Kegiatan peluncuran KESGI Dashboard di BEI, Jakarta, Senin (6/4/2026). | Ist

Ekonomi

Data ESG Jadi Kunci Investasi dan Bisnis Hijau

KESGI Dashboard menghimpun dan menganalisis data ESG perusahaan tercatat.

JAKARTA — Kebutuhan data ESG yang terukur dan terintegrasi semakin krusial di tengah dorongan investasi berkelanjutan dan transisi menuju ekonomi rendah karbon. Keterbatasan data dan standar pelaporan masih menjadi tantangan utama bagi perusahaan dan investor dalam mengambil keputusan berbasis keberlanjutan.

Pada Senin (6/4/2026) telah diluncurkan KESGI Dashboard yang menghimpun dan menganalisis data ESG perusahaan tercatat di pasar saham. Platform ini memanfaatkan penilaian panel ahli serta teknologi kecerdasan buatan untuk memperkuat analisis dan pengambilan keputusan berbasis data.

Co-founder dan Chief Executive Officer Katadata Metta Dharmasaputra mengatakan, pengembangan platform ini berangkat dari potensi ekonomi hijau sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Tanpa sektor ini sebagai pendorong baru, kelihatannya akan sulit untuk mencapai target pertumbuhan sebesar itu,” ujar Metta.

Metta menambahkan, survei Bursa Efek Indonesia bersama Mandiri Institute pada 2024 menunjukkan tantangan utama implementasi ESG meliputi keterbatasan data kuantitatif, sumber daya manusia, serta tingginya biaya pengumpulan data.

Penanggung Jawab Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan, minat investor terhadap instrumen berbasis ESG terus meningkat, seiring berkembangnya produk investasi berkelanjutan.

“BEI menyediakan 6 indeks berbasis ESG untuk mendorong penciptaan produk investasi ESG, platform, panduan ESG reporting, program edukasi kepada pelaku investasi, serta kolaborasi dengan regulator dan mitra strategis seperti Katadata,” katanya.

Mengacu data Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026, terdapat 72 reksa dana pasif dan ETF berbasis saham dengan total dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.

Penguatan ekosistem ESG juga dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah mitra strategis untuk memperluas pemanfaatan data dan mendorong adopsi praktik keberlanjutan di berbagai sektor.

Co-founder dan Chief Content Officer Katadata Heri Susanto mengatakan, KESGI dikembangkan untuk menyederhanakan data ESG agar lebih mudah dianalisis dan digunakan dalam pengambilan keputusan.

“KESGI menjadi solusi agar data bisa diubah menjadi insight, dari kepatuhan menjadi keputusan, dan dari fragmentasi menjadi integrasi,” kata Heri.

KESGI menggunakan metodologi yang mengacu pada standar global dan disesuaikan dengan regulasi nasional, dengan kerangka penilaian mencakup tiga pilar ESG, 15 topik, dan lebih dari 100 indikator.

Ke depan, Katadata juga menyiapkan pengembangan ESG-50 Leader Index yang akan mengidentifikasi perusahaan dengan kinerja ESG terbaik secara konsisten di Bursa Efek Indonesia.

Deputy Head Katadata Green Jeany Hartriani mengatakan, implementasi ESG di Indonesia masih menghadapi tantangan standar yang kompleks dan kesiapan organisasi.

“ESG harus lebih dari sekadar pelaporan, menjadi prinsip kepemimpinan dan melatarbelakangi operasional perusahaan,” kata Jeany.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat