Internasional
Banjir Musim Dingin Ancam Pengungsi Gaza
950 ribu warga Palestina yang mengungsi terancam risiko banjir.
GAZA — Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) telah memperingatkan bahwa 18 tempat penampungan darurat miliknya di Gaza tidak aman menjelang musim dingin, termasuk empat lokasi yang memiliki risiko sangat tinggi untuk runtuh.
Dalam laporan situasi terkini, UNRWA menyatakan bahwa penilaian terhadap 113 lokasi pengungsian menemukan enam tempat penampungan lain dengan risiko tinggi dan delapan tempat dengan risiko menengah. Pihaknya tengah berupaya bersama mitra kemanusiaan untuk menyediakan tenda guna merelokasi keluarga-keluarga terdampak secara sukarela. Prioritas diberikan kepada 270 keluarga yang tinggal di bangunan-bangunan paling berbahaya.
Tempat-tempat penampungan UNRWA menampung sekitar 60.000 orang yang kehilangan tempat tinggal. Badan tersebut melaporkan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut meningkat menjelang musim dingin, dan diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa minggu mendatang.
Ancaman bencana kemanusiaan kembali membayangi Jalur Gaza menjelang musim dingin. Hampir 950 ribu warga Palestina yang mengungsi kini tinggal di kawasan dengan risiko banjir sedang hingga tinggi.
Kondisi tersebut diperparah oleh pembatasan Israel terhadap masuknya bahan-bahan untuk membangun tempat penampungan dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat perang.
Badan Pertahanan Sipil Palestina di Gaza memperingatkan hujan lebat dan angin kencang yang diperkirakan melanda wilayah tersebut pada Jumat (6/11/2026) dapat membahayakan warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian maupun bangunan yang rusak akibat serangan militer Israel.
Mengutip laporan Palestine Chronicle, ancaman banjir tersebut bukan sekadar persoalan cuaca. Kerusakan infrastruktur drainase, keterbatasan tempat penampungan yang layak, serta hambatan masuknya bantuan kemanusiaan membuat ratusan ribu keluarga Palestina semakin rentan menghadapi musim hujan.
Berdasarkan data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) yang dirilis 15 Oktober, sekitar 950 ribu pengungsi Palestina tinggal di lokasi dengan risiko banjir sedang hingga tinggi. Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 ribu orang menghadapi risiko banjir tinggi.
Selain ancaman banjir, sekitar 44 ribu warga Palestina terpaksa berlindung di lebih dari 2.300 bangunan yang secara struktural dinilai tidak aman. Bangunan-bangunan tersebut berisiko mengalami keruntuhan, terutama ketika diterjang hujan deras dan angin kencang.
OCHA juga memperkirakan sebanyak 294.250 keluarga membutuhkan bantuan tempat penampungan menjelang musim hujan.
Krisis tersebut semakin pelik karena Israel membatasi masuknya sejumlah barang yang dibutuhkan untuk membangun dan memperbaiki tempat penampungan. Material seperti tenda, terpal, kayu, semen, peralatan konstruksi, tali, hingga perlengkapan perbaikan lainnya dikategorikan Israel sebagai barang dwifungsi (dual-use).
Kategori tersebut memungkinkan Israel membatasi atau menghambat masuknya barang-barang yang dianggap dapat digunakan untuk kepentingan militer.
Laporan Norwegian Refugee Council (NRC) pada 5 Oktober 2026 mengungkapkan, Israel hanya mengizinkan sekitar 15 truk pengangkut barang kategori dwifungsi masuk dari Yordania setiap pekan. Jumlah tersebut harus memenuhi kebutuhan berbagai sektor kemanusiaan di Gaza.
Sementara itu, sedikitnya 500 truk berisi material penampungan masih menunggu izin masuk. Dengan kecepatan pengiriman saat ini, dibutuhkan lebih dari tujuh bulan untuk memasukkan seluruh material tersebut, bahkan dalam kondisi paling ideal.
NRC memperingatkan, sekitar 1,65 juta warga Gaza terancam kembali menjalani musim dingin keempat mereka di tenda-tenda usang dan bangunan yang rusak akibat perang.
Keterbatasan material juga membuat organisasi kemanusiaan kesulitan memperbaiki saluran air, membersihkan drainase, serta memperkuat lokasi-lokasi pengungsian yang rawan banjir.
NRC memperkirakan stok bantuan yang tersedia saat ini hanya mampu memberikan dukungan penampungan secara parsial kepada sekitar 52 ribu keluarga. Padahal, hampir 300 ribu keluarga membutuhkan bantuan menjelang musim dingin.
Keterbatasan ruang untuk mengungsi juga menjadi persoalan serius. Israel membatasi akses warga Palestina ke sekitar 35 persen wilayah Jalur Gaza. Akibatnya, sebagian besar penduduk terkonsentrasi di kawasan yang semakin padat, termasuk lokasi-lokasi yang rentan banjir.
Banyak keluarga tidak memiliki pilihan selain bertahan di tenda-tenda darurat yang tidak dirancang untuk menghadapi hujan deras dan cuaca ekstrem.
Reuters melaporkan pada 9 Oktober, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperingatkan fenomena El Nino berpotensi meningkatkan curah hujan dan memperburuk ancaman banjir di Gaza. Kerusakan sistem drainase dan bangunan yang tidak stabil akan memperbesar dampak cuaca ekstrem terhadap warga.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope menyatakan, organisasi-organisasi kemanusiaan baru mampu memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan tempat penampungan musim dingin di Gaza.
Sekitar 8.600 paket bantuan penampungan darurat yang berisi kayu, terpal, dan material dasar juga dilaporkan masih tertahan karena dikategorikan sebagai barang dwifungsi oleh otoritas Israel.
Sementara itu, lebih dari separuh tenda dan tempat penampungan darurat di Gaza membutuhkan penggantian.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 belum mampu mengakhiri penderitaan warga Gaza. Kehancuran kawasan permukiman, pembatasan bantuan, dan minimnya fasilitas dasar membuat jutaan warga masih hidup dalam kondisi yang jauh dari layak.
Badan Pertahanan Sipil Palestina mengimbau warga yang tinggal di tenda untuk memperkuat tiang penyangga, mengamankan terpal, membuat tanggul tanah di sekitar tempat penampungan, serta menggali saluran untuk mengalirkan air hujan.
Warga juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan struktural karena hujan deras dan angin kencang dapat memicu keruntuhan sebagian maupun keseluruhan bangunan.
Lembaga tersebut mendesak organisasi kemanusiaan dan komunitas internasional segera menyediakan tempat penampungan yang lebih aman bagi para pengungsi.
Ancaman musim dingin kali ini memperlihatkan bahwa persoalan Gaza tidak berhenti pada penghentian serangan militer. Tanpa pembukaan akses bantuan secara memadai, pemulihan infrastruktur, dan penyediaan tempat tinggal yang layak, ratusan ribu keluarga Palestina akan kembali menghadapi ancaman banjir, penyakit, dan cuaca ekstrem.
Bagi warga Gaza, hujan yang seharusnya menjadi berkah justru berpotensi menjadi ancaman baru setelah bertahun-tahun kehilangan rumah akibat perang.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
