Warga mencuci tangan di area cuci tangan untuk publik di depan Museum Sonobudoyo, DI Yogyakarta, Senin (30/3/2020). | ANTARA FOTO
27 Apr 2020, 11:36 WIB

Warga Diminta tak Mudik ke Yogyakarta

Mudik dinilai hanya akan membuang waktu

YOGYAKARTA -- Warga Kota Yogyakarta diminta untuk tidak melakukan kegiatan mudik selama pandemi Covid-19 ini. Terlebih, kasus positif di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus meningkat dan sebagian besar merupakan kasus dari luar yang dibawa masuk ke DIY.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid- 19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, imbuan tidak mudik ini utamanya terhadap warga yang merantau di zona merah Covid-19. Pemerintah pusat pun telah mengeluarkan larangan mudik beberapa waktu lalu.

"Aturan untuk larangan mudik sudah ditetapkan, saya mohon para pemudik untuk mentaati peraturan pemerintah, ini demi keselamatan bersama, kenyamanan bersama," kata Heroe yang juga Wakil Wali Kota Yogyakarta tersebut.

Menurutnya, kegiatan mudik yang dilakukan selama masa pandemi ini hanya akan membuang waktu. Sebab, bagi pemudik yang datang ke Kota Yogyakarta harus bersedia melakukan isolasi secara mandiri selama 14 hari. Saat ini, pihaknya terus melakukan pengetatan terhadap pemudik yang masuk ke Yogyakarta.

Terkait

Dalam hal ini, bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta dan pihak kepolisian untuk melakukan tracing dan pemeriksaan bagi pemudik yang masuk. "Kami juga sudah melakukan patroli untuk membubarkan kerumunan-kerumunan masyarakat yang tidak jelas dan juga membatasi pertemuan-pertemuan yang sifatnya mengumpulkan banyak orang guna mencegah penyebaran Covid-19," jelasnya.

Patroli ini dilakukan dengan menyasar lokasi-lokasi yang sering menjadi tempat berkumpul. Seperti Alun-alun Utara dan Selatan, Tugu, Malioboro, dan Titik Nol Kilometer. "Patroli juga menyasar tempat-tempat seperti warnet, gim daring, tempat makan seperti angkringan dan burjo," ujarnya.

Di Bulan Ramadhan ini, ia pun meminta kepada masyarakat yang ingin membagikan takjil di masjid agar diganti dengan sembako. Hal ini dilakukan agar mengurangi kerumunan di masjid yang berpotensi adanya penyebaran Covid-19. "Di masjid ada tempat wudhu, ditakutkan jika ada pembawa virus (carrier) berkumur dan dibuang ke tempat wudhu resiko tersebar semakin tinggi. Lebih baik diganti dengan sembako dan nanti disalurkan melalui masjid," jelasnya.

Ia menyebut, masih ada masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan terkait Covid-19 ini. Yakni masih banyak masyarakat yang belum menerapkan pentingnya physical distancing dalam mendukung upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

"Saat berkumpul mereka biasa beralasan bosan di rumah. Tapi kita tetap berpegang pada prinsip pencegahan dan penanggulangan Covid-19 supaya tidak timbul korban lain yang terpapar," katanya.

 
Masih ada masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan terkait Covid-19
HEROE POERWADI
 

 

Selain itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY sendiri belum akan menutup akses dan tidak meminta pemudik yang masuk ke DIY untuk kembali. Meskipun pemudik tersebut datang dari zona merah.

Namun, pemudik yang datang akan akan dilakukan skrining dan pemeriksaan ketat. Bahkan, Pemda DIY sendiri sudah mendirikan tiga posko untuk mengawasi dan memeriksa pendatang di wilayah perbatasan yakni satunya di Jalan Magelang, Kecamatan Tempel, satunya di perbatasan yang ada di Prambanan, Jalan Solo, dan satu lainnya di Kulonprogo.

Ketua Sekretariat Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Biwara Yuswantana mengatakan, skrining dan pemeriksan ketat ini dilakukan selama 24 jam. Skrining dalam hal ini melakukan pendataan dan cek suhu. "Jadi didata dari mana dan akan kemana, cek suhu. Kalau suhunya melebihi ketentuan maka diarahkan ke fasilitas layanan kesehatan yang ada di dekatnya," katanya. 


×