Nasional
Israel Akui Bunuh Hind dan Relawan Kemanusiaan Gaza
Israel juga mengumumkan sejumlah kejahatan pasukannya di Gaza.
GAZA – Militer Israel akhirnya mengakui bahwa pasukannya berada di lokasi tewasnya Hind Rajab, bocah Palestina berusia enam tahun yang dikenal dengan panggilan Hanood, di kawasan Tel al-Hawa, Kota Gaza, Palestina. Pengakuan tersebut disampaikan setelah sebelumnya selama hampir dua tahun militer Israel membantah keterlibatan pasukannya dalam insiden tersebut.
Hasil investigasi menunjukkan pasukan Israel berada di sekitar lokasi dan melepaskan tembakan berulang kali ke arah kendaraan yang ditumpangi Hind bersama sejumlah kerabatnya. Hind tewas setelah kendaraan tersebut dihujani lebih dari 300 peluru pada 29 Januari 2024.
“Israel mengakui menembaki mobil yang ditumpangi Hind Rajab,” demikian laporan Aljazirah yang dikutip Republika, Kamis (20/8/2026).
Dalam keterangannya, militer Israel berdalih pasukannya ketika itu tengah melakukan operasi terhadap kelompok perlawanan di Gaza. “Pihak militer menyatakan mereka sedang melakukan penggerebekan terhadap target yang disebut sebagai teroris,” tulis Aljazirah.
Kematian Hind sempat menjadi sorotan dunia dan menjadi salah satu simbol penderitaan warga sipil Palestina akibat serangan militer Israel di Gaza. Pengakuan terbaru tersebut setidaknya membuka harapan akan adanya penyelidikan dan pertanggungjawaban atas kematian bocah tersebut.
“Awalnya Israel membantah keberadaan pasukan mereka di tempat wafatnya Hind Rajab. Namun, setelah adanya investigasi, mereka mengakui,” demikian laporan Aljazirah.
View this post on Instagram
Pengakuan tersebut mendorong otoritas Israel untuk meninjau kembali kasus penembakan yang menewaskan Hind. Dalam pernyataan pada Rabu (19/8/2026), militer Israel menyatakan akan membuka penyelidikan baru terkait insiden tersebut.
Kronologi Syahidnya Hind Rajab
Hind Rajab menjadi simbol penderitaan anak-anak Palestina di Gaza. Pada 29 Januari 2024, ketika serangan militer Israel menggencarkan serangan di sejumlah kawasan Kota Gaza, Hind bersama kerabat dan keluarganya berupaya meninggalkan lokasi menggunakan sebuah mobil.
Kendaraan tersebut dikemudikan oleh pamannya. Mereka disebut telah mengikuti perintah pasukan Israel untuk meninggalkan kawasan tersebut. Namun, dalam perjalanan, kendaraan mereka justru dihujani tembakan.
Hasil investigasi mencatat lebih dari 300 peluru diarahkan ke mobil yang ditumpangi Hind. Sepupunya, Layan Hamadeh, yang ketika itu berusia 15 tahun, sempat menghubungi tim medis Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) untuk meminta pertolongan dan evakuasi.
Tim medis PRCS kemudian berupaya menuju lokasi untuk mengevakuasi para korban. Namun, upaya tersebut disebut terkendala oleh otoritas militer Israel.
Komunikasi Layan dengan petugas medis pun berakhir tragis. Para penumpang lainnya syahid akibat tembakan yang menghujani kendaraan tersebut. Hind menjadi satu-satunya orang yang masih hidup di dalam mobil.
Ketika operator PRCS kembali menghubungi nomor telepon yang digunakan Layan, Hind masih dapat merespons. Tim medis Palestina kemudian mengerahkan kendaraan untuk mengevakuasi bocah tersebut.
Namun, upaya penyelamatan itu tidak berhasil. Ambulans yang sudah tiba di dekat lokasi Hind dan keluarganya tiba-tiba hilang kontak. Baru sepekan lebih kemudian jenazahnya ditemukan dalam mobil yang ditembaki. Ambulans yang hendak menjemput Hind juga hancur dengan semua awaknya syahid.
Israel Sebelumnya Membantah
Setelah kematian Hind menjadi perhatian dunia, militer Israel membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut. Ketika itu, militer Israel menyebut kendaraan yang ditumpangi Hind sebagai ancaman.
Dalam keterangan terbarunya, militer Israel mengakui pasukannya memang menembaki kendaraan jenis KIA tersebut. Alasannya, kendaraan itu disebut mendekati posisi pasukan Israel.
“Pihak militer Israel menyatakan bahwa pasukannya menembaki kendaraan tersebut karena mendekati mereka,” demikian pernyataan militer Israel.
Aljazirah menyebut keterangan tersebut sebagai pengakuan bahwa pasukan Israel menembaki kendaraan yang ditumpangi Hind bersama kerabat dan keluarganya.
Nenek Hind Rajab kepada Associated Press (AP) mengaku skeptis bahwa pengakuan tersebut akan berujung pada proses hukum dan hukuman bagi pihak yang bertanggung jawab. Menurut dia, ribuan anak-anak di Gaza telah menjadi korban serangan militer Israel, tetapi belum ada keadilan yang dirasakan keluarga para korban.
Karena itu, keluarga Hind meminta penyelidikan internasional terhadap kematian cucunya serta ribuan anak Palestina lainnya yang menjadi korban kekerasan di Gaza.
“Diperlukan pengungkapan internasional untuk mengungkap kebenaran dan menagih pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat,” kata nenek Hind. “Kami menuntut keadilan bukan hanya untuk cucu kami, Hind Rajab, melainkan juga untuk seluruh anak-anak di Gaza,” ujarnya.
Kejahatan Israel
Pada Rabu, IDF merilis hasil tinjauan terhadap empat insiden besar lainnya di Gaza, serta menyatakan akan memulai penyelidikan pidana terkait gugurnya 15 petugas medis dan personel kemanusiaan Palestina di dekat kota Rafah, wilayah selatan, pada bulan Maret 2025.
Pasukan yang sedang bersiap menyergap militan Hamas awalnya menembaki ambulans yang berusaha mengevakuasi korban akibat serangan Israel, lalu menembaki sejumlah kendaraan darurat yang mendekati posisi mereka; hal ini terungkap melalui rekaman telepon dan kesaksian satu-satunya orang yang selamat dari penembakan tersebut.
Para tentara kemudian melindas jenazah dan kendaraan-kendaraan itu dengan buldoser, lalu menguburnya dalam satu liang lahat massal. Pihak PBB dan tim penyelamat baru bisa menjangkau lokasi kejadian seminggu kemudian.
"Mereka tewas saat mengenakan seragam. Mereka mengemudikan kendaraan yang memiliki tanda pengenal jelas. Mereka mengenakan sarung tangan. Mereka sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan nyawa. Hal ini seharusnya tidak pernah terjadi," ujar Jonathan Whittall, seorang pejabat PBB yang turut membantu proses evakuasi jenazah.
Militer Israel awalnya menyatakan bahwa mereka melepaskan tembakan karena kendaraan-kendaraan tersebut "bergerak maju secara mencurigakan" tanpa menyalakan lampu depan maupun sinyal darurat. Namun, mereka menarik kembali pernyataan tersebut setelah muncul rekaman yang memperlihatkan tim Bulan Sabit Merah dan pertahanan sipil sedang melaju perlahan dengan lampu darurat yang menyala serta logo kendaraan yang terlihat jelas.
Munther Abed, seorang paramedis Palestina yang berada di lokasi kejadian saat 15 rekannya tewas, mengatakan ia berharap "mereka yang membunuh rekan-rekan saya—yang sudah seperti keluarga bagi saya—menghadapi keadilan, keadilan yang sesungguhnya." "Saya ingin mengatakan kepada seluruh dunia bahwa ambulans 101 bukanlah target dan harus dilindungi," ujarnya, merujuk pada nomor panggilan cepat untuk layanan Bulan Sabit Merah di Gaza.
IDF menyatakan telah memutuskan untuk tidak membuka penyelidikan pidana terkait serangan udara bulan April 2024 yang menghantam konvoi kendaraan World Central Kitchen, yang menewaskan tujuh pekerja kemanusiaan dari organisasi bantuan yang berbasis di AS tersebut—organisasi yang telah menyalurkan bantuan pangan di Gaza sepanjang masa perang.
Saat itu, organisasi bantuan tersebut menyatakan telah berkoordinasi dengan pihak militer mengenai pergerakan kendaraan mereka. Kendaraan-kendaraan tersebut—yang memiliki logo organisasi di bagian atapnya sehingga terlihat jelas dari udara—ditemukan dalam kondisi hangus dan hancur lebur, yang mengindikasikan adanya serangkaian serangan yang disengaja.
IDF menyatakan pada Rabu bahwa mereka keliru mengira beberapa orang di dalam kendaraan tersebut sebagai anggota militer bersenjata Hamas, dan bahwa konvoi itu menyimpang dari rute yang telah dikoordinasikan sebelumnya. Namun, mereka menyimpulkan bahwa "keputusan para komandan tidak menimbulkan kecurigaan yang wajar mengenai adanya pelanggaran pidana". Dua perwira dicopot dari jabatan mereka saat itu dan tiga lainnya mendapat teguran.
Salah satu korban jiwa dalam serangan tersebut adalah pekerja kemanusiaan asal Australia, Zomi Frankcom. Pemerintah Australia menyebut kematian tersebut sebagai "tragedi dan tindakan yang sangat mengejutkan" serta mendesak adanya pertanggungjawaban penuh dan "tuntutan pidana yang sesuai". Pada bulan Februari tahun ini, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa ia telah menegaskan kepada Israel dan presidennya, Isaac Herzog, mengenai perlunya transparansi terkait penyelidikan Israel yang saat itu sedang berlangsung atas insiden tersebut.
Pada bulan April tahun ini, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong memberikan penghormatan kepada Frankcom pada peringatan dua tahun kematiannya, dengan mengatakan bahwa "orang-orang seperti Zomi adalah sosok yang langka, dan sikap tanpa pamrih mereka tidak hanya patut diapresiasi, tetapi juga harus dilindungi".
World Central Kitchen menyatakan sangat tidak sependapat dengan penjelasan pejabat Israel mengenai serangan udara tersebut serta keputusan mereka untuk tidak melanjutkan penyelidikan pidana. "Tidak pernah ada alasan atau pembenaran apa pun atas serangan tersebut, dan tidak ada satu pun hal dalam penjelasan ini yang memberikan pembenaran demikian. Keputusan tersebut tidak sejalan dengan fakta yang sebenarnya dan sangat menyinggung perasaan," demikian bunyi pernyataan organisasi tersebut.
“Saat serangan mematikan itu terjadi, IDF mengetahui bahwa tim kami di Gaza tidak bersenjata dan tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun. Mereka memiliki pandangan visual yang jelas terhadap kendaraan kemanusiaan kami yang ditandai dengan jelas selama rangkaian serangan udara yang berlangsung lama dan berulang kali. Mereka mengetahui pergerakan, identitas, dan aktivitas tim kami sebelumnya.”
Militer juga memutuskan untuk tidak mengambil tindakan pidana terkait gugurnya empat pekerja kemanusiaan dari Doctors Without Borders dalam dua insiden terpisah pada bulan November 2023 dan Februari 2024. Israel kemudian secara efektif melarang organisasi amal medis tersebut beroperasi di Gaza.
Dan Owen, seorang peneliti di Yesh Din—organisasi hak asasi manusia asal Israel—mengatakan bahwa selama satu dekade terakhir, hanya sebagian kecil penyelidikan yang berujung pada pendakwaan, sementara tekanan politik yang kian meningkat “semakin menghalangi aparat penegak hukum Israel untuk meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bersalah, bahkan ketika bukti yang jelas telah tersedia”.
Sebuah laporan PBB yang diterbitkan pada bulan Februari menggambarkan adanya “iklim impunitas yang meluas” yang dilakukan Israel di wilayah Palestina yang diduduki, “terkait dengan pelanggaran berat hukum hak asasi manusia internasional dan pelanggaran serius hukum humaniter internasional... yang beberapa di antaranya merupakan kejahatan perang dan kemungkinan kejahatan internasional lainnya”.
Pasukan Israel menyatakan bahwa mereka tidak pernah secara sengaja menargetkan warga sipil di Gaza dan menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng bagi para militannya.
IDF menyatakan bahwa sebagai bagian dari kewajibannya berdasarkan hukum internasional dan hukum domestik Israel, mereka memeriksa "insiden luar biasa yang terjadi selama pertempuran". "Selama lebih dari seribu hari, IDF telah melakukan pertempuran intensif di berbagai front, serta menjalankan beragam misi militer dalam realitas operasional yang sangat kompleks," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Perang ini bermula pada Oktober 2023 ketika pejuang Palestina melancarkan serangan pembebasan ke wilayah selatan Israel, menewaskan 1.200 orang—yang sebagian besar adalah warga sipil—dan menculik 250 orang lainnya. Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, termasuk lebih dari 1.200 orang sejak gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada bulan Oktober.
Pada hari Rabu, serangan udara Israel menewaskan tujuh warga Palestina. Pejabat militer Israel mengatakan kepada media setempat bahwa salah satu serangan yang menewaskan enam orang tersebut menargetkan pertemuan para komandan Hamas di Kota Gaza.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
