Cerpen Malam Ini Dia Hanya Ingin Mengaji | Daan Yahya/Republika

Sastra

Malam Ini Dia Hanya Ingin Mengaji

Oleh MUHAMMAD SUBHAN

Lelaki itu duduk di tepi ranjang. Namanya tidak penting malam ini. Dia hanya seorang lelaki dengan sepasang tangan yang kasar, dengan guratan-guratan di telapak tangan yang menceritakan kerja keras bertahun-tahun, namun kini terasa kosong. Di atas lututnya, sebuah kitab suci terbaring diam. Lembarannya belum terbuka.

Dia menatap dinding. Pikirannya melompat-lompat seperti bayangan sumbu lampu yang tak keruan karena ditiup kipas angin.

Di atas lemari es yang mati, ada tagihan yang menumpuk. Di telinga, ada dengung suara manajer pabrik yang dingin kemarin pagi, menyatakan bahwa pengurangan karyawan adalah hal yang tak terhindarkan. Ada pula ingatan tentang wajah istrinya yang lelah, yang memilih tidur lebih awal malam ini tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sebuah keheningan yang lebih berat daripada makian paling kasar sekalipun. Semuanya berkumpul di kepala lelaki itu, berdesakan, berebut tempat untuk dihancurkan.

Dalam kebimbangan, dia berdiri, berjalan ke jendela, lalu mendorong daunnya sedikit. Angin malam langsung menghantam wajahnya. Dingin. Dia menyukai dingin yang jujur seperti ini daripada senyum orang-orang di kantor dinas yang menyembunyikan penolakan di balik map-map proposalnya yang tak pernah dibaca.

Dari jendela, kota di bawah sana tampak seperti hamparan bara api yang sekarat. Lampu-lampu jalanan, kendaraan yang melintas sesekali, semuanya tampak bergerak tanpa arah yang jelas. Orang-orang berlarian mengejar sesuatu yang mereka sebut masa depan, padahal mereka hanya sedang berlari menjauhi masa lalu yang menakutkan.

“Aku sudah berlari cukup jauh,” katanya pada angin. “Dan aku lelah.”

Tahun-tahun belakangan ini terasa seperti pertempuran yang kalah sebelum dimulai. Dia telah mencoba segalanya. Dia menanam modal pada tanah yang kemudian bersengketa. Dia menulis laporan-laporan panjang yang berakhir di keranjang sampah. Dia mengikuti aturan main semua orang, memakai sepatu yang menjepit jemari kakinya hingga berdarah, dan tersenyum pada orang-orang bodoh yang memegang kendali atas isi dompetnya. Hasilnya? Kamar sewa yang pengap ini, dan sebotol obat sakit kepala yang hampir habis di atas meja.

Dia menutup jendela. Bunyi klik selot besi terdengar seperti akhir dari sebuah babak.

Lelaki itu kembali ke meja kayu. Di dekat lampu minyak, sebuah gelas berisi kopi dingin yang tinggal ampasnya berdiri kaku. Dia melihat bayangan wajahnya sendiri di permukaan gelas yang hitam. Matanya cekung. Ada garis-garis tipis di sekitar pelipis yang tidak ada di sana lima tahun lalu.

“Kau terlihat tua,” ucapnya pada bayangan itu. “Dan kau penakut.”

Dia tahu dia tidak boleh menyerah. Lelaki yang baik tidak menyerah. Mereka bertahan, mereka menerima pukulan, mereka berdiri lagi, dan mereka membiarkan diri mereka dihantam sampai hancur namun tidak pernah terkalahkan. 

Begitulah doktrin yang dia pegang sejak muda. Tapi malam ini, doktrin itu terasa seperti omong kosong yang ditulis oleh orang-orang yang perutnya kenyang.

Dia teringat bapaknya. Seorang lelaki tua yang keras kepala yang menghabiskan hidupnya di laut, bertarung dengan gelombang dan jaring yang robek. Bapaknya pernah berkata, “Saat badai terlalu besar dan kemudi perahumu patah, jangan paksa melawan arah angin. Duduklah, jaga agar badanmu tetap kering, dan tunggu sampai fajar. Laut punya caranya sendiri untuk tenang.”

Saat itu dia mengira bapaknya malas. Kini, di tengah badai yang tak berwujud ini, dia baru mengerti. Ada saat-saat di mana bertarung hanya akan membuatmu tenggelam lebih cepat.

Lelaki itu mengulurkan tangan. Jemarinya yang gemetar menyentuh sampul kitab suci yang tadi ia letakkan di atas meja. Kulitnya terasa dingin, namun entah bagaimana, ada rasa kokoh yang menjalar ke telapak tangannya. Kitab itu telah melewati banyak hal. Sudah bersamanya sejak ibunya meninggal. Dia masih menyimpan kitab itu saat dia menikah, dan tetap ada di sana ketika semua kawan-kawannya menghilang ketika dia jatuh miskin.

Dia menarik kursi kayu, duduk dengan punggung tegak. Dia tidak ingin menghadap Tuhan dengan sikap seorang pecundang yang merangkak meminta belas kasihan. Dia ingin menghadap sebagai seorang lelaki yang terluka, yang datang untuk mencari gencatan senjata.

“Malam ini,” bisiknya, memastikan tidak ada suara lain yang mengganggu, “aku hanya ingin mengaji.”

Dia membuka halaman pertama. Aroma kertas tua dan tinta kering menyeruak. Itu aroma yang akrab, aroma yang membawanya kembali ke masa kanak-kanak, ke sebuah surau di pinggir kampung di Aceh, di mana hidup hanya diukur dari seberapa fasih kau mengeja huruf-huruf di atas papan tulis. Saat itu, dunia begitu syahdu. Hitam adalah hitam, putih adalah putih. Tidak ada abu-abu yang membingungkan seperti sekarang dia rasakan.

Dia menarik napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan udara kamar yang berat. Kemudian, dia mulai membaca huruf demi huruf Arab di lembaran kitab itu.

Suaranya rendah pada mulanya. Huruf demi huruf keluar dari mulutnya dengan kaku, seperti mesin tua berkarat yang sudah lama tidak diberi pelumas. Tapi dia terus membaca. Setiap patah kata dilepaskannya dengan hati-hati, menimbangnya di lidah, membiarkan bunyinya memantul di dinding-dinding papan kamar yang sepi.

Lama-kelamaan, ritme itu terbentuk. Aliran kata-kata itu mengalir seperti air sungai yang menemukan celah di antara bebatuan gunung. Sederhana, ritmis, dan bertenaga.

Saat dia terus membaca, tagihan-tagihan di atas lemari es itu seolah kehilangan dayanya untuk mengancam. Wajah manajer pabrik yang angkuh itu memudar, berganti menjadi sekadar debu yang beterbangan di udara. Masalah-masalah itu masih ada di sana, dia tahu itu. Mereka tidak akan hilang besok pagi hanya karena dia membaca beberapa halaman kitab suci malam ini. Tapi entah bagaimana, ukurannya tidak lagi sebesar raksasa yang siap menggilasnya. Mereka hanya … masalah. Ya, masalah. Hal-hal kecil yang harus diselesaikan satu per satu, dengan tangan, dengan kepala dingin.

Lampu minyak yang redup berkedip sekali lagi, lalu padam. Minyaknya benar-benar habis.

Kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Satu-satunya cahaya kini berasal dari layar gawai bututnya di meja, dan sudah beberapa hari tak ia isi paket data karena uang tak punya.

Lelaki itu berhenti membaca. Jari telunjuknya masih menempel pada baris terakhir yang sempat dilihatnya sebelum lampu padam.

Suasana menjadi sangat hening. Tapi itu bukan kesunyian yang mencekam. Itu adalah jenis kesunyian yang kau temukan di tengah hutan setelah badai besar berlalu; kesunyian yang bersih, yang menyisakan tanah yang basah dan udara yang murni.

Dia menutup kitab itu perlahan dalam kegelapan. Dia tarik napas dalam-dalam, seolah ingin melepaskan segala penat dan impitan di dadanya.

Lelaki itu tidak menyalakan lampu lagi. Dia tidak mencari korek api. Dia hanya duduk di sana, di atas kursi kayunya, di tepi ranjang, membiarkan matanya terbiasa dengan kegelapan. Di dalam dadanya, gemuruh yang sejak sore tadi menyiksanya telah mereda. Napasnya kini teratur, lambat, dan dalam.

Dia menatap garis cahaya bulan di langit melalui daun jendela yang ia buka sedikit. Cahaya itu tipis, tapi cukup untuk menunjukkan di mana pintu berada.

Esok pagi, matahari akan terbit. Manajer pabrik akan tetap menunggunya dengan surat PHK. Tagihan-tagihan itu harus dibayar, atau mereka akan memutus aliran listriknya. Dia harus berjalan kaki berkilo-kilo meter untuk mencari pekerjaan baru, menghadapi penolakan demi penolakan, dan pulang dengan peluh yang mengering di baju. Dunia tidak akan berubah menjadi lebih ramah besok pagi.

Namun, lelaki itu tersenyum tipis dalam kegelapan. Sesuatu di dalam dirinya telah mengeras kembali, seperti besi yang ditempa air dingin setelah dibakar habis-habisan.

Dia berdiri, melangkah mendekati ranjang tempat istrinya mendengkur halus. Dia merebahkan tubuhnya di samping perempuan itu, menarik selimut tipis hingga ke dada, dan memejamkan mata. Dia tidak lagi takut pada hari esok. Dia telah menyerahkan malamnya pada takdir. Dan ia meyakini Tuhan tidak benar-benar pergi.

 

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku Kumpulan cerpennya Jalan Sunyi Paling Duri (2022), Bensin di Kepala Bapak (2020), dan Yang Kutahu tentang Lahab (2026). Buku puisinya Tungku Api Ibu (2023), Kesaksian Sepasang Sandal (2020), dan Percakapan Marapi (2025). Novelnya Rumah di Tengah Sawah diterbitkan Balai Pustaka (2022). Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat