Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). | X

Internasional

AS Mulai Terdepak dari Teluk

Saudi dan Kuwait larang akses AS ke pangkalan mereka.

WASHINGTON — Agresi Amerika Serikat dan Israel ke Iran mulai menimbulkan perubahan postur keamanan di Teluk. Arab Saudi dan Kuwait dilaporkan mulai berani menutup akses bagi Amerika Serikat ke pangkalan di wilayah mereka.

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tiba-tiba menghentikan rencana operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz disebut dipicu penolakan tersebut. Laporan NBC News menyebutkan, Trump mengejutkan sekutu-sekutu Teluk setelah mengumumkan operasi bertajuk Project Freedom melalui media sosial pada Ahad sore waktu setempat. Langkah itu disebut memicu ketidakpuasan para pemimpin Arab Saudi.

Menurut dua pejabat AS, Riyadh kemudian memberi tahu Washington bahwa mereka tidak akan mengizinkan pesawat militer AS terbang dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan di tenggara Riyadh maupun melintasi wilayah udara Saudi untuk mendukung operasi tersebut.

Upaya komunikasi antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan belum membuahkan hasil. Kondisi itu disebut memaksa Trump menghentikan sementara Project Freedom guna memulihkan akses militer AS di kawasan.

Selain Saudi, sejumlah sekutu dekat AS di Teluk juga disebut terkejut atas pengumuman operasi tersebut. Trump dilaporkan baru berbicara dengan para pemimpin Qatar setelah operasi diumumkan.

Sumber Saudi kepada NBC News mengatakan Trump dan Mohammed bin Salman tetap menjalin komunikasi intensif. Pejabat Saudi juga disebut menghubungi Trump, Wakil Presiden JD Vance, Komando Pusat AS (CENTCOM), dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

photo
Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). - (X)

Saat ditanya apakah pengumuman Project Freedom mengejutkan Riyadh, sumber Saudi itu mengatakan situasi berkembang sangat cepat dan berlangsung secara real time. Ia menambahkan, Arab Saudi mendukung upaya diplomatik Pakistan untuk memediasi kesepakatan antara Iran dan AS guna mengakhiri konflik.

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih membantah adanya unsur kejutan terhadap sekutu regional. Menurut dia, negara-negara mitra di kawasan telah diberi informasi sebelumnya terkait operasi tersebut.

Seorang diplomat Timur Tengah mengatakan koordinasi AS dengan Oman baru dilakukan setelah Trump mengumumkan operasi itu. “AS lebih dulu mengumumkan, kemudian baru melakukan koordinasi dengan kami,” ujarnya.

Trump sebelumnya mengeklaim Project Freedom sebagai langkah membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terganggu akibat ancaman Iran. Namun, sekitar 36 jam setelah diumumkan, operasi itu mendadak dihentikan.

Seorang pejabat AS mengatakan militer Negeri Paman Sam sebenarnya telah menyiapkan kapal tambahan di kawasan Teluk untuk mendukung operasi tersebut. Komando Pusat AS sebelumnya juga menyatakan dua kapal berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz dalam rangkaian operasi itu.

Dalam unggahan terbarunya, Trump mengatakan Project Freedom “dijeda sementara” untuk melihat peluang tercapainya perjanjian damai guna mengakhiri perang.

photo
Warga Iran berjalan melewati papan iklan besar anti-AS yang mengacu pada presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz di alun-alun Valiasr di Teheran, Iran, 2 Mei 2026. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Militer AS selama ini menempatkan pesawat tempur, tanker pengisi bahan bakar, dan sistem pertahanan udara di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi. Dukungan akses wilayah udara dari negara-negara Teluk dinilai sangat penting bagi operasi militer AS di kawasan.

“Karena faktor geografis, AS membutuhkan kerja sama negara mitra untuk menggunakan wilayah udara mereka,” kata seorang pejabat AS.

Dalam istilah militer AS, izin penggunaan wilayah negara lain dikenal sebagai access, basing, and overflight (ABO). Arab Saudi dan Yordania dinilai penting untuk penempatan pesawat, Kuwait krusial untuk akses penerbangan, sedangkan Oman berperan dalam dukungan logistik udara dan laut.

Trump juga dilaporkan menelepon Emir Qatar setelah operasi dimulai. Seorang pejabat Qatar mengatakan pembicaraan mencakup isu gencatan senjata dan dampaknya terhadap keamanan maritim serta rantai pasok global. Qatar disebut menekankan pentingnya deeskalasi.

Meski operasi dihentikan, militer AS tetap mempertahankan kekuatan signifikan di kawasan Teluk. Pentagon disebut masih menempatkan dua kelompok kapal induk serta menambah dukungan logistik dan persenjataan di wilayah tersebut.

photo
Kapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 . - (EPA/ROYAL THAI NAVY )

Project Freedom dirancang untuk memberikan perlindungan militer terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz di tengah ancaman Iran. Operasi itu disebut terpisah dari kampanye pengeboman AS yang dimulai sejak 28 Februari dan diberi nama Epic Fury.

Di sisi lain, pemerintahan Trump terus mendorong tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan Teheran sedang meninjau proposal perdamaian terbaru dari AS.

Menurut dia, setelah proses peninjauan selesai, Iran akan mendiskusikan proposal tersebut bersama Pakistan yang bertindak sebagai mediator. Laporan mengenai rincian proposal damai itu pertama kali diungkap Axios.

Analisis Satelit menunjukkan serangan udara Iran telah merusak atau menghancurkan setidaknya 228 struktur atau peralatan di lokasi militer AS di Timur Tengah sejak perang dimulai, menghantam hanggar, barak, depot bahan bakar, pesawat dan radar utama, peralatan komunikasi dan pertahanan udara. Jumlah kerusakan yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan apa yang telah diakui secara publik oleh pemerintah AS atau dilaporkan sebelumnya.


Kehancuran pangkalan AS

Sementara, menurut analisis citra satelit Washington Post sebanyak 228 struktur dan peralatan yang rusak di 15 pangkalan AS, termasuk 217 bangunan dan 11 aset militer. Lebih dari separuh kerusakan terjadi di markas Armada ke-5 di Bahrain dan tiga pangkalan di Kuwait. 

Seorang pejabat AS mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa lokasi-lokasi tersebut terkena dampak paling parah mungkin karena negara terkait mengizinkan AS menyerang Iran dari wilayah mereka.

photo
Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pangkalan AS ini jadi salah satu yang diporakporandakan Iran. - (Citra Satelit)

Serangan tersebut menghancurkan sistem pertahanan rudal Patriot di Bahrain dan Kuwait, parabola di Naval Support Activity Bahrain, dan sistem radar THAAD di Yordania dan Uni Emirat Arab. 

Sebuah pesawat komando dan kendali E-3 Sentry hancur di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi setelah berulang kali diparkir di jalur taksi yang tidak terlindungit. Sebuah pesawat tanker pengisian bahan bakar juga hilang. 

Kerusakan pada Aktivitas Dukungan Angkatan Laut bersifat "luas," kata seorang pejabat AS, sehingga memaksa markas besar Armada ke-5 untuk pindah ke Pangkalan Angkatan Udara MacDill di Florida. Dua pejabat lainnya mengatakan pasukan mungkin tidak akan pernah kembali ke pangkalan regional di Teluk dalam jumlah besar.

Laporan tersebut dibuat dengan menggunakan lebih dari 100 citra satelit beresolusi tinggi yang dirilis oleh lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan negara Iran, dan diperiksa silang dengan citra beresolusi lebih rendah, yang memastikan bahwa tidak ada satu pun citra Iran yang dimanipulasi. Citra satelit sebelumnya ditutup-tutupi di AS karena sensor citra satelit oleh perusahaan swasta atas permintaan pemerintah AS. 

“Para ahli yang meninjau analisis The Post mengatakan bahwa kerusakan di lokasi tersebut menunjukkan bahwa militer AS telah meremehkan kemampuan penargetan Iran, tidak cukup beradaptasi dengan perang drone modern dan membuat beberapa pangkalan tidak terlindungi,” tulis laporan The Post. Foto-foto kerusakan menunjukkan bahwa serangan tersebut sangat tepat, kata para ahli, dengan bom yang mendarat tepat sasaran dan tidak meninggalkan lubang sembarangan.

photo
Pangkalan miiter AS di Timur Tengah - (CFR)

Kerusakan pada fasilitas-fasilitas tersebut dapat meningkatkan perkiraan biaya perang AS bahkan lebih tinggi dari yang sebelumnya diakui oleh pemerintahan Donald Trump. Meskipun beberapa serangan secara strategis bisa saja dibiarkan oleh pasukan AS, gambar dan laporan lain menunjukkan bahwa ada kekurangan taktis yang memungkinkan serangan Iran menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada yang seharusnya. 

Ini termasuk gambar yang menunjukkan hanya atap seng tipis di pusat taktis di Kuwait, yang tidak memberikan perlindungan terhadap serangan pesawat tak berawak. Pusat ini diserang oleh Iran pada hari pertama perang, menewaskan enam anggota militer, dan korban yang selamat kemudian mengkritik kurangnya kesiapan militer AS dalam menghadapi serangan tersebut. 

Pelaporan ini juga didasarkan pada laporan-laporan sebelumnya yang menemukan bahwa pangkalan-pangkalan AS mengalami kerusakan signifikan yang belum diakui oleh para pejabat Pentagon. Faktanya, laporan NBC minggu lalu menemukan bahwa pemerintahan Trump sadar akan dampak buruk yang ditimbulkan, namun mengabaikan publik dan Kongres ketika ditanya seberapa besar dampaknya. "Tidak ada yang tahu apa-apa. Dan ini bukan karena kurangnya pertanyaan," kata salah satu staf Kongres dari Partai Republik kepada NBC. 

“Kami telah menanyakannya selama berminggu-minggu dan tidak memberikan rinciannya, bahkan ketika Pentagon meminta anggaran yang mencapai rekor tinggi.” 

The Intercept juga sebelumnya melaporkan bahwa Pentagon mengaburkan data mengenai jumlah korban di AS akibat perang tersebut, yang telah mencapai lebih dari 400 orang tewas dan terluka pada penghitungan terakhir. Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres pekan lalu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan dia menyesali jatuhnya korban jiwa, namun meremehkannya sebagai “konsekuensi konflik.”

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan kepada Republika, balasan Iran belakangan membuat AS kehilangan kredibilitas. “Pada tahap berikutnya, Amerika juga kehilangan kredibilitas, karena datang untuk memenangkan perang singkat, namun justru menjadi pihak yang kalah, ujarnya.

Ia berpandangan, banyak negara Arab dan Islam kini sedang meninjau kembali hubungan mereka, baik dalam hal normalisasi dengan rezim Zionis maupun hubungan dengan Amerika yang sebelumnya dianggap menjamin keamanan mereka. 

“Negara-negara Arab kini memahami bahwa pangkalan Amerika bukan untuk melindungi mereka, melainkan mereka yang justru melindungi pangkalan tersebut.”

Hal ini pada akhirnya akan mendorong mereka untuk berpikir ulang mengenai hubungan mereka dengan negara-negara tersebut. Ini kemungkinan akan mengarah pada upaya negara-negara Islam untuk lebih memikirkan keamanan mereka sendiri dalam menghadapi rezim Zionis dan tindakan sepihak AS.

“Gagasan seperti NATO Islam mungkin belum jelas bentuknya, namun yang pasti banyak negara Islam mulai memikirkan pakta pertahanan di dalam kawasan dan dunia Islam. Jika hasil dari perang ini adalah meningkatnya kesadaran Islam, maka itu tentu merupakan hasil yang baik.”

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat