Ekonomi
'Triple Horror Hantui Ekonomi Indonesia'
Kondisi global saat ini tidak bersahabat bagi Indonesia.
JAKARTA -- Wakil Rektor Universitas Paramadina Handi Risza menyebut dunia saat ini sedang dihantui dengan tiga permasalahan utama (triple horror), yakni inflasi tinggi, tingkat suku bunga tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Handi memperkirakan kondisi tersebut akan berlangsung lama dan imbasnya akan berdampak terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Perekonomian nasional diprediksi juga mengalami perlambatan," ujar Handi dalam diskusi Indef bertajuk "Kebangkitan Nasional, Kebangkitan Ekonomi?" di Jakarta, Senin (27/5/2024).
Handi menyampaikan tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih tinggi. Hal ini memicu Bank Sentral AS (The FED) dan Eropa menerapkan kebijakan moneter yang ketat, dengan menaikkan tingkat suku bunga.
Handi menyebut hal ini menyebabkan terjadinya capital flight dari negara berkembang ke AS dan Eropa. Handi mengatakan Indonesia sendiri mengalami stagnasi pertumbuhan ekonomi yang mana rata-rata pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,9 persen.
"Selain itu, angka rasio gini pada Maret 2023 sebesar 0,388, mengalami peningkatan 0,007 poin jika dibandingkan dengan angka di September 2022 sebesar 0,38. Angka ini menunjukkan tingkat ketimpangan semakin melebar," lanjut Handi.
Handi menyampaikan angka tersebut mengindikasikan pemulihan ekonomi pada 2022 dan 2023 belum merata dan dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Handi juga menyoroti kebijakan utang yang diterapkan pemerintah dalam dua dekade terakhir yang terus mengalami peningkatan, bahkan mencapai puncak tertingginya.
"Semenjak 2014, debt to service ratio Indonesia selalu berada di atas ambang batas psikologisnya di atas 30 persen," sambung Handi.
Menurut Handi, besarnya nilai utang dan bunga utang akan memberikan dampak yang signifikan terhadap beban keuangan negara, khususnya dalam APBN. Handi menyebut bunga utang yang harus dibayar setiap tahunnya mencapai Rp 480 triliun.
"Dengan rasio pajak yang masih rendah, menunjukkan kapasitas makro fiskal untuk menopang kinerja ekonomi nasional masih tergolong rendah. Bahkan tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke arah yang lebih tinggi," kata Handi.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menambahkan, kondisi global saat ini tidak bersahabat bagi Indonesia. Hal tersebut memberikan beban yang luar biasa berat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
"Untuk itu, perlu kemauan kuat dan rencana tepat dari pemerintahan baru. Namun, disadari 'kaki-kaki' yang dimiliki demikian lemah dengan gambaran fundamental ekonomi yang agak memprihatinkan," ujar Wijayanto.
Wijayanto mengatakan perang Rusia dengan Ukraina, eskalasi di timur tengah, perang dagang AS dengan Cina yang berkepanjangan, dan disrupsi suku bunga global tentu akan berimbas pada ekonomi domestik. Dia menyampaikan, harga komoditas yang berfluktuasi dan menunjukkan tren menurun pun akan berdampak pada harga komoditas nasional.
"Utang melejit, bunga terus meningkat (14 persen Belanja APBN), DSR melampau batas aman. Daya saing ekonomi semakin terpuruk, semakin tergantung pada komoditas SDA. Tingkat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi masih tinggi," ucap Wijayanto.
Wijayanto menyebut hal itu merupakan gambaran bagi beban berat perekonomian Indonesia yang juga memperlihatkan tingginya angka pengangguran dan gagal memanfaatkan bonus demografi. Wijayanto menyoroti warisan program populis dan boros anggaran dari pemerintah sebelumnya seperti IKN, Kereta Cepat, subsidi dan bansos berlebih.
"Perlu segera evaluasi atas kebijakan tumpang tindih dan tidak pasti, sehingga menyebabkan daya tarik investasi merosot," sambung Wijayanto.
Wijayanto mengatakan langkah memperkuat 'kaki-kaki' ekonomi nasional bisa dilakukan dengan memperkokoh kolaborasi, memperbaiki konsistensi kebijakan, dan memperkuat penegakan hukum, reindustrialisasi dengan mendorong hilirisasi berkualitas di berbagai sektor. Pemerintah, lanjut dia, juga harus menurunkan biaya logistik dengan pendekatan regulasi, infrastruktur, manajemen logistik dengan mempermudah regulasi, akses pendanaan dan pendekatan jemput bola.
"Jangan lupa meningkatkan penerimaan pajak melalui perbaikan institusi, memperbesar sektor manufaktur dan formal, kebijakan pajak yang rasional," kata Wijayanto.
Meski ekonomi global sedang bergejolak, perekonomian Indonesia sejauh ini masih tumbuh positif. Pada kuartal I 2024, ekonomi RI tumbuh 5,1 persen (yoy). Menurut Kepala Center of Digital Economy and SMEs INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini, pertumbuhan kuartal I 2024 merupakan capaian tertinggi untuk kuartal pertama dalam lima tahun terakhir. Namun, sambung Eisha, pertumbuhan tersebut didorong oleh momentum Ramadhan dan konsumsi pemerintah, terutama belanja pemerintah untuk bantuan sosial dan pemilu.
"Dengan demikian disayangkan, ekonomi domestik belum bisa terdorong oleh kegiatan sisi produksi yang maksimal," ujar Eisha.
Eisha menyampaikan hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah di tengah perlambatan ekonomi dan stagnasi global. Stagnasi global tersebut mencatat PDB global hanya akan tumbuh di 3,2 persen (yoy) global tahunan 2023, 2024, dan 2025.
"Meski negara-negara ekonomi maju mengalami sedikit penguatan ekonomi, tetapi di negara-negara berkembang terjadi sedikit perlambatan hanya tumbuh pada 2024," ucap Eisha.
Eisha memaparkan ekonomi AS saat ini memang diprediksi menguat secara domestik yakni 2,7 persen pada 2024 atau meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 2,5 persen. Eisha mengatakan arah kebijakan ekonomi AS juga berusaha untuk menurunkan inflasi sehingga penurunan suku bunga AS diproyeksi akan menurun pada pertengahan tahun ini.
"Ketidakpastian di negara berkembang akan semakin tinggi seiring dengan prospek ekonomi Cina yang melemah, karena penurunan kinerja sektor properti," sambung Eisha.
Eisha menyampaikan, perekonomian Cina diprediksi akan melemah dari 5,2 persen (yoy) pada 2023 menjadi 4,6 persen (yoy) pada 2024. Eisha mengatakan krisis real estate yang berkepanjangan, adanya kemerosotan kredit, dan konsumsi swasta yang lemah menyebabkan ekspansi ekonomi Cina tertahan.
"Prospek suku bunga yang tidak pasti dan menahan suku bunga global pada level tinggi, sehingga mendorong capital outflow negara berkembang dan dampak ini juga dirasakan Indonesia, yaitu tekanan nilai tukar rupiah yang sampai Rp 16 ribu," kata Eisha.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
