Cerpen Lingkaran Api, Rumah Lapuk, dan Tikungan Hidup dan Mati | Daan Yahya/Republima

Sastra

Lingkaran Api, Rumah Lapuk, dan Tikungan Hidup dan Mati

Cerpen Layla Nusayba

Oleh LAYLA NUSAYBA

Acim berdiri sejenak di depan rumah, mendengar tetangga bercakap-cakap tentang bantuan yang tak kunjung datang. Ia menggeleng, tak habis pikir dengan cara warga Kampung Dobrok menjalani hidup. Mereka sudah melarat, tetapi tak pernah benar-benar ada yang mempersoalkan ketimpangan yang terjadi di kampung itu. Seolah-olah semua telah menerima nasibnya masing-masing.

Ia sendiri berada di rumah baru beberapa hari, setelah kepayahan hidup di kota memaksanya menyerah. Selama di sana Acim menyambung hidup dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, serabutan, sejak masa kontraknya di pabrik berakhir. Namun, nasibnya tak juga berubah. Ia tak lagi sanggup memenuhi kebutuhan harian, apalagi membayar sewa kontrakan. Usialah yang menjadi persoalan. Ia tak mengerti, sejak kapan bekerja hanya hak mereka yang baru lulus sekolah. Bukankah lapar tak pernah bertanya umur?

Karena malu yang terlampau besar, Acim tak pernah menceritakan keadaan sebenarnya kepada Emak maupun orang-orang kampung yang bertanya. Ia hanya bilang sudah bosan bekerja di tempat yang penuh jambret dan polusi udara.

Namun, Acim tak menyangka kehidupan di Kampung Dobrok telah berubah. Orang-orang yang dulu saling membantu, saling menyapa dengan senyum ramah, kini lebih sibuk menghitung jatah bantuan yang disebut untuk rakyat miskin. Mereka yang menerima bantuan akan berjalan dengan senyum lebar, seolah-olah beban hidup telah berkurang. Sementara yang tak kebagian hanya bisa menatap sendu dan tertunduk.

Emak termasuk di antara mereka yang pandai menyembunyikan kesedihan. Di depan Acim, wajah itu selalu tampak tenang. Ia seorang janda penjual hasil kebun ke pasar. Namun, bagi Pak RT, Emak tergolong warga mampu dengan alasan anaknya pernah bekerja di kota.

Di mimbar desa lelaki paruh baya itu selalu mengatakan bantuan telah disalurkan sesuai prosedur. Padahal, pada kenyataannya, sanak saudaranya yang lebih diutamakan, meskipun hidup mereka jauh lebih lapang daripada Emak.

“Emak masih sanggup mencukupi hidup, Nak,” kata perempuan itu sambil mengunyah sirih bercampur pinang. Usianya telah lanjut, tetapi giginya masih berderet utuh, seakan-akan ingin membuktikan bahwa ia benar-benar kuat.

“Tapi Emak janda, loh. Jompo. Butuh bantuan,” sahut Acim. Ia menangkap getir yang bersembunyi di balik senyum emaknya.

Emak terkekeh saja sambil melepehkan sirih ke tanah, lalu berlalu meninggalkan Acim sendirian.

Lebih mengherankan lagi, ada saja warga yang menjual barang bantuan kepada tetangganya sendiri. Bukan berbagi, melainkan benar-benar menjual. Acim tak pernah tahu bagaimana orang-orang itu bisa memperoleh bantuan lebih banyak dari yang lain. Ia hanya melihat kantong-kantong berpindah tangan.

Tak hanya itu saja, di Kampung Dobrok penagih bank keliling saban hari berkeliling dari rumah ke rumah. Wajahnya garang, kulitnya legam tersengat matahari, dan parfum murahan yang dipakainya menyengat. Acim meludah ke tanah setiap kali orang itu lewat. Hampir sebagian besar warga terlilit utang. Mereka mencekik diri perlahan-lahan dengan bunga pinjaman.

Akan tetapi, bukan tanpa alasan warga mempercayakan hidupnya pada bank keliling. Penyebabnya adalah keputusan-keputusan dari atas yang membikin hidup orang-orang kecil makin sulit. Ketika uang dibutuhkan segera, bank keliling hadir tanpa banyak syarat. Cukup dengan KTP, uang cair hari itu juga. Selebihnya urusan nanti. Berbeda dengan koperasi desa yang prosesnya berbelit-belit. Pencairannya lama. Kasarnya, orang sekarat akan keburu mati sebelum bisa meminjam uang.

Salah satu korban bank keliling itu tetangga belakang rumahnya, seorang perempuan penjual gorengan keliling. Wajahnya muram saat menyerahkan setoran kepada penagih.

“Harga minyak naik lagi,” keluh perempuan itu. “Dagangan tak seramai dulu, sementara dapur harus tetap ngebul. Suami hanya buruh bangunan, kadang dapat proyek kadang tidak.” 

Ia menghela napas dan meneruskan, “Hidup harus dikuat-kuatkan.”

Nelangsalah Acim mendengarnya. Rasa itu bertambah ketika matanya sempat menangkap keadaan rumah perempuan itu. Lantainya berantakan, beling berserakan bercampur cairan kopi yang sudah mengering. Acim menarik napas panjang. Tangannya mengusap-usap dada, mencoba meredam sesuatu yang hendak naik ke kerongkongannya.

Pandangannya lalu beralih ke balai-balai. Di sana penagih bank keliling duduk santai, menekuri buku utang dengan pena. Ingin rasanya Acim menghampiri, meninju wajah menjengkelkan itu, lalu menginjak-injak buku catatan di tangannya. Namun, suara Emak tiba-tiba memenuhi kepalanya. “Jangan suka mencampuri urusan orang.” Acim menelan ludah.

Di hari lain, keluhan seorang bapak berusia empat puluhan menghampiri telinga Acim. Lelaki itu bercerita sambil memandangi motor tuanya, kendaraan yang saban pagi mengantar barang ke pasar. Ia mengeluh mengapa orang miskin tetap harus membayar pajak, dan ia tak punya pilihan karena aparat sering berjaga di jalan menuju pasar. Beberapa motor yang lewat bahkan pernah ditilang. Karena itulah ia terpaksa meminjam uang dari bank keliling untuk melunasi pajak.

“Uangnya buat jalan? Tapi kok, masih bolong-bolong jalan kita.”

“Iya, Pak, buat pembangunan. Ya, mungkin karena banyak jalan yang perlu diurus, tidak di sini saja, nanti juga dibenerin,” jawab si penagih nyaris tanpa ekspresi. Baginya, pertanyaan itu tak penting. Ia hanya mengejar setoran, yang harus sampai ke tangan pemodal agar dapur rumahnya tetap mengepul. Tak dipedulikannya pula cibiran dan omongan soal dosa. Tak bisa makan terasa lebih menakutkan daripada ancaman akhirat yang tak pernah ia lihat wujudnya.

“Oh, begitu ....”

Acim memperhatikan lelaki itu menyerahkan uang setoran. Baju dan rambut sama kusutnya. Tangannya sedikit gemetar ketika menyodorkan lembaran uang. Matanya tertahan lama pada catatan utang di tangan si penagih, sebelum kemudian menggaruk-garuk kepala.

Di hari yang lain lagi, Acim melihat teman semasa sekolahnya duduk menunduk di teras. Punggungnya melengkung seperti ditindih beban yang teramat berat. Lingkar hitam mengendap di bawah matanya. Sesekali tangannya menjambak rambut sendiri. Ia mengeluh kepada si penagih soal utangnya yang tak kunjung lunas, soal istri yang pergi meninggalkannya begitu saja, soal pekerjaannya yang tak tentu, dan soal betapa sialnya ia karena tidak menang main judol.

Dari tempatnya berdiri, Acim tersentak ketika suara si penagih meninggi. Ia mengungkit perjanjian dan mengancam akan mengambil barang berharga jika tak ada setoran. Suara kerasnya cukup untuk memanggil tetangga keluar rumah. Bisik-bisik pun menyebar, cepat dan ringan, seperti angin.

“Minggu depan pasti saya bayar, Bang,” kata temannya sambil menangkupkan tangan.

“Saya tidak makan janji.” Si penagih menarik kerah lelaki itu karena merasa dipermainkan.

Sesuatu di dada Acim retak dan pecah. Ia langsung menghampiri mereka tanpa sempat berpikir. Tinju dilepaskannya ke wajah si penagih yang bertubuh lebih besar darinya. Baku hantam pun terjadi. Mereka saling dorong dan saling pukul. Beberapa tetangga berteriak panik. Seorang di antaranya lari tergesa ke rumah Pak RT.

“Menagih memang sudah tugas saya, Pak. Saya juga harus setoran,” ujar si penagih sambil membetulkan bajunya yang berantakan ketika Pak RT datang melerai. Ia tak pernah benar-benar takut diseret ke penjara. Ia paham betul pemilik modal memang tak pernah turun ke lapangan, tetapi selalu tahu kapan muncul dengan uang untuk menutup mulut aparat.

Sementara itu, Acim pulang dengan langkah pincang. Sebagian tubuhnya babak belur. Uang terakhir yang ia simpan di kantong celana diberikan ke temannya untuk menutupi cicilan.

Di rumah, Emak sudah menunggu dengan omelan yang tak tertahan. Tangannya cekatan membersihkan luka, tetapi mulutnya tak jua mau diam. “Kau ini kenapa selalu ikut campur urusan orang?”

Acim meringis ketika kapas menekan lebam di tulang pipinya. “Hatiku sakit, Mak.”

Emak terdiam sejenak. Tangannya sempat berhenti mengobati luka Acim. Lalu omelan itu kembali memenuhi kuping anaknya.

Siapa sangka, dua hari kemudian kabar mengejutkan datang. Teman semasa sekolah Acim ditemukan mati di kamarnya, dengan leher terjerat tali tambang. Istrinya bahkan tak sudi menampakkan wajah di pemakamannya. Ia menjadi perbincangan hangat kampung selama sepekan, lalu menguap digantikan gosip lain.

Acim duduk lama di teras rumah, memandang tanah yang retak oleh panas. Dadanya terasa penuh, tetapi tak ada satu pun kata yang sanggup keluar. Ia bertanya-tanya apa yang seharusnya dilakukan agar temannya tidak mengakhiri hidup? Namun, ia tidak menemukan jawabannya.

Ia merasa kecil, terlalu kecil, seperti seekor semut yang nekat memasuki sarang rangrang. Ia paham ada pertarungan yang bahkan niat baik pun tak cukup kuat untuk memenangkannya.

Lalu hari-hari tetap bergerak seperti roda yang tak pernah mau berhenti meskipun jalan berlubang. Bantuan tetap menjadi rebutan. Penagih bank keliling tetap berkeliling. Acim membantu Emak di kebun, lalu mengantar hasil panen sayuran ke pasar.

Suatu pagi sebuah pikap menyeruduknya dari arah belakang. Tubuh Acim terlempar. Sayuran di boncengan motornya berhamburan di jalan, tergilas ban dan sandal orang-orang yang berkerumun. Kemacetan tak terhindari. Sopir pikap melarikan diri.

Nahas memang, tetapi itu belum yang terburuk. Di rumah sakit, Emak baru mengerti bahwa fasilitas kesehatan yang selama ini mereka bayar tiap bulan ternyata tidak untuk kasus kecelakaan. Ia mondar-mandir di lorong. Tangannya gemetar menggenggam berkas-berkas yang tak ia pahami sepenuhnya. Hingga akhirnya Emak melakukan satu-satunya hal yang ia tahu, mendatangi bank keliling.

Bagi Acim itu seperti menelan ludah sendiri. Sesuatu yang selama ini ia lawan, kini justru masuk ke rumahnya, duduk diam di sana. Lingkaran itu memang tak pernah bisa diputus, seolah-olah sudah ditakdirkan untuk orang-orang seperti mereka.

“Maafkan Emak,” kata perempuan tua itu pelan, nyaris berbisik, ketika Acim sudah terbaring kembali di rumah. “Emak tak punya cara lain.”

Acim memalingkan wajah menatap dinding. “Tak apa, Mak. Acim mengerti.” 

Perlahan-lahan kondisi Acim membaik. Pada suatu siang, di teras rumah, ia berhadapan lagi dengan lelaki yang pernah ia pukul. Tak ada sisa dendam di wajah itu, seakan-akan peristiwa kemarin hanyalah debu yang tertiup angin. Parfum murahannya lebih dulu menyapa hidung Acim, tetapi kali ini ia tidak meludah. Lelaki itu membuka buku catatan utang, lalu menerima uang cicilan dari Acim. 

 

Layla Nusayba, perempuan Jawa yang suka membaca. Saat ini ia bergabung dengan komunitas literasi Tiga Strata dan Loker Kata.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat