Bolehkah Jual Tanah untuk Makan? | Daan Yahya/Republika

Sastra

Bolehkah Jual Tanah Beli Beras?

Cerpen Beatrix Polen Aran

Oleh BEATRIX POLEN ARAN

Percakapan di ruang tamu terdengar kian lantang. Suasana yang semula adem ayem saat Ina Peni-perempuan berwajah bopeng itu menyodorkan beberapa gelas teh  hangat ke hadapan anak-anaknya sambil melebar senyum. Tito anak laki-laki pertama meneguk sambil berucap lirih harga beras naik, dan pagi ini kita harus makan singkong dengan lauknya ikan teri berbalut tomat. Wajah Maria berubah datar, digeleng-gelengkan kepala, lalu tangan kirinya meremas-remas perut. “Pokoknya, aku harus makan nasi. T i t i k!

Martinus geram. Matanya menyala bagai dibakar api. Memerah. 

“Semua makanan adalah beras! Jika tak ingin makan singkong, silakan minum air sebanyak-banyaknya atau meneguk angin,” Martinus bangkit berdiri dan secepat kilat masuk ke dalam kamar.

Ina Peni terdiam sejenak menyaksikan gelagat anak-anaknya sambil menghela nafas berat. Maria menghampiri lalu berlutut menangis di tiang kakinya.

“Bu, aku lambung! Hu…hu

Ina Peni tak hilang akal, dari uang hasil timbang kopra ia pergi membeli beras di Kios milik Paman Tony. Sekilo harganya dua puluh ribu rupiah, sedang sisanya ia membayar iuran gereja.

 
Sekilo harganya dua puluh ribu rupiah, sedang sisanya ia membayar iuran gereja.
SHARE    

Pulangnya, Ina Peni menitih jagung lalu mencampur dengan beras hingga tak terlihat warna beras. Ia nyalakan api pada tungku dan memasaknya dengan tergesa-gesa. Asap membubung membentuk mahkota pada kepalanya.

“Nak, silakan makan,” memegang lengan Maria lalu menyuruhnya duduk di kursi kayu. Mata Maria membeliak lalu mengerutkan jidatnya, bibirnya turut  menggulung seakan-akan beras jagung bukanlah makanan yang mengenakan lidah. Tuh kan aku bilang, bantuan pemerintah selalu kita tolak ya begini jadinya. Kalau saja, Ina Peni memasukkan kartu keluarga, pasti saja sudah ditetapkan sebagai kepala keluarga miskin, tiap bulan dapat bantuan beras dan telur ayam.

Bila tiba giliran tanggungan di gereja, Ina Peni mempersembahkan hasil kebun miliknya berupa singkong, jagung, pucuk labu, dan sedikit kacang.

Katanya, meski hasil panen tahun ini gagal gara-gara musim hujan tak menentu, hama merajalela, tetapi untuk Tuhan itu wajib hukumnya. Bahkan, siang berhujan baik untuknya, ia bisa menggali kacang dan memanen pucuk labu yang merambati atap pondoknya.

 
Hama merajalela tetapi untuk Tuhan itu wajib hukumnya
SHARE    

Tetangganya, Tanta Mina memiliki beberapa jumlah kios, di sudut kampung, di simpang, di pusat pasar juga di kota, tetapi sulit menyumbang untuk gereja. Tanta Mina kerap menceritakan tentang kemewahan makan minum dan pendidikan anaknya menjadi seorang dokter hewan ke para tetangga, tetapi jika orang suruhan ketua basis datang untuk menagih iuran gereja, disuruhnya pulang.

“Enak saja, sumbang terus. Urusan iman, itu urusan pribadi. Bisa-bisa bangkrut bisnisku,” jawabnya ketus. Belum lagi, suaminya yang pelit itu, pergi ke gereja menggunakan mobil padahal jarak rumah dan gereja masih dalam jangkauan mata. Mengambil posisi duduk di sebelah altar agar bisa dilirik Pastor, bahwa merekalah umat yang masih peduli dengan gereja. Tiba giliran hari-hari raya, mereka menyumbang dan meminta agar namanya dibacakan di mimbar selama lima minggu berturut-turut.

Tetangga yang lain mencibir, tetapi Ina Peni tetap tenang tak memberikan reaksi  apa-apa.

“Biarkan saja. Nanti kita yang nanggung dosa!”

Sepoi-sepoi angin menggugurkan dedaunan, gelegar guntur sambung menyambung. Tito menghampiri Ina Peni, begitu juga Martinus berusaha merapatkan punggungnya ke bahu Ina Peni. Ada keteduhan yang lain setelah keriuhan di ruang tamu. Ina Peni merasakan kekuatan baru setelah bertahun-tahun ditinggal pergi suaminya Ama Kopong. Kekuatan yang dulu berserpih bagai pecahan-pecahan kaca tak beraturan.

Sedianya, setelah ia melahirkan Maria, Ama Kopong meminta izin untuk pergi merantau. Kabar beredar, tombak kelapa sawit gajinya jauh lebih banyak, dan membuat Ama Kopong mulai membanding-bandingkan dengan jumlah uang hasil timbang kopra, timbang mente, timbang cokelat yang buahnya seturut musim. “Uangnya tidak seberapa,” gumamnya.

“Ma, aku boleh minta izin pergi merantau? Satu tahun setelah itu aku pulang,” suara ama Kopong memelas. Mata Ina Peni berkaca-kaca, ia membayangkan bila di tanah perantauan suaminya akan mencintai perempuan lainnya-perempuan yang baginya lebih sempurna dari istrinya di kampung. Serentetan peristiwa senada sering terjadi, bahkan orang akan kawin lagi dan menodai pernikahan. Di hadapan imam dan para saksi, bla … bla … bla, sebagai gantinya di hadapan imam dan para saksi aku akan kawin lagi, dan lagi huh ….

Ia membayangkan bila musim hujan, selepas menombak kelapa sawit dan suaminya  sakit, siapa yang harus merawatnya? Menyediakan air hangat, menemui dokter atau membeli obat yang dijual  di pinggir jalan.

Ia membayangkan … dan ah!

Hal-hal semacam itulah yang membuat iman suaminya goyah, godaan-godaan senantiasa menjemput, ditambah lagi dengan jauh dari rumah ibadat, tidak pernah bertemu Tuhan sama artinya dengan hidup dilingkung dosa, bukan?!

“Lantas, bagaimana dengan tanah warisan dan hasil yang melimpah ruah? Siapa yang harus mengolahnya?” Ina Peni mencari-cari alasan.

Tangannya meliuk-liuk merapikan rambut Maria yang memburai sambil memijit-mijit puting susunya--sebab, air susu sejak melahirkan tak pernah menetes.

“Sakiiiitttt …,” begitu terus teriakan-teriakan kecil yang keluar dari bibirnya. Ia mamah daun pepaya yang konon bisa menambah air susu, menelannya dengan segera.

Ama Kopong tetap bersikeras, hingga akhirnya malam itu, ada kapal yang bertolak dari Maumere menuju Makassar, ia langkahkan kakinya dengan tergopoh melewati pintu belakang.

Karcis dibelinya di pelabuhan kendati terkesan mahal dan mendesak. Tapi, sudahlah.

“Bu, bolehkah jual tanah untuk membeli beras?” Tito mengusap-usap punggung Ina Peni.

“Jual tanah?”

“Ya, jual tanah beli beras."

“Bank kita adalah tanah. Jikalau menjual, kelak hidup kita akan melarat,” Ina Peni menimpali.

Hmmm.”

Ina Peni menginginkan kelak ia mati dimakamkan di tanahnya, ia sama sekali tak ingin jasadnya dibawa keluar kampung dengan alasan remeh, pemakaman telah penuh. Alasan lainnya, terjadi sengketa tanah.

Jika tidak demikian, jiwanya ingin pulang atau meronta-ronta untuk waktu yang terbilang lamanya.

“Iiihhh takut. Seperti hantu gentayangan?” gerutu Tito sembari menutup kedua bola matanya dengan telapak tangan.

Semalam suntuk mata Maria sulit terpejam. Ia mendengar beberapa kalimat yang menggayut kupingnya, lalu berusaha mengucek-ngucek bola matanya. Ia langkahkan kaki menuju kamar Ina Peni, perlahan didorongnya pintu, draaakkkkkk!

“Eh, anak kecil. Belum tidur?” suara Tito memecah keheningan.

“Belum, Kak. Aku lapar?”

“Lapar lagi, lapar lagi!” Martinus bicara dengan suara meninggi.

“Bu, sekali lagi, bolehkah jual tanah beli beras?”

Ina Peni tak bergeming, ditariknya kain menutup lututnya, terus ke sebagian wajahnya. Air matanya terus tumpah. Ia lalu menyuruh anak-anaknya keluar dari kamar dan ia mulai berlutut di kaki Salib. Tuhan, keluhnya dalam hati. Beri petunjuk untuk bisa keluar dari kemelut ini.  

Lilin terus menyala, ada harapan yang tersurat di sana. Bagi Ina Peni, doa adalah segala-galanya, melalui doa, ia merengkuh banyak kesakitan ke dadanya dan membiarkan Tuhan bekerja.

Sesudah itu, Ina Peni keluar dari kamar. Anak-anaknya telah tertidur pulas di kamarnya masing-masing.

Keesokan harinya, sebelum kokok ayam, Ina Peni telah bangun dan memasak lalu memanggil mereka satu per satu. 

“Nak, silakan makan,” ucapnya.

“Bu, bolehkah jual tanah beli beras? Karena makan beras bercampur jagung,lambungku tak kuat,” Tito memohon sembari memeluk tubuh ibunya.

Berulang pernyataan yang sama diutarakan tetapi tetap saja Ina Peni menolak. Baginya, tanah adalah harta yang ternilai harganya.

Beatrix Polen Aran, guru di SMP Negeri 3 Tanjung Bunga, Flores Timur. Aktif menulis di media lokal dan nasional. Bergiat di Nara Teater. Menulis buku kumpulan cerita anak berjudul “Nitun Pohon Beringin”. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Matamu Sedingin Musim Gugur 

Puisi-puisi Safari Maulidi 

SELENGKAPNYA

Tulang Punggung yang Retak

Serpen Muhammad Subhan

SELENGKAPNYA

Riwayat Sebuah Negeri 

Oleh Muakhor Zakaria

SELENGKAPNYA