Paus Fransiskus memimpin liturgi di gereja yang kosong di Vatikan. | ANSA / REUTERS POOL

Internasional

13 Apr 2020, 02:00 WIB

Pemimpin Agama, Bersatulah!

Saat seperti ini adalah saat yang tepat bagi umat manusia untuk saling memperoleh kekuatan dari kebaikan.

 

WASHINGTON – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan para pemimpin agama bergabung dalam proses memerangi pandemi Covid-19. Hal itu dia utarakan saat umat Kristen merayakan Paskah, Muslim bersiap menyambut Ramadan, dan Yahudi sedang menjalani Festival Pesakh (Passover).

 

"Hari ini, saya ingin membuat seruan khusus kepada para pemimpin agama dari semua agama untuk bergabung bekerja demi perdamaian di seluruh dunia dan fokus pada perjuangan kita bersama mengalahkan Covid-19," kata Guterres, Sabtu (11/4), dikutip laman UN News.

 

Guterres menyadari, umat Kristen, Yahudi, dan Islam saat ini sedang dan akan merayakan momen komunitasnya masing-masing. "Dari keluarga yang berkumpul, pelukan dan jabat tangan, serta pertemuan umat manusia. Tapi, ini adalah masa yang tidak seperti yang lain," ujarnya.

 

Menurut Guterres, saat ini, semua orang sedang saling mencemaskan kondisi satu sama lain. "Jalanan dunia yang sunyi, tempat ibadah yang kosong, dan dunia yang cemas. Kita khawatir tentang orang-orang yang kita cintai yang sama-sama khawatir tentang kita. Lalu bagaimana kita merayakannya di saat seperti ini?" ucapnya.

 

photo
Seorang Muslim malkukan shalat di masjid yang sepi di Peshawar, Pakistan, Jumat (10/4) - (EPA)

 

Oleh sebab itu, dalam semangat periode suci, Guterres mendorong semua orang menggunakan momen ini sebagai waktu untuk mengingat, memperbarui, dan melakukan refleksi. "Seperti yang kita renungkan, mari kita berikan pemikiran khusus bagi para petugas kesehatan yang gagah berani di garis depan melawan virus yang mengerikan ini dan untuk semua yang bekerja menjaga kota tetap berjalan," kata Guterres.

 

Di saat seperti ini, ia melanjutkan, adalah saat yang tepat bagi umat manusia untuk memperbarui iman satu sama lain dan memperoleh kekuatan dari kebaikan yang berkumpul di masa-masa sulit, ketika komunitas-komunitas dari beragam agama bersatu untuk saling menjaga. “Bersama-sama kita dapat dan akan mengalahkan virus ini dengan kerja sama serta keyakinan pada kemanusiaan kita bersama," ujarnya.

 

Hingga berita ini ditulis, terdapat lebih dari 1,7 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia. Korban meninggal akibat virus telah melampaui 108 ribu jiwa. 

 

Pandemi yang Merombak Tradisi

 

Tahun ini, umat Kristen di seluruh dunia merayakan Hari Paskah dalam suasana yang berbeda. Sejak kebijakan pembatasan sosial dan karantina di bebagai negara diberlakukan, begitu banyak hal yang berubah di tengah masyarakat.

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Paus Fransiskus dan para pemimpin umat Kristen lainnya memberikan pidato Paskah secara virtual. Wabah virus korona memang telah mengubah tradisi-tradisi Vatikan belakangan ini.

 

Tahun ini, kebaktian di Basilika Santo Petrus pun diganti dengan doa yang dibacakan Paus Fransiskus via livestream dari perpustakaan pribadinya. Paus 83 tahun asal Argentina ini berbicara hanya bersama dengan kamera yang kemudian menyiarkan pesannya ke seluruh dunia.

 

photo
Pasangan di Jerman menyaksikan misa Paskah dari telepon genggam mereka.  - (EPA)

 

Suasana ini tentu begitu kontras dibanding perayaan Paskah tahun lalu. Kala itu, Misa Minggu Paskah dan pemberkatan Urbi et Orbi dihadiri sekitar 70 ribu umat di Lapangan Santo Petrus.

 

Gereja-gereja memang diperintahkan untuk tidak menjalani kegiatan selama masa pandemi belum teratasi. Ketakutan dan kebingungan rakyat dunia karena melonjaknya jumlah kematian akibat pandemi telah mampu mengubah cara beribadah umat Nasrani di seluruh dunia.

Pintu masuk Vatikan kini ditutup oleh polisi bersenjata yang mengenakan masker dan sarung tangan karet. "Paskah menawarkan pesan harapan di saat-saat paling gelap," kata Paus Fransiskus pada misa di Basilika Santo Petrus yang kosong, dikutip Guardian, Ahad (12/4).

 

Masyarakat dilarang keluar rumah karena pandemi dan di seluruh dunia umat Katolik mengikuti pelayanan melalui televisi atau siaran daring. "Jangan takut, jangan menyerah pada ketakutan. Ini adalah pesan harapan," kata Paus. Vatikan hanyalah satu dari ribuan kota di dunia yang terkunci selama akhir pekan di perayaan Paskah dengan restriksi yang makin meningkat di banyak bagian dunia. Doa-doa virtual Paus ini hanyalah contoh paling nyata dari proses ibadah keagamaan di masa karantina wilayah dan pembatasan sosial di berbagai negara.

 

Orang-orang pun kini kian banyak yang mengikuti sarannya dan terus menemukan berbagai solusi kreatif. Uskup Agung Canterbury, Justin Welby dalam memimpin layanan Minggu Paskah secara maya memuji keberanian orang-orang yang bekerja di garis depan dalam menanggapi wabah virus korona.

 

Welby juga menyerukan kebangkitan kehidupan manusia bersama dalam video dari Istana Lambeth di London. "Setelah begitu banyak penderitaan, begitu banyak kepahlawanan dari pekerja garda depan dan National Health Service (NHS), kita tidak bisa puas untuk kembali kepada apa yang sebelumnya seolah-olah semuanya normal," katanya dalam khotbah yang direkam melalui Ipad-nya.

 

Cara perayaan Paskah yang terbilang revolusioner kali ini,datang dari Uskup Agung Panama yang mengudara dan memberkati bangsanya di Amerika Tengah dari sebuah helikopter. Sementara, di Spanyol, orang-orang memainkan musik religius dari balkon mereka selama Pekan Suci.

 

Di belahan dunia lainnya, tepatnya di Gereja Katolik Filipina telah mendesak umatnya untuk tidak mencium salib. Mitra Ortodoksnya di Yunani juga berencana untuk mengadakan misa di balik pintu tertutup untuk Paskah pada 19 April mendatang.

 

photo
Warga berjalan di bawah instalasi seni terkait mewabahnya Covid-19 di London, Inggris. - (AP)

 

Pesan yang mengobarkan semangat perjuangan selama masa pandemi ini juga disampaikan oleh Ratu Elizabeth. Menurutnya, virus korona tidak akan pernah bisa mengalahkan masyarakat dunia.

 

Meski perayaan tahun ini berbeda dari sebelumnya, sang ratu juga menegaskan bahwa "kita sangat membutuhkan Paskah." Dikutip dari BBC, pesan Ratu Elizabeth II ini disampaikan saat angka kematian akibat virus korona di Inggris mencapai 9.892 pada Ahad pagi.

 

Berbicara dari Windsor Castle, Ratu juga mengatakan bahwa banyak agama menggelar ritual yang melibatkan cahaya, termasuk prosesi menyalakan lilin. Cahaya tersebut, ia sebut, sebagai elemen yang dapat mengalahkan "kegelapan" dari perjuangan melawan Covid-19. "Perlu ada kebangkitan kehidupan bersama kita," katanya menambahkan. n

 


×