Ekonomi
Mengembangkan Budi Daya Perikanan dari Pesantren
Pesantren berkreasi dengan budi daya lele. Caranya dengan teknologi bioflok.
Menuntut ilmu keagamaan di pesantren adalah keniscayaan, sebab ini sudah menjadi sunahnya yang diwariskan dari berbagai generasi. Namun pada masa sekarang, pesantren tak hanya fokus pada ilmu keagamaan. Lembaga pendidikan ini juga menjadi basis pengembangan potensi masyarakat, salah satunya adalah budi daya ikan lele.
Ikan yang bernama lain Clarias (dari Yunani) ini sangat akrab didengar. Masyarakat Indonesia pun gemar mengonsumsi ikan ini, karena kandungan gizi yang tinggi. Di dalamnya ada protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan B (Kemenkes).
Karena kegemaran mengonsumsi ikan lele, banyak pihak berlomba-lomba memproduksi komoditas tersebut. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Produksi lele secara nasional dalam kurun waktu lima tahun (2011 – 2015) mengalami peningkatan 21,31 persen per tahun. Dari 337.577 ton pada tahun 2011, menjadi 722.623 ton pada 2015. Menurut KKP, angka ini merupakan kenaikan terbesar di bandingkan dengan komoditas ikan air tawar lainnya seperti nila, mas, patin dan gurame.
Kalau dikalikan dengan harga ikan lele per kilogram di pasar sekitar Rp 20 ribu maka dikalikan 722.623 (ton). Hasilnya adalah 14,5 triliun. Angka yang luar biasa besar. Angka produksi lele pada akhir-akhir ini diprediksi lebih besar lagi seiring bonus demografi yang berimbas pada peningkatan permintaan pasar.
Kembali ke pesantren, ikan lele merupakan hidangan yang sangat dinanti kaum santri. Setidaknya sekali dalam sepekan, mereka pasti menemukan lauk ini di dapur tempat mereka makan sehari-hari. Di kantin dan rumah makan pun sebagian mereka menikmati hidangan lele yang dibuat aneka masakan, seperti pecel dan mangut.
Karena berkepentingan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, pesantren berkreasi dengan budi daya lele. Caranya dengan teknologi bioflok. Ini adalah sistem pemeliharaan lele dengan menumbuhkan mikroorganisme yang berguna untuk pengolahan limbah budi daya lele.
Limbah pada budi daya lele diolah menjadi gumpalan kecil (flock) yang dapat digunakan untuk pakan. Pertumbuhan limbah ini dipacu dengan memberikan kultur bakteri nonpatogen atau probiotik. Sebagai gambaran, satu lubang atau satu kolam bioflok dengan kapasitas air 10 m3, dengan modal kurang lebih Rp 5 juta, dapat menghasilkan 1 ton lele selama kurun waktu 2,5 bulan. Jika jumlah fasilitas bioflok ditambah maka hasil panen pun akan semakin besar.
Pemerintah mengklaim teknologi bioflok ramah lingkungan dan meningkatkan kualitas daging lele yang dipanen. Konsumen menilai daging lele hasil budi daya sistem ini berbeda dengan lele hasil budidaya konvensional. Penyebabnya sudah pasti dari pakan lele yang tidak hanya pelet, tapi juga flock tadi.
Pesantren Bahrul Ulum, Bangka, antusias mengembangkan budi daya ikan lele menggunakan sistem bioflok. Ketua Yayasan Bahrul Ulum, Ujang Fahrial, mengatakan, budi daya ini merupakan program bantuan pemerintah.
Segala sesuatunya akan kita dukung untuk kebaikan bersama. Selama kita memberikan manfaat buat nelayan, memberikan manfaat untuk masyarakat, selama bisa menggerakkan roda investasi, KKP insya Allah akan siap membantu.
Terdapat empat unit lebih bioflok dengan kemampuan total produksi mencapai 500 kilogram. Masa pemeliharaan lebih dari tiga bulan."Hasil panen budi daya lele diperuntukan untuk pemenuhan menu gizi berimbang bagi santri yang mencapai 860 orang," jelasnya.
Bupati Bangka, Mulkan mengatakan, pengembangan budi daya ikan air tawar terutama jenis lele menggunakan sistem bioflok, cukup efektif karena tidak membutuhkan area yang luas, serta lebih mudah dalam pemeliharaan.
Bupati berharap masyarakat di daerahnya dapat mengembangkan budi daya lele menggunakan sistem yang sama. Tujuannya untuk membantu meningkatkan pendapatan keluarga."Saya melihat, masyarakat di Kabupaten Bangka sudah mulai gemar mengkonsumsi ikan air tawar terutama lele, dan tentunya menjadi peluang untuk mengembangkannya dengan sistem bioflok," katanya.
Santri menjadi pembudi daya lele
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak generasi muda, termasuk kalangan santri di beragam pondok pesantren untuk menjadi pembudidaya perikanan, seperti lele.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Tb Ardi Januar menjelaskan, ini merupakan kesempatan berharga untuk mereka berkecimpung dalam wirausaha perikanan yang menguntungkan. Dengan terlibat dalam dunia ini, kaum santri akan menjadi inspirator pengembangan budi daya perikanan. Mental mereka yang kaya akan nilai agama akan menjadi dasar untuk membangun wirausaha yang produktif dan memberdayakan masyarakat setempat.
Tb Ardi Januar menjelaskan, KKP akan mendukung penuh para santri maupun alumni yang ingin terjun ke bisnis perikanan. Mereka dapat menjadi eksportir komoditas kelautan dan perikanan, atau menjadi pelaku usaha di sektor perikanan.
"Segala sesuatunya akan kita dukung untuk kebaikan bersama. Selama kita memberikan manfaat buat nelayan, memberikan manfaat untuk masyarakat, selama bisa menggerakkan roda investasi, KKP insya Allah akan siap membantu," tegasnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan meyakini bahwa kemudahan izin akan meningkatkan semangat masyarakat maupun pelaku usaha dalam menggelutinya.KKP, lanjutnya, juga melakukan inovasi-inovasi untuk memenuhi kebutuhan bibit dan pakan agar proses budidaya perikanan dapat berjalan maksimal.
"Yang jelas, nelayan, pembudi daya kecil, perorangan, pelaku usaha tidak akan dipersulit izinnya. Jadi, saya tantang teman-teman semua untuk bisa masuk ke sektor ini. Tidak perlu yang besar-besar, yang penting niat awal dulu," kataEdhy.
Menteri memaparkan alasan pemerintah fokus mengembangkan sektor budidaya perikanan karena potensi yang dimiliki masih sangat besar. Sejauh ini, baru sekitar 10 persen yang tergarap dan itu dinilai masih belum maksimal.
Memenuhi kebutuhan gizi
Pengembangan budi daya sistem bioflok di lingkungan pesantren berguna untuk pemenuhan konsumsi gizi bagi santri. Kasubdit Budidaya Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Warih Hardanu di Sungailiat, mengatakan, pemenuhan konsumsi gizi berimbang bagi santri di pesantren melalui penerapan bioflok adalah langkah pemerintah mencegah gizi buruk."Pencegahan kasus gizi buruk menjadi tanggung jawab bersama lintas sektor baik dari pemerintah pusat sampai ke daerah," jelasnya. antara
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
