Internasional
Armada Flotilla Lanjutkan Pelayaran ke Gaza
Dua pemimpin pelayaran Global Sumud Flotila masih di tahan.
Oleh Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Marmaris, Turki
MARMARIS -- Sebanyak 32 kapal Armada Global Sumud (GSF) yang sempat tertahan pelayarannya lantaran serangan tentara laut Zionis Israel di laut Yunani pada Rabu (29/4/2026) bertekad melanjutkan pelayaran ke Gaza. Mereka akan bertolak menjemput para partisipan yang sudah menunggu di Marmaris, Turki.
Dalam penyampaian resmi yang disampaikan GSF kepada seluruh partisipan, di Marmaris ada 12 kapal kemanusian yang juga siap berlayar menembus Gaza. Gabungan kapal-kapal dari Yunani, dan yang sudah sepekan menunggu di Marmaris, membuat armada kemanusian yang melanjutkan misi ke Gaza berjumlah sekitar 40-an.
"Terlepas dari penculikan ilegal rekan-rekan kami, perang psikologis penjajahan, dan ancaman pengawasan dan agresi militer, armada Global Sumud Flotilla tetap utuh dan tujuannya tetap sama: untuk berdiri bersama rakyat Palestina dalam perjuangan mereka demi kebebasan dan memperjuangkan hak-hak fundamental," begitu penyampaian resmi GSF yang diterima Republika di Marmaris, Turki, Jumat (8/5/2026).
Dua pemimpin pelayaran Global Sumud Flotila, Thiago Avila dan Seif Abukeshek hingga kini masih dalam penawanan Zionis Israel. Keduanya dalam penculikan setelah tentara laut zionis melakukan penyerangan terhadap 22 kapal-kapal kemanusian pada Rabu (29/5/2026) lalu.
Sebanyak 176 para partisipan pelayaran lainnya, mengalami penyiksaan, namun di serahkan ke otoritas Yunani untuk dideportasi ke negara asal, dan sebagian memilih dipulangkan ke Turki untuk melanjutkan misi.
Terkait nasib Thiago dan Seif, hingga kini dalam sel isolasi khusus di Penjara Shikma. Sudah lebih dari satu pekan keduanya dalam interogasi maksimal atas tuduhan terorisme. Keduanya mengalami penyiksaan fisik dan psikologis.
Pengadilan rendah di Ashkelon, memperpanjang masa penahanan terhadap keduanya sampai Ahad (10/5/2026). Keduanya dalam beberapa hari terakhir melakukan mogok makan dan minum sebagai bentuk protes penahanan ilegal yang dilakukan zionis.
Republika menemui anggota Steering Committee (SC) Global Sumud Flotilla Maimon Herawati di Marmaris, Turki pada Jumat (7/5/2026). Kata dia bergeraknya armada yang selama ini bertahan di perairan Yunani menuju Turki menunjukkan misi pelayaran menembus blokade Gaza masih tetap solid. Kata dia estimasi waktu ketibaan armada dari perairan Kreta di Marmaris, pada Jumat malam ini, atau Sabtu (9/5/2026).
Jika tanpa hambatan, gabungan armada Global Sumud Flotilla dari Marmaris akan angkat jangkar berlayar bersama ke perairan Gaza, pada Ahad (10/5/2026), ataupun Senin (11/5/2026) mendatang.
"Sudah ada pernyataan dari Israel untuk menghentikan GSF ini. Dan langkah yang dilajukan GSF adalah meminta semua delegasi yang berpartisipasi dalam GSF untuk mengirimkan surat terhadap negara masing-masing sebagai permintaan untuk perlindungan warga negara," kata Maimon. Ia menambahkan, partisipasi Indonesia melalui peran Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) pun tetap konsisten untuk turut serta melanjutkan pelayaran kemanusian ke Gaza.
Kata Maimon, diperkirakan ada sedikitnya sembilan relawan GPCI yang bakal turut serta dalam pelayaran lanjutan ini. Maimon pun berharap, pemerintah Indonesia tetap memberikan perhatian dengan memastikan perlindungan warga negara yang terlibat untuk misi kemanusian ini.
Dan diperkirakan dari Marmaris, ada sekitar 150-an relawan internasional yang turut bergabung dalam misi lanjutan ini. Kebanyakan mereka berlatar belakang medis seperti dokter dan perawat, guru, serta aktivis-aktivis kemanusian lainnya.
Di Marina Albatros, kawasan Pelabuhan Marmaris para relawan sejak Rabu (6/5/2026) kemarin sudah melakukan pemuatan logistik dan bantuan ke kapal-kapal yang akan berlayar ke Gaza. Logistik yang dibawa itu, kebanyakan adalah obat-obatan, susu bayi, dan perlengkapan anak-anak serta perempuan, juga termasuk makanan berat seperti beras, pun kudapan ringan, dan buah-buahan.
Ibunda meninggal
Pada Rabu (6/5/2026), GSF menyampaikan kabar duka tentang wafatnya ibunda Thiago, Teresa Regina de Avila e Silva. Teresa meninggal dunia pada Selasa (5/5/2026) kemarin di Brasil. Ia tutup usia pada 63 tahun.
"Sumud Flotilla (GSF) mengumumkan meninggalnya Teresa Regina de Avila e Silva, ibu berusia 63 tahun dari rekan kita yang dipenjara secara ilegal dan pembela hak asasi manusia, Thiago Avila," begitu penyampain resmi GSF yang diterima Republika, di Marmaris, Turki, pada Rabu (6/5/2026).
GSF mengatakan, kabar wafatnya Teresa belum disampaikan kepada Thiago. Aktivis asal Brasil itu hingga kini masih dalam penahanan dan dirantai di sel isolasi maksimal di penjara zionis. "Yang memperparah mimpi buruk ini adalah kenyataan yang mengerikan bahwa Thiago bahkan tidak tahu bahwa ia telah kehilangan ibunya. Karena ia ditahan dalam isolasi dan dilarang berhubungan dengan dunia luar. Ia telah kehilangan kesempatan untuk memulai masa berkabungnya dalam pelukan komunitasnya," begitu pernyataan GSF.
Tentara laut penjajahan Zionis Israel menculik Thiago dan Seif Abukeshek pada Rabu (29/4/2026) lalu. Thiago dan Seif merupakan dua pemimpin pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusian untuk menembus blokade Gaza. Tentara laut zionis menculik kedua aktivis itu dalam penyerangan terhadap 22 armada kemanusian GSF yang melintas di perairan internasional di dekat Yunani, atau berjarak sekitar 1.000 Kilometer (Km) dari daratan Gaza.
Sebanyak 178 aktivis pelayaran dari berbagai negara turut diculik oleh tentara zionis ketika itu. Tentara penjajahan juga merusak kapal-kapal kemanusian. 176 para aktivis pelayaran di serahkan ke otoritas Yunani untuk dideportasi. Pemerintah Turki, meminta sebagian aktivis untuk diselamatlan ke Istanbul. Hanya Thiago dan Seif, yang disandera militer zionis dan dibawa ke Ashdod untuk ditahan dan diadili.
Pada Selasa kemarin, pengadilan rendah Zionis Israel di Ashkelon memperpanjang masa penahanan terhadap Thiago dan Seif. Seif merupakan aktivis kemanusian asal Palestina yang telah lama mukim dan menjadi warga negara Spanyol-Swedia. Selama dalam penahanan di sel penjara zionis, keduanya mengalami penyiksaan fisik dan psikologis. Bahkan dari laporan tim pendamping hukum GSF, Thiago dan Seif diancam akan dibunuh, atau dipenjara selama 100 tahun.
Tim Adalah menyampaikan, Zionis Israel mendakwa Thiago dan Seif dengan beragam sangkaan terkait dengan terorisme. Jaksa Israel pada persidangan sebelumnya menyampaikan di pengadilan, tentang Thiago dan Seif membantu orang-orang di Gaza, Palestina yang dianggap sebagai musuh zionis.
"Jaksa penuntut umum Israel menyampaikan daftar dugaan pelanggaran (kepada Thiago dan Seif) termasuk membantu musuh selama masa perang, berhubungan dengan agen asing, menjadi anggota dan memberikan layanan kepada organisasi teroris, dan mentransfer properti untuk organisasi teroris," begitu dalam siaran pers Adalah yang diterima Republika di Marmaris, Turki, Selasa (5/5/2026).
Anggota Pengacara Adalah, Hadeel Abu Salih dan Lubna Tuma menegaskan, tak ada penjelasan tentang organisasi terorisme seperti apa yang dituduhkan oleh jaksa zionis terhadap Thiago dan Seif. Adalah juga membantah keras tudingan zionis terhadap Thiago dan Seif yang terkait dengan terorisme.
Adalah menegaskan, aktivitas Thiago dan Seif yang kini membuat keduanya menjadi tahanan zionis, hanya terkait dengan kegiatan kemanusian bersama ribuan relawan lainnya untuk membantu penduduk sipil yang kelaparan, dan kesusahan di Gaza.
Kegiatan kemanusian tersebut, Thiago dan Seif lakoni bersama ribuan aktivis dari seluruh dunia melalui pelayaran kemanusian melalui perairan laut internasional menuju Gaza. "Bahwa tidak ada hubungan antara memberikan bantuan kemanusian kepada penduduk sipil di Gaza melalui armada kemanusiaan dengan organisasi teroris mana pun," tegas Adalah.
Justeru, menurut Adalah, tentara zionis yang melanggar ketentuan hukum internasional, dengan melakukan pembajakan kapal-kapal dan penculikan para peserta pelayaran. Tindakan ilegal tentara penjajahan itu, yang berujung pada penangkapan Thiago dan Seif di perairan internasional saat memimpin 56 armada kemanusian di perairan internasional dekat Yunani, atau berjarak sekitar 1.000 Kilometer (Km) dari pantai Gaza, pada Rabu (29/4/2026) lalu.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
