Internasional
Ketika Muslim Lawan Kekuatan AIPAC di Pemilu AS
Dama raksasa lobi Yahudi tak lagi menjamin kemenangan.
WASHINGTON — Dua tahun terakhir memperlihatkan perubahan menarik dalam politik Partai Demokrat Amerika Serikat. Di tengah perang Gaza dan menguatnya sentimen pro-Palestina di sebagian basis Demokrat, muncul persaingan terbuka antara kandidat progresif—termasuk sejumlah politisi Muslim—dengan kekuatan lobi pro-Israel, terutama American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).
Pertarungan itu tidak lagi sekadar berlangsung di Capitol Hill. Ia merambah primary election, perebutan kursi Kongres, hingga pertarungan internal Partai Demokrat. Yang diperebutkan bukan hanya kursi, tetapi juga arah kebijakan luar negeri partai terhadap Israel dan Palestina.
AIPAC sendiri bukan sekadar kelompok lobi dalam pengertian tradisional. Melalui jaringan politiknya, terutama United Democracy Project (UDP), kelompok tersebut telah menggelontorkan dana sangat besar dalam pemilu AS. Menurut Associated Press, sejak Desember 2021 hingga awal 2026, AIPAC bersama PAC dan super PAC-nya telah membelanjakan lebih dari 221 juta dolar AS.
“Sepertinya uang yang mereka punya lebih banyak dari Tuhan,” ujar kandidat senator Partai Demokrat Aisha Wahab. Ia salah satu yang berhasil melawan derasnya aliran dana lobi tersebut dan memenangkan pemilihan khusus senator California pekan ini.
Pada 2024, kekuatan uang tersebut terlihat sangat jelas. UDP menggelontorkan lebih dari 13 juta dolar AS dalam primary Demokrat di New York untuk membantu George Latimer mengalahkan anggota Kongres progresif Jamaal Bowman. Dalam perlombaan melawan Cori Bush di Missouri, UDP menghabiskan sekitar 8,5 juta dolar AS untuk menyerang Bush. Keduanya akhirnya kalah.
Namun, kisah dua tahun terakhir tidak berhenti pada kemenangan AIPAC. Di tengah perdebatan mengenai dukungan AS terhadap Israel, sejumlah kandidat progresif membangun politik yang berbeda dari arus utama Demokrat.
Mereka menggabungkan isu ekonomi domestik—layanan kesehatan universal, upah pekerja, reformasi pembiayaan kampanye dan ketimpangan—dengan kritik terhadap kebijakan AS di Timur Tengah.
Sebagian di antaranya adalah politisi Muslim atau memiliki latar belakang Arab dan Palestina. Bagi mereka, isu Gaza bukan sekadar persoalan kebijakan luar negeri. Ia juga menjadi bagian dari identitas politik dan hubungan mereka dengan komunitas Muslim, Arab-Amerika, serta pemilih muda.
Perubahan itu terlihat sangat jelas dalam pemilu 2026. Salah satu contoh paling mencolok datang dari Michigan. Abdul El-Sayed, mantan pejabat kesehatan publik dan kandidat progresif, maju dalam primary Demokrat untuk Senat AS. Ia secara terbuka mengkritik kebijakan Israel dan dukungan militer AS terhadap Israel.
Lawan utamanya adalah anggota Kongres Haley Stevens, yang mendapat dukungan tokoh-tokoh mapan di Demokrat.
AIPAC kemudian menjadikan pertarungan tersebut sebagai salah satu investasi politik terbesarnya. Associated Press melaporkan AIPAC menggelontorkan sekitar 30 juta dolar AS untuk mendukung Stevens. Jika seluruh pengeluaran kelompok-kelompok luar yang mendukung Stevens dihitung, nilainya melampaui 60 juta dolar AS.
Uang tersebut tidak menghasilkan kemenangan. El-Sayed justru memenangkan primary Demokrat, meski dengan selisih kurang dari satu persen. Ia didukung tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez serta membangun jaringan akar rumput melalui ratusan kegiatan kampanye.
Kemenangan tersebut memiliki makna simbolik besar. El-Sayed bukan sekadar kandidat progresif yang memenangkan primary. Ia berhasil melewati salah satu operasi pembiayaan politik terbesar yang pernah dikerahkan AIPAC dalam sebuah pertarungan primary. Jika ia akhirnya berhasil memenangkan kursi Senat pada November, ia berpotensi menambah kursi senator Muslim di Kongres AS.
Aisha Wahab, senator negara bagian California yang progresif, berhadapan dengan Melissa Hernandez dalam pemilihan khusus untuk menggantikan Eric Swalwell di Kongres.
Wahab sebelumnya unggul lebih dari 20 poin atas Hernandez dalam primary. Tetapi kemudian AIPAC masuk dengan operasi iklan negatif bernilai sekitar 6,3 juta dolar AS yang menyerang Wahab. Jumlah tersebut beberapa kali lipat dari dana yang berhasil dikumpulkan Hernandez sendiri hingga akhir Juni.
Tetapi tidak cukup untuk membalikkan hasil. Wahab akhirnya memenangkan pemilihan khusus dengan 53,09 persen berbanding 46,91 persen. Ia mencatat sejarah sebagai perempuan Muslim keturunan Afghanistan yang terpilih ke Kongres dari California.
Kasus Wahab menarik karena isu Israel-Palestina sebenarnya bukan tema utama kampanye. Sebagian besar iklan yang dibiayai AIPAC menyerang rekam jejak Wahab dalam isu kriminalitas dan keamanan, bukan semata-mata pandangannya mengenai Gaza.
Dengan demikian, pertarungan tersebut memperlihatkan strategi yang lebih luas: posisi kandidat mengenai Israel tidak harus disebutkan secara eksplisit dalam iklan. Citra kandidat sebagai “radikal” atau terlalu progresif dapat menjadi instrumen politik yang lebih efektif bagi pemilih domestik.
Efek bumerang
Pada awal 2026, pertarungan di New Jersey juga memberikan pelajaran penting. Analilia Mejia, kandidat progresif yang pernah menjadi direktur politik nasional kampanye Bernie Sanders, berhadapan dengan mantan anggota Kongres Tom Malinowski dalam primary Demokrat untuk Distrik ke-11.
Sebuah super PAC pro-Israel menghabiskan sekitar 2,3 juta dolar AS untuk menyerang Malinowski. Namun Mejia justru menang dengan selisih sekitar 900 suara.
Kasus ini bahkan lebih rumit karena Malinowski bukan kandidat yang dikenal sebagai anti-Israel. Namun perubahan sikapnya terhadap kebijakan Israel dan bantuan militer membuatnya menjadi sasaran kelompok pro-Israel.a menunjukkan bahwa strategi untuk menyingkirkan kandidat yang dianggap tidak cukup sejalan dengan kepentingan AIPAC dapat menghasilkan kandidat yang justru lebih progresif.
2024 memperlihatkan kemampuan AIPAC mengalahkan kandidat progresif, 2026 memberikan gambaran yang lebih beragam. Jamaal Bowman dan Cori Bush kalah setelah menghadapi belanja politik pro-Israel dalam jumlah besar. ABC News mencatat Bowman dan Bush menjadi dua anggota Demokrat petahana yang gagal memperoleh nominasi kembali pada 2024.
Tetapi kemenangan AIPAC tersebut ternyata tidak mengakhiri perlawanan di dalam Partai Demokrat. Sebaliknya, isu Palestina semakin menjadi bagian dari identitas politik kelompok progresif. Kandidat seperti El-Sayed dan Wahab menunjukkan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel dapat berjalan beriringan dengan agenda domestik seperti layanan kesehatan, hak pekerja, reformasi politik dan keadilan sosial.
Dengan kata lain, Palestina tidak lagi berdiri sebagai isu tunggal. Ia masuk ke dalam paket politik progresif yang lebih luas. Pertarungan sebenarnya adalah soal siapa yang mengendalikan primary Demokrat. Di sinilah arti politik dari persaingan tersebut menjadi lebih besar.
Amerika Serikat menggunakan sistem primary untuk menentukan kandidat partai. Karena banyak distrik Demokrat sangat aman dari ancaman Republik, primary sering kali menjadi pemilu yang sesungguhnya.
Artinya, AIPAC tidak selalu perlu menunggu pemilu November. Jika seorang kandidat progresif dapat dikalahkan dalam primary Demokrat, perjalanan politiknya praktis berakhir.
Itulah sebabnya investasi puluhan juta dolar dalam primary dapat sangat menentukan. Namun perkembangan terbaru menunjukkan adanya batas terhadap strategi tersebut.
El-Sayed menghabiskan kampanye dengan mendatangi 110 kota dan membangun jaringan sekitar 12 ribu relawan. Ia akhirnya mengalahkan kandidat yang mendapat dukungan establishment dan lebih dari 60 juta dolar dalam pengeluaran luar.
Wahab menghadapi serangan senilai 6,3 juta dolar dan tetap menang. Mejia menghadapi belanja jutaan dolar dalam sebuah primary yang sangat ketat dan tetap lolos.
Meski demikian, terlalu dini menyimpulkan bahwa AIPAC telah kehilangan kekuatannya. Pada 2024, organisasi tersebut menunjukkan bahwa belanja politik dalam skala besar dapat mengubah hasil primary. Bowman dan Bush adalah buktinya. Pada 2026 pun AIPAC masih mampu memaksa kandidat progresif menghabiskan energi dan sumber daya besar untuk bertahan.
Dalam kasus Wahab, misalnya, belanja 6,3 juta dolar tidak menghasilkan kekalahan, tetapi berhasil memangkas keunggulannya secara dramatis. Dengan demikian, ukuran pengaruh AIPAC tidak semata-mata apakah kandidat yang ditentangnya menang atau kalah.
Jika sebuah kandidat yang semula unggul 20 poin akhirnya hanya menang enam poin setelah jutaan dolar dibelanjakan untuk menyerangnya, berarti operasi tersebut tetap memiliki dampak politik yang signifikan.
Muslim Amerika memasuki babak baru
Yang juga patut diperhatikan adalah semakin terlihatnya politisi Muslim dalam arus progresif Demokrat. Ilhan Omar, Rashida Tlaib, Summer Lee, Aisha Wahab dan Abdul El-Sayed memiliki latar belakang berbeda. Tidak semuanya memiliki posisi identik mengenai Israel-Palestina. Namun keberadaan mereka menunjukkan bahwa pemilih Muslim dan Arab-Amerika tidak lagi sekadar menjadi konstituen yang diperhitungkan dalam pemilu presiden.
Mereka mulai menghasilkan kandidat dan agenda politik sendiri. Perubahan ini sangat penting terutama di negara bagian seperti Michigan, yang memiliki komunitas Arab-Amerika besar. Dalam kasus El-Sayed, perang Gaza bahkan menjadi salah satu isu yang membantu membentuk pertarungan internal Demokrat.
Pada akhirnya, yang sedang berlangsung bukan semata-mata pertarungan antara “pro-Israel” dan “pro-Palestina”. Di baliknya terdapat pertarungan yang lebih besar mengenai masa depan Partai Demokrat: apakah partai tersebut tetap mengandalkan kandidat moderat yang dekat dengan donor dan establishment, atau memberi ruang lebih besar kepada gerakan progresif berbasis akar rumput.
AIPAC telah menunjukkan bahwa ia memiliki uang dan jaringan politik untuk ikut menentukan hasil pertarungan tersebut. Tetapi dua tahun terakhir juga memperlihatkan sesuatu yang tidak kalah penting: uang dalam jumlah puluhan juta dolar tidak selalu mampu membeli kemenangan.
Dari New Jersey hingga Michigan dan California, sejumlah kandidat progresif—termasuk kandidat Muslim dan politisi yang bersuara keras mengenai Palestina—mulai menunjukkan bahwa organisasi akar rumput, identitas komunitas dan perubahan sikap pemilih dapat menjadi penyeimbang terhadap kekuatan uang dalam politik Amerika.
Justru setelah kemenangan El-Sayed dan Wahab, pertanyaan berikutnya semakin jelas: apakah keberhasilan mereka merupakan pengecualian, atau tanda bahwa basis Demokrat Amerika sedang bergeser mengenai Israel dan Palestina? Jawabannya akan sangat menentukan wajah politik AS menjelang pemilu-pemilu berikutnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
