Nasional
Ketika Anak Muda Bicara tentang Masa Depan Indonesia
Bonus demografi lahir dari generasi muda yang diberdayakan.
JAKARTA -- Bagi generasi muda, masa depan tidak hanya diukur dari kesempatan mengenyam pendidikan atau memperoleh pekerjaan. Mereka juga ingin didengar, dilibatkan, dan diberi ruang untuk berkontribusi dalam menentukan arah pembangunan Indonesia.
Harapan itu mengemuka dalam dialog antara Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) Bonivasius Prasetya Ichtiarto dengan pelajar SMP dan SMA dari Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), perwakilan Generasi Berencana (GenRe), Gerakan Bangun Remaja dan Anak Jakarta (Gerbang Raja), serta Karang Taruna pada Puncak Peringatan Hari Kependudukan Dunia (HKD) 2026 di Jakarta, akhir pekan lalu.
Percakapan yang berlangsung dalam suasana terbuka itu memperlihatkan bagaimana anak muda memandang masa depan Indonesia. Bagi mereka, bonus demografi yang selama ini disebut sebagai peluang emas tidak akan bermakna apabila tidak dibarengi pemerataan akses pendidikan, tersedianya lapangan kerja yang layak, dan kesempatan untuk berpartisipasi secara nyata dalam pembangunan.
Fransiskus, siswa SMP Negeri 251 Jakarta yang bercita-cita menjadi insinyur, menyampaikan harapannya agar semakin banyak peluang kerja tersedia ketika generasinya memasuki usia produktif.
Menurut dia, kesempatan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan menjadi faktor penting agar generasi muda dapat mengembangkan diri sekaligus berkontribusi bagi pembangunan.
Harapan serupa disampaikan Keshira Rizki Henri dari SMA Negeri 9 Jakarta. Ia menilai kualitas pendidikan menjadi fondasi utama agar anak muda mampu bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Baginya, pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, tetapi juga membangun kemampuan berpikir, kreativitas, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Pandangan tersebut diperkuat Agus Muhammad Ramadhan. Ia menilai sistem pendidikan ideal tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membantu peserta didik mengenali potensi dirinya sejak dini.
Menurut Agus, kemampuan memahami minat dan bakat akan memudahkan generasi muda menentukan pilihan karier sehingga ilmu yang diperoleh di bangku sekolah benar-benar dapat diterapkan di dunia kerja.
Namun, pendidikan dan pekerjaan bukan satu-satunya persoalan yang mengemuka dalam dialog tersebut. Para peserta juga menyoroti pentingnya membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak muda dalam proses pembangunan.
Perwakilan Forum GenRe DKI Jakarta, Andira Exel Zes, mengatakan generasi muda ingin dilibatkan secara bermakna atau meaningful youth participation, bukan sekadar hadir sebagai peserta dalam berbagai kegiatan.
Menurut dia, anak muda memiliki banyak gagasan dan energi yang dapat menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa apabila diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Pandangan itu sejalan dengan pendapat Taufik Ilham Pamungkas dari SMK Negeri 24 Jakarta. Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut menyampaikan ide, meski harus menghadapi kritik atau perbedaan pandangan.
Baginya, perubahan hanya dapat lahir apabila anak muda berani menyampaikan gagasan sekaligus ikut mengambil tanggung jawab dalam mewujudkannya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan pemerintah membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda dalam pembangunan. Menurut dia, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri menyiapkan masa depan bangsa tanpa dukungan masyarakat, terutama generasi muda yang akan menjadi pelaku utama pembangunan pada masa mendatang.
"Memang tidak mudah saat kita bersuara. Namun selama hal itu baik, tetap lakukan, tetap bersuara karena yang akan menikmati hasilnya adalah adik-adik sendiri. Tidak hanya bersuara ataupun menyampaikan aspirasi, tetapi juga ikut berkontribusi dan berpartisipasi dalam proses tersebut dengan berkolaborasi," ujar Bonivasius.
Ia mengatakan pesan tersebut sejalan dengan tema Hari Kependudukan Dunia 2026, yakni Mewujudkan Harapan dan Aspirasi Orang Muda: Hari Ini dan untuk Masa Depan. Tema tersebut mengingatkan bahwa generasi muda Indonesia pada dasarnya masih memiliki optimisme terhadap masa depan.
Menurut Bonivasius, anak-anak muda tetap memiliki cita-cita untuk memperoleh pendidikan yang baik, mendapatkan pekerjaan yang layak, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan yang lebih sejahtera.
"Tantangannya bukan karena harapan itu memudar, melainkan karena belum semua anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk mewujudkannya," katanya.
Karena itu, pemerintah terus mendorong investasi pada pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, penguatan keterampilan, hingga perluasan kesempatan kerja. Langkah tersebut dinilai penting agar bonus demografi benar-benar menjadi modal pembangunan, bukan sekadar keunggulan jumlah penduduk usia produktif.
Indonesia saat ini memasuki periode bonus demografi, yakni ketika proporsi penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif. Berbagai kajian menunjukkan momentum tersebut hanya terjadi sekali dalam sejarah perjalanan suatu bangsa dan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi apabila didukung sumber daya manusia yang berkualitas.
Sebaliknya, apabila akses terhadap pendidikan, keterampilan, dan pekerjaan tidak berkembang seiring pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban berupa meningkatnya pengangguran, kesenjangan sosial, hingga rendahnya produktivitas nasional.
Karena itu, pembangunan manusia menjadi salah satu investasi paling penting. Pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang baik, keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri, serta kesempatan kerja yang memadai akan menentukan apakah Indonesia mampu memanfaatkan bonus demografi secara optimal.
Dialog Hari Kependudukan Dunia 2026 memperlihatkan bahwa generasi muda tidak hanya datang membawa harapan. Mereka juga menawarkan kemauan untuk berpartisipasi, menyampaikan gagasan, dan bekerja bersama pemerintah dalam membangun masa depan Indonesia.
Pesan yang muncul dari forum tersebut sederhana, tetapi penting. Anak muda tidak hanya membutuhkan bangku sekolah dan peluang kerja. Mereka juga membutuhkan kepercayaan, ruang untuk didengar, serta kesempatan yang sama untuk mengambil bagian dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
