Melihat hilal dari observatorium | ANTARA FOTO

Khazanah

Perhatikan Protokol Kesehatan Saat Pantau Hilal

PBNU gelar rukyatul hilal tertutup.

 

JAKARTA – Di tengah pandemi virus korona (Covid-19), aktivitas memantau hilal (rukyatul hilal) awal Ramadhan 1441 H harus memperhatikan protokol kesehatan. 

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama (Kemenag) Mohammad Agus Salim mengatakan, persiapan rukyatul hilal setiap tahun sama. Namun, di tengah mewabahnya Covid-19, rukyatul hilal dan sidang itsbat Ramadhan dilaksanakan dengan cara berbeda.

"Rukyatul hilal tetap dilaksanakan di sekitar 80 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia, tapi saat melakukan pemantauan tetap menggunakan protokol kesehatan untuk mengantisipasi Covid-19," kata Agus kepada Republika, Selasa (14/4).

Ia menjelaskan, di tengah pandemi Covid-19, pemerintah tidak membolehkan adanya kerumunan karena mengantisipasi penyebaran virus. Oleh karena itu, rukyatul hilal dilaksanakan dengan membatasi jumlah orang yang melakukan pemantauan.

Meski sedang terjadi pandemi Covid-19, dia mengatakan, rukyatul hilal harus tetap dilaksanakan. Sebab, banyak umat Islam yang menunggu kejelasan tentang awal Ramadhan. Seusai rukyatul hilal, sidang itsbat akan digelar melalui telekonferensi.  

"Kemenag tetap melibatkan semua pihak seperti ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hakim-hakim di pengadilan agama dan yang lainnya," ujar Agus.   

Mengenai sidang itsbat, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan, Kemenag akan menggelar sidang itsbat penetapan awal Ramadhan pada 23 April 2020. 

"Seiring kebijakan physical distancing dan sesuai protokol kesehatan, kita menghindari ada kerumunan, sidang itsbat akan memanfaatkan teknologi telekonferensi sehingga peserta dan media tidak perlu hadir di Kemenag," kata Kamaruddin melalui pesan tertulis kepada Republika, Selasa (14/4).

Ia menerangkan, masyarakat dapat menyaksikan proses sidang itsbat melalui live streaming website dan media sosial Kemenag. Sebagaimana biasa, sidang itsbat akan dibagi dalam tiga sesi. Pertama, paparan posisi hilal awal Ramadhan oleh anggota tim Falakiyah Kemenag. Paparan ini akan disiarkan secara live streaming melalui website dan media sosial Kemenag.

"Akan dibuka dialog, masyarakat dan media bisa mengikuti melalui room meeting online yang nanti akan dibagikan, tentu kuotanya juga terbatas," ujar dia. 

Ia menjelaskan, setelah maghrib, sidang itsbat digelar secara tertutup. Sidang ini hanya dihadiri secara fisik oleh perwakilan MUI, DPR, menteri agama, wakil menteri agama, dan dirjen Bimas Islam. Sidang diawali dengan pembacaan laporan olah direktur urusan agama Islam tentang hasil rukyatul hilal dari seluruh Indonesia. "Setelah mendengar laporan dan masukan dari ormas Islam, menteri agama akan menetapkan awal Ramadhan 1441 Hijriyah," ujar Kamaruddin.

Salah satu ormas Islam yang akan melaksanakan pemantauan hilal awal Ramadhan 1441 H adalah Nahdlatul Ulama (NU). Wakil Ketua Lembaga Falakiyah PBNU Hendro Setyanto mengatakan, pihaknya akan tetap melakukan rukyatul hilal di beberapa titik meski tengah ada pandemi Covid-19. Pemantauan hilal tahun ini dilakukan secara tertutup, artinya jumlah orang dalam tim rukyatul hilal juga dibatasi.

"Ini untuk menghindari penyebaran wabah Covid-19, kita batasi orang yang melakukan rukyatul hilal sesedikit mungkin," kata Hendro.

Tahun lalu, kata dia, rukyatul hilal dilakukan di 100 lokasi. Tahun ini, karena sedang terjadi pandemi Covid-19, maka jumlah lokasi rukyatul hilal akan dikurangi. Misalnya, rukyatul hilal di Jakarta cukup di satu titik dan di Jawa Timur di beberapa titik saja. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat