Sastra
Benalu Di Pohon Rindu
Cerpen Lanang Irawan
Oleh LANANG IRAWAN
Burung cabai berloncatan di pohon randu, lalu berhenti di salah satu dahan yang ditumbuhi benalu. Sejak kapan munculnya tumbuhan parasit itu, Janaki tak tahu, yang pasti si benalu akan terus tumbuh, mencengkeramkan akarnya, menyerap inti sari pohon inang.
Semilir angin sore dari perkebunan sawit membelai kepala Janaki yang mengistirahatkan tubuhnya di pematang. Bajunya banjir oleh keringat.
Sawit yang ditanam sehari setelah istrinya wafat tetap hijau sampai sekarang, kanalnya penuh air, tak pernah kekurangan. Berbanding terbalik dengan tanah penduduk; kekeringan ketika kemarau dan kebanjiran saat hujan. Padi Janaki mati sebelum bijinya berisi.
Ulu hatinya perih. Rasa pahit dari lambung naik dan menggumpal di tenggorokan. Perusahaan sialan itu benalu. Benar-benar benalu.
Pukul sembilan pagi tadi, saat Janaki membuat lubang tanam untuk jagung pengganti padi, hiruk-pikuk orang-orang menerjang telinganya.
Anjing-anjing sialan lagi. Jantung Janaki berdetak keras.
Kades, Camat, dan wakil perusahaan melirik lahan penduduk seberang parit, persis seperti tiga tahun lalu, ditemani tentara dan polisi.
Janaki menghentikan pekerjaannya, lalu mengikuti orang-orang untuk berkumpul di lahan landai. Namun, sebelum mencapai kerumunan, ia memilih membelok ke pohon randu, menyenderkan tubuhnya.
Setelah Camat selesai basa-basi, juru bicara perusahaan maju. Lelaki itu tidak langsung bicara. Ia membetulkan letak kacamata, lalu mengangkat map tebal bersampul biru. "Bapak-bapak, Ibu-ibu, sebelumnya perlu dipahami," suaranya licin, meliuk-liuk seperti belut yang berusaha memasuki lubang telinga. Janaki mual, isi lambungnya memberontak.
"Jangan anggap perusahaan sebagai musuh. Kami datang membawa amanat undangundang."
Amanat undang-undang? Cih!
"Ini bukan sekadar perluasan kebun," lanjut si juru bicara, sambil menepuk map itu. "Sesuai arahan pusat soal percepatan investasi strategis, wilayah ini masuk zona pengembangan. Kami pun memegang IUP dan HGU. Payung hukumnya jelas, negara butuh devisa besar, dan tanah Bapak-Ibu yang ..., maaf, tidak produktif ini, adalah kunci kemajuan kita bersama."
"Setaaan!" Seseorang berteriak dari kerumunan.
Si juru bicara tersenyum, senyum tipis yang membuat Janaki meludahkan cairan pahit. Lelaki itu menoleh kepada Kades, mengangguk.
Kades buru-buru berkata, "Tenang! Tenang dulu! Jangan gampang emosi. Dengar, Saudara-saudara. Kalau menolak, itu sama saja menghambat pembangunan nasional. Ingat asas kepentingan umum. Semua tanah negara, kembali ke negara, tentu akhirnya untuk kesejahteraan rakyat juga."
Kepentingan umum? Kesejahteraan rakyat?
Darah Janaki mendidih. Ia meludah lagi. Sejak kapan kebun sawit swasta jadi kepentingan umum? Sejak kapan perut gendut mereka disamakan dengan perut kecil kami? Kata-kata itu berputar di kepala Janaki.
"Maka dari itu," Si juru bicara kembali mengambil alih, "Kami tawarkan skema ganti untung. Harga yang kami tawarkan sudah di atas NJOP. Ambil sekarang, atau kalau bapak ibu tidak mau, kami terpaksa titipkan uangnya di pengadilan. Konsinyasi. Bapak-ibu tahu kan repotnya mengurus uang di pengadilan?"
Ancaman itu mendarat telak. Kerumunan yang tadinya riuh mendadak senyap. Pengalaman tiga tahun lalu telah membuktikan kepada Janaki, bahwa pengadilan adalah momok bagi rakyat jelata seperti penduduk kampung Dogo. Orang kecil pasti kalah. Harta dan pengaruh menistakan kebenaran.
Janaki meludah berkali-kali. Gemuruh bergaung di kepalanya. Kata demi kata yang masuk ke telinganya bergolak menjadi api yang mendidihkan otak. Namun, uap dari air dalam tanah yang diperas matahari menampilkan wajah Hayati. Janaki menghela napas, mengendurkan urat wajah.
Penduduk kembali berontak. Teriakan-teriakan pecah. Janaki menegakkan badan, menyilangkan lengan, matanya menyipit menembus kacamata hitam lelaki necis itu.
"Apanya yang ganti rugi, Pak? Apanya yang konsinyasi? Ini tanah kami! Tanah leluhur!"
Suara itu meledak dari barisan depan. Janaki mengangguk.
Ganti rugi?
Kata itu menggantung di lak-lakan Janaki, rasanya pahit seperti cairan lambung. Jalan yang dulu mereka janjikan pun tak pernah ada sampai sekarang. Kampung tetap berlumpur waktu hujan dan berlempung setiap kemarau.
“Tidak Pak. Kami tidak mau tertipu lagi!”
Teriakan kian bersahut-sahutan. Dada Janaki penuh, seperti ada sesuatu yang mengembang dan menekan tulang rusuknya dari dalam. Suara-suara itu menjalarkan semangat perlawanan.
Lelaki berseragam loreng menengahi, dengan cara mendorong penduduk yang berbicara tadi. Keributan pun berkembang.
Orang-orang mulai merangsek ke depan. Mereka yang berada di belakang mengikuti sambil merekam dengan ponsel ala kadarnya.
Pak Camat pucat, Kepala Desa bersembunyi di balik badan polisi, sementara juru bicara perusahaan memainkan ponsel, mungkin tidak peduli, mungkin sudah biasa.
Tidak ada kesepakatan yang terjadi hari itu. Polisi dan tentara menjaga wakil perusahaan. Janaki melihat wajah-wajah merah mereka, mendengar napas-napasnya yang gemuruh, dan menyaksikan kilatan dari mata-mata yang tajam itu.
Juru bicara menepuk-nepuk jasnya sebelum bertolak. Mungkin sengaja. Janaki memalingkan muka, meludahi tanah kering.
Orang-orang seperti itu tidak akan pernah bisa mencintai tanah. Benalu.
Janaki hendak berlalu, tetapi sosok familier yang berdiri di pinggir kerumunan membuatnya menahan langkah.
Kakak sulung Hayati menunduk, punggungnya tegar tetapi rapuh, seperti sebatang pohon keropos yang sudah lama menahan diri untuk tidak tumbang. Lelaki itu lalu menegakkan kepala dan berpaling ke belakang. Matanya yang merah membikin Janaki tertegun.
Pandangan Janaki sekereng matahari. Tatapannya tidak lepas dari lelaki tua yang berjalan ke arahnya itu.
"Dik," kata kakak ipar Janaki agak keras, melawan gemuruh orang-orang. Suaranya yang parau gemetar. "Sungguh aku lebih rela bila kau yang memiliki tanah Hayati daripada orang-orang itu."
Setelah kematian Hayati, baru kali ini Janaki menerima embusan angin yang lain. Angin nyaman yang lalu berubah menjadi pelukan dalam kalbunya.
Rahang Janaki mengendur. Sorot matanya melunak. Air muka yang biasanya keras beriak. Senyuman pun ringan tersungging. Janaki menerima dan membalas pelukan itu.
***
Tiga tahun lalu, sehari setelah pembagian warisan, Janaki dan kakak sulung Hayati duduk berhadapan di balai-balai rumah. Udara kemarau mencubiti kulit mereka.
"Dik." Temaram lampu bohlam menimpakan bayangan ke wajah kakak iparnya yang ragu-ragu. Janaki mendeham. Ada jeda di ucapan lelaki itu. "Alangkah baiknya kami membayar bagianmu. Bukan apa-apa, tapi keluarga kamilah yang merawat tanah itu turuntemurun."
Keluarga?
Ulu hati Janaki membara. Dingin angin malam tidak bisa menyerap panas yang menggelora.
Andai saja aku memiliki keturunan, batin Janaki. Pandangannya merayapi langit-langit. Cahaya bohlam menyesatkan agas-agas. Tangannya mengepal di atas lengan kursi.
Siapalah aku.
Orang asing dari kecamatan seberang. Tak ada seorang pun yang bisa ia panggil keluarga. Orang tuanya meninggal sebelum ia akil balig. Neneknya menyusul setelah ia lulus SMA.
Hayatilah yang dulu membebaskannya dari gigil kesepian, menyelimutinya dengan penerimaan yang tidak ia terima dari mana pun. Sayangnya, setelah lima tahun pernikahan, Hayati menyerah pada kanker rahimnya. Dari saat tubuh Hayati mengering dan melemah, dan sampai saat ini, tiada pernah Janaki berniat berkhianat.
Namun, kakak iparnya berusaha mencabut satu-satunya yang Hayati tinggalkan untuknya. Ditentangnya pandangan lelaki itu.
"Saya tidak bisa, Kak. Akan saya pertahankan tanah Hayati itu bagaimana pun."
Malam sementara membeku. Semilir angin yang melewati telinga Janaki lebih lambat dan lebih nyaring dari degup jantungnya yang bertalu-talu. Kebekuan itu baru pecah setelah kakak iparnya berkata, "Baiklah, tapi bila suatu hari Adik perlu modal untuk kawin lagi, jangan jual tanah itu pada siapa pun selain kami."
Kawin lagi?
Panas dan pahit menyeruak dari ulu hati Janaki ke ubun-ubun. Tubuhnya gemetar menahan gelora yang makin berkobar. Kepalan tangan yang menguat membikin kuku-kukunya sendiri menancap di telapak tangan.
Sekali lagi bicara, mampus kau.
Namun, kakak sulung Hayati itu tidak lagi banyak cakap, ia melengos, lalu berpamitan.
***
Matahari masih kuning telur. Namun, keributan sudah terjadi di tepi parit yang memisahkan perkebunan dan lahan-lahan penduduk. Janaki yang baru datang menimbrung, memanggul cangkul dan menjinjing wadah air. Golok terikat di pinggang.
Lima buldoser di pinggir perkebunan seperti anjing pemburu yang siap dikerahkan untuk mengganyang kambing. Jembatan sementara yang terbuat dari pohon kelapa sudah terpasang di atas parit.
Tidak mungkin itu pekerjaan jin semalaman. Janaki menelan ludah. Kerongkongannya tiba-tiba gersang. Gerah.
Saat matahari naik empat galah, dari dalam perkebunan itu muncul orang-orang gempal. Beberapa orang Janaki kenal sebagai preman kampung, pengkhianat masyarakat yang tiga tahun lalu meneror penduduk yang melawan.
Itu anjingnya.
Kali ini yang berbicara kepada penduduk bukan lelaki necis semacam kemarin, tetapi lelaki garang yang romannya menyeramkan. Ia sama membawa kertas. Namun, bukan dalam map atau kantong, bukan pula untuk dibacakan isinya, melainkan untuk dilempar.
"Kapan kami menandatangani kontrak kesepakatan?"
Suara penduk di tepi parit itu membuat Janaki melepaskan cangkul yang sedari tadi dipegangnya dengan tegang. Ia maju, merenggut kertas itu dari orang lain dan membacanya.
Tanda tangannya nyata ada di sana. Nama-nama tetangganya, kakak iparnya, dan ..., Hayati?
Orang mati mana yang bisa tanda tangan? Janaki mencengkeram kertas itu. Kepalanya penuh gemuruh seketika. Dadanya bergejolak tiba-tiba.
Janaki mencabut goloknya sambil berjalan menuju pohon randu. Ditebangnya pohon sebesar betisnya itu sendirian, lalu dipanggulnya ke tepi parit. Ia jadikan pohon tersebut sebagai penghalang.
Preman dan orang-orang sewaan berlari hendak memburunya, tetapi kakak sulung Hayati dan para penduduk menghalangi. Kekacauan meledak. Janaki berdiri tegar, memegang goloknya dengan sangar. Ia meludah berkali-kali sambil memandang orang-orang yang menunjuknya dengan garang.
***
Lambung Janaki sudah payah. Namun, kopi adalah teman setianya. Empat-lima gelas kopi kadang tak cukup menemaninya merawat kenangan sampai subuh.
Kalau bukan dengan kopi, siapa lagi yang menemaninya melangkahi malam-malam yang memaksa matanya terus terjaga? Apalagi setelah ia melewati hari yang ganas. Janaki perlu mengakrabi kesepian segera. Bertirakat dari kebisingan yang mengguncang. Sungguh, bila bukan pembelaan para penduduk tadi siang, Janaki menduga sekarang tubuhnya sudah meringkuk di semak-semak.
Alasan itulah yang membuat Janaki berjalan menuju satu-satunya warung sepulang dari langgar. Persediaan kopinya sudah habis. Meskipun agak jeri dengan peristiwa yang terjadi, ia tetap keluar kampung, melewati jalan setapak dan pematang.
Sampai di belokan dekat rimbunan rumpun bambu, bulu kuduk Janaki menegang. Ia segera meloncat ke belakang. Lima orang yang mengenakan topeng dengan sigap mengelilinginya.
Dada Janaki berdebar seperti beduk dipukul waktu subuh. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia memasang mata waspada sambil sekuat tenaga menenangkan diri demi mencari jalan lari. Namun, sebuah golok melayang cepat dan menebas bahunya, disusul golok lain di bagian tubuhnya yang lain.
Janaki terjerembap. Darah hangatnya merembes ke tanah kering. Sebelum kegelapan melahap dunianya, kenangan dengan wanita yang paling dicintai mengoyak Janaki dalam kilas balik yang singkat.
Hayati, apakah aku juga benalu?
Curugkembar, 30 Januari 2026.
Lanang Irawan lahir di Sukabumi, 7 November 1993. Ia menulis cerpen dan aktif berkegiatan di komunitas Suku Sastra Laut Kidul. Karyanya berfokus pada pengalaman keseharian dan relasi manusia.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
