Sastra
Wahai Guru
Oleh GHOFIRUDDIN ALFIAN
Keteladanan Sejati
Mari kita mulai dengan salam,
Curahan keselamatan dari Allah
Rabb semesta alam
Rahmat yang melimpah
Serta keberkahan yang tidak akan pernah luntur
Hanya karena satu ucapan sumpah serapah
Mari kita haturkan pula shalawat untuk baginda Nabi
Penerang jalan di kegelapan muka bumi
Sebaik-baik pemimpin yang tidak akan pernah ada
Seorang manusia pun yang sanggup menjadi pengganti
Dialah penghantar cahaya Ilahi yang syafaatnya
Senantiasa dinanti
Adapun selanjutnya,
Selanjutnya adalah perjuangan yang tidak mengenal
kata henti, perjuangan menundukkan hawa nafsu di
Dalam diri; kesombongan, keserakahan, serta kejumudan
Jiwa yang menjadi penghalang bagi kita untuk merengkuh
Sebuah kejayaan yang sejati
Berkali-kali kita telah dipukul mundur,
Dihantam oleh berbagai macam tarik ulur,
Tercerai-berai.
Penuntut ilmu hanya mengejar gelar akademik
Para guru menjajakan pengetahuan hanya demi
Satu suapan sekelumit,
Sementara orang awam terlalu mendewakan materi,
Berjibaku saling hantam,
Mengungkapkan keresahan gelap berwarna hitam.
Angan-angan kosong.
Mereka miskin keteladanan sejati.
Para pemimpin yang diharapkan mengayomi,
Justru sibuk bersekutu dengan oligarki,
Sibuk mengeruk kekayaan tanah air yang
Gemah ripah loh jinawi
Dan korupsi…
Oh korupsi, kini ia telah menjadi ajang
Perwujudan dan unjuk rupa diri
Mereka miskin keteladanan sejati,
Para selebriti dijadikan rujukan pencarian jati diri.
Tampilan mesti trendi
Kemewahan yang menyilaukan
Namun membutakan hati.
Hati-hati yang mati
Pikiran yang dirusak oleh akal bulus
Yang tersembunyi di balik jerami
Namun, masih ada jalan kembali.
Jalannya para Nabi yang hanya bisa dikenali
Melalui petunjuk para alim yang dirahmati.
Merekalah orang yang tulus mencintai.
Ridho ilahi dan syafaat Baginda Nabi saja
Yang hendak mereka gapai.
Selebihnya adalah tentang ummat, ummat dan ummat.
Amar ma’ruf nahi mungkar hingga tiba hari kiamat.
Merekalah inspirasi sejati,
Pengusung panji tauhid terdepan
Pelindung hukum Allah dari segenap musuh
yang menghadang.
Mereka tidak gentar di hadapan kezaliman,
Melawan penindasan dan keterbelakangan
dengan segenap anugerah yang Allah berikan:
Pikiran, lisan dan tulisan, maupun kekuatan
menggetarkan lawan yang menghadang
Merekalah inspirasi sejati,
Keteladanan nyata untuk menjalin persaudaraan abadi.
Di dunia: persaudaraan yang mengantarkan kepada
Kejayaan Islam,
Di akhirat: persaudaraan di alam surga,
Memandang wajah Allah yang tak pernah binasa,
Duduk di majelis baginda Nabi,
Tercurahlah salam kepada segenap hamba
Yang mendekatkan diri.
Blitar, 11 Juli 2025
***
Wahai Guru
Wahai guru, teladanmu yang kutunggu
Akhlaqul karimah
Luas samudra ilmumu
Bersamamu tentram seluruh jiwaku
Wahai guru, ingin kudengar suaramu
Harum bau surga
Larut dalam sanubari
Tatapanmu menyibak tabir dunia
Dunia fana, angkara murka durjana
Kerusakan nyata
Ulah manusia durhaka
Kerakusan, ketamakan tak terkira
Yang dipuja, yang pasti rusak akhirnya
Yang pasti binasa
Tertinggal jejak nestapa
Siksaannya tak berujung waktu dan dera
Wahai guru, tanyaku dalam termangu
Mampukah diriku
Membersamai langkahmu
Lelah tubuh terpasung kenangan dan rindu
Wahai guru, selamatkanlah diriku
Selamatkan akalku
Selamatkan pula hatiku
Dari kesombongan diri terlaknati
Blitar, 12 Juli 2025
***
Yang Kami Baca
Dengan apa yang kami baca,
kemudian kami simak dan perdengarkan
dengan hati yang berlapang dada,
Kasihilah kami,
Sayangilah kami
dengan segenap kelembutan yang tak terperi
yang tak satupun makhluk mampu berkilah
mencari seuntai definisi
Jadikanlah ia petunjuk untuk jalan hidup kami,
cahaya terang untuk kalbu dan akal kami
yang kerdil, pemimpin sepanjang kehidupan
kami -yang tidak mungkin- tidak ada gejolak,
Satu napas cintaMu yang tak mungkin tertolak
Dengan ia pula, peringatan dariMu
akan senantiasa terbaca dengan jelas,
mengingatkan kami di kala lupa dan lena,
mengajari kami tentang makna dan cinta,
menghardik kami ketika langkah kami
lengah menuju kebodohan, kegelapan
dasar neraka yang menjelma bayang-bayang
Kenikmatan dunia yang fana
Dengan apa yang kami baca,
limpahkanlah rezekiMu untuk semesta,
siang dan malam yang terajut erat dalam nada,
menjadi hujjah yang menjadi pengantar bagi kami
menuju pintu surga
Trenggalek, 11 Maret 2024
***
Kemutlakan
Kemutlakan selalu tertuju kepada Yang Esa
Tiada kelemahan padaNya
Tiada sekutu pula yang mampu menandingi
Kekuasaan-Nya
Kemutlakan dan keesaan itu pula
Yang menjadikan segala sesuatu ini ada,
Apabila mutlak itu berdua
Maka perselisihan hanya akan menyebabkan
Segala yang ada binasa
Dan apabila bersepakat, maka
Kemutlakan itu akan tertolak,
Sebab yang satu membutuhkan kepada
Yang selainnya
Dan sifat membutuhkan atau ketergantungan
Itu merupakan tanda-tanda kelemahan.
Tidak mungkin Yang Mutlak disifati dengan
Tanda-tanda yang melemahkan kemutlakan-Nya
Blitar, 5 Agustus 2025
***
Suatu Persimpangan
Terpujilah orang-orang yang dilimpahi kesabaran
Orang-orang yang menahan lidahnya
dari mencaci dan memaki,
meletakkan keluh kesahnya demi pencarian hikmah,
menyandarkan hati demi penelusuran
jalan hidup yang penuh berkah
Pada satu persimpangan,
Terkadang hidup menjelma bagaikan kutukan
Kegelapan yang terpatri begitu dalam
Hati yang penuh sesak terdesak di dasar jurang
Terhimpit dari berbagai arah
tanpa ada satupun celah pelarian
Pada persimpangan yang lain
Jalan takdir memberikan arah yang terang
Segalanya tampak begitu lapang
Dan suka-duka adalah keniscayaan.
Bagaikan musim-musim yang datang silih berganti
Hati telah dan akan selalu terbolak-balik
Dan yang selalu meneguhkannya
Ialah Pemilik Cinta yang tak akan pernah terdistorsi
Oleh untaian kata manusia
Blitar, 20 Juni 2025
***
Menjejak Bumi
Waktu pagi menjejak bumi
Kenangan sekali lagi mengambil hati
Duka, lara, kesepian
Harapan, kehampaan, kesia-siaan
Setetes embun menyejukkan kalbu
Dan tetesan air mata tak terbendung
Demi menuju ruang rindu
Adakah guna, adakah saksi
Semesta rasa yang menjenguk
Kealpaan diri di lain hari
Kehangatan mentari menebarkan langkah
Jejak-jejak dunia terbuka
Hembusan napas yang lelah meronta
Terkahan masa depan abu-abu
Blitar, 16 Juli 2025
***
Pintu Keluar
Pintu keluar telah ada di depan mata
Menganga dan terbuka
Menarik diri dalam kealpaan
Semesta rona
Di luar sana, aneka
Kutukan langkah-langkah pelan
Yang mesti sedia menanggung
Derita kebebasan
Di dalam sini, kantuk
Jiwa berapi yang terantuk
Tersandung tali temali yang melilit
Juga suapan yang membelit
Blitar, 10 Desember 2025
***
Misteri Pengabaian
Apakah engkau masih penasaran
Dengan misteri pengabaian,
Kata-kata yang dibalas setelah jarak-
Jarak waktu terbentang, pengalihan:
Mata yang membuat onar, cermin
Yang telah retak sebelum terbakar?
Bisakah kau untuk tidak menghardik
Keheningan, untuk tidak lagi bertandang
Dengan ucapan salam yang mengekang,
Untuk berjalan melampaui sirna, melampaui
Kepingan asa dan kegilaan yang penggalannya
Adalah nyawa yang terbuang percuma?
Bisakah kau untuk tidak lagi bertanya,
Atau menyatakan apa-apa di sepanjang sudut
Kerlingan orang-orang papa. Nafas ini terlunta,
Telinga ini melukai suara. Nafsu ini berujar:
Suatu kepasrahan yang berkelakar dari balik
Semak belukar.
Trenggalek, 12 Oktober 2025
***
Bel
alarm tanda masuk berdentang kencang,
Ada yang telah siap dengan ungkapan,
Namun ada pula yang menyiapkan satu
Keheningan: setenang diam dan bertandang
Langkah pelan meniti tangga-tangga
Yang bersudut muram, menggeram pada
Setiap jadwal yang tertata rapi, mengeluh
Terhadap persamaan, pakaian seragam
Dan minyak wangi yang ternyata tersambungkan
Dengan daki (mendaki) yang ternodai
Keterangan tak terucap pasti,
Siapa yang menjadi pelaku dan apa yang dilaku
Tidak berfungsi menyatakan mahu.
Tahu-tahu sudah ada di sini, disantap dengan
Penuh lahap oleh jiwa-jiwa lelap yang
Belum pernah kenyang.
Tatapannya terlalu kencang, namun
Perhatiannya teralihkan kepada bayangan:
Seorang perempuan telanjang, dan anak-anak
Belajar satu sama lain untuk meyakinkan:
Bahwa ujian tak akan datang,
Bahwa penghakiman hanya serupa pesta perpisahan.
Nyala api menyala pendam dalam perputaran.
Trenggalek, 11 November 2025
Ghofiruddin Alfian adalah penulis dan praktisi literasi asal Trenggalek, Jawa Timur. Ia memiliki ketertarikan pada filsafat, sastra, dan isu sosial. Karya yang telah terbit antara lain buku kumpulan puisi Catatan Seorang Mbambung (2016), Perempuan Sekilas Pandang (2018), Timur Daya (2019), kumpulan cerpen Dialog Secangkir Kopi (2019), dan novelet berjudul Pulang Kampung (2020). Selain menulis prosa, ia aktif mengelola blog ambasaja.com.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
