Sastra
A Tribute to Palestine
Sajak-Sajak Rudiana Ade Ginanjar
Oleh RUDIANA ADE GINANJAR
Kota Tepi Laut Tengah
Ada malam tinggi
dari baris-baris sajak lama.
Sesuatu yang muncul
di seberang pepohonan
sebagai masa kecil polos.
Lalu waktu, seakan melihat duka
yang didera Palestina.
Masih sanggup hari menanggung
matahari dan rembulan.
Dan jauh sunyi sejarah
menjadi nama lain kebersamaan.
Oh, bangkit. Seakan matahari meniru
lagu hati,
tahun-tahun ditulis dengan warna hitam.
Perahu dikayuh menuju pulau asing.
Jam-jam menjadi mata
bertanya segala.
Dengan sederhana kaki berjalan
sebab pengembaraan hanya kebangkitan mimpi.
Luka-luka digurat menjadi salam
bagi gugusan bintang
tak tersentuh.
***
Hari Esok Palestina
Hari ini dan masa lalu diangkut
sebagai bekal
ke dunia lain.
Masa depan berpapasan sebentar
lewat senyum mendung;
hari-hari berkabung
enggan menyiram kering bebatuan
hidup.
Para peziarah berangkat,
sepertinya perpisahan berlangsung terus-menerus.
Hujan pun diangkat
dari berita lelayu.
Dari angin Laut Tengah,
berbisik kapal-kapal pengangkut.
Bau asin garam,
bau hening pepasir.
Hari ini dan masa lalu dirayakan
sepanjang tahun,
dengan kasidah yang berjanji
mengirim seribu nada
ke lengan keadilan.
Di Bawah Gemintang
Pasir telah berbisik,
laut dekat akan kembali.
Tengoklah jendelamu,
seluruhnya terserak:
masa depan dan harapan
digugurkan takdir;
seluruhnya cemas
sebab darah Palestina dicipta
dari sabda.
Kembali, Laut. Kembali ia memimpin
mimpi-mimpi. Suku-suku terpisah
terus memuja baitullah;
sedang malam membanjiri kota
dengan intifadah.
Penduduk melangkah sembil menuang
debu dari jalan berluka;
maklumat dan perjanjian terus dibuka
dan negeri-negeri biru dan orang-orang Selatan
memintal kemah pertolongan.
Seberapa luas tanah
mesti digenggam dan dijaga?
Sebentang pasir kini kelabu,
lelap oleh sunyi rebab.
Mereka yang bersujud
selalu bersama fajar.
Mereka yang berdoa
menyerahkan sepasang lengan
di bawah gemintang.
Di bawah gemintang.
***
Berita dari Sebuah Negeri
Ada pagi yang sama,
dituturkan waktu.
Malam telah berlalu
jadi barisan jauh masa silam.
Betapa kini, angin berkuasa
di seluruh dataran;
membawa pasir menari
di bawah cahaya bulan.
Dingin hanya milik kulit,
jauh lebih dingin rindu. Meski tak ada
yang bakal pergi,
selalu saja hitam menjadi warna hari-hari.
Palestina menyanyi, Palestina menari.
Palestina berduyun membanjiri
televisi, layar berita malam.
Hanya masa kecil sungguh mengerti.
Dan tembok-tembok kota
meninjau seluruh batas senja.
Musik dari debur jantung,
bersama kenangan
memikul doa wanita dan orang tua.
2026
***
Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa cetak atau daring serta sejumlah buku. Buku puisi terbarunya berujudul Menetap (2026).
Mengelola media sosial Fb. “Rudiana Ade Ginanjar” dan blog “Ginanjar Pustaka”. Tinggal di desa perbatasan Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Pos-el: ginanjarpustaka@gmail.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
