Cerpen Pak War | Daan Yahya/Republika

Sastra

Pak War

Oleh DARJU PRASETYA

 

Kota Pesisir tengah dilanda musim panas yang menyengat dan mampu mengeringkan daun-daun. Aspal jalanan memancarkan uap panas, dan udara terasa seperti hembusan dari mulut tungku. Di tengah teriknya siang itu, aku melihat sosok yang sudah tak asing lagi—Pak War, dengan sepeda ontelnya yang sarat bambu.

"Pak War!" panggilku dari seberang jalan.

Lelaki setengah baya itu menoleh, lalu tersenyum sambil menghentikan sepeda tuanya. Beberapa lonjor bambu yang sangat panjang—mungkin mencapai lima hingga enam meter—terikat rapi di sisi kanan dan kiri sepeda ontelnya. Bambu-bambu itu bergoyang mengikuti setiap gerakan, seperti ekor naga yang mengular di udara.

"Mas Andi!" sahutnya ramah. Keringat membasahi seluruh wajahnya, mengalir dari pelipis hingga ke dagu. Baju kausnya yang sudah pudar warnanya tampak basah kuyup, menempel di punggungnya.

Aku menyeberang dengan hati-hati, menghindari motor-motor yang berlalu lalang. Kota tua ini memang selalu ramai, bahkan di tengah terik yang menyengat seperti ini.

"Istirahat dulu, Pak. Saya belikan es," tawarku.

"Ah, tidak usah repot-repot, Mas. Saya sudah biasa," tolaknya sambil mengusap keringat dengan ujung kausnya.

Tapi aku sudah keburu melangkah ke warung kecil di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian, aku kembali dengan dua gelas es teh manis. Pak War menerimanya dengan senyum lebar, matanya berbinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah.

"Terima kasih, Mas. Ini sangat menyegarkan," katanya setelah meneguk setengah gelas sekaligus.

Kami berdiri di bawah pohon asam yang rindang, mencari perlindungan dari sengatan matahari. Sepeda ontel Pak War bersandar di batang pohon, bambu-bambunya menjulang tinggi, ujungnya bergoyang tertiup angin.

"Sudah berapa lama Pak War melakukan pekerjaan ini?" tanyaku, meski sebenarnya aku sudah pernah mendengar ceritanya.

"Saya telah melakukan pekerjaan ini selama dua puluh dua tahun, Mas!" ujarnya dengan sedikit senyum, wajahnya yang penuh keringat memancarkan kebanggaan tersendiri. "Dua puluh dua tahun, Mas. Bayangkan!"

Aku memang membayangkannya. Dua puluh dua tahun berarti lebih dari dua dekade. Itu berarti ribuan hari mengayuh sepeda ontel dengan beban bambu yang berat, melewati jalanan yang sama, menghadapi cuaca yang sama, bertemu orang-orang yang sama. Itu berarti ribuan kali berkeringat, ribuan kali lelah, ribuan kali mungkin ingin menyerah tapi tetap bertahan.

"Tidak pernah bosan, Pak?" tanyaku penasaran.

Pak War tertawa kecil. "Bosan? Tentu saja pernah, Mas. Bahkan sering. Tapi hidup harus terus berjalan. Saya punya istri dan tiga anak yang harus makan. Anak-anak harus sekolah. Rumah harus ada atapnya. Bosan atau tidak, pekerjaan tetap harus dilakukan."

Aku memperhatikan sepeda ontelnya. Cat hitamnya sudah mengelupas di sana-sini, menampakkan besi berkarat di bawahnya. Sadel kulit sintetisnya sudah robek, ditambal dengan lakban hitam. Pedal-pedalnya aus, dan rantainya terlihat kendur. Tapi sepeda itu masih berfungsi, masih setia menemani Pak War dalam perjalanan hariannya.

"Bambu-bambu ini mau dibawa ke mana, Pak?" tanyaku.

"Ke toko bahan bangunan di Jalan Pasar Besar. Pak Haji Mahmud yang punya. Beliau sudah langganan saya sejak dulu," jelasnya. "Bambu-bambu ini saya ambil dari desa, dari kebun Pak Karso. Setiap hari saya bisa bawa dua sampai tiga kali perjalanan, tergantung pesanan."

Aku mencoba membayangkan perjalanan yang harus ditempuh Pak War. Dari desa ke kota, jaraknya paling tidak sepuluh kilometer. Dengan sepeda ontel yang membawa beban bambu seberat itu, tentu bukan perjalanan yang mudah. Belum lagi harus melewati jalanan kota yang padat kendaraan.

"Yang paling sulit itu kalau lewat belokan, Mas," kata Pak War seolah membaca pikiranku. "Bambu-bambu ini kan panjang, jadi kalau belok harus hati-hati sekali. Sedikit salah, bisa nyangkut kendaraan lain atau malah menabrak orang. Makanya saya selalu pelan-pelan, sabar."

Bayangkan bila anda membawa bambu panjang di tengah jalanan kota yang padat kendaraan, apalagi ketika harus lewat belokan—tentu itu bukan pekerjaan mudah. Namun kesabaran Pak War dalam menjalani pekerjaannya telah membuatnya menjadi seorang yang tangguh. Aku pernah melihat sendiri bagaimana ia melewati perempatan ramai dengan bambu-bambunya. Gerakan-gerakannya terukur, penuh perhitungan. Ia tahu persis kapan harus berhenti, kapan harus melaju, bagaimana sudut yang tepat untuk berbelok.

"Pernah mengalami kecelakaan, Pak?" tanyaku.

"Oh, pernah, Mas. Beberapa kali malah," jawabnya sambil tersenyum getir. "Yang paling parah itu lima tahun lalu. Saya ditabrak motor dari belakang. Bambu-bambu berserakan, sepeda rusak, saya sendiri terluka di kaki. Untung tidak parah. Tapi yang bikin sedih, si penabrak kabur begitu saja. Tidak tanggung jawab."

"Terus bagaimana, Pak?"

"Ya sudah, saya terima saja. Mau bagaimana lagi? Saya obati luka saya sendiri, sepeda saya perbaiki sendiri, bambu-bambu saya kumpulkan lagi. Hidup harus terus berjalan, Mas. Tidak bisa berhenti hanya karena jatuh sekali."

Aku terdiam mendengar ceritanya. Ada kearifan dalam kata-kata sederhana Pak War. Kearifan yang lahir dari pengalaman hidup yang keras, dari perjuangan yang panjang, dari ketabahan yang teruji waktu.

"Anak-anak Pak War sekarang bagaimana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Wajah Pak War langsung cerah. "Alhamdulillah, Mas. Yang sulung sudah lulus SMA, sekarang kerja di pabrik garmen. Yang tengah kelas dua SMA, yang bungsu kelas enam SD. Mereka semua anak-anak yang baik, rajin sekolah, tidak nakal."

"Mereka pasti bangga punya bapak seperti Pak War," kataku tulus.

Pak War menggeleng. "Ah, saya ini bapak yang bagaimana, Mas? Cuma tukang angkut bambu. Tidak punya apa-apa. Rumah saja masih ngontrak."

"Tapi Pak War jujur, bekerja keras, tidak pernah mengeluh. Itu yang penting," kataku. "Pekerjaan apapun yang penting halal, Pak!"

Pak War mengangguk pelan. "Iya, Mas. Itu yang selalu saya pegang. Halal dan jujur. Meski cuma angkut bambu, tapi ini pekerjaan yang terhormat. Saya tidak mencuri, tidak merampok, tidak menipu. Saya bekerja dengan keringat sendiri."

Sebenarnya orang seperti Pak War tak perlu diberi nasihat tentang kerasnya hidup karena ia sendiri telah mengalami langsung dengan kehidupan yang ia rasakan. Hal itu bisa aku lihat dari wajahnya yang nampak tegar karena pengalaman hidup dan kerasnya mencari sesuap nasi.

Garis-garis di wajahnya bukan sekadar tanda penuaan, tapi catatan perjalanan panjang seorang pekerja keras. Kulitnya yang gelap dan kasar adalah bukti paparan matahari selama bertahun-tahun. Tangannya yang penuh kapalan adalah medali kehormatan dari pekerjaan fisik yang berat.

"Pak War tidak pernah berpikir untuk ganti pekerjaan?" tanyaku.

"Pernah, Mas. Dulu saya sempat coba jadi buruh bangunan, jadi kuli panggul di pasar, jadi tukang becak juga. Tapi entah kenapa, saya selalu kembali ke bambu. Mungkin sudah jodoh," katanya sambil tertawa. "Lagipula, pekerjaan ini saya sudah hafal betul. Saya tahu di mana dapat bambu yang bagus, saya tahu siapa yang butuh bambu, saya tahu harga pasaran. Kalau ganti pekerjaan, harus belajar dari awal lagi."

Kami menghabiskan es teh dalam diam yang nyaman. Di sekeliling kami, kota terus bergerak. Motor-motor berlalu lalang, pedagang kaki lima berteriak menawarkan dagangan, anak-anak sekolah pulang dengan seragam yang basah keringat. Kehidupan terus berjalan, dan Pak War adalah bagian kecil tapi penting dari kehidupan itu.

"Saya harus jalan lagi, Mas. Pak Haji Mahmud pasti sudah menunggu," kata Pak War sambil menaruh gelas kosong di warung.

"Hati-hati di jalan, Pak," pesanku.

"Siap, Mas. Terima kasih ya untuk es tehnya. Sangat menyegarkan."

Aku membantu Pak War menarik sepedanya dari pohon asam. Bambu-bambu itu bergoyang, menimbulkan bunyi gemerisik yang khas. Pak War naik ke sepedanya dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa, lalu mulai mengayuh pelan.

Aku berdiri di bawah pohon asam, memperhatikan punggung Pak War yang perlahan menjauh. Sepeda ontelnya bergerak pelan tapi pasti, bambu-bambunya menjulang seperti bendera. Di tengah hiruk pikuk kota, di antara mobil-mobil mewah dan motor-motor baru, sepeda ontel tua Pak War dengan muatan bambunya tampak seperti anakronisme—sesuatu dari masa lalu yang tersesat di masa kini.

Tapi justru di situlah keindahannya. Pak War adalah pengingat bahwa di balik gemerlap modernitas, masih ada orang-orang yang bekerja dengan cara tradisional, dengan keringat dan tenaga sendiri. Ia adalah pengingat bahwa pekerjaan apapun, sekecil apapun, selama halal dan jujur, adalah pekerjaan yang mulia.

Beberapa minggu kemudian, aku bertemu Pak War lagi di tempat yang sama. Kali ini ia membawa bambu yang lebih banyak, mungkin delapan atau sembilan lonjor.

"Wah, banyak sekali hari ini, Pak!" sapaku.


"Iya, Mas. Lagi banyak pesanan. Katanya mau ada proyek pembangunan rumah di daerah Kampung Baru. Butuh banyak bambu untuk perancah," jelasnya dengan wajah berseri. "Alhamdulillah, rejeki sedang lancar."

"Syukurlah, Pak. Semoga terus lancar."

"Aamiin. Oh iya, Mas, anak saya yang tengah kemarin dapat ranking satu di kelasnya. Saya senang sekali," katanya dengan bangga.

"Wah, selamat, Pak! Pasti Pak War bangga sekali."

"Sangat bangga, Mas. Dia bilang, 'Pak, aku mau jadi insinyur nanti. Biar bisa bikin rumah yang bagus buat Bapak dan Ibu.' Dengar itu, saya sampai mau nangis, Mas."

Aku tersenyum mendengarnya. Inilah buah dari kerja keras Pak War. Bukan harta yang melimpah, bukan rumah mewah, tapi anak-anak yang berbakti dan bercita-cita tinggi. Itu adalah kekayaan yang sesungguhnya.

"Pasti akan terwujud, Pak. Anak yang baik pasti akan membahagiakan orang tuanya," kataku.

"Aamiin, Mas. Saya tidak minta macam-macam. Yang penting anak-anak sehat, sekolah dengan baik, jadi orang yang berguna. Itu sudah cukup buat saya."

Pak War melanjutkan perjalanannya, dan aku kembali ke rutinitas harianku. Tapi pertemuan-pertemuan singkat dengan Pak War selalu meninggalkan kesan mendalam. Ia mengajariku tentang kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan. Ia mengajariku bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang apa yang kita miliki, tapi tentang bagaimana kita menjalani hidup dengan penuh syukur.

Kini, setiap kali aku melihat bambu, aku selalu teringat Pak War. Bambu yang kuat tapi lentur, yang bisa dibengkokkan tapi tidak mudah patah. Seperti Pak War sendiri—ditekuk oleh kehidupan yang keras, tapi tidak pernah patah. Tetap berdiri, tetap bertahan, tetap melangkah maju.

Dan di kota tua yang terus berubah ini, Pak War dengan sepeda ontel dan bambu-bambunya adalah pengingat bahwa ada nilai-nilai yang tidak boleh hilang: kejujuran, kerja keras, dan keikhlasan. Nilai-nilai sederhana yang membuat hidup bermakna.

Darju Prasetya lahir di Tuban Jawa Timur. Karya-karyanya baik esai, cerpen, puisi, artikel telah banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online. Ia bisa dikontak di prasetya58098@gmail.com

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat