Sastra
Api Angka
Oleh SHOLIHUL MUBAROK
Subuh
Sesuatu luput di relungmu,
ketika langit malam menyurut ke seberang.
Suara menjelma kokok ayam;
penganyam sunyi semenjak hati menutup telinga.
Kau terlampau hanyut dalam mimpi,
sedang subuh tiga kali mengetuk jantungmu—
namun kau tak terdaftar di barisan yang menyambut.
Perlahan seberkas cahaya mencuri celah jendela;
di luar kelopak bunga selalu lebih dulu merekah,
dikecup fajar.
Sedang kelopak matamu masih diperdaya rembulan.
Gresik, 6 Juli 2026
***
Lima Perantara
Ia meminjam pejam dari dirimu—luput kau sadari.
Sepintas warna terpulas, memberi rupa di atas kanvas serupa paras penyintas.
Sebagaimana sketsa sepasang mata,
menebalkan tatap belum sepenuhnya genap.
Kembali melapiskan ketebalan kaca mata
pada tatap yang telah menjadi mata kaca,
lepas dari jangkauan.
"Tiada lagi kutemui,
orang-orang saling mengasah persepsi setajam tikam,
berkali-kali mengecupi dada ini."
Tiga langkah terompah,
memapah beban menimpa kepala.
Peta memar menjelma sekujur jasad,
segera tergadai,
ketika dekat tak lagi merapat.
Seluruh luruh,
tubuh bersimpuh;
pelukan ibu.
"Hilang dalam diriku ibu, lima hal penangkal ketika oyak telah menjadi kekal."
Lumur sesal membinal,
di pangkuan sunyi yang kian kekal.
Gresik, 6 Juli 2026
***
Api Angka
Matahari membara, memanaskan kepala,
kita gemar memasak congkak di atas api angka.
Sayup kudengar panggilan rindu di sanubari-Mu,
ketika deru mesin masih sibuk menghitung laba.
Lupa, kefanaanlah yang membius keangkuhan
pada bilangan yang dikira mengenyangkan jiwa.
Gresik, 14 Juli 2026
***
Masihkah "Kau' Teladan
Kupungut lagi sebutan "teladan",
ketika lembar-lembar nama lebih bingar
mengelamkan cahaya
ketimbang bekal yang setia menanti
saat tanah memanggil pulang ke asal diri?
Dulu, kau adalah pasak tunggal
penyangga punggung rumah
di bawah atap kelapa, senyap dan teguh
Namun kini
hampir tak kutemukan lagi
sisa-sisa kepahlawanan di atas minbar
selain resah musim
yang tak lagi mengenal jalan pulang
Gresik, 14 Juli 2026
***
Khalwat
Menjadi sunyi; setitik cahaya di samudra gulita.
ketika kepalamu tinggal pesisir,
sedang ombak terus menggerus pasir.
Barangkali kau buih
selepas digulung ombak berkali-kali.
Asin mengasing,
laut meluruhkan namamu.
Dari batas lepas,
tanpa alas.
Keheningan lebih purba
daripada jangkauan.
Lantas siapa
memungut buih
yang bahkan laut
tak pernah simpan?
Gresik, 14 Juli 2026
***
Numinosum
Merah terhijab.
Biru samudra beradu.
Di cakrawala tatap-Mu,
semesta lebur
hangus dalam murka.
Tersingkap cadar.
Senyum memintal sasmita,
liar tertahan.
Rahang menekan tulang,
memahat rindu.
Temaram bersuam kharisma.
Paras tegas itu,
estu.
Sandikala enggan beranjak.
Warna berkelindan,
merajut sengkala
di gelanggang raya.
Gresik, 14 Juli 2026
Sholihul Mubarok, lahir di Gresik, Jawa Timur, 24 Februari 1985. Bergiat sebagai penulis puisi. Karyanya tersiar di berbagai media daring nasional. Pernah meraih peringkat sepuluh besar dalam ajang IMLF-4 (2026) serta menjuarai lomba menulis puisi di grup literasi Facebook. Selain terlibat dalam antologi bersama penyair Asia Tenggara, Serenade Musim (2025), ia telah menerbitkan lima buku antologi tunggal, termasuk karya terbaru: Dalam Semesta Matamu (2026). Saat ini, ia tengah merampungkan buku antologi tunggal keenam serta beberapa buku puisi elektronik. Penulis bisa disapa melalui akun Facebook: Sholihul.Mubarok.,
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
