Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. | EPA/Stringer

Internasional

Iran Tolak Gencatan Senjata Sementara

Penutupan Selat Hormuz terus berlanjut.

TEHERAN -- Iran menolak membuka Selat Hormuz dengan imbalan "gencatan senjata sementara", ujar seorang pejabat senior Iran kepada Reuters, Senin (6/4/2026). Pejabat itu memandang Washington tak siap untuk melakukan gencatan senjata permanen.

Sumber itu mengonfirmasi bahwa Teheran menerima proposal dari Pakistan soal gencatan senjata segera dan sedang mempelajarinya. Ia menegaskan, Iran menolak ditekan untuk menerima tenggat waktu dan membuat sebuah keputusan.

Sebelumnya pada Ahad (5/4/2026), Kantor Presiden Iran, menyatakan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali untuk pelayaran jika pendapatan transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang.

“Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan,” kata Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, dalam pernyataan di platform media sosial X.

Tabatabai juga mengkritik tajam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dengan mengatakan Trump “melontarkan hinaan dan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah,” serta menuduhnya “memulai perang skala penuh di kawasan dan tetap membanggakannya.”

Kawasan itu berada dalam kondisi siaga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei.

photo
Warga Iran membawa foto Ayatollah Khamenei dalam unjuk rasa anti-Israel di alun-alun Enqelab-e-Eslami (Revolusi Islam) di pusat kota Teheran, Iran, Selasa, 24 Juni 2025. - ( AP Photo/Vahid Salemi)

Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri. Iran kemudian juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan Axios, AS, Iran, dan mediator regional sedang membahas ketentuan kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari sebagai fase pertama dari rencana dua tahap untuk menyelesaikan konflik. Axios mengutip sumber-sumber terkait pada Ahad melaporkan bahwa, pemerintahan Trump telah mengajukan sejumlah pendekatan kepada Iran dalam beberapa hari terakhir, namun pejabat Iran belum menerima satu pun di antaranya hingga saat ini.

Sumber tersebut menilai kemungkinan tercapainya kesepakatan antara kedua pihak dalam 48 jam ke depan tergolong rendah. Trump sebelumnya mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan serta menuntut dibukanya Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, kesepakatan dua tahap untuk mengakhiri konflik saat ini tengah dibahas. Tahap pertama mencakup gencatan senjata selama 45 hari, di mana syarat-syarat perdamaian final akan dinegosiasikan. Sumber juga menyebutkan bahwa gencatan senjata dapat diperpanjang apabila para pihak membutuhkan waktu tambahan untuk perundingan.

Tahap kedua mencakup penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri perang. Sumber Axios menilai bahwa isu pembukaan penuh Selat Hormuz serta kepemilikan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi oleh Iran hanya dapat diselesaikan dalam kerangka kesepakatan akhir.

photo
Citra satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan situs pengayaan nuklir Natanz di Iran setelah serangan Israel pada Sabtu, 14 Juni 2025. - ( Planet Labs PBC via AP)

Selain itu, menurut Axios, para mediator sedang berupaya membangun kepercayaan bagi AS dengan menjajaki langkah-langkah yang dapat diambil AS untuk memenuhi beberapa tuntutan Iran.

Pada Ahad, Trump mengatakan kepada media tersebut bahwa AS sedang berada dalam negosiasi mendalam dengan Iran dan kesepakatan dapat dicapai paling cepat pada Selasa (7/4/2026). Trump sebelumnya mengatakan bahwa Washington dan Teheran telah mengadakan pembicaraan yang produktif.

Donald Trump mengeluarkan peringatan sarat sumpah serapah pada Ahad bahwa Teheran memiliki waktu hingga Selasa malam untuk membuka kembali Selat Hormuz atau AS akan melenyapkan pembangkit listrik dan jembatan Iran. 

Ketua parlemen Iran menanggapinya dengan peringatan bahwa “langkah sembrono” yang dilakukan presiden AS akan berarti “seantero wilayah akan terbakar”.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar tak mengambil langkah sembrono dan terus mengikuti keinginan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ghalibaf memperingatkan, tindakan demikian hanya akan menimbulkan krisis yang lebih besar, tidak hanya bagi kawasan, tapi juga AS.

"Langkah-langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam neraka yang mengerikan bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu," kata Ghalibaf lewat akun X resminya, Ahad (5/4/2026). 

photo
Presiden AS Donald Trump bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth (kanan), saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026. - (EPA/WILL OLIVER / POOL)

"Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini," tambah Ghalibaf dalam unggahannya. 

Sementara itu, Donald Trump terus melayangkan ancaman karena Iran masih mempertahankan penutupan akses lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Trump sesumbar akan menyerang infrastruktur vital Iran jika Selat Hormuz tak dibuka hingga Selasa (7/4/2026) malam. 

"Jika mereka tidak melakukan sesuatu pada Selasa malam, mereka tidak akan memiliki pembangkit listrik dan jembatan yang masih berdiri," ujar Trump saat diwawancara Wall Street Journal pada Ahad. 

Trump kemudian membuat unggahan di media sosialnya yang berisi isyarat waktu penyerangan terhadap Iran. “Selasa, pukul 20.00 malam Waktu Bagian Timur (AS)!” tulis Trump. 

Dalam unggahan terpisah sebelumnya pada Ahad, Trump mengatakan Iran akan menghadapi serangan infrastruktur jika tidak membuka Selat Hormuz pada Selasa. Namun dia tidak memberikan rincian waktu spesifik.

Ancaman eskalasi terbaru dalam perang yang telah berlangsung selama lima minggu ini menyusul ditembak jatuhnya sejumlah pesawat AS, salah satunya jet tempur F-15E di barat daya Iran. Iran menyebarkan gambar yang menunjukkan puing-puing beberapa pesawat. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Trump telah memperpanjang tenggat waktu setidaknya dua kali bagi Iran untuk membuka kembali selat Hormuz, yang telah menyebabkan harga minyak meroket, dan mengubah tenggat waktunya lagi dari Senin menjadi Selasa dalam postingannya yang sarat sumpah serapah, sebelum kemudian menjelaskan maksudnya pada Selasa malam. 

Presiden AS menulis di situs Truth Social-nya: "Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya dirangkai menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti ini!!! Buka Selat Sialan, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – PERHATIKAN SAJA! Alhamdulillah. Presiden DONALD J. TRUMP." 

Trump secara terpisah menyatakan bahwa ada “peluang bagus” untuk mencapai kesepakatan dengan Iran pada hari Senin, dan mengatakan kepada Fox News bahwa negosiasi sedang berlangsung. “Jika mereka tidak membuat kesepakatan dan segera, saya akan mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak,” katanya.

Pabrik baja Iran, pabrik petrokimia, universitas dan fasilitas medis semuanya telah dibom selama kampanye gabungan AS-Israel. Sekitar 81.000 lokasi sipil telah rusak, termasuk 61.000 rumah, 19.000 lokasi komersial, 275 pusat kesehatan, dan hampir 500 sekolah, menurut pihak berwenang Iran. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan Israel telah menghancurkan 70 persen produksi baja Iran, mengklaim bahwa itu digunakan untuk membuat rudal. Dia juga telah mengkonfirmasi serangan terhadap pabrik petrokimia. 

Iran mampu menguasai Selat Hormuz dengan mengancam dan menyerang kapal-kapal yang melewati jalur perairan tersebut, sehingga menghambat perdagangan minyak yang merupakan titik tekanan terkuat bagi Teheran dalam konflik tersebut. Iran terus menyerang infrastruktur ekonomi di kawasan Teluk selama akhir pekan sebagai tanggapan atas serangan tersebut.

Pada Ahad, drone Iran menghantam kompleks petrokimia di Bahrain. Rekaman video menunjukkan asap hitam tebal membubung dari lokasi. Kuwait Petroleum Corporation mengatakan sejumlah fasilitasnya menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak Iran, yang mengakibatkan kebakaran dan “kerugian material yang signifikan”. Kuwait juga melaporkan bahwa dua pembangkit listrik dan desalinasi air mengalami “kerusakan material yang signifikan” setelah diserang oleh drone Iran.

photo
Tank Israel beroperasi di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon, dekat Galilea Atas, di Israel utara, 26 Maret 2026. Israel melanjutkan operasi di Lebanon pada awal Maret 2026, menargetkan infrastruktur dan personel Hizbullah. - ( EPA/ATEF SAFADI)

Di Lebanon, Israel kembali menyerang di Beirut selatan, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 39 lainnya. Kantor berita nasional Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel di Kfar Hatta di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk seorang gadis berusia empat tahun. 

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengecam ancaman AS yang menargetkan infrastruktur Iran sebagai “kejahatan perang,” dan memperingatkan bahwa negara mana pun yang membantu Washington akan ikut bertanggung jawab secara hukum.

“Mengenai ancaman terhadap kami, tidak diragukan lagi, tindakan yang membuat ancaman seperti itu adalah kejahatan perang,” katanya, merujuk pada pembicaraan AS mengenai serangan terhadap “infrastruktur energi dan industri” sambil memberi Israel “lampu hijau untuk menyerang sasaran sipil.”

Mereka adalah contoh kejahatan perang menurut “hukum humaniter internasional dan Statuta Pengadilan Kriminal Internasional”. Diplomasi Iran akan terus berlanjut seiring dengan pertahanan militernya, tambah juru bicara itu.

"Sementara para pembela kami dengan berani mengorbankan nyawa mereka, aparat diplomatik juga melakukan tugasnya. Basis dan kriteria kami adalah kepentingan nasional, keamanan nasional, dan tuntutan sah Iran," tambah Baghaei.

“Semua negara harus mengetahui bahwa setiap kerja sama dan kolaborasi dengan AS dalam melakukan kejahatannya harus dipertanggungjawabkan dan dianggap sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat