Tim pengabdian Ubhara Jaya bersama pengelola Bank Sampah Bersih Berseri RW 025 berfoto bersama usai kegiatan pengembangan Smart Waste Management berbasis web dengan monitoring real-time di Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. | Ist

Nasional

Menata Sampah dengan Data

Data digital memperkuat tata kelola bank sampah di tingkat masyarakat.

BEKASI – Pengelolaan sampah di tingkat masyarakat kini semakin membutuhkan dukungan teknologi. Bukan hanya untuk mempermudah pencatatan, tetapi juga agar aktivitas bank sampah dapat terdokumentasi, dipantau, dan dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim pengusul dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) mengembangkan Smart Waste Management berbasis web dengan monitoring real-time untuk optimalisasi operasional Bank Sampah Bersih Berseri RW 025, Kelurahan Bahagia, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi.

Program ini dipimpin Herlawati sebagai ketua tim pengusul. Ia didampingi Rakhmat Purnomo, Prima Dina Atika, Andy Achmad Hendharsetiawan, dan Dwipa Handayani.

Kolaborasi tersebut diperkuat Rahmadya Trias Handayanto dari Universitas Nusa Putra serta Marsyanda Salsa Nabila, alumni Fakultas Ilmu Komputer Ubhara Jaya. Tim juga melibatkan mahasiswa Sultan Ahmad Rizki Badani, Najwa Mima Salsabila, Afina Putri Dzulqiyana, dan Anis Athifah dalam proses pengembangan dan pelaksanaan kegiatan.

Di sisi mitra masyarakat, program ini berkolaborasi dengan Resiowati selaku Ketua Bank Sampah Bersih Berseri RW 025. Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, alumni, dan pengelola bank sampah tersebut dilakukan untuk memastikan teknologi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Bank sampah mengelola berbagai data, mulai dari data nasabah, jenis sampah, berat sampah, harga, nilai transaksi, hingga waktu transaksi. Ketika data masih dicatat secara manual, pengurus menghadapi tantangan seperti pencatatan berulang, kesulitan mencari transaksi lama, risiko kesalahan atau kehilangan data, hingga proses pembuatan laporan yang membutuhkan waktu.

Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan tim mengembangkan sistem Smart Waste Management. “Kami melihat bahwa aktivitas bank sampah sebenarnya menghasilkan banyak data yang sangat berharga. Tantangannya adalah bagaimana data tersebut tidak berhenti sebagai catatan, tetapi dapat diolah menjadi informasi yang membantu pengurus dalam monitoring, evaluasi, dan pengambilan keputusan,” ujar Herlawati.

Menurutnya, digitalisasi bank sampah bukan sekadar memindahkan pencatatan dari buku ke komputer. Lebih jauh, digitalisasi merupakan upaya membangun tata kelola yang lebih terstruktur dan berbasis data.

Smart Waste Management memanfaatkan teknologi dan data digital untuk membuat proses pengelolaan sampah menjadi lebih efektif, efisien, terukur, dan transparan.

Dalam sistem tersebut, data nasabah, jenis dan berat sampah, nilai transaksi, serta waktu transaksi dapat dicatat secara digital. Data kemudian dapat disimpan, dikelola, dicari kembali, dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan operasional.

Bagi pengurus bank sampah, perubahan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban pencatatan manual sekaligus memudahkan penelusuran riwayat transaksi.

Sistem berbasis web juga membuat informasi dapat diakses melalui perangkat yang terhubung internet sesuai dengan hak akses pengguna. Dashboard menampilkan informasi penting secara ringkas sehingga kondisi operasional lebih mudah dipantau.

Salah satu fitur penting dalam sistem tersebut adalah monitoring real-time. Ketika pengurus melakukan transaksi dan mencatatnya ke dalam aplikasi, informasi terbaru dapat dilihat melalui sistem.

Bagi pengelola, informasi terkini tersebut dapat membantu mengetahui kondisi operasional, mempermudah pengawasan, mempercepat identifikasi perubahan, dan mendukung proses pengambilan keputusan.

“Kami ingin teknologi yang dikembangkan benar-benar dekat dengan kebutuhan pengurus. Karena itu, yang menjadi perhatian bukan hanya bagaimana sistem bekerja secara teknis, tetapi bagaimana sistem tersebut mudah digunakan dan memberikan manfaat bagi aktivitas bank sampah,” kata Herlawati.

Digitalisasi juga memungkinkan data yang terkumpul dimanfaatkan lebih jauh. Data jumlah dan berat sampah, transaksi, serta aktivitas nasabah dapat digunakan untuk monitoring dan penyusunan laporan.

Data tersebut kemudian dapat dibandingkan dari waktu ke waktu untuk melihat perkembangan dan menentukan aspek yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, pengurus memiliki informasi yang lebih terstruktur untuk menentukan tindakan dan strategi operasional bank sampah.

Konsep tersebut menjadi salah satu nilai penting Smart Waste Management, yakni mengubah data menjadi informasi dan informasi menjadi dasar pengambilan keputusan.

Pengembangan sistem tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam penerapan teknologi di masyarakat. Tim Ubhara Jaya membawa kompetensi akademik dan teknologi, sementara Universitas Nusa Putra memperkuat kolaborasi melalui Rahmadya Trias Handayanto.

Alumni Fasilkom Ubhara Jaya, Marsyanda Salsa Nabila, turut membantu pengembangan, sementara mahasiswa Sultan, Najwa, Afina, dan Anis memperoleh pengalaman menerapkan ilmu secara langsung di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Resiowati dan pengurus Bank Sampah Bersih Berseri RW 025 memberikan perspektif dari kebutuhan pengguna. Dengan demikian, teknologi tidak dikembangkan hanya berdasarkan asumsi dari sisi akademik, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan mitra di lapangan.

Kolaborasi tersebut menunjukkan peran perguruan tinggi sebagai mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan melalui inovasi teknologi.

Penerapan Smart Waste Management berbasis web diharapkan membantu pengurus mengelola bank sampah secara lebih efektif, efisien, terukur, dan transparan. Aktivitas bank sampah dapat dipantau berdasarkan data seperti berat sampah, transaksi, dan aktivitas nasabah, sementara data operasional terdokumentasi sehingga lebih mudah ditelusuri dan digunakan dalam pelaporan.

Bagi Herlawati, teknologi pada akhirnya bukanlah tujuan akhir. “Teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut dapat membantu masyarakat mengelola sumber daya yang mereka miliki dengan lebih baik. Dalam konteks bank sampah, data menjadi aset yang dapat membantu pengurus bekerja lebih terarah dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi yang sebenarnya.”

Program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan bank sampah yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Melalui aplikasi berbasis web dan monitoring real-time, pengurus dapat mengelola data secara digital, memantau informasi terbaru, mengelola transaksi dan penimbangan, menyusun laporan, serta memanfaatkan data untuk evaluasi dan pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan semata persoalan membuang atau mengumpulkan sampah. Di balik setiap kilogram sampah yang ditimbang terdapat data, aktivitas ekonomi, partisipasi masyarakat, dan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat