Sastra
Istitha’ah Mak Inah
Oleh ABRAH NS
Dengan tangan bergetar, ia menempelkan jempol kanannya yang bertinta biru tua pada empat lembar kertas berwarna putih, merah, hijau, dan kuning. Maklum ia tidak dapat melakukan tanda tangan. Adapun tanda tangan di kartu identitasnya, KTP, tanda tangan yang tidak dapat ia ulangi lagi. Tanda tangan bak ukiran abstrak itu, atas arahan petugas capil saat perekaman KTP elektronik beberapa tahun lalu.
Ia adalah Mak Inah. Satu bulan yang lalu usianya genap memasuki 59 tahun. Namun, kerutan di wajahnya dan keriput yang ada di punggung tangannya mengesankan usianya sudah memasuki lansia. Pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga dan petani Sahang yang ulet, asbab tampak lebih tua dari umur sesungguhnya. Jika berjalan, ia masih tampak sangat lincah. Badannya tegak, tidak bungkuk sama sekali, suaranya lantang saat berbicara.
Di dampingi anak lelakinya, ia melangkah pasti memasuki kantor dengan warna dominan hijau, dengan logo bertuliskan “Ikhlas Beramal” dalam bingkai persegi lima. Ia disambut petugas penerima tamu. Setelah ditanyakan keperluannya, ia menjawab dengan percaya diri dengan bahasa Indonesia seadanya. Saat disodorkan sebuah buku tamu, anak lelakinya segera mengambil alih, maklum ia tak piawai baca tulis.
Setelah proses pendaftaran selesai yang ditandai dengan tanda tangan petugas dan cap jempol Mak Inah. Petugas memberikan empat lembar kertas ke Mak Inah itu untuk selanjutnya di bawa ke bank sebagai bukti pendaftaran untuk mendapatkan porsi.
“Bapak, data Ibu sudah kami rekam dan sudah ditandatangani. Selanjutnya silakan ke bank penerima setoran untuk menyetorkan setoran awal agar segera mendapatkan porsi.”
Ini adalah langkah bersejarah bagi Mak Inah. Untuk pertama kalinya memasuki kantor pemerintahan setelah memasuki umur paruh baya. Dan langkah bersejarah dalam perjalanan hidup sebagai seorang Muslimah, mendaftar haji.
Ia kemudian berboncengan dengan anak lelakinya menuju ke sebuah bank penerima setoran. Uang tunai yang ia bawa merupakan hasil jerih payahnya yang dikumpul sedikit demi sedikit hingga mencapai angka yang cukup untuk mendaftar haji, dua puluh lima juta rupiah. Ia disambut dengan ramah oleh seorang security bank. Diarahkan ke konter khusus layanan haji. Dan ini juga menjadi hari bersejarahnya Mak Inah, masuk ke sebuah bank dengan ruangan yang sangat dingin, pendingin ruangan yang dikondisikan dengan suhu 16 derajat celcius. Mak Inah sesekali menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ia kedinginan.
Keluar dengan wajah yang sangat bahagia, senyum merekah. Beberapa kali terdengar samar ia mengucapkan rasa syukurnya. Lafadz alhamdulillah yang terus diucapnya. Nomor porsi tercatat pada kertas setoran awal Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang diterimanya setelah menyerahkan dua puluh lima juta rupiah sebagai setoran awalnya. Kebahagiannya tampak ketika selesai menerima kertas setoran awal BPIH, ia menyalami satu persatu pagawai bank yang dilihatnya. Kemudian ia pamit dan kembali ke kantor Kementerian Agama Kabupaten untuk menyampaikan bukti setoran awal BPIHnya.
Mak Inah kembali masuk ke kantor Kementerian Agama dengan langkah pasti. Membawa sebuah map plastik bertali yang berisi kertas warna putih dan hijau masing-masing dua lembar yang akan diserahkan ke petugas pendaftaran haji. Sedangkan kertas warna kuning dan merah menjadi pertinggal di bank penerima setoran.
“Ibu jika berdasarkan sistem layanan haji kami, Siskohat, Ibu sudah resmi terdaftar dan diprediksikan berangkat 11 tahun kemudian. Jaga kesehatan ya, Bu! Semoga saat tibanya berangkat dalam keadaan sehat wal’afiat.”
Prediksi keberangkatan itu disampaikan oleh petugas pendaftaran haji yang menerima Mak Inah. Ia mengangguk. Ia tak peduli usianya yang akan semakin tua. Rasa percaya diri dan rasa syukur selalu melekat pada diri Mak Inah.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih atas layanannya. Dan kami izin pamit.” Anak lelaki Mak Inah pamit setelah semua proses pendaftaran hajinya kelar.
***
Dua belas tahun berlalu setelah pendaftaran haji Mak Inah, panggilan untuk melengkapi persyaratan keberangkatan menunaikan ibadah haji diterima melalui ponsel anak lelakinya. Wabah covid-19 menjadi asbab mundurnya keberangkatan yang semula diprediksi 11 tahun.
Mak Inah tidak lagi selincah ketika melakukan pendaftaran. Sakit-sakitan yang menderanya, pengapuran tulang, penurunan daya ingat, kemampuan berpikir yang sering tak normal, termasuk Indera pendengaran yang semakin tidak berfungsi, menyebabkan ia kesulitan beraktifitas normal.
“Makkk, ada panggilan untuk berangkat haji.” Anak lelakinya berlari sambil berteriak dengan kegirangan, menyampari ibunya sambil menunjukan chat dari petugas haji kantor Kementerian Agama Kabupaten.
“Alhamdulilah, kapan kita berangkat? Besok?” Pertanyaan Mak Inah membuat anaknya senyum sambil mengelengkan kepala.
“Belum, Mak! Masih banyak persyaratan yang harus dilengkapi. Besok Mak diundang ke kantor Kementerian Agama Kabupaten untuk memastikan kelengkapan dan kesiapan berangkat.” Anaknya berusaha menjelaskan sedetail mungkin.
Mak Inah menarik napas panjang. Ia tampak murung. Kedua tangannya mengusap-usap lutut kanannya yang tampak lebih besar dari yang kiri. Bibirnya bergetar seakan ingin mengutarakan sesuatu. Kondisi yang sangat berbeda ketika ia melakukan pendaftaran haji 12 tahun yang lalu. Kekhawatiran menyelimutinya. Namun, ia tidak mengeluarkan air mata kesedihan. Mak Inah adalah sosok yang sangat jarang menampakan tangisan di depan anak-anaknya.
“Mak…! Mak jangan sedih. Mak jangan takut, kan ada aku yang akan bersama Mak berangkat ke tanah suci.” Anak lelakinya itu berusaha menenangkan Mak Inah. Anaknya itu juga mendapat panggilan untuk persiapan keberangkatan tahun depan. Lelaki itu mendaftar bersama istrinya, menantu Mak Inah, sebulan setelah Mak Inah mendaftar. Pertimbangannya agar dapat berangkat bersama, mendampingi kedua orang tuanya.
“Bapakmu yang begitu semangat mau berangkat haji. Songkok Putih yang ia simpan bertahun-tahun yang lalu tak kesampaian ia pakai.” Mak Inah begitu sedih mengingat suaminya yang sama-sama berjuang mengumpulkan uang recehan untuk berhaji. Suaminya meninggal beberapa bulan yang lalu dan juga sudah memiliki porsi haji. Chat pemberitahuan pemanggilan calon jamaah haji dari petugas haji kantor Kementerian Agama Kabupaten juga termasuk nomor porsi atas nama suami Mak Inah. Pendaftaran suami Mak Inah bersamaan dengan pendaftaran Mak Inah, namun waktu itu suaminya tidak ikut ke kantor melainkan diwakilkan ke anak lelakinya.
Kali ini kondisi daya ingat Mak Inah tampak normal, pun dengan daya pikirnya. Ia ingat keinginan besar suami untuk berhaji bersama. Ingat songkok putih pemberian keponakannya yang belum tersampaikan untuk sah ia pakai sebagai seorang haji. Padahal akhir-akhir ini, daya ingat Mak Inah benar-benar sangat menurun. Bahkan terkadang lupa dengan anak-anaknya.
***
Waktu masih menunjukan pukul 8 pagi. Matahari naik dengan semangat membara, menyorotkan cahayanya ke permukaan bumi dengan hawa yang panas. Semangat membara itu bersama dengan keluarga Mak Inah—anak lelakinya dan juga anak perempuannya yang akan menggantikan suaminya, serta menantunya—yang memenuhi undangan petugas haji untuk dilakukan pendataan ulang kelengkapan awal data calon haji. Namun, tidak dengan Mak Inah yang tidak lagi menunjukkan semangat.
Mobil minibus yang terparkir tepat di depan gerbang utama masjid agung pemda setempat menjadi pusat perhatian jamaah yang sudah hadir lebih awal. Berbeda dengan kendaraan yang lain langsung mengambil posisi di lahan parkir masjid yang menjauh dari gerbang utama masjid. Mak Inah bersiap turun dari mobil minibus yang disopiri anak lelakinya. Dengan sigap, anak lelakinya menggendong Mak Inah menuju ruang masjid tempat pertemuan dengan petugas haji yang mengundang. Melewati 9 anak tangga masjid, Mak Inah digendong menuju kerumunan jamaah. Lagi-lagi, semua mata tertuju pada Mak Inah, tak terkecuali petugas haji yang sigap mempersilakan Mak Inah duduk.
Dengan wajah yang tampak lelah dan kebingungan. Mak Inah memegang tangan anak perempuannya yang turut hadir. Kondisi kesehatan Mak Inah memang semakin menurun sejak meninggal suaminya. Demikian juga daya ingatnya, termasuk kemampuan berpikir yang semakin menurun. Konon, hasil pemeriksaan kesehatan dokter rumah sakit beberapa bulan yang lalu, Mak Inah didiagnosa gejala demensia.
“Maaf, Bu! Ibu atas nama siapa?” petugas haji mendatangi Mak Inah. Berbeda dengan jamaah lain yang maju satu per satu untuk di data kelengkapan awal administrasi keberangkatan, Mak Inah menunggu di posisi tempat duduk sejak awal kedatangannya, ia didatangi petugas.
“Inah Muhammad, Bu!” jawab anak perempuan Mak Inah yang duduk persis di sempingnya. Pendengaran Mak Inah juga sudah sangat menurun. Sehingga ia hanya tersenyum-senyum sambil menganggukkan kepala, mengisyaratkan jika ia tidak menangkap apa yang diutarakan petugas itu. Sesekali ia berbisik pada anak perempuannya, mengajak pulang.
Kegiatan persiapan keberangkatan jamaah calon haji cukup melelahkan bagi Mak Inah dengan kondisinya itu. Tidak dengan anak-anaknya yang mendampingi penuh semangat tanpa merasa lelah. Serangkaian proses administrasi berikutnya harus dilakukan. Pengambilan pas foto jamaah, pembuatan passport, perekaman visa bio semua Mak Inah lakukan, semua dilakukan dengan pendampingan penuh dari dua orang anak dan seorang menantunya. Ia juga mengikuti manasik mandiri yang mulai dilakukan sembari menunggu manasik resmi dari kantor Kementerian Agama Kabupaten.
Dua bulan berlalu, proses melengkapi berkas administrasi yang dilakukan secara bertahap. Menyusul jadwal tes kesehatan yang dikeluarkan tim kesehatan haji, diterima Mak Inah dan jamaah lainnya. Penjaringan calon haji yang mengalami gangguan kesehatan melalui tes awal gula darah dan HbA1c, Mak Inah dinyatakan lolos. Dan mendapat rekomendasi untuk tes kesehatan selanjutnya berupa tes psikologi dan wawancara jamaah calon haji yang akan dilakukan empat belas hari kemudian.
***
Cahaya kuning hangat matahari pagi hari mengiringi keberangkatan mobil minibus yang mengantar Mak Inah menuju tempat tes kesehatan sesuai jadwal yang diterimanya. Sesampai di tujuan, antrian jamaah calon haji yang akan mengikuti tes kesehatan lanjutan sudah tampak meluap ke halaman puskesmas kota. Melihat kondisinya, Mak Inah dipersilakan oleh jamaah lain yang sudah antri lebih awal untuk langsung masuk ke ruangan tes. Seorang perawat yang kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum tes psikologi dan wawancara yang dilakukan oleh dokter tim kesehatan haji.
“Sehat, Bu!” sapa dokter yang akan menguji kesehatan Mak Inah. Namun, Mak Inah hanya mengangguk dan tersenyum. Anak Perempuan Mak Inah yang mendampingi kemudian menjelaskan kondisi ibunya, beberapa bulan terakhir mengalami penurunan kemampuan berpikir dan malas beraktivitas. Dokter Perempuan itu mengangguk-angguk sambil mengisi formulir isian yang ada di depannya.
“Bu, Ibu sekarang ada di mana?” dokter mencoba mengeraskan suaranya. Namun, Mak Inah hanya menggelengkan kepalanya. Wajahnya semakin gelisah, tak lagi cerah, tak lagi menampakan kegembiraan dan kebahagiaan akan berangkat berhaji. Sesekali ia mengajak anaknya pulang.
Jamaah calon haji yang lain yang dilakukan tes psikologi dipersilakan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam lembaran soal-soal yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, setelah selesai menjawab soal-soal dilanjutkan dengan wawancara dengan dokter tim kesehatan haji. Hal berbeda dengan Mak Inah. Selain tidak bisa baca tulis, kondisi lansia yang menyebabkan ia diberikan perlakuan khusus. Satu per satu pertanyaan dilontarkan dokter ke Mak Inah. Namun, hanya gelengan kepala dan senyuman yang diterima dokter penguji. Sesekali menjawab, namun dinilai tidak sinkron dengan pertanyaan dokter, meski hanya pertanyaan sederhana.
“Hitung mundur dari 100 tanpa henti, silakan!” demikian salah satu perintah wawancara oleh dokter tim kesehatan haji pada jamaah calon haji yang kondisi kesehatan dianggap normal. Perintah berbeda diberikan pada Mak Inah, “Ibu, coba ibu berhitung 1 sampai 10!” Dengan dibantu anak perempuannya, Mak Inah tidak mampu menyelesaikan hitungannya. Termasuk ketika ditanyakan waktu.
“Ibu coba lihat jam itu, jam berapa sekarang, Bu?” Dokter menunjuk jam dinding berlatar putih dengan jarum dan angka berwarna hitam yang terpasang di ruangan tes kesehatan itu. Mak Inah mencoba menoleh ke jam dinding yang ditunjuk dokter. Namun, hanya senyuman dan raut wajah kegelisahan yang diberikan Mak Inah. Ia bahkan beberapa kali berusaha untuk beranjak dari kursi, tidak betah, dan minta pulang ke rumah.
“Bu, melihat kondisi Ibu Inah Muhammad seperti ini, kami tidak dapat mengeluarkan surat istitha'ah kesehatannya. Karena jika kami keluarkan, ini akan beresiko bagi Ibu Inah itu sendiri dan juga rombongan lainnya. Kondisi beliau sudah masuk dalam kategori demensia akut.” Dokter berhijab dan ramah itu menjelaskan pada anak perempuan Mak Inah terkait kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat untuk dikeluarkan surat keterangan istitha’ah.
Siang di langit kota semakin mendung namun tak juga hujan. Seakan langit ikut bersedih mendengar hasil tes kesehatan Mak Inah. Hasil ini kemudian menyebar dengan cepat. Jamaah calon haji yang antri beberapa tampak mulai cemas. Khawatir tes kesehatannya juga gagal, seperti gagalnya Mak Inah.
Mak Inah pulang. Ia tidak sama sekali paham apa yang terjadi. Semangat yang menggebu-gebu 12 tahun yang lalu ketika mendaftar seakan sudah terkubur dalam-dalam oleh waktu. Anak-anak yang mendampingi diliputi rasa sedih. Namun, tak bisa ia paksakan. Meskipun berbagai masukan untuk mencoba membujuk tim kesehatan agar hasilnya dikondisikan, terlebih Mak Inah tidak berangkat sendirian tapi ada anak lelaki dan anak perempuannya serta seorang menantunya yang akan ikut berangkat bersama. Setelah berdiskusi dengan petugas haji kabupaten yang berpengalaman menjadi pembimbing ibadah haji, keluarga Mak Inah memutuskan menerima sepenuhnya keputusan dokter tim kesehatan haji, kesehatan Mak Inah tidak istitha’ah untuk berangkat haji.
Abrah Ns tinggal di Toboali Bangka Selatan. Selain sebagai abdi negara, ia aktif menulis fiksi maupun non fiksi di berbagai media lokal dan nasional. Tulisan-tulisannya dapat juga dibaca di blog pribadinya Lentera Anak Desa di ahman0307.blogspot.com. Sekarang sedang menggarap proyek novel berjudul “Berhaji Bersamamu”
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
