Internasional
Republik Keok di Pemilu Sela AS, Israel Terpukul
Hasil pemilu diharapkan mengubah kebijakan AS di Israel.
WASHINGTON – Partai Demokrat berhasil memenangkan pemilihan umum sela di Amerika Serikat. Kekalahan Partai Republik pada Selasa (3/11/2026) itu bukan sekadar pukulan politik bagi Presiden Donald Trump, namun juga menjadi kabar buruk bagi Israel.
Kemenangan besar Partai Demokrat diperkirakan mengubah peta politik AS sekaligus memperbesar tekanan terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang selama ini memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Israel. Situasi ini berpotensi membuat hubungan Washington dan Tel Aviv menghadapi babak baru yang lebih rumit.
Merujuk hitungan the Associated Press, sebanyak 54 senator Demokrat terpilih dibandingkan 44 dari Republik. Total kursi senator yang diperebutkan adalah 100 kursi. Senat adalah kekuasaan legislatif tertinggi di Amerika Serikat. Jika perimbangan itu bertahan, bisa dipastikan kebijakan Trump termasuk serangan Iran dihambat.
Sementara di House of Representatives alias DPR-nya AS, 225 legislator Demokrat terpilih dibandingkan 137 dari Republik. Sebanyak 435 kursi direbutkan di DPR AS.
Selain pemilu legislatif, pemilu sela AS juga untuk memilih gubernur negara bagian. Demokrat lagi-lagi sementara unggul dengan 10 gubernur berbanding delapan gubernur Partai Republik.
Situasi ini juga membuka kemungkinan bagi sang presiden AS untuk menghadapi proses pemakzulan serta serangkaian penyelidikan—mulai dari urusan bisnis pemerintahannya hingga perombakan di dalam Pentagon.
Dalam perjalanan menuju kemenangan, Partai Demokrat tidak hanya merebut negara-negara bagian yang sebelumnya mendukung Trump dengan selisih suara yang signifikan—bahkan mencapai dua digit—tetapi juga memenangkan negara-negara bagian yang sudah puluhan tahun tidak dimenangkan oleh kandidat Demokrat. Sebagai contoh, Kansas belum pernah memilih kandidat dari Partai Demokrat sejak tahun 1932.
Banyak pemilihan anggota Kongres dan gubernur diramalkan berlangsung dengan persaingan yang sangat ketat—namun suasana semalam tidak mencerminkan hal tersebut. Gelombang Biru menyapu Texas, Kansas, Maine, Ohio, Iowa, dan Georgia, dengan potensi kemenangan lebih lanjut dalam siklus pemilihan paruh waktu (midterm) yang hasilnya sangat menguntungkan bagi Partai Demokrat.
Hasil pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat kemungkinan besar akan menjadi kejutan besar bagi banyak pihak di Israel, sekaligus memperdalam rasa keterasingan negara tersebut.
Hal ini bukan sekadar karena kendali atas DPR dan Senat telah lepas dari tangan Donald Trump—yang selama ini dianggap sebagai "pendukung terbesar" Israel—melainkan juga karena munculnya generasi baru politisi Demokrat yang pro-Palestina, yang banyak di antaranya justru mendapatkan dukungan dari pemilih Yahudi Amerika.
Hasil jajak pendapat awal (exit poll) di Michigan menunjukkan bahwa 60 persen suara dari komunitas Yahudi diberikan kepada Abdul El-Sayed, yang di hadapan para pendukungnya yang bersorak merayakan kemenangan mengatakan: "Kami tidak ingin uang kami digunakan untuk mendukung apartheid, genosida, atau perang." Di New York pun, kelompok kiri yang pro-Palestina berhasil meraih kemenangan dengan mudah.
Bagi banyak orang Israel, hasil ini akan terasa mengejutkan, terutama pola pemilihan yang ditunjukkan oleh sebagian besar diaspora Yahudi Amerika—sesuatu yang sulit dipahami oleh banyak kalangan di Israel, terlepas dari spektrum politik mana mereka berasal.
Bahkan pada hari Selasa, menyusul pernyataan Trump bahwa bantuan militer AS untuk Israel akan segera dihentikan, sejumlah politisi dan komentator mulai menyalahkan kelompok sayap kanan Israel karena dianggap telah merusak hubungan negara tersebut dengan mitra dan sekutu yang paling penting.
Dalam analisis yang diterbitkan The Jerusalem Post, Rabu (4/11/2026), teridentifikasi tiga tantangan besar yang harus dihadapi Israel setelah kekalahan Partai Republik. Ketiganya berkaitan dengan kebijakan Trump terhadap Iran, perubahan kekuatan politik di Kongres AS, serta pertarungan menuju pemilihan presiden 2028.
Tantangan pertama berkaitan dengan perang melawan Iran yang dilancarkan AS dan Israel. Konflik tersebut ternyata menjadi beban politik serius bagi Partai Republik dalam pemilu sela.
Penolakan masyarakat Amerika terhadap perang menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan. Jajak pendapat saat pemilu menunjukkan 62 persen pemilih menentang perang melawan Iran. Bahkan, Trump mengakui konflik tersebut ikut berkontribusi terhadap kekalahan partainya.
Menurut analisis The Jerusalem Post, hasil pemilu memberikan pesan jelas bahwa masyarakat AS tidak menginginkan keterlibatan militer berkepanjangan di Timur Tengah.
Kondisi tersebut menempatkan Trump dalam posisi sulit. Gedung Putih memiliki dua kemungkinan langkah. Pertama, mempercepat jalur diplomasi dan memberikan sejumlah konsesi dalam perundingan dengan Teheran demi mengakhiri konflik.
Kedua, Trump dapat memilih operasi militer singkat tetapi berskala besar untuk mengklaim kemenangan, sebelum mengurangi keterlibatan AS di kawasan tersebut.
Kedua skenario itu berpotensi menimbulkan persoalan bagi Israel. Kepentingan pemerintahan Benjamin Netanyahu tidak selalu sejalan dengan keinginan Trump untuk segera mengakhiri perang dan mengurangi keterlibatan militer AS di Timur Tengah.
Kongres AS berpotensi menjadi sumber tekanan bagi Israel
Tantangan kedua adalah perubahan komposisi Kongres AS. Kemenangan Demokrat membuka peluang bagi semakin banyak legislator yang memiliki pandangan kritis terhadap kebijakan Israel, terutama terkait perang di Gaza dan bantuan militer Washington kepada Tel Aviv.
Kendali Demokrat atas Kongres memberikan kekuatan politik yang lebih besar untuk menentukan agenda legislasi, kepemimpinan komite, hingga menggelar penyelidikan dan dengar pendapat mengenai kebijakan Israel.
Para legislator Demokrat juga berpeluang mendorong berbagai inisiatif untuk membatasi bantuan militer AS kepada Israel, mensyaratkan perubahan kebijakan pemerintah Israel, hingga mengevaluasi kembali hubungan strategis kedua negara.
Memang, tidak semua legislator Demokrat memiliki pandangan yang sama mengenai Israel. Namun, semakin besarnya kelompok yang kritis terhadap Tel Aviv menjadi perkembangan yang sulit diabaikan pemerintah Israel.
Selama ini, kritik keras terhadap Israel di Kongres AS lebih banyak diasosiasikan dengan kelompok progresif, termasuk sejumlah anggota yang dikenal sebagai The Squad. Kini, pandangan tersebut semakin mendapatkan ruang dalam arus utama politik Partai Demokrat.
Perubahan itu juga terlihat dari semakin besarnya keengganan sejumlah politikus Demokrat menerima dukungan kelompok lobi pro-Israel, termasuk American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).
Pemilu 2028 bisa menjadi ancaman lebih besar
Tantangan ketiga, yang dinilai tidak kalah penting, adalah pemilihan presiden AS pada 2028. Hasil pemilu sela berpotensi menjadi titik awal perubahan sikap Partai Demokrat terhadap Israel dalam kontestasi mendatang.
Kemenangan politikus yang secara terbuka mengkritik Israel menunjukkan bahwa sikap tersebut tidak selalu menjadi hambatan elektoral. Bahkan, di sejumlah daerah, kritik terhadap kebijakan Israel dan penolakan terhadap pengaruh AIPAC justru dapat menjadi modal politik.
Nama Wali Kota New York Zohran Mamdani menjadi salah satu figur yang diperhatikan dalam perkembangan tersebut. Keberhasilan politikus dengan pandangan kritis terhadap Israel dapat menjadi inspirasi bagi generasi baru politikus Demokrat.
Kondisi ini berpotensi mendorong para kandidat presiden Demokrat pada 2028 mengambil sikap lebih keras terhadap Israel. Mereka akan menghadapi tekanan dari basis pemilih partai yang semakin vokal menuntut perubahan kebijakan Washington terhadap Tel Aviv.
Dengan demikian, dampak kekalahan Republik tidak hanya dirasakan Israel dalam jangka pendek melalui perubahan kekuatan di Kongres. Lebih jauh, hasil pemilu tersebut dapat mengubah fondasi dukungan politik AS terhadap Israel untuk beberapa tahun mendatang.
Bagi Tel Aviv, persoalannya bukan semata-mata kehilangan sekutu di Gedung Putih atau berkurangnya dukungan dari sebagian anggota parlemen. Israel menghadapi perubahan sentimen politik Amerika yang berpotensi membuat dukungan tanpa syarat Washington semakin sulit dipertahankan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
