Asrama Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang | Febrian Fachri/REPUBLIKA
19 Apr 2020, 13:30 WIB

Pesantren Putri Pertama di Asia Ada di Padang Panjang

Pesantren ini memberikan kesan tersendiri bagi Universitas al-Azhar, Mesir.

 

OLEH FEBRIAN FACHRI

 

Sejak berabad silam, Padang Panjang berjulukan Kota Serambi Makkah. Kota yang berlokasi di antara Gunung Marapi dan Singgalang, Provinsi Sumatra Barat, itu sejak zaman dahulu memiliki nuansa keislaman yang kuat. Padang Panjang juga unggul sebagai salah satu mercusuar peradaban Islam di Nusantara.

Terkait

Di antara kebanggaan masyarakat setempat ialah Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang. Lembaga ini didirikan oleh Rahmah El Yunusiyyah, seorang tokoh Minangkabau, pada 1 November 1923. Rahmah terinspirasi untuk melakukan inovasi pendidikan Islam setelah mengikuti pendidikan pada Diniyyah School yang didirikan kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusy, pada 1915.

Menurut Direktur Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady, sosok pendiri sekolah tersebut akrab disapa Bunda Rahmah. Perempuan yang lahir pada 26 Oktober 1900 itu bercita-cita untuk menjadikan Padang Panjang sebagai pencetak guru-guru perempuan. Mereka diharapkan dapat mendidik generasi penerus dengan baik.

Bunda Rahmah, lanjut Fauziah, memiliki prinsip yang teguh. Ia meyakini, nasib masa depan ada di tangan para perempuan terdidik. Sebab, mereka kelak menjadi ibu sekaligus istri di tiap keluarga.

"Mula-mula, Bunda Rahmah menyiapkan Perguruan Diniyyah Puteri ini untuk mencetak para guru. Sebab, waktu itu di Padang Panjang belum ada institusi pendidikan khusus perempuan," kata Fauziah kepada Republika, belum lama ini.

photo
Rahmah El Yunusiyyah - (DOK REPUBLIKA/Febrian Fachri)

Fauziah meneruskan, Bunda Rahmah ingin mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan pada masa itu. Sosok asli Padang Panjang itu tidak mau kaum perempuan Indonesia hanya diberi pendidikan rendah. Sebab, wanita juga berhak mendapatkan pendidikan yang tinggi, sebagaimana kaum pria.

Lebih lanjut, prinsip Bunda Rahmah mempercayai, mendidik seorang laki-laki berarti mendidik manusia. Namun, mendidik perempuan berarti juga mendidik satu keluarga dalam rumah tangga.

"Dengan perguruan ini, beliau menginginkan agar perempuan hendaknya mampu menjadi ibu sekaligus pemimpin yang baik, di dalam masyarakatnya atau di tengah-tengah anak didiknya. Paling tidak, jadilah ibu yang baik dalam rumah tangga dan keluarga," ucap Fauziah.

Perguruan Diniyyah Puteri terus berkembang pada masa Indonesia merdeka. Sejak 1976, lembaga ini terus memperbanyak jenjang pendidikan yang diselenggarakannya. Bahkan, perguruan tinggi pun akhirnya dibuka untuk umum.

"Perguruan tinggi pertama yang didirikan Bunda Rahmah itu Fakultas Tarbiyah yang tetap ada sampai sekarang dengan dua prodi (program studi)," tutur Fauziah.

Dia menyebut, Perguruan Diniyyah Puteri merupakan pondok pesantren putri pertama di Benua Asia. Memang, ia mengakui, jauh sebelum adanya Diniyyah Puteri, sudah ada sekolah khusus perempuan di Jepang. Akan tetapi, sekolah tersebut tak sampai menyelenggarakan sistem pemondokan. Maka dari itu, sebutan yang pertama di Asia tetap layak disanding institusi yang didirikan Rahmah El Yunusiyyah itu.

Pada Juni 1957, Rahmah mengadakan perjalanan ke Mesir untuk memenuhi undangan Imam Besar Universitas al-Azhar. Di sana, ia juga dianugerahi gelar doktor honoris causa, yakni Syekhah. Inilah pertama kalinya al-Azhar memberikan titel kehormatan kepada seorang perempuan.

 
Pada Juni 1957, Rahmah memenuhi undangan Imam Besar Universitas al-Azhar. Ia dianugerahi gelar doktor honoris causa, yakni Syekhah. Inilah pertama kalinya al-Azhar memberikan titel kehormatan kepada seorang perempuan.
 
 

Mengutip kesaksian Buya Hamka dalam buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padangpanjang (1978), al-Azhar bahkan ikut terpengaruh oleh inovasi yang dihadirkan lembaga tersebut di Sumatra Barat. Alhasil, pimpinan kampus Islam itu akhirnya membuka Kulliyatul Lil Banat pada 1962. Sejak berdiri ratusan tahun lamanya, baru kali ini al-Azhar menyelenggarakan kelas khusus Muslimah.

photo
Santri di perpustakaan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang - (Febrian Fachri/REPUBLIKA)

Kian diminati

Saat ini, Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang terus menjadi lembaga pendidikan yang diminati masyarakat. Tidak hanya dari Sumatra Barat, melainkan juga daerah-daerah lain dan bahkan negeri jiran.

Republika menyambangi sekolah yang beralamat di Jalan Abdul Hamid Hakim tersebut beberapa hari lalu. Tampak para santriwati dengan berpakaian gamis keluar dari ruangan kelas. Mereka berjalan menuju asrama.

Siang itu, kelas baru saja usai. Mereka pun bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah. Ada yang sempat bercengkrama satu sama lain. Ada pula yang membahas materi pelajaran sambil menunggu waktu. Setelah shalat, mereka meneruskan pelajaran lain di kelas.

photo
Santri belajar di Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang - (Febrian Fachri/REPUBLIKA)

Menurut Kepala Asrama Diniyyah Puteri Padang Panjang, Erwita Dewiyani, seluruh santriwati dibiasakan hidup disiplin setiap hari. Sosok yang biasa disapa Ummi Dewi itu menjabarkan rutinitas para santriwati. Mereka sudah bangun sejak pukul 04.00 WIB. Mereka kemudian mendirikan shalat malam (qiyamulail) bersama-sama. Selanjutnya, masing-masing mandi dan melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Begitu fajar menyingsing, mereka memulai sarapan dan merapikan segala keperluan pribadi untuk siap-siap berangkat ke kelas.

Pelajaran usai hingga siang hari. Setelah shalat Zhuhur berjamaah, mereka dapat kembali belajar di kelas atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Pihak sekolah juga mengadakan halaqah, hafalan Alquran, serta pengajian bulanan. "Tujuan kami, mendidik santri agar memiliki tiga karakter. Ahli ibadah dan berakhlak karimah," ujar dia.

photo
Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang - (Febrian Fachri/REPUBLIKA)


×