Sastra
Di Antara Perut dan Singgasana
Cerpen Jan Eduart Sipayung
Oleh JAN EDUART SIPAYUNG
Endapan Duka
Tidak
bukan sungai yang memilih
ke mana arusnya pulang
bukan batu yang meminta
untuk digerus sepanjang perjalanan
Nasib
adalah arus yang tak mengenal tepi
membawa apa saja
yang sempat kita genggam
lalu melepaskannya
di muara yang asing
Tidak
kita tak pernah benar-benar siap
ketika sebuah perahu
hilang dari pandangan
ketika dayung yang biasa
mengetuk permukaan pagi
mendadak diam
di bawah air
Yang tinggal
hanya riak
yang perlahan kehilangan bentuk
dan dermaga
yang tak lagi tahu
untuk siapa ia menunggu
Tidak
kehilangan bukan sekadar pergi
ia adalah ruang
yang ditinggalkan sesuatu
ruang yang tetap terbuka
meski tak ada lagi
yang akan kembali mengisinya
Dan duka
adalah endapan
yang diam-diam menetap
di dasar hati
2026
***
Muara Takdir
di palung nasib
layarku koyak diterjang arus
kompas kehilangan utara
muara menutup segala arah
doa-doa karam
sebelum sampai ke pantai
sementara ombak takdir
tak pernah mengenal belas kasih
aku menambatkan harapan
pada dermaga yang rapuh
namun pasang menghapus jejak
sebelum sempat menjadi tujuan
barangkali laut memang luas
tetapi tak semua pelayaran
dikaruniai pulang
dan aku
menjadi bangkai perahu
di muara yang tak berpihak
2026
***
Belum Sampai
aku menyaksikan
sebuah usia usai sebelum senja
mimpi-mimpinya belum berlabuh
cintanya belum menemukan rumah
belum ada cincin di jari
belum ada janji di pelaminan
namun tanah telah lebih dahulu
memeluk tubuhnya
selembar nama
berpindah dari daftar harapan
ke batu nisan
aku terdiam
menatap bunga-bunga kehilangan
sebab maut tak pernah bertanya
berapa banyak musim
yang belum sempat dijalani
ia pergi
sebelum sempat menua bersama seseorang
meninggalkan usia yang terputus
dan masa depan
yang kini hanya menjadi doa
2026
***
Diatas Sarang Yang Rapuh
Di halaman negeri yang kehilangan suara
burung-burung elang berputar di langit kekuasaan
mengincar sebutir telur di sarang ayam
yang tak pernah mereka bangun
barangkali mereka lupa
sayap yang lebar bukan tanda kemuliaan
cakar yang tajam bukan lambang keberanian
dan langit yang luas bukan warisan leluhur
lihatlah mereka saling menyambar
mematahkan paruh, mencabik bulu
demi sebutir telur yang masih hangat
sementara induk ayam terdesak di sudut kandang
menyaksikan rumahnya menjadi medan pertempuran
betapa ganjil negeri ini
para pemilik langit berebut isi sarang
seolah tak ada lagi gunung untuk didaki
tak ada lagi angin untuk ditunggangi
selain kehidupan kecil yang hendak mereka rampas
dan di bawah kepak-kepak keserakahan
anak-anak ayam berlarian tanpa arah
mereka tak mengenal siapa yang menang
tak memahami mengapa langit begitu gaduh
mereka hanya tahu
bahwa sarang tempat mereka dilahirkan
tak lagi menjanjikan kehangatan
kelak ketika pertempuran usai
seekor elang mungkin akan bertengger
di puncak tiang kekuasaan
dengan paruh berlumur kemenangan
tetapi telur itu telah retak
sarang itu telah kosong
dan tak ada yang tersisa
kecuali bulu-bulu berserakan
serta negeri yang kehilangan masa depan
sebab yang paling menyedihkan
bukanlah ketika para penguasa saling menerkam
melainkan ketika mereka lupa
bahwa telur yang diperebutkan itu
menyimpan kehidupan
yang bukan milik mereka
2026
***
Di Antara Perut dan Singgasana
Kugali tanah
di antara istana dan gubuk;
"siapa yang kenyang
ketika lumbung rakyat kosong?
siapa yang berpesta
ketika dapur kehilangan asap?"
Tak terkira!
Di atas meja kekuasaan
piring-piring penuh menggunung,
di bawahnya
perut rakyat mengunyah angin.
Kugali lebih dalam
urat nadi negeri;
"mengapa keringat menjadi pajak?
suara menjadi dosa?
dan tangan yang meminta keadilan
justru diborgol di halaman istana?"
Lihatlah,
rakyat memikul batu
penguasa membangun singgasana
rakyat menanam padi
penguasa menuai upeti
rakyat kehilangan tanah
penguasa memperluas halaman.
Sampai kapan
jarak antara istana dan gubuk
diukur dengan tulang belulang
dan air mata?
Bumi telah retak
di bawah telapak kekuasaan,
sementara dari perutnya
tumbuh pertanyaan
yang tak bisa dikuburkan.
Tak terkira!
2026
***
Jan Eduart Sipayung bermukim di Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Selain berprofesi sebagai guru SD, ia merupakan Redaktur Majalah Sastra ETNOZON dan editor di Sastra Mikro Indonesia. Puisi, cerpen, dan cerita anak karyanya telah disiarkan di berbagai media.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
