Sejumlah truk pengangkut batu bara melintasi jalan tambang batu bara di Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Rabu (7/7/2021). | ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Ekonomi

Negara-Negara Asia Kembali ke Batu Bara

Krisis energi saat ini menunjukkan pentingnya transisi energi.

Krisis energi yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran memaksa negara-negara Asia meningkatkan penggunaan batu bara, bahan bakar fosil yang paling kotor. Para pakar iklim sudah memperingatkan bahayanya langkah ini.

Mereka menegaskan dampak menghancurkan dari batu bara pada lingkungan. Para pakar juga mengatakan krisis energi seharusnya mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk meningkatkan investasi pada energi terbarukan yang pasokannya lebih stabil dan tidak terpapar gejolak harga.

Berbagai negara di Asia mulai dari Bangladesh sampai Korea Selatan (Korsel) mencoba menutupi turunnya pasokan energi impor dengan batu bara. Korsel mengatakan akan menunda penutupan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dan mencabut batasan penggunaan batu bara untuk jaringan listrik.

Pemerintah Thailand meningkatkan penggunaan batu bara di pembangkit listrik terbesarnya. Filipina yang mendeklarasikan “darurat energi” akibat perang AS di Iran juga berencana meningkatkan penggunaan batu bara di pembangkit listriknya.

India yang 75 persen listriknya dari batu bara juga meminta PLTU batu bara untuk beroperasi secara maksimal. Bangladesh juga meningkatkan produksi dan impor batu bara pada bulan Maret.

Pemerintah di seluruh dunia berusaha menutupi kekurangan energi, terutama pasokan gas alam cair (LNG), dengan batu bara. LNG kerap dipromosikan sebagai energi transisi dari batu bara ke energi yang lebih bersih.

Meski beberapa penelitian menunjukkan ekspor LNG menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan batu bara, banyak negara di Asia yang mengandalkan LNG untuk menghasilkan listrik.

LNG juga sangat diperlukan industri pupuk. Permintaan LNG di Asia diperkirakan akan naik dua kali lipat dalam 25 tahun ke depan.

Namun pasokan LNG terputus sejak Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur seperlima perdagangan LNG dunia. Serangan ke fasilitas ekspor LNG di Qatar juga memperparah kekurangan pasokan. Para pakar memperkirakan dampak serangan ini akan bertahan selama bertahun-tahun.

Direktur bidang energi dan sumber daya perusahaan konsultasi Eurasia Group, Henning Gloystein mengatakan hampir 30 miliar meter kubik LNG hilang dari rantai pasok dunia, sekitar 80 persennya hilang dari kawasan Indo-Pasifik. Sisa kargo yang dapat melewati Selat Hormuz baru dapat tiba ke tujuannya pekan depan.

“Pasar global terbalik dalam hitungan empat pekan, dari rantai pasokan surplus yang sehat, menjadi sangat defisit, dan hal ini tidak hanya menaikkan harga, tapi juga memicu kekurangan pasokan,” katanya seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (2/4/2026).

Gloystein mengatakan negara-negara yang memiliki cadangan batu bara akan menggunakannya sebagai pengganti LNG. “Karena (batu bara) cara paling cepat dan termurah untuk menggantikan LNG,” tambahnya.

Meski ia juga mencatat beberapa negara seperti India mulai meningkatkan penggunaan energi terbarukan akibat krisis energi saat ini. Delhi mempercepat proses perizinan pengoperasian pembangkit listrik tenaga angin dan sistem penyimpanan energi dengan baterai (BESS).

Pakar iklim dan energi dari King’s College London, Pauline Heinrichs mengatakan krisis energi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi titik balik bagi pemerintah.

“Dampak batu bara pada iklim dan kesehatan sangat menghancurkan dan mengerikan, dan kami sudah membuktikannya selama puluhan tahun, tentu batu bara tidak hanya memperburuk risiko iklim, tapi juga menghasilkan polusi dan racun,” katanya.

Heinrichs mengatakan krisis energi saat ini menunjukkan pentingnya transisi energi. “Tidak hanya sebagai prioritas iklim, tapi pada akhirnya untuk ketahanan energi yang lebih luas di Asia,” katanya.

Ia menegaskan perekonomian yang tidak memiliki cukup energi terbarukan terbukti jauh lebih rentan. Heinrichs mengatakan pemerintah di seluruh dunia tidak boleh menggunakan batu bara untuk mengatasi kekurangan pasokan energi.

“Kita harus belajar, ini saatnya untuk memutus siklus merespons gejolak bahan bakar fosil dengan langkah jangka pendek lewat investasi pada bahan bakar fosil, karena pada akhirnya tidak pernah menjadi langkah jangka pendek, selalu investasi infrastruktur jangka panjang,” katanya.

Pengamat energi dari lembaga think tank Ember, Dinita Setyawati mengatakan mengandalkan batu bara tidak pernah menjadi langkah yang berkelanjutan. “Energi terbarukan dalam negeri jelas merupakan jalan yang tepat untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi,” katanya.

Selain meningkatkan penggunaan batu bara, sejumlah negara Asia seperti Filipina, Indonesia, dan Sri Lanka berusaha mengurangi konsumsi energi dengan mengurangi hari kerja dalam satu pekan. Gloystein mengatakan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkan pasokan LNG.

“Ini bukan fenomena jangka pendek, masyarakat berharap pekan depan akan ada gencatan senjata atau penurunan ketegangan, dan kemudian semua kembali normal, pelemahan pasokan LNG akan bertahan karena kerusakan sudah terjadi, butuh bertahun-tahun untuk memulihkannya,” kata Gloystein.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat