Sejumlah warga menanam akar wangi di Kampung Cinyiru, Lebak, Banten, Selasa (18/2). Upaya itu dilakukan Kementerian KLHK guna mengatasi longsor di sekitar Gunung Halimun Salak.. | MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS/ANTARA FOTO

Bodetabek

30 Mar 2020, 02:00 WIB

Halimun Salak Rawan Longsor

LEBAK -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Banten, mewaspadai bencana longsor dan pergerakan tanah di lokasi perbukitan dan pegunungan sehubungan curah hujan tinggi disertai angin kencang. Selama ini, kata dia, cuaca ekstrem masih berlangsung dengan curah hujan lebat, sedang, disertai angin kencang dan sambaran petir. Bahkan, curah hujan di kawasan kaki Gunung Halimun Salak masih cukup tinggi dan terjadi hampir setiap hari.

"Kami menerima laporan sejumlah ruas jalan dan jembatan yang menghubungkan jalan Provinsi Banten di kawasan kaki Gunung Halimun Salak terputus akibat longsor," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lebak, Kaprawi, di Lebak, Ahad (29/3).

Menurut Kaprawi, beberapa ruas Jalan Cipanas sampai Muhara terdapat tiga titik dan Gunung Julang tercatat dua titik longsor serta satu Jembatan Cigobang rusak parah sehingga akses menjadi terputus. "Kami menyampaikan peringatan imbauan kepada warga juga pengemudi angkutan agar mewaspadai bencana longsor agar tidak menimbulkan korban jiwa," ujarnya menegaskan.

Kaprawi mengatakan, potensi perbukitan dan pegunungan di kawasan kaki Gunung Halimun Salak sangat rawan bencana longsor jika dilanda curah hujan tinggi. Saat ini, masyarakat Kabupaten Lebak yang tinggal di kaki Gunung Halimun Salak mencapai ribuan kepala keluarga (KK) yang tersebar di Kecamatan Lebak Gedong, Muncang, Sobang, Cibeber, Panggarangan, Cipanas, Cilograng, dan Bayah. "Kami minta warga yang tinggal di kawasan kaki Gunung Halimun Salak agar meningkatkan waspada longsor dan pergerakan tanah," kata Kaprawi.

Dia menuturkan, BPBD Lebak juga menjalin koordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dan Dinas Kesehatan Lebak, Basarnas, BNPB, Polri, TNI, relawan PMI, serta lembaga kemanusiaan. Dia menyebut, koordinasi antarinstansi sudah terjalin baik lantaran banjir bandang pada awal 2020 mampu tertangani dengan baik sehingga tidak menimbulkan banyak korban jiwa.

"Kami sekarang selalu siaga selama 24 jam dan membuka posko utama di BPBD karena cuaca ekstrem diprakirakan hingga akhir awal Juni 2020 berdasarkan laporan BMKG," ucap Kaprawi.

Butuh bantuan

Stok kebutuhan bahan pokok warga pengungsian korban banjir bandang di Kampung Seupang, Desa Pajagan, Lebak, menipis dan hanya cukup untuk kebutuhan selama sepekan ke depan. "Semua stok bantuan bahan pokok dari donatur, relawan, juga pemerintah daerah sudah menipis," kata Cicih (35), seorang ibu rumah tangga saat ditemui di tenda pengungsian di Kampung Seupang, akhir pekan kemarin.

Masyarakat korban banjir bandang yang sudah berlangsung tiga bulan terakhir tinggal di tenda pengungsian dengan kondisi tidak layak huni. Ditambah, persediaan bahan pokok relatif sedikit dan dikhawatirkan menimbulkan kerawanan pangan. Jika persediaan bahan pokok habis, mereka membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Hal itu lantaran masyarakat belum dapat kembali bekerja untuk mencari nafkah demi ekonomi keluarga. "Kami berharap, pemerintah daerah dapat kembali mendistribusikan bahan pokok agar tidak menimbulkan kerawanan pangan," katanya.

Warga pengungsi lainnya, Yani (60), juga mengatakan, saat ini warga yang tinggal di tenda pengungsi Kampung Seupang mencapai 290 jiwa atau 70 KK dan menghuni 50 unit tenda. Dia mengatakan, warga mulai kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pasalnya, persediaan bahan pokok dari bantuan relawan sudah menipis. "Kami sendiri stok bahan pokok hanya untuk kebutuhan satu pekan ke depan," katanya. n


×