Perajin menyelesaikan batik motif ayat Alquran di Mahkota Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Senin (16/3/2020). | ANTARA FOTO

X-Kisah

Keteguhan Hati Abdullah bin Mas’ud

Besarnya keimanan Abdullah bin Mas'ud mendapatkan pujian bahkan dari Rasulullah SAW sendiri.

Oleh HASANUL RIZQA

Abdullah bin Mas'ud merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang mulia. Ia dikenang sebagai pakar ilmu hadis sekaligus teladan dalam berislam. Iman dalam dadanya begitu kokoh. Suatu peristiwa membuktikan hal ini.

Waktu itu, kaum Muslimin masih dalam bayang-bayang penindasan pemuka Quraisy di Makkah. Sebelum tiba perintah untuk berhijrah, para pengikut Rasulullah SAW rata-rata terdiri atas masyarakat papa, lemah, dan berjumlah sedikit pula. Namun, mereka begitu mencintai Allah dan Rasul- Nya. Tak gentar sedikit pun dalam menghadapi ancaman orang-orang kafir.

Suatu hari, beberapa sahabat Nabi SAW berkumpul. Mereka memikirkan cara agar dakwah agama ini terus berkembang di Kota Makkah.

"Demi Allah," kata salah seorang dari mereka, "Orang-orang Quraisy itu tak pernah sekalipun mendengar Alquran dibacakan dengan suara lantang." Para sahabat yang lain setuju dengan pendapat ini.

"Namun, siapakah di antara Muslimin yang mau membacakan Alquran untuk mereka secara lantang?" tanya seseorang lagi. Abdullah bin Mas'ud yang ada di antara mereka lantas menunjuk dirinya. Para sahabat lantas terkejut. Mereka tak menyangka Ibnu Mas'ud langsung menerima "tantangan" ini.

"Sungguh, kami khawatir bila orang-orang musyrik itu berbuat jahat kepadamu. Yang kami inginkan, seseorang yang memiliki suku atau sanak famili yang dapat melindungi jika siapa pun datang mengancam," kata seorang dari mereka.

"Biarkan aku melakukannya," ujar Ibnu Mas'ud tegas, "Insya Allah, Allah-lah yang akan melindungiku!"

Maka, Abdullah pun beranjak pergi meninggalkan mereka. Ia lantas menuju Maqam Ibrahim, yakni satu titik di dekat Ka'bah. Masa itu, bangunan suci tersebut dikotori macam-macam berhala yang dipuja-puja kaum musyrikin. Pada pagi itu, orang-orang Quraisy masih tampak ramai.

Sementara itu, Abdullah bin Mas'ud mengambil posisi di samping Maqam Ibrahim. Setelah mengucapkan a'udzubillahi mina syaithon ar-rajim, ia pun memulai membaca Alquran. Yakni, surah ar-Rahman.

photo
Mu - (AP)

Terus saja Ibnu Mas'ud membacakan Kalamullah itu. Orang-orang Quraisy pun memperhatikannya dengan terheran-heran.

Sebagian berkata kepada yang lain, "Apa yang sedang dikatakan Ibnu Ummi Abd (panggilan Abdullah bin Mas'ud--Red) itu?"

Tiba-tiba, seorang lelaki berteriak, "Wahai manusia! Sesungguhnya dia sedang membaca sebagian bacaan yang dibawa Muhammad!"

Sontak saja, kerumunan massa mengepung Ibnu Mas'ud. Mereka langsung memukulinya. Wajah sang sahabat Nabi SAW itu pun babak belur. Tubuhnya lunglai dan terempas di atas jalan. Namun, lisannya tak berhenti. Dalam keadaan dipukuli pun, ia tetap meneruskan bacaan surah ar-Rahman. Orang-orang musyrik pun kian marah. Mereka kembali lagi menghajar Ibnu Mas'ud.

Setelah gerombolan itu pergi, Abdullah bin Mas'ud pun bangkit berdiri. Ia segera didatangi para sahabatnya. "Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi padamu," katanya.

Namun, Ibnu Mas'ud cepat menimpali, "Sungguh, sekarang musuh-musuh Allah itu benar-benar menjadi semakin hina bagiku. Jika kalian mau, besok pun aku akan melakukan hal yang sama kepada mereka."

Besarnya keimanan Abdullah bin Mas'ud mendapatkan pujian bahkan dari Rasulullah SAW sendiri. Dalam pandangan beliau, Ibnu Mas'ud merupakan pribadi yang berkomitmen tinggi pada Islam. Pujian itu pernah terlontar ketika suatu hari Abdullah diperintahkan Nabi SAW untuk memanjat sebuah pohon. Sebab, beliau ingin mengambil sesuatu dari pohon tersebut.

Saat itu, para sahabat kemudian melihat betis Abdullah bin Mas'ud yang tersingkap. Tampak betis itu begitu kurus sehingga beberapa sahabat tertawa menyaksikannya. Rasulullah SAW menanggapi mereka.

"Apa yang kalian tertawakan? Sungguh, kaki Abdullah itu lebih berat timbangannya di Hari Kiamat daripada Gunung Uhud," sabda beliau.

 
"Apa yang kalian tertawakan? Sungguh, kaki Abdullah itu lebih berat timbangannya di Hari Kiamat daripada Gunung Uhud," sabda beliau.
 

Nabi SAW menaruh respek terhadap sahabatnya itu. Abdullah bin Mas'ud dikaruniai kepandaian untuk menghafal dan melantunkan Alquran dengan begitu fasih dan indah. Bahkan, Rasulullah SAW sampai menyarankan kaum Muslimin untuk mengikutinya.

"Barangsiapa yang ingin membaca Alquran dengan bacaan yang segar sebagaimana ia (Alquran) diturunkan, maka hendaklah membacanya sesuai dengan bacaan Ibnu Ummi Abd," sabda Rasul SAW.

Tak mengherankan bila sesudah Nabi SAW wafat, Abdullah bin Mas'ud termasuk di antara para sahabat yang ahli tafsir Alquran. Orang-orang pun berbondong-bondong belajar kepadanya. Dari periwayatannya pula, kemudian muncul disiplin keilmuan asbabun nuzul. Sebab, Ibnu Mas'ud pernah berkata, "Demi Zat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada satu surah pun di dalam Kitab Allah melainkan aku mengetahui di mana ia diturunkan. Juga, tidak ada satu ayat pun melainkan aku mengetahui tentang hal apa ia diturunkan. Seandainya aku tahu bahwa ada orang yang lebih berilmu dariku tentang Kitab Allah, maka pastilah aku akan mendatanginya selama untaku dapat sampai kepadanya."

Abdullah bin Mas'ud memiliki sifat-sifat mulia sebagai seorang pembelajar dan pejuang. Ia wafat di Madinah pada 653 M.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat