Deputy Chief Editor Xinmin Evening News Du Min | Stevy Maradona/Republika

Internasional

Di Sini, Koran Sore Masih Hidup

Koran pagi dan koran sore mengembangkan konten khasnya masing-masing.

Oleh STEVY MARADONA

Jurnalis Republika, Stevy Maradona, mendapat undangan melawat ke China awal Agustus lalu. Ia mengunjungi beberapa kantor media lokal, mulai dari koran sore sampai media online di Kota Guangzhou, Shanghai, dan Chengdu. Rombongan pewarta Indonesia yang diajak oleh organisasi South China Association for International Friendly Contact ini bertukar informasi mengenai tren media di China dan Indonesia dengan jurnalis lokal. Tentu ada yang berbeda seperti model bisnis media kedua negara. Tapi ada pula persamaannya, seperti bagaimana generasi muda saat ini mengakses informasi, platform apa yang mereka gunakan, hingga isu-isu apa yang jadi pilihan sehari-hari. Berikut tulisan keduanya:

Dari Guangzhou, rombongan jurnalis Indonesia menuju Kota Shanghai. Inilah salah satu kota terbesar di China. Luas wilayahnya sembilan kali lebih besar dari Jakarta. Shanghai itu setara dengan Jakarta digabung dengan Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Depok, Bogor, dan Kabupaten Bogor, serta Bekasi dan Kabupaten Bekasi! Dengan penduduk yang nyaris sama dengan kawasan Jabodetabek, yakni 24 juta jiwa per 2026. 

Shanghai adalah pusat bisnis dan finansial China. Di sini bisnis, perbankan, finansial China dikonsolidasikan. Sementara Beijing, ibu kota negara, adalah pusat pemerintahan dan politik. Salah satu etalase Shanghai yang terbaik adalah The Bund, ini pinggiran sungai sepanjang 1,5 km yang disulap jadi trotoar lebar untuk pejalan kaki. Di sini pejalan kaki bisa melihat, saat malam hari, deretan bangunan kuno Shanghai berseberangan dengan pencakar langit modern Shanghai, teritama Shanghai Tower, dihiasi lampu warna warni. Ini memang jadi etalase citra kekuatan ekonomi China. Negeri yang dulunya disebut tirai bambu, karena menutup diri, yang sekarang menjelma jadi raksasa ekonomi dunia, menyaingi Amerika Serikat.

Kami berkunjung ke kantor Xinmin Evening News. Sebuah gedung bertingkat dengan lobby yang mirip pusat perbelanjaan. Ada restoran, kedai kopi, toko es krim, sekaligus tempat nongkrong serta toko kerajinan tangan di situ.

Xinmin Evening News adalah salah satu koran sore tertua di China. Sudah beredar dan dibaca sejak 1929. Ia jadi salah satu koran perjuangan Partai Komunis China sebelum kemerdekaan. Pendiri Xinmin sejak awal dekat dengan aktivitas PKC dan gerakan kemerdekaan.

Dan sama seperti Yangcheng Evening News, Xinmin Evening News juga memiliki koridor sejarahnya sendiri. Berisi lintasan peristiwa penting terkait koran itu. Salah satunya adalah pertemuan bersejarah antara tokoh-tokoh politik China pada 1950-an di salah satu rumah di Shanghai, bersama beberapa jurnalis dari Amerika Serikat dan Eropa. Hadir di pertemuan itu adalah pendiri PKC Mao Zedong.

Foto kedua yang istimewa adalah petinju legendaris Muhammad Ali dari belakang, ia menoleh ke sisi kiri, melambaikan tangan, masuk ke kantor Xinmin Evening News. Ternyata Ali sempat melawat ke China. Dalam lawatan itu Ali singgah ke kantor Xinmin Evening News. "Kok mau Ali datang ke sini?" tanya saya. Rupanya pada waktu itu salah satu jurnalis senior Xinmin Evening News yang ditugaskan di AS cukup dekat dengan Ali. Ia berhasil membujuk petinju yang dijuluki 'The Greatest' itu untuk mau ke China dan mampir ke kantornya. 

Rombongan jurnalis Indonesia berkunjung ke ruang redaksi Xinmin Evening News jelang tengah hari, hanya ada beberapa jurnalis di sana. Ruang redaksinya memang khas koran. Satu lantai penuh dengan meja dan kursi yang disekat. Setiap jurnalis memiliki satu ceruknya sendiri-sendiri. Penuh dengan tumpukan berkas, koran lama, foto-foto, komputer jinjing dan tempelan-tempelan pesan.

"Mengapa koran sore masih dibaca?" tanya saya pada Ren Xiangyi, deputy Director of Overseas Manuscript Department, yang mengantar berkeliling ruang redaksi.

"Di Indonesia, koran sore sudah tutup lama sekali, mungkin hampir 10 tahun lalu," lanjut saya.

Ren menjelaskan, di Shanghai koran pagi dan koran sore memiliki pembacanya sendiri-sendiri. Berita di dua jenis koran itu berbeda. Selain itu, kata dia, kebiasaan membaca para pelanggan memang berbeda. Koran pagi berisi berita-berita terkini, yang akan dibaca sebelum masuk kantor.

"Koran sore kami berisi berita-berita soft news, soal sosial, aktivitas warga. Koran sore dibaca di waktu santai, usai pulang kerja, saat di kafe, atau bersantai di rumah," kata Ren, memaparkan. Ini mengapa Xinmin  dan koran sore lainnya memiliki basis pembaca-pelanggannya yang kuat.

Bagi rombongan jurnalis Indonesia, ini tentu informasi berharga soal strategi konten maupun kebiasaan para pembaca-pelanggan Xinmin. Pertama, koran sore di sana tidak perlu bersaing berita terkini dengan koran pagi. Mereka memilih mengembangkan kontennya mengacu pada gaya hidup pembaca-pelanggan koran sore yang membutuhkan berita soal gaya hidup, kebudayaan, sosial, kesenian untuk mengisi waktu santai usai bekerja. 

Kedua, strategi koran sore ini memperlihatkan bagaimana budaya mengisi waktu luang para pekerja di China. Ada momen usai kerja di mana mereka akan menghabiskan waktu bercengkerama di kafe atau restoran, atau di ruang santai, yang diisi dengan membaca apakah itu koran atau buku.

Siapa sih yang masaih membaca koran sore? Apakah anak muda? Tentu tidak! Pembaca-pelanggan Xinmin pastinya bukan generasi muda China. Laiknya di negara-negara lain, generasi muda China mengakses berita dari telepon seluler (ponsel), di aplikasi Douyin. Ini adalah aplikasi yang mengawali serbuan TikTok di seluruh dunia. Tidak ada TikTok di China, yang ada hanya Douyin. TikTok adalah versi internasionalnya aplikasi live streaming dan video pendek itu. Bila ingin mengakses TikTok di China, maka harus menggunakan Virtual Private Network (VPN), sama halnya dengan mengakses instragram dan facebook.

Para pembaca pelanggan Xinmin adalah generasi usia 30-40 tahun, kebanyakan sudah berkeluarga. Mereka juga mengakses Douyin, tapi tidak meninggalkan budaya membaca koran. Li Ranran, direktur of New Media Editorial Department Xinmin, mengatakan, saat ini ada dua konten yang terus mereka genjot untuk meraih basis penonton atau pengikut di sosial media. 

Pertama adalah menjadikan reporter mereka sebagai news broadcaster di channel pribadi masing-masing, yang terafiliasi dengan Xinmin. Setiap reporter maupun editor diajak rutin live streaming konten berita yang mereka tulis, maupun mengomentari berita terkini dari media lain atau fenomena terkini di sekitarnya. 

Kedua, Xinmin secara khusus membidik para ekspatriat di Shanghai untuk konten eksklusif per pekan. Wu Xuezhou, editor di Overseas Manuscript Department, mengatakan nama konten itu adalah 'Foreign Merchants in Shanghai'. Para pekerja asing ini diwawancarai soal kehidupan sehari-hari dan apa pendapat mereka tentang China terkini. Strategi ini diklaim berhasil karena mendapat sambutan positif dari komunitas ekspatriat Shanghai. 

Deputy Chief Editor Xinmin Evening News, Du Min, menambahkan, China dan Indonesia memiliki kedekatan geografis dan hubungan budaya yang erat. Pertemuan antar media China dan Indonesia, lanjut Du Min, menjadi amat penting sebagai jembatan jejaring antar warga China-Indonesia lewat konten di media masing-masing. Du Min juga berharap pertemuan tersebutbisa menjadi landasan kerjasama konten antar media kedua negara. 

Bagaimana soal bisnisnya? Serupa seperti Yangcheng Evening News, tentunya Xinmin Evening News tidak bisa mengandalkan dari biaya langganan saja. Xinmin Evening News bernaung di bawah Shanghai United Media Group (SUMG). Grup ini memiliki banyak koran, dua yang terbesar adalah Jiefang Daily Newspaper Group dan Wenhui-Xinmin United Press Group. Pada 2013, atas persetujuan Komite Partai Komunis China Kota Shanghai, kedua koran ini dilebur menjadi satu grup. Aset gabungannya pada saat itu sudah tembus lebih dari Rp 50 triliun. 

Menariknya, dua media ini yakni Jiefang dan Xinmin diatur untuk berbeda. Jiefang adalah koran resmi PKC Shanghai. Xinmin dilepas menjadi koran umum terbit sore. Predikat sebagai koran resmi PKC berimbas pada sektor bisnis dan pendapatan grup, karena dipastikan ada dana dari pemerintah daerah untuk mendukung konten-operasional koran resmi tersebut. 

SUMG juga menerbitkan belasan media lainnya, tercatat paling tidak ada sebelas koran harian, dua belas koran mingguan, dua belas majalah dan dua penerbit. Menjadikan SUMG sebagai grup media terbesar di Shanghai. Pada 11 November 2024 SUMG melebur aplikasi media Jiefang, Wenhui Bao dan Xinmin Evening News menjadi satu yakni Shangguan News. Ini merampingkan operasional redaksi di tiga media tersebut, tanpa harus kehilangan karakter pembaca masing-masing berita. Xinmin di aplikasi dipatok pada konten kehidupan sehari-hari warga, fokus pada live video dan video laporan warga.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat