Internasional
Pengepungan Hebron Berlanjut
Israel tutup 10 pintu masuk ke Hebron.
HEBRON – Israel memperketat pengepungan terhadap Kota Hebron di Tepi Barat yang diduduki. Pasukan militer Israel menutup sedikitnya 10 pintu masuk menuju kota tersebut, melakukan penggerebekan rumah, serta memaksa ribuan warga Palestina meninggalkan tempat tinggal mereka. Hingga Jumat (30/10/2026), sebanyak 4.969 warga dilaporkan telah mengungsi akibat operasi militer yang memasuki pekan kedua.
Investigasi Unit Jurnalisme Data Aljazirah mengungkap, pengepungan Israel tidak hanya melumpuhkan pergerakan warga, tetapi juga menimbulkan dampak kemanusiaan dan ekonomi yang serius di salah satu kota terbesar di Tepi Barat tersebut.
Data Pemerintah Kota Hebron yang dianalisis Aljazirah menunjukkan, sebanyak 780 keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka. Jumlah tersebut setara dengan sekitar dua persen dari total populasi Hebron yang mencapai 250 ribu jiwa.
Kelompok rentan menjadi bagian besar dari warga yang terusir. Mereka terdiri atas 441 lansia, 336 bayi berusia di bawah dua tahun, dan 312 orang dengan penyakit kronis. Selain itu, terdapat lebih dari 200 perempuan hamil dan menyusui serta 44 penyandang disabilitas.
Wali Kota Hebron Yousef al-Jabari mengatakan, ribuan warga dipaksa meninggalkan rumah mereka. Kondisi semakin memilukan karena sejumlah keluarga harus mengungsi pada tengah malam.
"Ribuan warga dipaksa keluar dari rumah mereka, dan dunia menyaksikan anak-anak menangis setelah tengah malam," kata al-Jabari kepada Aljazirah.
Dalam keterangannya kepada Anadolu Agency, dia menggambarkan Hebron tengah menghadapi pengepungan besar-besaran dan hukuman kolektif.
Jumlah pengungsi meningkat tajam dalam waktu singkat. Pada 24 Oktober lalu, al-Jabari masih menyebut sekitar 2.200 orang telah mengungsi. Angka tersebut kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa hari.
Israel Tutup 10 Pintu Masuk
Analisis Aljazirah mengungkap, militer Israel mengepung Hebron dengan menutup 10 akses utama yang berada pada jarak sekitar 2,4 hingga 7,6 kilometer dari pusat kota.
Di bagian utara, penutupan dilakukan di kawasan Halhul, Nabi Yunus, dan Ras al-Jora. Sementara itu, akses Beit Einun ditutup di timur laut dan Bir al-Mahjar di barat laut.
Pengepungan juga dilakukan di sisi timur dan selatan melalui penutupan Jabal Juhar, al-Fahs, Qalqas, al-Harayiq, dan Dura.
Di sisi barat kota, pasukan Israel menetapkan zona operasi militer tertutup yang mencakup sedikitnya 0,29 kilometer persegi atau setara dengan sekitar 40 lapangan sepak bola.
Israeli occupation forces storm a Palestinian home in Deir Buha, Hebron, in the occupied West Bank. https://t.co/4ZT3bFvaBw — Quds News Network (QudsNen) October 29, 2026
Operasi militer tersebut dimulai pada Jumat (23/10/2026), setelah dua warga Palestina menyerang tentara Israel di Hebron. Insiden itu menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga lainnya. Pasukan Israel kemudian membunuh kedua pelaku.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons insiden tersebut dengan memerintahkan aparat keamanan segera menutup Hebron dan mempersiapkan penutupan total di seluruh wilayah Tepi Barat.
"Kita akan bertindak untuk menghancurkan tempat ini dan mengubahnya sepenuhnya," ujar Netanyahu.
Militer Israel berdalih operasi tersebut bertujuan menggagalkan aksi terorisme melalui penggeledahan, penangkapan orang-orang yang dicurigai, dan penyitaan senjata.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan menyatakan warga Palestina tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka sampai infrastruktur Hamas dibongkar.
Namun, media Israel Ynet mengutip keterangan militer yang mengakui pencarian senjata sejauh ini hanya membuahkan hasil terbatas. Militer juga menghadapi kesulitan hukum jika terus melarang warga kembali ke rumah mereka dalam waktu lama.
Rumah Dirobohkan, Warga Ditangkap
Pengusiran warga berlangsung bersamaan dengan penghancuran bangunan dan pengambilalihan rumah-rumah Palestina untuk kepentingan militer.
Di kawasan Farsh al-Hawa, pintu masuk bagian barat Hebron, pasukan Israel menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal yang memiliki tiga apartemen selama dua hari pertama operasi, yakni pada 23 dan 24 Oktober.
Militer Israel juga menyerang sebuah perusahaan keramik dan sejumlah toko suku cadang kendaraan. Selain itu, buldoser Israel meratakan sekitar 7.000 meter persegi lahan.
Keluarga-keluarga di kawasan al-Jalda dan Ein Deir Bahha juga dipaksa meninggalkan rumah mereka pada tengah malam. Tentara Israel mengumumkan perintah pengosongan melalui pengeras suara.
Menurut laporan Anadolu, sejumlah rumah warga kemudian diubah menjadi barak militer dan bendera Israel dikibarkan di atas bangunan tersebut.
Situasi pengungsian semakin memprihatinkan karena sebagian besar keluarga tidak memiliki tempat penampungan yang layak. Dari keluarga yang keberadaannya berhasil dilacak, sebanyak 283 keluarga tinggal bersama kerabat, sedangkan 266 keluarga menempati lokasi yang dikategorikan tidak aman oleh pemerintah kota.
Penangkapan juga meluas di wilayah Kegubernuran Hebron. Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS) mencatat sekitar 110 warga Palestina ditangkap selama enam hari pertama operasi militer.
Mereka termasuk tujuh anak-anak, warga berkebutuhan khusus, mantan tahanan, dan tiga perempuan. Dua perempuan telah dibebaskan, sedangkan satu lainnya masih menjalani pemeriksaan di pusat penahanan al-Mascobiyeh.
Pasukan Israel juga masih menahan delapan kerabat dari dua warga Palestina yang melakukan serangan terhadap tentara Israel.
Di luar penangkapan resmi, ratusan warga lainnya menjalani interogasi lapangan ketika tentara menggerebek rumah, jalanan, dan pos pemeriksaan. PPS melaporkan interogasi tersebut disertai pemukulan dan perlakuan kasar. Militer Israel mengklaim telah menggeledah lebih dari 500 lokasi di kota tersebut.
Pengepungan Israel turut melumpuhkan aktivitas ekonomi Hebron. Kamar Dagang dan Industri Hebron memperkirakan kerugian perdagangan mencapai 12 juta shekel atau sekitar 3,8 juta dolar AS setiap hari.
Wakil Ketua Kamar Dagang Adnan al-Natsheh mengatakan, kapasitas produksi pabrik-pabrik di Hebron anjlok antara 40 hingga 60 persen akibat pembatasan pergerakan dan penutupan akses.
Kegubernuran Hebron memiliki sekitar 3.500 fasilitas industri, terutama industri plastik dan produk susu. Wilayah tersebut juga menjadi lokasi 70 persen bengkel pengolahan emas yang memasok pasar Palestina.
Pergerakan truk pengangkut barang bahkan terhenti sepenuhnya. Sementara itu, penghancuran bangunan di kawasan Farsh al-Hawa saja menyebabkan kerugian lebih dari dua juta shekel atau sekitar 640 ribu dolar AS.
Pengepungan terbaru ini memperburuk situasi yang sebelumnya sudah berat akibat operasi militer dan kekerasan pemukim Israel.
Pada September 2026 saja, Kegubernuran Hebron mencatat 272 serangan, termasuk 122 serangan yang dilakukan pemukim Israel. Sebanyak 19 operasi penghancuran juga menyebabkan 91 bangunan rata dengan tanah.
Data tersebut menjadikan Hebron sebagai kegubernuran yang paling banyak menjadi sasaran penghancuran bangunan di Tepi Barat pada periode tersebut.
Pengepungan Hebron kini bukan sekadar operasi keamanan yang diklaim Israel. Penutupan akses, pengusiran keluarga, penghancuran rumah, dan pelumpuhan aktivitas ekonomi telah menciptakan krisis kemanusiaan yang semakin dalam bagi warga Palestina di wilayah pendudukan.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
