Asap membubung setelah serangan udara Israel di bagian selatan Kota Gaza, 12 Juli 2026. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 14 warga Palestina terluka dalam serangan tersebut. | EPA/MOHAMMED SABER

Internasional

Israel Luaskan Pencaplokan Gaza

PBB menilai pelanggaran gencatan senjata oleh Israel menuju kejahatan perang.

GENEWA – Militer Israel telah memperluas kendalinya di Jalur Gaza hingga ratusan meter melampaui apa yang disebut sebagai "Garis Kuning". Ini meningkatkan wilayah di bawah kendalinya menjadi sekitar 65 persen dari total wilayah Jalur Gaza.

Hal ini terungkap dalam sebuah investigasi yang diterbitkan pada hari Rabu oleh harian Israel, Haaretz, berdasarkan citra satelit terkini. Menurut investigasi tersebut, perluasan ini sebagian besar berupa tanggul tanah dan sistem parit yang membentang sejauh beberapa kilometer ke dalam wilayah Jalur Gaza.

Citra satelit menunjukkan bahwa perluasan tersebut saat ini menjangkau ratusan meter di luar "Garis Kuning" di dua lokasi di wilayah selatan Gaza. Di Khan Younis, sebagian dari perluasan itu mencapai jarak sekitar 400 meter melampaui "Garis Kuning" di sepanjang Jalan Salah al-Din, sementara di Rafah, perluasan tersebut melampaui "Garis Kuning" hingga sekitar 1.300 meter di satu titik.

Haaretz menyebutkan bahwa militer Israel secara bertahap telah menggeser penanda kuning yang menandai garis tersebut ke arah barat, yang secara efektif memperluas wilayah di bawah kendali mereka.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa penetapan apa yang disebut sebagai "Garis Oranye" serta persyaratan koordinasi yang diberlakukan terhadap organisasi kemanusiaan telah memperluas kendali Israel hingga mencakup sekitar 65 persen wilayah Jalur Gaza.

Surat kabar itu menambahkan bahwa militer Israel telah mendirikan setidaknya tiga pangkalan baru di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir, termasuk satu pangkalan di kawasan kamp pengungsi bagian tengah, satu lagi di reruntuhan Bani Suheila, dan satu lagi di dekat garis pantai serta perbatasan Mesir.

photo
Kerabat keluarga Al-Masri asal Palestina melangsungkan upacara pemakaman di sebuah pemakaman di Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 21 Juli 2026. Firas Al-Masri, istrinya Salsabil, dan keempat anak mereka syahid di Kota Gaza setelah rumah mereka menjadi sasaran serangan pesawat drone militer Israel pada dini hari tanggal 21 Juli, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Sementara, Kantor Hak Asasi Manusia PBB memperingatkan bahwa serangan Israel terus menewaskan dan melukai warga sipil Palestina di seluruh Jalur Gaza meskipun ada gencatan senjata. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kejahatan perang dan kejahatan keji lainnya.

Berbicara di Jenewa pada Selasa, juru bicara Kantor HAM PBB Thameen Al-Kheetan mengatakan bahwa "sembilan bulan setelah pengumuman gencatan senjata, tetap saja tidak ada tempat yang aman bagi warga Palestina di Gaza."

Menurut kantor tersebut, Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa lebih dari 1.100 warga Palestina telah tewas akibat serangan pasukan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025.

PBB telah memverifikasi secara independen kematian 685 warga Palestina hingga pertengahan April 2026, termasuk 283 perempuan dan anak-anak, sementara verifikasi terhadap kasus-kasus tambahan masih terus dilakukan.

photo
Kerabat keluarga Al-Masri asal Palestina melangsungkan upacara pemakaman di sebuah pemakaman di Kota Gaza, Jalur Gaza, pada 21 Juli 2026. Firas Al-Masri, istrinya Salsabil, dan keempat anak mereka syahid di Kota Gaza setelah rumah mereka menjadi sasaran serangan pesawat drone militer Israel pada dini hari tanggal 21 Juli, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Antara 13 Juli dan 20 Juli saja, kantor tersebut mencatat setidaknya 57 warga Palestina syahid, termasuk enam anak-anak dan delapan perempuan.

Al-Kheetan mencatat bahwa 34 orang yang tewas tersebut meninggal di luar "garis kuning" yang ditetapkan sendiri oleh Israel, yaitu zona penyangga yang dibentuk setelah gencatan senjata.

"Tewasnya warga sipil dalam serangan-serangan ini menimbulkan kekhawatiran akan terus terjadinya pelanggaran hukum humaniter internasional, kejahatan perang, dan kemungkinan kejahatan keji lainnya di Gaza," ujarnya.

PBB mendesak negara-negara pihak ketiga untuk mengambil tindakan segera guna memastikan kepatuhan penuh terhadap gencatan senjata, menghentikan pelanggaran yang sedang berlangsung, serta menjamin akuntabilitas dan keadilan.

Pada tanggal 16 Juli, para aktivis meluncurkan kampanye digital dengan tagar "They Lied to You" (Mereka Membohongi Anda) untuk mengalihkan kembali perhatian dunia pada genosida yang terus dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza, serta menantang anggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 telah mengakhiri serangan militer Israel di wilayah yang terkepung tersebut.

Kampanye yang viral secara global di X dan Instagram—menggunakan tagar dalam bahasa Inggris (#TheyLiedToYou) maupun bahasa Arab (#كذبوا_عليكم)—ini bermula di Gaza. Di sana, warga Palestina membagikan rekaman langsung yang memperlihatkan pemboman yang terus berlanjut, kelaparan sistematis, dan wabah penyakit, guna menunjukkan bahwa krisis di Gaza justru semakin parah seiring berlanjutnya serangan Israel.

"Mereka mengelabui Anda dengan mengatakan bahwa perang telah usai... perang tidak berakhir; perang hanya berakhir di layar Anda. Kenyataannya, warga Gaza terus dibunuh dan mengungsi, sementara rumah-rumah mereka dihancurkan," ujar Hani Aburezeq, seorang jurnalis asal Gaza, dalam sebuah video yang diunggah di Instagram.

Kantor media pemerintah Gaza menyatakan pada hari Ahad bahwa Israel telah melakukan 3.795 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak bulan Oktober.

Israel telah menewaskan sedikitnya 1.168 warga Palestina di Gaza sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada bulan Oktober. Di dunia maya, para pengguna media sosial membagikan rekaman kehancuran di Gaza, turut menyuarakan jeritan warga Gaza bahwa kehancuran telah melanda wilayah tersebut.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat