Cerpen Kopi Sang Raja | Daan Yahya/Republika

Sastra

Kopi Sang Raja

Cerpen I Wayan Kertayasa

Oleh I WAYAN KERTAYASA

Tersiar kabar yang cukup mencengangkan. Sang raja kini turun gunung tidak mau mengurus geopolitik. Tidak mau mengurus negara-negara persemakmurannya. Dan tidak ikut campur urusan dapur negara lain. Baginda acuh tak acuh serta mengabaikan seluruh keterlibatan negaranya dalam kancah perdamaian dunia. Bukan hanya itu, seluruh pasukan yang berada di pangkalan militer negara lain dipulangkan mendadak. Akibatnya seluruh perdana menteri negara persemakmuran mengirim nota protes ke pihak kerajaan menyatakan keberatan paling serius. Namun, keputusannya sudah bulat tidak peduli lagi dengan mereka semua.

“Ini titahku. Tidak seorang pun boleh ikut campur.” suara baginda raja menggema di seluruh balairung. Tidak ada satu pejabat pun yang berani mengangkat kepala.

“Ngih, Baginda Raja,” sahut seluruh pejabat tinggi di istana serempak.

Baginda raja mengeluarkan pengaruh darah birunya serta kemutlakan ada di tangannya.

Bagindara raja berdiri tegak di singgasananya. Tatapannya menyapu setiap wajah yang tertunduk.

Sementara itu, pengamat dari  timur kocar-kacir membaca langkah politik sang raja. Mereka mencari-cari teori geopolitik hingga menarik benang merah jauh ke belakang, lalu menghubungkan dengan perang asimetris zaman sekarang pun tidak menemukan alasan kenapa Raja Carlos IV mengambil langkah seperti ini.

“Pak, bagaimana anda melihat peran Raja Carlos IV untuk perdamaian dunia kedepannya?” tanya seorang presenter TV dengan nada tenang dan menyimpan rasa ingin tahu yang tajam.

“Hem, jadi begini. Raja Carlos IV itu tidak pernah di didik menjadi sang raja besar seperti mendiang Raja Carlos I.” kata pengamat gemuk yang memakai jas hitam itu.

“Bahkan ia lebih banyak di didik dengan buku-buku, itu pun buku sastra.” imbuhnya.

“Apa yang sebenarnya ingin anda sampaikan?” tanya presenter TV swasta itu dengan tajam.

“Ya tidak nyambung, Mbak. Bagaimana bisa sastra berhadapan dengan perang.”  

“Lalu balik ke pertanyaan saya tadi, bagaimana nasib perdamaian dunia kedepannya jika seorang raja yang memimpin negara-negara persemakmuran saja mengambil langkah abstrak begini?” tanya presenter.

“Iya, itu yang saya bilang tadi, Mbak. Raja Carlos IV tidak kompeten dan absurd. Dia lebih cocok menjadi sastrawan ketimbang menjadi raja bagi negara-negara persemakmurannya.” jawab pengamat.

“Adakah kajian yang Anda temukan dalam menebak strategi yang digunakan oleh sang raja, Pak? jangan-jangan ini langkah geopolitik termuktahir, Pak.” imbuh presenter.

“Mbak, orang awam juga tahu tidak perlu analisis apa pun untuk membaca langkah geopolitik kacangan seperti ini.” kata pengamat itu sambil meremehkan.

“Kalau Raja Carlos IV mampu melawan perang dengan sastranya itu, Mbak, maka saya akan berhenti jadi pengamat geopolitik Barat. Saya akan menjadi petani singkong di kampung.”

Presenter itu terdiam sesaat. Lampu studio memantul di matanya yang tetap tenang meski suasana mulai memanas.

“Ada alasan logisnya, Pak? atau jangan-jangan seorang profesional seperti anda tidak mempunyai kajian apa pun?” lanjutnya pelan, tetapi menyudutkan si pengamat itu.

Baginda raja hanya ingin menghentikan perang dengan kopi ramuannya. Kopi bercampur mantra-mantra dapat menurunkan ketegangan di selat timur tenggara atau keculasan di mana pun. Kopi ini diklaim mengandung senyawa yang membuat dopamine peminumnya meningkat. Ketika konflik kemanusiaan yang disertai pembantaian terjadi di benua hitam, cara ini dilakukan oleh agen intelijennya.

Mereka bergerak dengan regu kecil kemudian menyelinap dan melakukan sabotase di dapur istana, hanya beberapa jam sebelum perundingan damai itu dilakukan. Meski di luar istana penjagaan berlapis-lapis. Kendaraan tempur taktis parkir dengan siap menembak. Senapan runduk membidik kepala target. Tombol peluncur hulu ledak nuklir telah siap ditekan. Mereka justru mampu menembusnya dengan aroma kopi hangat dan pekat membius semua pasukan elit.

Sementara itu, di halaman depan istana, para tetinggi kedua negara telah datang. Mereka membawa ajudan masing-masing dengan menenteng tas berisi senjata dan amunisi canggih bisa mendeteksi target. Intinya mereka telah siap tempur dengan moncong senjata yang tidak bisa diajak kompromi. Sampai di meja panjang perundingan, kata-kata tidak ada keluar. Senyum pun tidak ada merekah sampai akhirnya dayang-dayang istana menghidangkan jamuan segelas kopi dengan kue lapis legit kepada masing-masing petinggi negara itu. Sebagai jaminan keamanan, tuan rumah akan meminum kopi itu.

Ditunggu beberapa menit tidak ada reaksi berbahaya, kemudian semua pejabat minum kopi bersama-sama. Tidak butuh waktu lama, senyum itu merekah dan suasana mencair. Mereka mulai bernostalgia mengingat perjalanan leluhurnya datang ke tanah ini membawa agama dengan damai serta menyatu dengan kearifan lokal. Pribumi menerima ajaran tersebut dengan lapang dada dan tanpa ancaman apa pun. Telah berpuluh-puluh tahun kedamaian tercipta. Bahkan ketika itu tidak ada fakta pertahanan antarnegara, tetapi tidak ada satu pun peluru yang keluar dari moncong senjata serbu.

Mereka larut dan bernostalgia akan kehebatan leluhurnya menyatukan hampir seluruh negeri Timur Raya ini. Tiba-tiba kesepakatan perdamaian itu muncul begitu saja tanpa aksi militer dan tanpa ancaman tembakan senjata nuklir. Seluruh dunia menyiarkan perdamaian fenomenal ini. Sesaat setelahnya banyak pengamat kelas kacang kapri menggiring opini bahwa perdamaian ini karena ada campur tangan negara adidaya lainnya. Padahal perdamaian itu didalangi oleh Raja Carlos IV dari jarak jauh melalui agen rahasianya.

“Dunia abai dengan kejadian itu, Min.” kata baginda raja kepada Armin.  

“Ngih Baginda. Mereka sengaja menghapusnya dari ingatan setiap peradaban.” 

“Mereka menghapus semuanya, Min. Kau masih ingat?” tanya sang raja.

“Masih Baginda. Kopi bercampur mantra itu manjur sampai saat ini. Namun, setiap kali Baginda ingin menerbitkan buku  selalu disabotase. Hamba masih ingat, buku-buku itu dilarang dan dibakar setiap kali ingin dibaca.” imbuh Armin lirih.

“Masak seorang raja bersastra bukannya berperang? Begitu mereka menggiring opini publik, Min.” kata baginda raja sambil tersenyum kecil penuh ironi.

“Negara ASU (Amen Sube Uang) itu tidak bernyali, Min. Mereka terus mempropagandakan aku sebagai seorang raja yang feminim dan gemulai.”

“Aku juga dibilang plango-plongo, goblok, dan macam-macam  lagi.” imbuh sang raja, kali ini terkekeh pelan seolah hinaan itu tak melemahkannya.

“Min, kau harus ingat, mereka yang menarasikan kedamaian terus-menerus justru dialah pelaku teror sesunguhnya.” Armin terdiam. Ia tahu betul kalimat itu tidak lahir dari kemarahan, melainkan dari pengalaman panjang menghadapi propaganda dunia.

“Aku beberapa kali ingin dibunuh seperti presidennya ketika itu, tetapi langkah politikku selalu tidak ada di buku geopolitik Barat. Itulah kenapa aku selalu suka sastra untuk melawan mereka. Mereka selalu terkecoh setiap kali aku mengeluarkan pernyataan di media.”

“Termasuk pengamat gemuk yang berjas hitam itu baginda?” tanya Armin pelan.

“Oh, orang itu.” Raja Carlos IV tertawa kecil.  “Orang dari negara kelas ketiga itu, Min?”

“Ngih, Baginda,”

“Walah … aku sangat bingung, Min. Kenapa orang seperti itu bisa banyak di negara kelas ketiga ya.” ia menggeleng pelan. “Padahal di negerinya sendiri pernah terjadi tilas pembantaian. Lalu sekarang bagaimana nasib negeri itu, Min?” Armin terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

“Ada kemajuan Baginda. Mereka mendapatkan banyak penghargaan di luar negeri, sedangkan situasi dalam negerinya sendiri tidak pernah dipublikasikan utuh.” sang raja tersenyum kecil mendengar kata Armin. Jarinya mengetuk pelan cangkir kopi di hadapannya, seperti sedang merencanakan sesuatu di benaknya. 

“Aneh, tetapi misterius ya, Min. Bagaimana kalau aku berkunjung ke sana, Min?”

“Ratusan juta rakyatnya pasti senang. Sekalian memperkenalkan kopi istana di sana, Baginda.” Armin menjawab.

“Ya, Min.” Raja Carlos IV tersenyum tipis sambil mengangkat cangkir kopi di tangannya. “ Mungkin aku bisa membuka kedai kopi disana, Min. Kapan lagi rakyat jelata bisa minum kopi istana.”

“Setuju Baginda. Saya akan jadwalkan kunjungan kenegaraan ke negeri kelas ketiga itu.” kata Armin.

Armin lalu memanggil dubes negara itu untuk membicarakan rencana kunjungan Baginda Raja. Agenda ini murni untuk hubungan bilateral negara, tetapi ada aksi sosial sedikit. Perwakilan negara kelas ketiga itu langsung menyampaikan kabar luar biasa itu kepada presiden. Berita ini mulai bocor. Di dalam negerinya telah menjadi trending topik bahwa raja tertinggi negara persemakmuran akan berkunjung ke negerinya. Media pemerintah juga terus mewartakan seperti ini prestasi pemerintahannya. Rakyat terbius antusias seperti kedatangan klub sepak bola besar Eropa.

Raja Carlos tiba disambut oleh presiden dan wakil presiden langsung. Mereka saling berjabat tangan sontak kamera media tertuju pada momen bersejarah ini.  Kemudian Raja Carlos IV akan menuju istana negara untuk di jamu makan malam. Sampai di istana negara, betapa kagetnya Raja Carlos IV. Ia disambut bukan sebagai raja melainkan seperti Tuhan. Dari mulai mobilnya berhenti di depan lobi istana, baginda raja dikalungi bunga warna-warni. Tari-tarian yang harusnya sakral ditarikan secara seremonial. Sampai di karpet merah, air yang telah didoakan lintas agama dipercikkan di dada hingga kaki sang raja. Belum cukup, sampai di meja hidangan, semua jenis makanan tersedia. Mulai dari makanan lokal, makanan Barat, hingga makanan khas negara ASU itu ada. Benar-benar negara ASU itu telah memengaruhi negara kelas ketiga untuk ikut aturannya. Di sisi lain, Raja Carlos IV tahu negara ini sedang menghadapi badai El Nino. Berpotensi menjadi Godzilla El Nino menyebabkan krisis pangan dan kelaparan bagi penduduknya. 

“Presiden, apa ini tidak berlebihan?” tanya sang raja sambil memandangi meja penuh hidangan.

“Tidak Baginda. Sudi kiranya Baginda mencicipinya.”

“Aku akan mencicipi, tetapi ada syaratnya, Presiden.”

“Apa itu baginda?”

“Matikan semua kamera. Buat suasana makan malam menjadi ekslusif saja.”

Presiden tersenyum kecil, sedikit gugup. “Maaf yang mulia justru rakyat kami menantikan momen ini. Rakyat kami ingin melihat baginda makan lontong, sate, bakso, atau bahkan sambal matah.”

“Aku malu di jamu mewah begini, di saat rakyatmu sedang kesusahan, Presiden.”

“Loh, tidak benar itu Baginda. Data membuktikan rakyat kami merdeka pangan. Menjadi penduduk paling bahagia nomor satu di dunia. Dan kami juga tergolong negara yang paling aman jika perang dunia kembali meletus, Baginda.” 

Tim media kepresidenan sigap menampilkan semua data, grafik, angka pertumbuhan, dan deretan penghargaan internasional di layar besar. Seakan mereka telah menebak psikologis sang raja yang dikenal humanis dan berperasaan itu.

“Bagaimana caranya, Presiden?” Raja Carlos IV bertanya sambil memandang layar itu dengan jeli dan tenang.

“Ya, itulah hebatnya pendahulu kami.” Presiden tersenyum bangga. “Mereka membangun negeri ini dengan keadilan sosial bagi semua penduduknya.”

“Semboyan kami: berbanyak harus berkeadilan.”

“Wah, hebat sekali negaramu ini,” ujar sang raja sambil tersenyum tipis.

Makan malam itu tetap terjadi dan disiarkan langsung. Negara ini memiliki total 15 stasiun TV, semuanya menyiarkan makan malam presiden dan baginda.  Keesokan harinya agenda perjanjian bilateral dilakukan. Raja Carlos IV menawarkan kerja sama di bidang teknologi, sementara presiden menawarkan kerja sama bidang mineral. Hal ini biasa ditemukan pada negara kelas ketiga yang selalu menawarkan mengeruk tanahnya terus-menerus. Tidak hanya itu, terjadi juga kesepakatan kerja sama di bidang kuliner, bidang makan bergizi, dan bidang tata rias. Kerja sama ini seperti bukan inti dari pertemuan bilateral kedua negara, ditutupi momen santap malam yang begitu membekas di hati rakyatnya. Mereka masih candu melihat ekspresi wajah raja pertama kali memakan lontong dan semangkok bakso. Tim media istana berhasil memberi tontonan intertainment dibandingkan substansi kesepatakan yang terjadi. Raja Carlos IV curiga presiden sengaja mempropaganda rakyatnya sendiri. Cara ini khas seperti yang dilakukan Negara ASU di seluruh penjuru negeri.

Perjanjian bilateral itu berakhir hanya dalam sejam saja. Tidak ada perlawana berarti, mereka menerima semua perjanjian termasuk proposal mengeruk mineral di salah satu tanah adat. Betapa kaget sang raja mereka langsung menerima tanpa membaca detail. Ini hanya cara raja menguji presiden yang mengklaim kebahagiaan yang berdaulat di tangan rakyatnya.

Selesai semua rangkaian acara formal kenegaraan, kini sang raja akan berkunjung ke pulau paling bergengsi dan tehormat, dikenal sebagai pulau surga. Sepanjang penerbangan, Raja Carlos IV telah takjud dibuatnya. Dari ketinggian terhampar pantai nan eksotis di kelilingi resort mewah. Baginda raja mendarat kemudian dijemput mobil hitam untuk diajak berkeliling pulau itu. Pintu gerbang selamat datang sebagai wajah pulau itu menakjubkan menampilkan kesan pulau menjunjung tinggi adat dan budaya. 

Keluar dari bandara, pemandangan kontras perlahan terlihat. Kemacetan sudah menyerbu  rombongan kerajaan. Patwal kebingungan sampai akhirnya Armin, kaki tangan baginda memberi perintah melalui jalan alternatif saja. Di google maps harusnya lebih cepat setengah jam. Sepanjang perjalanan itu, Raja Carlos IV disuguhi pemandangan tanah-tanah yang sudah di kavling, vila-vila disewakan, bahkan tanah terang-terangan dijual. Plang-plang berbahasa asing berjajar di sepanjang jalan

Villa for Rent.

Land for Sale.

Sampai di sebuah pasar, pemandangan khas kolonial masih terjadi. Orang-orang paruh baya berjualan dipinggir jalan dengan gerobak seadanya. Mereka menjual ikan segar, menjual daging mentah, dan ada yang menjual sayur pakis. Wajah-wajah menahan kantuk itu dengan  sigap harus menunggu pelanggan. Kemudian sampai di simpang lima, mobil baginda diserbu pengamen cilik, pengemis, dan pengasong.  

Di tikungan depan mulai terhampar rumah-rumah beratapkan seng sembrawut bak jamur di musim hujan. Genangan lumpur menutupi akses jalan utama bahkan ban mobil Baginda Raja sampai tersangkut lalu terpaksa ditarik. Tanpa komando, warga berkumpul dan menarik mobil mewah itu keluar dari jebakan lumpur. Betapa kagetnya sang raja melihat pemandangan manusia yang tinggal di celah-celah sempit itu. Satu rumah dihuni oleh enam orang atau bahkan lebih.

“Min, bagaimana bisa ini terjadi di negara paling bahagia,” kata sang raja.

“Sebentar Baginda, kita jangan buruk sangka dulu. Jangan-jangan bahagia yang dimaksud adalah bahagia puncak hakiki.”

“Maksudmu bagaimana, Min?”

“Ikhlas, sabar, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Mereka hanya menjalani hidup penuh kehidmatan.”

“Dari mana kau tahu itu?” tanya baginda.

“Dari senyum yang merekah itu, tulus, Baginda.”

Raja Carlos IV tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. “Min, senyum itu bukan berarti bahagia. Bahagia bukan berarti senyum.”

“Wah, indah sekali kata-kata itu, Baginda.”

“Catat, Min nanti aku tulis jadi buku itu.”

Baginda menghembuskan napas panjang. Matanya menyipit memandangi mereka yang hidup dalam belenggu kemiskinan, tetapi masih bisa tersenyum.

“Atau” suara raja berubah berat, “Jangan-jangan sejak lahir mereka telah dininabobokan.  Diam adalah syukur, patuh adalah bahagia, dan menderita adalah ketulusan.” Pertanyaan itu tidak mampu dijawabnya.

 Baginda raja hanya mampir sebentar kemudian memberikan bantuan beras kepada mereka. Perjalanan dilanjutkan ke daerah yang dikatakan sebagai obat dari segala macam pelipur lara. Baginda akan membuka kedai kopi khas kerajaan dengan harga tidak lebih dari 5.000 saja. Berarti dengan perhitungan seperti itu semua kalangan harusnya bisa membeli. Uangnya akan dipakai untuk membangun perpustakaan di desa-desa.

Ramuan khusus akan diracik oleh dirinya sendiri dengan mantra-mantra khusus. Secangkir kopi pertama dibuat lalu ditaruh di meja nomor satu. Harum dupa telah semerbak memenuhi ruangan, Baginda Raja memejamkan mata lalu berkomat-kamit. Tidak boleh ada yang ribut, tidak boleh ada yang mengganggu ritual ini, dan tidak boleh ada yang mendengarkan mantra itu selain Armin, orang kepercayaannya. Kedai kopi khas negeri persemakmuran resmi dibuka. Kabar ini sontak membuat rakyat berdatangan ke sana. Ada yang rela antri sejak pagi dan ada yang rela menenguk kopi sambil berdiri di pinggir jalan.

Bukan hanya kopi yang laris, buku-buku karangannya juga silih berganti dibaca. Bahkan di rak-rak buku tidak ada tersisa sebab buku menjadi teman ngopi sebagaimana pisang goreng atau jajanan tradisional lainnya. Baru kali ini, buku tidak dilarang dan dibakar lagi. Kopi ramuan Raja Carlos IV menyeruak menjadi tren di semua kalangan termasuk anak muda yang dulunya tidak tahu arah.

Kini ngopi hanya alibi agar bisa membaca buku karangan Raja Carlos IV. Tongkrongan yang dulunya sebatas celetukan, gibah, kadang membuli beralih menjadi perdebatan kritis tentang apa sebenarnya kebahagiaan itu? Sudahkah negara itu bahagia? Atau tepatkah negara ini disebut negara paling bahagia ketika celah sempit rumah di isi oleh orang secara berlebihan?

Baru pertama kali terjadi, kaum tani membicarakan birokrasi pupuk yang berbelit-belit. Baru pertama kali terjadi, kaum buruh petik cengkeh mengenal insentif sebagai penghasilan tambahan. Dan baru pertama kali terjadi, rakyat menganalisis narasi pemerintah dengan buku sastra yang kaya makna dan simbol. Jika sebelumnya, rakyat hanya percaya kepada takdir, bahwa Tuhan sudah menggariskan semuanya, termasuk kemiskinan harus dijalani dengan ikhlas dan khidmat maka hari ini rakyat jelata siap memperdebatkannya.

Berpuluh-puluh tahun sejak itu, Raja Carlos IV tidak pernah mengunjunginya lagi. Namun, satu warisan berharganya tetap hidup dan menyebar diam-diam : membaca untuk melawan. Di usianya yang sudah sepuh, ketika rambutnya mulai memutih seluruhnya dan langkah yang tidak lagi sekuat dulu, Raja Carlos IV akhirnya memutuskan membuka dokumen inteligen dunia. Semua disimpan rapi dalam arsip bernama Sastra Yendra. Di dalamnya terdapat siapa yang culas, siapa yang menjual peperangan demi keuntungan, dan siapa yang memelihara ketakutan agar manusia tetap bekhidmat dalam kemiskinan.

Namun ada satu bagian yang tidak pernah dicatat dalam dokumen mana pun.  Mantra-mantra yang ia racik sendiri untuk menghalau setiap musuh yang ingin mengkudeta dan menghancurkan istana kerajaan. Sebab baginda tahu, bila jatuh ke tangan orang serakah, mantra-mantra itu akan jauh lebih berbahaya daripada hulu ledak nuklir.

“Min, kau mau tahu mantra-mantra itu?”

“Ampun, Baginda. Hamba tidak pantas.”

“Aku telah mempercayaimu.”

Tanpa meminta persetujuan Armin lagi, Baginda Raja membuka kitab tebal berwarna merah tua itu. Saat halaman pertama dibuka, cahaya berkilauan tiba-tiba menyembur keluar, menerangi seluruh ruangan istana. Terangnya begitu deras hingga Armin harus menyipitkan mata dan menutupi wajahnya dengan lengan. Dinding batu memantulkan sinar keemasan itu seperti matahari yang lahir di dalam ruangan.

Armin terperanjat. Dadanya berdegup keras. Baru kali itu, ia benar-benar menyadari betapa besar energi yang dimiliki Raja Carlos IV. Pantas saja sang raja dimusuhi oleh banyak kalangan. Sebab bila kekuatan seperti ini dibiarkan menyebar, kedamaian bisa tercipta tanpa ancaman, tanpa senjata, bahkan tanpa alat tawar politik apa pun. Dan bagi sebagian penguasa dunia, perdamaian tanpa rasa takut adalah malapetaka besar.

“Min, jangan kaget.” ujar baginda dengan tenang.

“Ini baru secuil. Kalau kau mampu ke halaman selanjutnya, maka peradaban ini bisa kau selamatkan.”

Armin masih terbalalak, napasnya tercekat seperti baru menerima wahyu dari langit. Kini semuanya terasa nyata baginya. Segala kekacauan dunia, jawabannya ternyata tersimpan di kitab sakti milik sang raja. 

Dan kopi…

Ternyata selama ini hanyalah medium kecil yang dipakai Baginda untuk menyalurkan energi dahsyat itu kepada manusia tanpa mereka sadari. ***

 

I Wayan Kertayasa tinggal di Gianyar, Bali

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat