Memburu Kekuwung | Daan Yahya/Republika

Sastra

Memburu Kekuwung

Oleh A RANTOJATI

Seolah menangkap firasat yang muskil untuk kau tolak, engkau begitu saja mendongak ke langit cemas: awan gelap, angin gigil, dan sekelompok capung melesat pada udara lembap. Engkau pun tegak di ambang pintu dan telah bersiap dengan segala yang kaupunya: katepel kayu jambu yang diikati karet dop beserta sekantung kerikil dan biji jambu air yang lebih dulu kau jemur pada hari-hari yang terik.

Kau membayangkan diri sebagai seorang pemburu kawakan dengan persenjataan lengkap yang siap menyergap hewan buruan di hutan-hutan jauh, baik hidup maupun mati—tapi ingatkah bahwa yang kau buru bukanlah hewan, melainkan lengkungan berlapis warna yang kerap kaudengar dari cerita nina bobok mendiang kakekmu? Udara yang membawa kabar penghujan berkesiut dan merontokkan daun-daun pohon asem jawa di pelataran rumah. Mereka gugur bertebaran—semacam salju dalam film yang diam-diam kau intip dari televisi tetangga dan kau merasa sebagai pinguin tokoh utama di antara hamparan salju itu. 

Kau kencangkan ikat kolor. Tanganmu lincah menyambar topeng Satria Baja Hitam yang kau dapat dari kerabat. Dengan topeng yang kebesaran itu, kau tampil sebagai manusia super yang tak kenal takut. Pintu pun kau buka. Begitu saja kau melompat sambil menghalau bantahan angin basah dan serbuan rontokan daun-daun asem jawa di pelataran rumah. Sesekali kau buka topeng itu ketika satu dua daun asam jawa melesat ke dalam topeng lewat celah lubang mata. Kau tak gentar pada rumpun-rumpun bambu yang meliuk ditarik angin. Tinjumu mengepal dan dada membusung. Engkaulah tokoh utama hari itu, lain tidak.

Seperti masa kanak yang begitu-begitu juga, kau asing dari rasa kematian dan kehilangan, bukan? Maka kau tentu ingat betul pada malam yang sudah-sudah ketika kau bangun tengah malam karena isi kemihmu yang mendesak minta keluar. Ibu dan ayahmu terbaring di sebelah. Kau bangkit dan memandang keduanya pulas tanpa pelukan seperti adegan sinetron di televisi tetanga.

Tanpa sengaja kau bandingkan tubuh keduanya: tak sama panjang tapi ujung kaki keduanya menyentuh ujung ranjang. Kembali kau bandingkan panjang tubuh keduanya dengan tubuhmu. Kau paling hanya dua setengah hasta ayahmu. Tubuh orang dewasa memang lebih panjang daripada tubuhmu. Lalu kau bayangkam kelak tubuhmu juga akan memanjang seperti ibu dan ayahmu. 

Dalam kepalamu segala yang kau indera akan terus tumbuh dan berkembang. Tanpa batas. Tanpa henti. Segala akan terus memanjang dan membesar sampai manusia memerlukan alat-alat ukur baru untuk menaksir-menghitung satuannya. Pohon-pohon terus meninggi. Hewan-hewan terus membesar. Kau pun demikian. Semua akan membesar dan meninggi seperti dalam film dinosaurus yang lagi-lagi kauintip dari televisi tetanggamu. Kaki kedua orang tuamu pun kau bayangkan akan terus memanjang—tanpa henti, tanpa akhir, tanpa kematian. Begitu pun kakimu. 

Dalam kepalamu terbayang bahwa kelak kau dan semua manusia akan memerlukan tanah-tanah baru, rumah-rumah baru, kursi-kursi baru, ranjang-ranjang baru, baju-baju baru, sandal-sandal baru, dan tentu perkakas-perkakas baru dan senjata-senjata baru sebab belalang dan capung yang kau buru di padang terbuka turut membesar-memanjang seperti yang kau bayangkan dalam kepala. Betapa segalanya menjadi begitu menegangkan dan merepotkan—padahal tidak demikian. Kau tak paham bahwa segala punya batas dan akan berhenti pada waktunya. Kau pun pada akhirnya berhenti tumbuh dan menua. Setelah itu kau pun tiada. 

Akan tetapi kau memang masih bocah, tak paham arti kematian dan kehilangan. Bagimu kematian seasing gugur salju dari langit beku—tak pernah kau lihat, tak pernah kau sentuh. Yang kau tahu bahwa segala yang bergerak akan terus tumbuh tanpa akhir. Kau pun tak perlu merasa takut pada rasa sakit, luka, dan kehilangan sebab dalam kepalamu dunia tak lebih dari sebuah permainan. Maka kau pun bertolak tanpa cemas. Tanpa salam dan janji pulang kau begitu saja melesat meninggalkan beranda rumah. Dalam kepalamu tidak ibu juga tidak ayah yang bisa menahanmu dari perburuanmu menuju hujan.

Bau penghujan yang memasuki rongga hidungmu serupa bau semangka yang sering kau hirup—begitu segar dan menggoda. Kau yakin betul hujan telah turun dari arah embusan angin: timur, maka kau pun bertolak mengejar hujan dan membelakangi matahari sebab kau percaya bahwa pelangi hanya bisa kaudapati jika memunggungi matahari—seperti dalam buku RPAL (rangkuman pengetahuan alam lengkap) yang kau baca dari rak buku sekolah usai upacara bendera yang begitu-begitu saja. 

Jika kau ingat betul, betapa mendiang kakekmu gemar mendongengkan cerita para bidadari yang turun dari langit melalui pelangi. Lalu mereka bersukacita mandi dengan air bumi. Air dingin yang mengalir seperti aliran waktu yang melenakan. Tanpa firasat dan prasangka para bidadari itu membiarkan selendang-selendang terbang mereka tergeletak dan terjuntai. Perempuan-perempuan langit itu lalai pada tabiat dan siasat manusia hingga seorang begundal memungut salah satunya.

Bagimu, tiada yang menarik dari dongeng nina bobok mendiang kakekmu selain pelangi yang serupa tangga untuk mendaki langit. Rombongan bidadari cantik yang mandi dan pemuda kampung yang iseng jadi pencuri sama sekali tak menarik hatimu sebab bagimu dunia sekadar permainan. Tetapi rasa penasaranmu pada dunia langit tempat para bidadari tinggal membuatmu ingin menyentuh pelangi dan melesat ke langit sepi. Barangkali di sanalah kau bisa berjumpa mendiang kakekmu yang orang bilang hilang ditelan pelangi. Orang-orang bilang kakekmu mati tanpa nisan dan kuburan.

Waktu itu kau memang masih bocah, tak paham arti kematian dan kehilangan. Maka kau pun terus bertolak dan mengejar hujan. Seperti menangkap firasat yang muskil kau tolak, kau terus mendongak ke langit cemas: awan gelap, angin yang gigil, dan seekor capung yang melesat pada udara lembap. Kau pun dapati hujan itu pada hamparan ladang kentang dan bawang—begitu putih dan kosong sebab hujan menjelma kabut tipis yang menghalau pandanganmu dalam dingin. Maka tidak kau dapati buruanmu itu—pelangi dalam dongeng kakekmu. 

Kau pun beringsut. Topeng baja hitam yang kau kenakan sambil melesati deretan rumah dan rumpun-rumpun bambu kau buka seketika. Napasmu tersengal dan mengabut. Kau palingkan wajah dan matamu dari sisa hujan. Kau baru sadar kerongkonganmu tak sebasah hamparan ladang kentang dan bawang. Kau haus, tapi air hujan tak cukup menarik untuk kau himpun dan kau alirkan ke kerongkongan. Kau teringat rumah—tempat kau bisa minum air segar sesuka hati. Lalu kau begitu saja ingat ibu yang tiap menjelang magrib memburumu di tanah lapang tempat kau memandang layang-layang dan menyeretmu pulang. Kau ingat ayam-ayam nenekmu yang selalu merepotkan saat mau dikandangkan. Kau ingat ayahmu yang selalu mengantarmu ke kakus malam-malam. Dan kau pun ingat mendiang kakekmu yang suka mendongengkan pelangi yang mengantar bidadari pulang pergi mandi ke bumi.

Maka kau pun bergeming dan ingin bertolak kembali ke rumah. Katepel kayu jambu di dadamu pun bergoyang sewaktu kau bergeming dan bersiap kembali melesati deretan rumah dan pohon-pohon mangga. Kedua matamu begitu saja jadi menyipit sebab sinar matahari menembusi sisa mendung. Tetapi kau begitu saja tertahan sebab pelangi yang kau buru melengkung tepat di hadapanmu. Kau tersirap. Dadamu berdegup seperti tabuhan bedug lebaran. Pelangi buruanmu melengkung di depan mata. Tidak! Warna pelangi buruanmu sungsang: ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, dan merah. Ia sesungsang arah kemunculannya. Segala yang kaupercaya dari dongeng RPAL begitu saja runtuh. Pelangimu tak muncul ketika kau memunggungi matahari, tetapi menengahi engkau dan matahari.

Tanpa melepas topeng baja hitammu yang basah karena sisa hujan, kau begitu saja menjulurkan kedua lenganmu pada ujung pelangi yang sungsang. Butir-butir kabut mengalir ke ujung pelangi buruanmu seperti arus sungai yang bermuara ke entah. Tanganmu serasa begitu saja hanyut dalam arus itu. Seluruh tubuhmu seperti didesak jutaan butir-butir kabut putih sisa hujan pada ladang kentang dan bawang yang kaupunggungi. Ada degup yang jauh lebih kencang dalam dadamu, lebih daripada yang sudah-sudah. Dalam kepalamu tergambar wajah ibu dan ayahmu yang terpejam dengan wajah penuh lelah di atas bantal usang.

Kau ingat omelan ibumu sewaktu kau basah kuyup selepas main hujan di lapangan bola. Kau pun ingat kekar lengan ayahmu yang mengangkatmu paksa dan membawamu pulang dalam guyuran hujan. Kau pun ingat wajah keduanya yang pucat tegang sewaktu kawanmu begitu saja raib tanpa jejak dan salam perpisahan di bawah lengkung pelangi sungsang yang berujung di atas rumahnya. Kau pun tentu masih ingat yang mereka gumamkan sambil menggendongmu menjauhi rumah itu: kekuwung! Dan kau tahu. Pelangi itu muncul di hadapanmu! Ia sungsang! Maka seperti mendiang kakek dan kawanmu, kau pun hanyut terisap ke ujung pelangi yang kau sentuh, ujung kekuwung itu. Tubuhmu begitu ringan dan melayang seperti butir-butir kabut sisa hujan. 

Kau memang masih bocah, tak paham arti kematian dan kehilangan. Maka setibanya di sini selepas kau hanyut ke ujung kekuwung itu, kau terus meneteskan air mata yang segera bertukar tempat dengan butiran kabut di ujung lain pelangi sungsangmu itu. Kau sadar, inilah dunia yang kau dengar dari dongeng nina bobok mendiang kakekmu. Tetapi tiada bidadari. Tiada pemuda iseng pencuri selendang terbang,. Juga tiada mendiang kakekmu yang lenyap tanpa nisan dan kuburan. Hanya kita yang terperangkap di ujung pelangi sungsang itu. Sekarang pun kau memang tetap bocah, tetapi kau telah memahami arti takut, kematian, dan kehilangan. Di sinilah kita. Maka kuucapkan kepadamu, “Selamat datang. Kitalah buruan kekuwung itu!”

 

Catatan: Kekuwung berarti pelangi. Dalam kehidupan masyarakat Cirebon terdapat mitos yang menyebutkan bahwa kekuwung suka menyedot air dari mata air/sumur dan menculik anak-anak di dekatnya sehingga anak-anak dilarang berada di sumur ketika hujan datang karena khawatir disedot kekuwung.

 

A Rantojati menulis cerita pendek dan puisi. Sejumlah puisinya terhimpun dalam antologi bersama Buku Nasib (2015) dan Merayakan Pagebluk (2020). Beberapa cerpennya pernah dimuat dalam media digital, seperti kompas.id, republika.id, Kurung Buka, dan Ruang Guru. Selain menulis, ia juga bergelut sebagai penyunting naskah lepas dan periset. Penulis kelahiran Cirebon ini bermukim di Kota Serang sambil mengamati bunga sepatu di pekarangan. Ia bisa disapa melalui akun instagramnya @anto.rantojati atau pos-el anto.rantojati@gmail.com.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat