Internasional
AS-Iran Sepakati Pokok Kesepakatan Gencatan Senjata
Semakin lama perang, semakin lama Teluk menderita.
TEHERAN – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan sebagian besar pokok pembahasan dalam negosiasi telah mencapai titik temu, namun belum berarti kesepakatan akhir akan segera diteken. Pernyataan itu disampaikan di tengah memanasnya konflik kawasan setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta meningkatnya kekhawatiran global atas ancaman krisis energi dan keamanan di Timur Tengah.
“Fokus perundingan saat ini adalah menghentikan perang, dan pada tahap ini kami belum membahas detail isu nuklir,” kata Baghaei. Ia menegaskan ancaman, tekanan politik, dan propaganda yang diarahkan kepada Iran merupakan bagian dari dinamika politik di kawasan tersebut.
Menurut Baghaei, Teheran tetap berpegang pada langkah-langkah yang dianggap mampu menjaga kepentingan nasional Iran. “Di mana pun diperlukan, kami akan merespons. Kami memiliki gaya sendiri dan tidak akan meniru pendekatan musuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, Iran sebagai negara yang “beradab, kuat, dan bermartabat” akan memberikan respons terhadap setiap serangan dengan cara yang dinilai tepat, sebagaimana telah dilakukan sebelumnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut saat ini terdapat proposal yang “cukup solid” terkait kemungkinan Iran membuka kembali Selat Hormuz dan memasuki negosiasi serius serta terbatas waktu mengenai program nuklirnya.
Menurut Rubio, usulan tersebut mendapat dukungan luas dari negara-negara Teluk maupun komunitas internasional. “Setiap negara yang kami ajak berdiskusi memahami bahwa proposal ini bukan hanya masuk akal, tetapi juga penting bagi dunia,” katanya saat berkunjung ke India.
Rubio juga menegaskan Presiden AS Donald Trump tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Teheran. “Presiden tidak akan membuat kesepakatan yang buruk. Kami akan memberi kesempatan penuh bagi diplomasi sebelum mempertimbangkan opsi lain,” ujarnya.
Meski demikian, sejumlah pertanyaan penting terkait kemungkinan kesepakatan masih belum terjawab. Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebuah kesepakatan “pada dasarnya telah dinegosiasikan”, meski kemudian ia mengakui proses finalisasi belum sepenuhnya rampung.
Pejabat Iran juga membenarkan negosiasi masih berlangsung dan beberapa kemajuan telah dicapai. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan rancangan kesepakatan mencakup peta jalan penghentian perang di berbagai front, dengan AS disebut akan melonggarkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran selama proses negosiasi berlangsung.
Namun, sumber Iran kepada Aljazirah menyebut masih ada indikasi perubahan sikap Washington dalam dua isu utama, yakni mekanisme pencairan aset Iran yang dibekukan serta cakupan gencatan senjata di Lebanon.
Selain itu, isu Selat Hormuz dan program nuklir Iran masih menjadi titik krusial yang belum menemukan titik temu.
Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai potensi kesepakatan tersebut, karena Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia menginstruksikan timnya “untuk tidak terburu-buru” mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa “perjanjian tersebut sebagian besar telah dinegosiasikan, tergantung pada finalisasi antara” AS, Iran dan “berbagai negara lain”.
Presiden AS tampaknya melunakkan hal tersebut pada hari ini, dengan mengatakan bahwa kesepakatan itu belum “sepenuhnya dinegosiasikan”.
Para pejabat Iran mengonfirmasi bahwa negosiasi sedang berlangsung dan beberapa kemajuan telah dicapai.
Perjanjian tersebut mencakup peta jalan untuk mengakhiri perang di semua lini, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan, dan AS melepaskan sanksi terhadap minyak Iran selama negosiasi.
Namun sumber Iran mengatakan kepada Ali Hashem dari Al Jazeera bahwa “ada tanda-tanda kemunduran AS dalam dua isu utama: mekanisme pencairan aset Iran, dan cakupan gencatan senjata di Lebanon”.
Selat Hormuz dan program nuklir Iran juga tampaknya masih menjadi kendala.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Kuwait, Abdullah Alshayji, menilai perang yang berlangsung sejak awal merupakan “perang pilihan, bukan perang karena kebutuhan mendesak”.
Menurut dia, Trump semula meyakini Iran berada di titik lemah dan rezim di Teheran dapat dijatuhkan. “Namun pada akhirnya, itu jelas merupakan salah perhitungan besar,” kata Alshayji kepada Aljazirah.
Ia menambahkan, Iran kini memanfaatkan tekanan domestik yang dihadapi Trump, termasuk melonjaknya harga bahan bakar di AS, untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi.
“Karena itulah kawasan ini menderita. Bahkan dunia kini menghadapi krisis energi paling serius dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
