Perwira Pertamina memeriksa LPG Production Booster System di Badak LNG, Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (6/12/2022). | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Opini

Gas Is Back: Momentum Indonesia Jadi Pemain Energi Global

Kekayaan gas harus diubah menjadi kekuatan industri nasional.

OLEH Dr. Anggawira (Ketua Umum ASPEBINDO)

Berjalan dari satu paviliun ke paviliun lain di Gastech 2026 Bangkok, saya menangkap satu pesan yang semakin jelas: dunia tidak sedang meninggalkan gas, melainkan sedang mendefinisikan ulang peran gas.

Gastech 2026 yang berlangsung pada 14–17 September di Bangkok mempertemukan pemerintah, perusahaan energi, investor, trader, perusahaan teknologi, dan pelaku industri dari berbagai negara. Gas alam dan LNG tetap menjadi jantung pertemuan, tetapi percakapannya kini jauh lebih luas, mencakup geopolitik, ketahanan energi, elektrifikasi dan industrialisasi, investasi, artificial intelligence (AI), teknologi rendah karbon, hydrogen, hingga ketahanan rantai pasok.

Perubahan ini penting karena beberapa tahun terakhir diskursus transisi energi kerap disederhanakan menjadi pertentangan antara energi fosil dan energi terbarukan. Namun, apa yang saya lihat di Bangkok menunjukkan pendekatan yang semakin pragmatis. Pertanyaan dunia bukan lagi semata-mata, seberapa cepat kita meninggalkan energi fosil, tetapi bagaimana menyediakan energi yang cukup, terjangkau, aman, dan semakin rendah karbon untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Asia dan kembalinya energy security

Pemilihan Bangkok sebagai tuan rumah Gastech juga mempunyai makna tersendiri karena Asia sedang menjadi salah satu pusat gravitasi pertumbuhan permintaan energi dunia. Pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, industrialisasi, elektrifikasi, serta digitalisasi membuat kawasan ini menghadapi tantangan berbeda dengan sebagian negara maju.

Negara-negara berkembang harus mengerjakan dua agenda besar secara bersamaan, yakni menambah pasokan energi untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sekaligus melakukan transisi menuju sistem energi yang semakin rendah karbon. Karena itu, transisi energi bagi negara berkembang tidak dapat sekadar diterjemahkan sebagai mengganti satu sumber energi dengan sumber energi lainnya.

Kita membutuhkan keseimbangan antara tiga hal, yakni energy security, affordability, dan sustainability. Energi harus tersedia dengan harga yang kompetitif, sekaligus dengan emisi yang terus diturunkan. Gas berada di tengah tiga kepentingan tersebut.

Menariknya, salah satu agenda strategis Gastech tahun ini bahkan menggunakan istilah “the new LNG order”. LNG ditempatkan sebagai enabler pertumbuhan ekonomi, reliability sistem kelistrikan, dan daya saing industri ketika dunia menghadapi ketegangan geopolitik, perubahan jalur perdagangan, kebijakan karbon, serta lonjakan kebutuhan listrik.

Ini menunjukkan satu hal, energy security kembali ke meja utama pengambilan keputusan. Energi termurah belum tentu energi yang paling aman, sehingga negara harus mulai menghitung availability, reliability, diversification, dan resilience.

Gas dan masa depan energi Indonesia

Salah satu isu paling menarik yang saya temukan di Gastech tahun ini justru datang dari luar industri gas tradisional, yakni artificial intelligence. AI mungkin bekerja di dunia digital, tetapi infrastrukturnya sangat fisik karena data center membutuhkan listrik, sementara hyperscale computing membutuhkan listrik dalam jumlah sangat besar dan pasokan tersebut harus tersedia 24 jam sehari.

Agenda Gastech secara khusus membahas hubungan antara AI, semikonduktor, computing infrastructure, hyperscale data centers, ketersediaan energi, dan kapasitas jaringan listrik. Maka semakin jelas bahwa the AI race is also becoming an energy race.

Ini memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Kita ingin menarik investasi data center, digital industry, semiconductor ecosystem, advanced manufacturing, dan berbagai industri masa depan, tetapi investor tidak hanya akan bertanya tentang insentif fiskal, lahan, atau konektivitas internet. Mereka juga akan bertanya apakah listrik tersedia, apakah reliable, berapa harganya, dan seberapa rendah emisinya.

Persaingan investasi masa depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan negara menyediakan reliable, affordable and increasingly clean power. Dalam konteks inilah kita sebaiknya berhenti mempertentangkan gas dengan energi terbarukan. Masa depan sistem energi bukanlah gas versus renewable, melainkan gas + renewable + storage + grid + digital technology, dengan masing-masing mempunyai fungsi dalam membangun sistem energi yang andal.

Namun, istilah “gas is back” jangan disalahartikan sebagai kembali kepada business as usual. Justru tuntutan terhadap industri gas semakin tinggi karena gas masa depan harus menjadi cleaner gas. Pengurangan emisi metana, efisiensi produksi, CCUS, digital monitoring, dan penurunan carbon intensity akan semakin menentukan daya saing gas.

Gastech sendiri tidak hanya berbicara mengenai natural gas dan LNG, tetapi juga low-carbon solutions, AI, hydrogen, dan berbagai teknologi untuk transformasi sistem energi. Maka pertanyaannya bukan lagi hanya berapa banyak gas yang dapat kita produksi, tetapi juga seberapa kompetitif dan seberapa rendah emisi gas yang kita produksi. Itulah yang pada akhirnya akan ikut menentukan investasi, pembiayaan, dan akses pasar.

Di sinilah refleksi terbesar bagi Indonesia. Kita memiliki sumber daya gas yang besar, pasar domestik, industri pupuk dan petrokimia, pembangkit listrik, smelter, kawasan industri, serta potensi pertumbuhan data center. Posisi geografis Indonesia juga berada tepat di tengah kawasan yang kebutuhan energinya terus berkembang.

Tetapi mempunyai sumber daya saja tidak cukup. Tantangan sebenarnya adalah seberapa cepat kita mampu mengubah resource menjadi reserve, kemudian production, infrastructure, market, hingga industrialisation. Indonesia tidak boleh puas menjadi negara yang kaya gas di bawah tanah tetapi lambat mengubahnya menjadi aktivitas ekonomi di atas tanah.

Setiap keterlambatan monetisasi lapangan gas bukan hanya kehilangan potensi produksi, tetapi juga menimbulkan opportunity cost berupa investasi, penerimaan negara, aktivitas industri, transfer teknologi, dan lapangan kerja yang tertunda. Karena itu, percepatan proyek gas harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi industrialisasi nasional.

Masalah Indonesia juga bukan hanya produksi. Sebagai negara kepulauan, sumber gas tidak selalu berada di tempat permintaan berada, sehingga Indonesia dapat mengalami surplus di satu wilayah pada saat wilayah lainnya justru membutuhkan pasokan.

Karena itu, kita membutuhkan national gas connectivity. Pipeline, LNG terminal, FSRU, small-scale LNG, virtual pipeline, CNG hingga jaringan gas tidak boleh berjalan sebagai proyek yang berdiri sendiri, melainkan harus menjadi satu sistem. Gas harus dapat bergerak dari tempat ia tersedia menuju tempat ekonomi membutuhkannya karena tanpa konektivitas, sumber daya tidak otomatis menjadi ketahanan energi. 

Persoalan berikutnya adalah harga. Tidak semua sumber gas Indonesia memiliki struktur biaya yang sama, karena lapangan mature mempunyai economics berbeda dengan offshore, deepwater, ataupun LNG. Di sisi lain, industri membutuhkan harga gas yang kompetitif agar produk Indonesia mampu bersaing.

Karena itu, Indonesia perlu semakin serius mengembangkan cocktail pricing atau mekanisme agregasi harga. Gas dari berbagai sumber dengan struktur economics berbeda dapat dikombinasikan sehingga menghasilkan harga yang tetap memberikan keekonomian bagi produsen tetapi kompetitif bagi konsumen.

Kita jangan terjebak pada dua ekstrem, yakni harga terlalu rendah sehingga proyek hulu tidak ekonomis, atau harga terlalu tinggi sehingga industri hilir kehilangan daya saing. Keseimbangan tersebut membutuhkan agregasi pasokan, infrastruktur, kepastian kontrak, transparansi mekanisme harga, dan tata kelola yang kuat.

Pada akhirnya, Indonesia tidak boleh melihat gas semata sebagai komoditas. Setiap tambahan produksi gas seharusnya memunculkan pertanyaan, industri apa yang dapat kita bangun dari gas tersebut?

Pupuk, petrokimia, methanol, ammonia, pembangkit, smelter, kawasan industri hingga data center dapat menghasilkan multiplier effect yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menjual molekul gas. 

Keberhasilan kebijakan gas jangan hanya diukur dari produksi atau lifting. Kita juga perlu mengukurnya dari berapa besar investasi yang tercipta, industri baru yang tumbuh, impor yang dapat disubstitusi, ekspor bernilai tambah yang dihasilkan, serta lapangan pekerjaan yang tercipta. Gas harus menjadi instrumen industrialisasi.

Saatnya perusahaan Indonesia go global

Namun, ada satu refleksi lain yang semakin kuat setelah melihat langsung peta pemain energi dunia di Gastech Bangkok. Ketahanan energi Indonesia tidak cukup dibangun hanya dengan mengelola sumber daya di dalam negeri, tetapi perusahaan nasional kita juga harus berani keluar.

Selama bertahun-tahun kita banyak berbicara tentang bagaimana menarik investasi asing masuk ke Indonesia. Itu penting dan harus terus dilakukan, tetapi sekarang sudah waktunya kita juga mengajukan pertanyaan sebaliknya: berapa banyak perusahaan Indonesia yang berani keluar, berinvestasi, mengakuisisi aset strategis, membangun partnership, dan menjadi pemain energi regional maupun global?

Indonesia tidak boleh selamanya hanya menjadi tujuan investasi. Kita juga harus menjadi investment origin.

Dalam konteks inilah saya mengapresiasi langkah MedcoEnergi dan perusahaan-perusahaan nasional lainnya yang telah berani membangun jejak bisnis di luar Indonesia. Kehadiran perusahaan Indonesia di panggung global seperti Gastech bukan sekadar persoalan eksistensi atau memasang bendera Merah Putih di sebuah exhibition.

Lebih strategis dari itu, forum seperti ini adalah tempat membangun jaringan, membaca perubahan pasar, mencari teknologi, mempertemukan capital dengan opportunity, mencari partner, dan membuka kemungkinan investasi maupun akuisisi. Hal yang sama perlu terus diperkuat oleh Pertamina dan berbagai BUMN maupun perusahaan swasta nasional lainnya sesuai kompetensi dan mandat masing-masing.

Kita membutuhkan lebih banyak perusahaan Indonesia yang naik kelas, dari national champion menjadi regional champion, kemudian dari regional champion menjadi global player.

Paradigma ini penting karena ketahanan energi modern tidak semata-mata berarti seluruh cadangan energi harus berada di dalam wilayah suatu negara. Ketahanan dapat pula diperkuat melalui ownership, access, long-term contracts, strategic partnerships, trading capability, shipping capability, dan penguasaan aset energi di luar negeri.

Banyak perusahaan energi besar dunia tumbuh menjadi global player karena berani membangun portofolio lintas negara, dan Indonesia perlu melakukan hal yang sama. Perusahaan nasional harus mulai lebih agresif melihat peluang participating interest blok migas di luar negeri, LNG portfolio, trading, shipping, renewable projects, critical minerals, hingga partnership dan joint venture dengan perusahaan energi global.

Namun, ekspansi internasional tentu tidak boleh sekadar mengejar kebesaran aset. Setiap investasi harus memiliki strategic value bagi Indonesia, yakni memberikan return yang sehat, meningkatkan energy security, membuka akses pasar, memperoleh teknologi, membangun kompetensi, atau mengamankan rantai pasok.

Untuk melakukan itu, perusahaan nasional tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, di mana BUMN, swasta nasional, perbankan, lembaga pembiayaan, pemerintah, serta Danantara Indonesia dapat mempunyai peran untuk membangun financial firepower agar perusahaan Indonesia mampu bersaing ketika aset strategis dunia tersedia.

Ini bukan berarti negara harus membiayai setiap ekspansi korporasi. Sebaliknya, keputusan investasi tetap harus berdasarkan governance, commercial viability, risk management, dan return yang jelas.

Namun, untuk aset yang mempunyai nilai strategis bagi negara, kita membutuhkan kemampuan mengambil keputusan dan mengeksekusi peluang secara cepat. Sebab dalam industri energi global, good assets do not wait forever. Ketika aset berkualitas tersedia, pemain dengan modal, teknologi, jaringan, dan kecepatan pengambilan keputusanlah yang akan mendapatkannya.

Maka setelah melihat perkembangan di Bangkok, menurut saya Indonesia perlu menjalankan dua strategi secara simultan. Di dalam negeri, kita perlu bergerak dari resource menuju reserve, production, infrastructure, industrialisation, dan akhirnya prosperity, sementara di luar negeri strategi perlu bergerak dari access menuju partnership, investment, ownership, dan energy security.

Keduanya bukan pilihan, melainkan harus berjalan bersamaan. Indonesia harus tetap menjadi tempat yang menarik bagi investasi energi dunia, tetapi pada saat yang sama perusahaan Indonesia juga harus berani menjadi investor energi dunia.

Kita membutuhkan investasi masuk untuk mempercepat pengembangan sumber daya dan infrastruktur, tetapi kita juga membutuhkan investasi keluar untuk memperoleh resources, market, technology, strategic assets, dan global experience. Itulah salah satu jalan menuju ketahanan energi yang lebih matang.

Momentum tidak menunggu Indonesia

Dari Gastech Bangkok, saya semakin optimistis melihat masa depan gas dan industri energi Indonesia. Namun, optimisme harus disertai sense of urgency.

Negara-negara lain sedang mengamankan kontrak LNG, membangun terminal, memperkuat jaringan listrik, mengembangkan teknologi rendah karbon, memperkuat supply chain, dan berlomba menarik investasi industri baru. Agenda Gastech sendiri menunjukkan betapa geopolitik, supply-chain resilience, LNG, AI, serta kebutuhan kapasitas infrastruktur kini telah menyatu menjadi persoalan strategis.

Indonesia memiliki sumber daya gas yang besar, pasar yang luas, perusahaan nasional yang semakin kompetitif, serta posisi geografis yang strategis di tengah pertumbuhan kebutuhan energi kawasan. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan semua modal tersebut menjadi strategi energi dan industrialisasi yang konsisten.

Karena pada akhirnya, masa depan energi tidak akan dimenangkan oleh negara yang sekadar mempunyai sumber daya terbesar. Ia akan dimenangkan oleh negara yang paling mampu menguasai resources, infrastructure, technology, capital, dan market, baik di dalam maupun di luar negeri.

Gastech Bangkok mengingatkan kita bahwa gas masih mempunyai perjalanan panjang dalam sistem energi dunia. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah gas mempunyai masa depan, melainkan apakah Indonesia cukup cepat memanfaatkan momentum tersebut?

Indonesia memiliki gas, pasar, dan perusahaan yang mampu bersaing. Sekarang waktunya memastikan kekayaan gas kita tidak hanya tersimpan di bawah tanah atau berhenti sebagai komoditas, dan pada saat yang sama perusahaan-perusahaan Indonesia perlu lebih percaya diri keluar dari comfort zone pasar domestik untuk mengambil posisi di panggung energi dunia.

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat