya, aspek psikomotorik adalah domain yang meliputi perilaku gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik seseorang. Sedangkan ranah afeksi adalah materi yang berdasarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan emosi seperti penghargaan, nilai, perasaan, semangat, minat, dan sikap terhadap sesuatu hal.

Proses pembentukan karakter kepemimpinan di pondok pesantren memang sangat bertumpu kepada proses yang ditopang oleh dinamika kegiatan yang padat dalam keseharian santri. Kegiatan terstruktur dan terpola yang memang sengaja di desain untuk mencapai tujuan tersebut.

Organisasi santri dan turunannya adalah bentuk dari kawah candradimuka proses kaderisasi kepemimpinan. Club-club berbasis minat dan bakat yang lahir secara bottom-up dan tumbuh subur  seiring pertumbuhan pondok. Menjadi wadah perkembangan seluruh potensi-potensi kemanusiaan yang dibawa oleh individu-individu santri yang unik.

Beberapa prinsip-prinsip sosiologi kemasyarakatan diselipkan kepada kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) disetiap kegiatan. 3K proses pembentukan karakter yaitu, Kerjasama, kompetisi dan konflik harus selalu ada didalam pola-pola kehidupan dan kegiatan santri. Pola kegiatan dan pergerakan yang diselipkan resep 3K tadi terbukti menjadi resep yang ampuh untuk membentuk tidak hanya keterampilan bekerja (hard skills), tapi juga berhasil membentuk cara berfikir (mindset), pola kerja dan pola hidup (softskills) yang sangat dibutuhkan untuk bisa bersaing di abad ke-21 di dunia global.

Pondok pesantren memang sebuah eco-sistem yang mandiri. Eko system tempat persemaian benih pemimpin. Sistem pendidikan besar yang memiliki sub-sub system turunan yang kompleks dan saling menopang. Sistem yang jika salah satu unsurnya tidak ada, maka hasilnya pun tidak maksimal.

Itulah kenapa mayoritas pondok-pondok modern yang bervisi sebagai Lembaga kaderisasi pemimpin mensyaratkan santri untuk tinggal dan menjalani seluruh aktifitas di asrama pondok ruuhan wa jismiyyan. Fisik dan jiwanya. Santri yang terbentuk kepemimpinannya hampir dipastikan adalah santri santri yang memang terlibat aktif didalam kehidupan berorganisasi di pondok. 

Layaknya sebuah sekolah mengemudi mobil, anak didik tidak cukup hanya diminta menghafal dan memahami teori dan aturan-aturan mengemudi mobil. Ia harus didudukkan di kursi pengemudi memegang kendali sedini mungkin. Tentu saja dimulai di tanah lapang, lalu masuk ke jalan sepi, lanjut ke jalan ramai. Tentu saja dengan pengawasan ketat pelatih yang mengawal disamping. 

Selain pentingnya system, salah satu aspek yang tak kalah penting dalam dunia pesantren adalah keberadaan Kyai sebagai figur sentral yang menjadi contoh teladan bagi segenap guru dan santri. Tak cukup memberi contoh, kyai wajib menjadi contoh nyata yang harus bisa disaksikan langsung oleh seluruh santri. Keteladanan ini adalah salah satu faktor terpenting yang membuat Lembaga pendidikan pesantren sangat efektif didalam mendidik akhlak dan karakter anak didik mereka.

Dalam istilah KH Abdullah Syukri Zarkasyi Gontor, apa yang didengar, apa yang dilihat dan apa yang dirasa oleh santri adalah pendidikan. 

Dan untuk tujuan mengkader pemimpin inilah penulis berpendapat akan sangat sulit jika pola belajar pesantren yang sudah berjalan digantikan pola online seperti yang diterapkan selama study from home di era wabah korona ini. 

Berbeda dengan visi pencapaian pemahaman keilmuan termasuk ilmu agama bisa relatif mudah dilaksanakan dengan pola distance-learning berbasis daring yang sementara menjadi andalan pesantren dalam penyampaian materi, tujuan yang bersifat pembentukan kebiasaan, akhlak dan karakter menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi bangsa ini jika wabah ini tidak cepat berlalu.

Semoga Allah SWT cepat mengangkat wabah korona ini sehingga santri cepat bisa kembali menjalani pendidikan seutuhnya di pesantren-pesantren mereka. Amien yaa Rabbal Alamien.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat