Alat berat memadatkan badan jalan di kawasan food estate Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. | Istimewa

Ekonomi

PSN Wanam Didorong Jadi Motor Ekonomi Papua Selatan

PSN di Papua Selatan tidak hanya membangun infrastruktur fisik.

JAKARTA -- Pemerintah Provinsi Papua Selatan menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berkembang di kawasan Wanam, Kabupaten Merauke, bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur. PSN tersebut menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP).

Pemerintah daerah menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus diukur dari manfaat yang diterima masyarakat, terutama dalam bentuk kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, dan terbukanya aktivitas ekonomi baru.

Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengatakan, berbagai PSN yang saat ini berjalan di wilayahnya merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus mendorong transformasi ekonomi Papua Selatan.

Program tersebut mencakup pengembangan kawasan persawahan skala besar untuk mendukung produksi pangan nasional serta pembangunan perkebunan tebu terintegrasi dengan industri bioetanol yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat energi terbarukan baru di Indonesia.

“Tujuan utama pembangunan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semua negara melakukan pembangunan dengan satu tujuan, yaitu agar rakyatnya hidup lebih sejahtera,” kata Apolo dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Menurut Apolo, persoalan sosial dan ekonomi yang selama ini menjadi tantangan di Papua perlu dijawab melalui penciptaan kesempatan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, pemerintah daerah memandang PSN di Papua Selatan tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat lokal.

Pada sektor energi misalnya, proyek perkebunan tebu dan bioetanol yang sedang berjalan saat ini disebut telah menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga mencapai 15 ribu pekerja pada 2027 seiring bertambahnya aktivitas pembangunan dan operasional kawasan.

Pemprov Papua Selatan juga meminta agar masyarakat setempat menjadi penerima manfaat utama dari investasi yang masuk ke wilayah tersebut.

“Kami meminta agar sekitar 80 persen tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal, sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua Selatan,” ujar Apolo.

Menurut dia, selama ini banyak pihak menuntut kehadiran negara yang lebih kuat dalam pembangunan Papua. Karena itu, ketika investasi dan pembangunan mulai masuk, pemerintah berharap masyarakat dapat melihatnya secara menyeluruh, termasuk dampak ekonomi yang mulai muncul di lapangan.

Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat perbedaan pandangan di tengah masyarakat mengenai pelaksanaan PSN. Sebagian mendukung karena melihat peluang ekonomi yang terbuka, sementara sebagian lainnya menyampaikan berbagai catatan dan kekhawatiran.

Apolo menilai perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dalam proses pembangunan. Yang terpenting, kata dia, masyarakat memperoleh informasi yang utuh sehingga dapat menilai berbagai proyek secara objektif.

Selain aspek ekonomi, pemerintah daerah menegaskan bahwa setiap proyek tetap diwajibkan memenuhi ketentuan lingkungan hidup, termasuk analisis dampak lingkungan dan program pengelolaan serta pemantauan lingkungan secara berkelanjutan.

Menurut Apolo, pembangunan dan perlindungan hak masyarakat tidak boleh diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan. Keduanya harus berjalan bersama agar kekayaan sumber daya alam Papua dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat setempat.

Di tingkat pelaksanaan proyek, keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi perhatian utama. Perwakilan Tim Proyek Wanam, Gawang Kurniawan, mengatakan perusahaan pelaksana berupaya membangun sinergi dengan masyarakat di sekitar kawasan proyek, termasuk melalui perekrutan tenaga kerja lokal.

“Kita harus melibatkan masyarakat, dari marga-marga yang ada. Nanti mungkin kita bisa diskusi juga dengan masyarakat yang ada di sini,” ujar Gawang.

Menurut dia, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga kemampuan menciptakan hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar.

Dampak awal pembangunan mulai dirasakan masyarakat Kampung Wanam yang berada di Distrik Ilwayab, salah satu wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses transportasi dan fasilitas dasar.

Kepala Kampung Wanam Kosmas Serilius mengatakan sejumlah warga setempat telah bekerja di proyek yang sedang berjalan. Ia berharap kesempatan tersebut semakin terbuka, terutama bagi generasi muda.

“Kami di sini 743 jiwa, iya ada warga yang bekerja di PSN. Mungkin ke depan kita pemuda juga banyak yang masuk kerja di sana,” ujar Kosmas.

Selain membuka lapangan kerja, pembangunan infrastruktur pendukung kawasan juga terus berlangsung. Salah satu proyek utama adalah pembangunan fasilitas logistik untuk menunjang kawasan pangan dan energi yang tengah dikembangkan di Merauke.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat