Kader kesehatan jiwa membimbing mantan pasien berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026). | Fitriyan Zamzami/Republika

Kisah Dalam Negeri

Di Tanggulangin, Mereka Dibimbing Keluar dari Lorong Hitam

CSR Pertagas memberdayakan pasien kesehatan jiwa di Sidoarjo.

Tatapan mata Sugi semacam kosong, ia melihat ke titik yang tak jauh, juga tak dekat. Entah kemana pikiran lelaki muda itu mengembara. Meski Rabu (26/8/2026) itu ramai orang-orang duduk lesehan dan berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, ia seperti sendirian saja.

Baru-baru saja, ia kabur dari Balai Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PRS PMKS) Kabupaten Sidoarjo. Kembali ke kampungnya di Tanggulangin.

Warga sekitaran mengira-ngira, pikirannya yang mulai terganggu sekitar tiga bulan lalu tak kuat ditekan kondisi perekonomian. Ia tak suka terus jadi beban orang tuanya. Lamunannya jadi lorong hitam yang memerangkap kesadarannya.

Di sebelah Sugi hari itu, ada Wiwik. Perempuan usia sekitar 30-an itu masih harus minum obat penenang setiap harinya. “Kalau nggak minum suka pusing,” kata dia.

Wiwik berkisah, ia mulai menjalani pengobatan jiwa sekitar empat tahun lalu. Tujuannya mengusir suara-suara yang menghantui pikirannya. “Suka ada yang seperti bicara-bicara,” kata dia saat ditemui Republika.

photo
Kader kesehatan jiwa membimbing mantan pasien berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026). - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Yang dialami Sugi dan Wiwik bukan kasus yang tak jamak di Tanah Air. Gangguan kesehatan jiwa bukan persoalan yang hanya terjadi pada mereka yang dirawat di rumah sakit jiwa. 

Di tengah kehidupan sehari-hari, banyak orang mungkin sedang berhadapan dengan kecemasan, depresi, tekanan psikologis, hingga gangguan jiwa berat tanpa pernah mendapatkan diagnosis maupun pertolongan.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat sekitar empat persen rumah tangga di Indonesia memiliki anggota keluarga dengan gejala psikosis atau skizofrenia. Jika kriterianya dipersempit pada anggota rumah tangga yang memiliki gejala sekaligus diagnosis, angkanya sekitar 3 persen. Dikalikan jumlah penduduk Indonesia, angkanya mencapai jutaan orang.

Angka tersebut menggambarkan gangguan jiwa berat. Namun, masalah kesehatan jiwa sesungguhnya jauh lebih luas daripada skizofrenia atau psikosis. Ada orang yang mengalami depresi. Ada yang berjuang menghadapi kecemasan berkepanjangan. 

Ada pula yang mengalami tekanan psikologis tetapi tidak pernah datang ke fasilitas kesehatan karena menganggap kondisinya hanya bagian dari persoalan hidup sehari-hari.

Statistik ini serta kondisi yang ia lihat di masyarakat sekitar membuat khawatir Abu Amar, seorang warga Ganggangpanjang. Pada 2019, ia kemudian memutuskan jadi relawan kader kesehatan jiwa di kampungnya. 

Kader kesehatan jiwa membimbing mantan pasien berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026). - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Abu Amar yang kini sudah menjadi ketua kader hadir juga di pendopo di Desa Ganggangpanjang, tersebut. Bersamanya hari itu kader-kader lain membimbing warga membuat keset, kemoceng, mengolah sampah, membuat kompos hingga memproduksi minuman herbal.

Mereka ini warga dengan gangguan kesehatan jiwa yang telah menjalani pengobatan secara rutin dan dinilai sudah mampu beraktivitas secara normal.

Abu Amar, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari upaya masyarakat bersama puskesmas membangun kader kesehatan jiwa di tingkat desa. Kader kesehatan jiwa sebenarnya sudah mulai dibentuk sejak 2019. Namun, menurut Abu, kegiatan baru berjalan lebih efektif sejak 2022 setelah terjadi pergantian pendamping dari puskesmas.

Sejak itu, kader mulai membangun kepengurusan dan melakukan pembinaan secara berkala. Di Kecamatan Tanggulangin, persoalan kesehatan jiwa bukan perkara kecil. Abu menyebut terdapat sekitar 246 pasien yang telah tercatat. Angka tersebut diyakini belum menggambarkan seluruh kondisi di lapangan.

"Yang tidak tercatat itu masih banyak. Kadang-kadang warganya tidak mau, mungkin sungkan atau malu," ujar Abu.

photo
Kader kesehatan jiwa membimbing mantan pasien berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026). - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Stigma menjadi salah satu tantangan yang masih harus dihadapi. Sebagian keluarga maupun pasien belum terbuka untuk melaporkan kondisi mereka.

Karena itu, kader tidak hanya berperan mendampingi pengobatan, tetapi juga menjadi penghubung antara pasien, keluarga, puskesmas, dan berbagai fasilitas pelayanan sosial.

Abu mengatakan sebagian pasien yang tidak memiliki identitas atau berasal dari luar kecamatan dapat dirujuk ke lingkungan pondok sosial (liponsos). Sementara pasien yang keluarganya tidak mampu merawat dapat dititipkan di fasilitas milik pemerintah provinsi.

Tetapi persoalan kesehatan jiwa, kata dia, tidak berhenti pada urusan pengobatan. Ada persoalan lain yang sering luput diperhatikan: bagaimana membuat pasien tetap memiliki aktivitas.

"Orang pasien gini banyak melamunnya daripada kegiatan," kata Abu.

Dari kegelisahan itulah muncul gagasan agar pasien kesehatan jiwa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka juga diberi ruang untuk beraktivitas dan menghasilkan sesuatu. Gayung bersambut, PT Pertamina Gas (Pertagas) Operation East Java Area (OEJA) menilai upaya Abu layak didukung melalui program CSR mereka.

Community Development Officer Pertagas OEJA, Al Rasyid Anggi Satrya, menjelaskan, program itu berawal dari Kidung Tanggulangin, akronim dari gerakan yang menggabungkan perlindungan masyarakat rentan dan pelestarian lingkungan. Pada tahap awal, kegiatan berpusat di Kali Tengah dengan pengelolaan limbah, baik minyak jelantah maupun sampah organik dan anorganik.

photo
Community Development Officer Pertagas OEJA, Al Rasyid Anggi Satrya. - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Hasil dari aktivitas lingkungan tersebut kemudian dikembangkan menjadi dana sosial. Dana itu diberikan kepada kelompok masyarakat rentan, termasuk pasien kesehatan jiwa, janda dan warga kurang mampu.

"Awalnya teman-teman pasien kesehatan jiwa ini sebagai objek untuk menerima dana sosial," ujar Rasyid.

Namun, dalam perjalanan program, muncul pemikiran lain. Mengapa mereka hanya menjadi penerima manfaat jika sebenarnya sebagian dari mereka mampu melakukan aktivitas produktif?

Pasien kesehatan jiwa mulai dilibatkan dalam kegiatan perlindungan lingkungan. Mereka mengolah sampah, membuat kompos, memanfaatkan kain perca menjadi kerajinan hingga membuat ecobrick.

Perubahan itu kemudian menjadi bagian dari pengembangan program Kidung Tanggulangin menuju Cita Sembada.

Di Desa Ganggangpanjang, Cita Sembada berkembang melalui sejumlah kegiatan pemberdayaan yang tidak hanya menyasar persoalan sosial, tetapi juga lingkungan dan ekonomi.

Ada Tirta Sembada yang berkaitan dengan pengelolaan sawah dengan daur ulang air irigasi. Ada Bumi Sembada untuk pengelolaan tempat pembuangan sampah, pemilahan sampah dan pembuatan kompos. Pertagas juga mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan melalui panel surya serta membantu pengembangan kapasitas masyarakat setempat.

Di sisi lain, terdapat pula ruang terbuka hijau yang dikembangkan melalui program Pundenerco. Pengembangan program kemudian terus diperluas dengan sejumlah subprogram lain.

Bagi Rasyid, berbagai kegiatan itu memiliki satu benang merah: lingkungan menjadi pintu masuk untuk membangun keberdayaan masyarakat.

Di Pendopo Sehati, sebagian pasien kesehatan jiwa dari Ganggangpanjang dan desa tetangga seperti Randegan kemudian dilibatkan dalam aktivitas lingkungan.

Rasyid menyebut sekitar 10 hingga lima orang dilibatkan dalam kegiatan tersebut dari kelompok pasien yang dinilai telah memenuhi sejumlah kriteria.

Salah satunya adalah pasien rutin mengonsumsi obat dan telah dinilai mampu melakukan aktivitas secara normal oleh kader kesehatan jiwa di masing-masing posyandu kesehatan jiwa.

"Pada akhirnya juga seperti kita, seperti manusia, punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Salah satunya melalui faktor ekonomi, dia harus bekerja dan lain-lain," kata Rasyid.

Karena itu, kegiatan yang dibuat tidak berhenti pada terapi aktivitas. Produk yang dihasilkan juga diarahkan memiliki nilai ekonomi.

Dari kain perca hasil kerja sama dengan pelaku usaha konfeksi, misalnya, mereka membuat keset dan kemoceng. Mereka juga membuat kompos dan mengembangkan produk minuman berbahan daun telang serta serai.

Pemasarannya masih dilakukan bersama kader kesehatan jiwa. Model pendampingannya pun sengaja dibuat dari bawah. Pertagas tidak serta-merta mendatangkan pelatih dari luar untuk mengajari pasien.

Kader terlebih dahulu belajar. Setelah memahami proses pembuatan produk, kader kemudian mendampingi dan mengajari para pasien.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena kader merupakan pihak yang paling memahami kondisi masing-masing pasien.

"Daripada melibatkan pelatih dari luar yang tidak tahu daya tahan pasien itu seperti apa, kita libatkan kader. Kadernya harus belajar," ujar Rasyid.

Dengan pola tersebut, kegiatan pemberdayaan tidak hanya menghasilkan produk. Ada proses membangun kepercayaan diri dan kemandirian.

Pasien yang sebelumnya hanya dipandang sebagai kelompok penerima manfaat perlahan ditempatkan sebagai pelaku. Rasyid mengatakan perubahan itu menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan program.

Jika pada awalnya pasien kesehatan jiwa ditempatkan sebagai penerima dana sosial dari aktivitas lingkungan, kini mereka justru ikut terlibat dalam aktivitas yang menghasilkan manfaat bagi lingkungan sekaligus nilai ekonomi.

Mereka membuat kompos, melakukan penanaman, mengolah material bekas, hingga menghasilkan berbagai kerajinan.

"Awalnya mereka teman-teman keswa ini sebagai objek. Lama-kelamaan kita bisa pastikan, didampingi kader, mereka ternyata bisa jadi subjek dalam pengelolaan lingkungan itu sendiri," kata Rasyid.

Menurut dia, manfaat kegiatan tersebut tidak selalu harus diukur dari besarnya pendapatan. Ada manfaat lain yang tidak kalah penting: adanya rutinitas, interaksi sosial, aktivitas fisik dan kesempatan untuk merasa produktif.

Seorang pasien yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun, misalnya, kini memiliki aktivitas yang dapat dilakukan di rumah maupun bersama kelompok.

Bahkan ada pasien yang sebelumnya melakukan pekerjaan sederhana seperti membantu menyeberangkan kendaraan, tetapi kemudian memiliki kesempatan menghasilkan sesuatu dari kegiatan pemberdayaan tersebut.

Untuk melihat perkembangan para peserta, program ini tidak hanya mengandalkan pengamatan kader. Pada 2025, Pertagas bekerja sama dengan akademisi dari Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) untuk melakukan konseling dan pemantauan psikologis.

Para psikolog melihat perkembangan kondisi peserta setelah mereka mengikuti berbagai aktivitas.

Pendekatannya juga tidak disamaratakan. Sebab, kondisi setiap pasien berbeda. Ada yang mampu berkomunikasi dengan baik, ada yang lebih pendiam, dan ada pula yang cenderung defensif. Karena itu, kegiatan pemberdayaan dirancang dengan memperhatikan kemampuan masing-masing.

Abu Amar mengatakan kunci dari pendampingan tersebut tetap berada pada keteraturan pengobatan dan dukungan keluarga maupun kader. Pasien yang dilibatkan dalam aktivitas merupakan mereka yang telah rutin mengonsumsi obat dan mendapat pendampingan.

photo
Kader kesehatan jiwa membimbing mantan pasien berkarya di Pendopo Sehati di Poskesdes Desa Ganggangpanjang, Tanggulangin, Sidoarjo, Rabu (26/8/2026). - (Fitriyan Zamzami/Republika)

Di titik ini, kegiatan lingkungan menemukan makna yang lebih luas.

Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi kompos atau produk kerajinan. Kain perca dapat berubah menjadi keset. Sementara warga yang sebelumnya lebih sering diposisikan sebagai penerima bantuan memperoleh kesempatan untuk mengambil peran.

Bagi Rasyid, inilah perubahan paling penting dari program tersebut.

Pasien kesehatan jiwa tidak lagi semata-mata dilihat dari kondisi medisnya. Mereka juga dipandang sebagai warga yang memiliki kemampuan, kebutuhan sosial dan potensi ekonomi.

Pada akhirnya, lingkungan bukan hanya menjadi objek yang harus dijaga. Lingkungan justru menjadi ruang untuk mengembalikan keberdayaan manusia.

Di Ganggangpanjang, dari tumpukan sampah, kain perca dan lahan yang membutuhkan pengelolaan, tumbuh sebuah cara pandang baru: bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan beriringan dengan upaya memulihkan peran sosial kelompok yang selama ini rentan tersisih.

Dan di antara keset, kemoceng, kompos serta minuman herbal itu, ada satu hal yang jauh lebih penting untuk dipertahankan—kesempatan bagi setiap orang untuk merasa berguna dan menjadi bagian dari masyarakat. Kesempatan untuk keluar dari lorong hitam di pikiran mereka.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat