Internasional
Terancamnya Eksistensi 2.000 Tahun Umat Kristen di Palestina
Gereja Ortodoks Serbia menyerukan perlindungan terhadap komunitas Kristen.
BEOGRAD -- Gereja Ortodoks Serbia menyoroti memburuknya kondisi umat Kristen Palestina. Gereja tersebut menyebut komunitas Kristen di Palestina menghadapi penderitaan, persekusi, dan diskriminasi di tengah konflik berkepanjangan dan pendudukan Israel.
Seruan itu disampaikan Patriark Serbia Porfirije dalam surat kepada Ramzi Khouri, anggota Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sekaligus Ketua Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina, Sabtu (3/10/2026).
Patriark Porfirije menyatakan solidaritas kepada rakyat Palestina dan menyampaikan keprihatinan atas kondisi umat Kristen serta warga lainnya di kawasan tersebut.
“Penderitaan, persekusi dan diskriminasi” yang dialami masyarakat sipil, terlepas dari agama maupun latar belakang mereka, dinilai bertentangan dengan martabat manusia.
Gereja Ortodoks Serbia juga mengingatkan bahwa umat Kristen telah mempertahankan keberadaan mereka di Palestina selama lebih dari 2.000 tahun. Karena itu, upaya meminggirkan komunitas Kristen dinilai berisiko merusak tatanan sosial dan keagamaan kawasan.
Gereja tersebut menyerukan perlindungan terhadap komunitas Kristen, penghormatan terhadap hukum internasional, serta jaminan hak beragama. Porfirije juga berjanji terus mengangkat isu perlindungan umat Kristen Palestina dalam pertemuannya dengan para pemimpin politik dan lembaga internasional.
Sorotan itu datang ketika sejumlah data menunjukkan tekanan terhadap umat Kristen Palestina bukan sekadar persoalan demografi, tetapi juga menyentuh keselamatan, tempat ibadah, pendidikan, dan kebebasan menjalankan ibadah.
Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina mencatat rangkaian pelanggaran terhadap umat Kristen dan situs-situs Kristen sejak 1967. Dalam dokumentasi yang diperbarui hingga Juni 2026, pelanggaran mencakup serangan terhadap gereja dan biara, vandalisme, penghinaan dan kekerasan terhadap pemuka agama, pembatasan ibadah, hingga penghancuran gereja dalam perang di Gaza.
Salah satu gambaran konkret terjadi di Yerusalem Timur. Kelompok pemantau mendokumentasikan sedikitnya 201 insiden kekerasan terhadap umat Kristen sepanjang Januari 2024 hingga September 2025. Sebanyak 137 insiden terjadi di Kota Tua Yerusalem.
Bentuknya beragam, mulai dari pelecehan verbal, aksi meludah kepada umat atau rohaniwan, vandalisme, hingga serangan fisik. Laporan tersebut menyebut sebagian besar insiden dilakukan oleh kelompok Yahudi Ortodoks terhadap rohaniwan atau individu yang menunjukkan simbol-simbol Kristen.
Tekanan juga terlihat dalam akses terhadap tempat ibadah. Dalam laporan hak asasi manusia PBB untuk April 2026, pasukan Israel disebut membatasi akses umat Kristen Palestina ke Gereja Makam Kudus saat perayaan Sabtu Cahaya. Sejumlah warga Palestina dilaporkan mengalami kekerasan fisik dan sedikitnya 10 orang ditahan di dalam maupun sekitar gereja.
Open Doors mencatat sedikitnya 33 umat Kristen Palestina tewas akibat perang sejak Oktober 2023 dalam periode pemantauan World Watch List 2025. Organisasi tersebut juga memperkirakan sekitar 600 umat Kristen masih bertahan di Gaza pada awal 2025, turun dari sekitar 1.000 orang sebelum perang.
Kerusakan tidak hanya menyasar individu. Sekitar 75 persen rumah milik keluarga Kristen di Gaza dilaporkan rusak berat atau hancur setelah perang, menurut sumber Open Doors pada Januari 2025. Sekitar 600 orang Kristen yang sebelumnya berlindung di dua gereja kemudian menghadapi pilihan sulit untuk kembali ke rumah yang rusak atau tetap bertahan di bangunan gereja.
Kementerian Wakaf Palestina juga melaporkan tiga gereja di Gaza City menjadi sasaran dan hancur selama perang pada 2024.
Tekanan bahkan menyentuh sektor pendidikan. Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja Palestina mencatat pada Januari 2026 bahwa izin sejumlah guru dari Tepi Barat dibatasi. Sedikitnya 171 guru dan pegawai terdampak pembatasan izin tersebut.
Pada awal Oktober 2026, tekanan itu kembali menelan korban. Serangan udara Israel di Kota Gaza menewaskan sedikitnya lima warga Palestina, termasuk ibu dan anak perempuan yang merupakan umat Kristen, Maysa Abu Dawoud dan Mary al-Najjar. Keduanya kemudian dimakamkan di Gereja Santo Porfiri. Israel menyatakan serangan tersebut menyasar seorang pemimpin politik Hamas, tetapi tidak mengonfirmasi bahwa sasaran tersebut merupakan lokasi yang sama dengan bangunan yang menewaskan lima warga sipil.
Komunitas yang Menyusut
Tekanan tersebut berlangsung ketika jumlah umat Kristen Palestina sendiri telah menyusut drastis selama puluhan tahun.
Sebelum perang 2023, diperkirakan terdapat sekitar 47 ribu hingga 50 ribu umat Kristen di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, serta kurang dari 1.000 orang di Gaza. Di Tepi Barat, komunitas Kristen terutama terkonsentrasi di Bethlehem, Ramallah, dan sejumlah kota lainnya.
Di Bethlehem, kota yang secara historis menjadi salah satu pusat kekristenan Palestina, umat Kristen kini hanya sekitar 10 persen penduduk berdasarkan data 2017. Eksodus keluarga Kristen meningkat seiring memburuknya kondisi keamanan dan ekonomi.
Gereja Ortodoks Serbia menilai keberadaan komunitas Kristen di Palestina tidak dapat dipisahkan dari sejarah kawasan tersebut.
Karena itu, marginalisasi terhadap satu komunitas agama dinilai bukan hanya persoalan kebebasan beragama, tetapi juga ancaman terhadap keberagaman sosial dan warisan sejarah Palestina.
Patriark Porfirije menegaskan Gereja Ortodoks Serbia akan terus membawa persoalan tersebut dalam forum internasional dan pertemuan dengan para pemimpin politik, sembari menyerukan perdamaian di Timur Tengah.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
