Azyumardi Azra | Dok Republika

Resonansi

26 Mar 2020, 02:00 WIB

Virus Korona; Splinter Agama (1)

 

Oleh Azyumardi Azra

Apa hubungan virus korona atau populer juga sebagai Covid-19 dengan agama? Dalam wacana, percakapan atau bahkan perdebatan tentang virus mematikan yang telah menjadi pandemi global lebih terkait dengan hal ihwal kesehatan atau sanitasi, bukan dengan agama.

Perbincangan juga lebih terkait dengan dampak ekonomi luar biasa yang diakibatkan virus korona. Dampak ekonominya mencakup hampir semua sektor sejak dari ekonomi formal sampai informal; sejak dari sektor digital dan jasa sampai tradisional.

Namun, menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, wabah virus korona sejak meluas melibatkan langsung dan tidak dengan agama, khususnya agama-agama dengan banyak penganut secara global, seperti Kristianitas, Islam, Hindu, atau Buddha. Respons agama terhadap wabah korona terkait dengan sentimen, teologi, dan praksis keagamaan di kalangan umat beragama.

Ada kalangan umat dari agama berbeda, yang meyakini teologi dan menjalankan praksis keagamaan tertentu yang kontra-produktif dengan usaha membendung penyebaran wabah Covid-19. Mereka ini dapat disebut kelompok splinter-kalangan umat beragama yang berbeda dengan arus utama (mainstream) penganut agama masing-masing.

Simaklah kasus-kasus di kalangan umat beragama dari agama berbeda menyikapi ledakan penyebaran virus korona. Sebagaimana bisa terlihat, pandangan dan sikap itu tidak selalu selaras dengan upaya mengendalikan wabah Covid-19. Kita simak dulu kasus umat Islam.

Ketika wabah korona mulai meledak di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina Daratan, sejak 31 Desember 2019 dengan jumlah korban tewas yang meningkat cepat, ada pandangan splinter umat Islam. Intinya, virus korona adalah lasykar "Ababil" yang dikirim Allah SWT untuk menghancurkan Cina yang menindas kaum Muslim Uyghur di Provinsi Otonom Xin Jiang.

Sekadar diingat kembali, lasykar "Ababil" atau kumpulan burung dalam jumlah sangat banyak yang menjatuhkan batu ke atas pasukan gajah pimpinan Abrahah yang ingin menghancurkan Ka'bah di Makkah. Hasilnya, lasykar Ababil berhasil menghancurkan pasukan Abrahah.

Masalahnya, virus korona tidak pandang agama. Warga Wuhan tidak hanya penganut Tao atau ateis-komunis, ada catatan resmi tentang Muslim Cina Hui yang wafat terkena wabah korona. Populasi Muslim Hui Wuhan saja hampir dua persen dari total penduduk 11 juta; mereka memiliki empat masjid utama di Wuhan.

Ketika virus korona menyebar secara global terlihat jelas virus korona tidak memedulikan agama. Tidak sedikit warga negara yang berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Iran, Indonesia, Malaysia, Mesir, Turki, dan seterusnya juga terkena. Sebelumnya, beberapa ?media.com? berorientasi Islam menyebarkan fake news (berita bohong) Turki sebagai bebas virus korona.

Virus korona juga menyerbu negara berpenduduk mayoritas Kristianitas macam Filipina, Italia, Inggris, Amerika Serikat, dan banyak lagi. Tidak terkecuali negara berpenduduk mayoritas Buddha seperti Thailand, atau yang bermayoritas Hindu seperti India juga diserbu Covid-19.

Masih ada pandangan splinter di kalangan Muslim yang beredar dalam media sosial, misalnya tentang orang-orang Cina daratan yang berbondong-bondong ke masjid belajar berwudhu dan masuk Islam. Pandangan ini bersumber dari keyakinan bahwa mereka yang berwudhu bakal selalu bersih dan karena itu, imun terhadap virus korona.

Juga ada cerita bohong tentang dokter Palestina, Manar Saadi al-Shenawi, yang katanya diumumkan otoritas Cina sebagai orang yang telah menemukan vaksin. Disebutkan pula bahwa vaksin itu manjur 100 persen untuk menyembuhkan mereka yang terjangkit virus korona.

Kedua cerita di atas terbukti termasuk di antara 242 hoaks tentang virus korona yang diumumkan Kominfo pekan lalu (17/3/2020). Tidak ada warga Cina yang ramai-ramai belajar berwudhu dan masuk Islam, juga tidak benar ada dokter Palestina yang menemukan vaksin anti Covid-19. Bahkan, di dunia internasional sekalipun belum ditemukan adanya vaksin yang manjur.

Pandangan splinter lain muncul ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI); ulama al-Azhar Kairo, Mesir; dan hay'ah kibar ulama? (ulama-ulama besar) Arab Saudi mengeluarkan fatwa tentang bolehnya mengganti shalat Jumat di masjid dengan shalat zhuhur di rumah atau tidak shalat berjamaah di masjid. Fatwa ini berlaku di daerah wabah bencana korona atau untuk mencegah terjadinya penyebaran virus Covid-19.

Namun, ada kalangan Muslim splinter dari pandangan mainstream. Argumennya: kenapa harus takut pada virus korona? Bagi mereka, yang patut ditakuti hanyalah Allah SWT. Argumen simplistis memakai kacamata kuda dan literalisme ini didukung pejabat dan tokoh politik tertentu yang tidak punya ilmu memadai dan pemahaman yang baik tentang ajaran Islam, khususnya maqashid al-syari'ah dan sejarah Islam. n


×