Jentik nyamuk yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia di Kantor Dinkes Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (13/11/2023). Pemerintah Kota Bandung telah mengimplementasikan inovasi bakteri wolbachia ke dalam telur-telur nyamuk Aedes aegypty guna menek | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Medika

Meluruskan Simpang Siur Kontroversi Wolbachia

Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di sekitar 60 persen serangga.

Program pelepasan nyamuk dengan Wolbachia dari pemerintah untuk mengintervensi atau mengurangi kasus demam berdarah (dengue) menjadi kekhawatiran masyarakat. Salah satunya di Bali, sehingga tindakannya harus ditunda.

Bahkan, masyarakat dikhawatirkan dengan munculnya tuduhan, seperti "nyamuk Bill Gates", nyamuk bionik, atau dugaan akan munculnya penyakit baru dari program ini. Namun, Prof dr Adi Utarini, peneliti pionir Wolbachia, yang risetnya sudah diakui dunia sebagai gold standar, tegas membantah anggapan tersebut.

Prof Uut, sapaan akrabnya, menekankan, pelepasan nyamuk Wolbachia ini aman untuk masyarakat dan bukan hasil rekayasa genetik. “Nyamuknya beda culex (bukan Bill Gates, Red), penyakitnya gak ada kaitannya dengan Wolbachia,” kata Prof Uut dalam acara bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Senin (20/11/2023).

photo
Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menunjukkan pakan dan telur nyamuk yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia di kantor Dinkes Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (13/11/2023). Pemerintah Kota Bandung telah mengimplementasikan inovasi bakteri Wolbachia ke dalam telur-telur nyamuk Aedes aegypti guna menekan kasus DBD di Kota Bandung. Kota Bandung merupakan satu dari lima kota pilot project untuk implementasi penanggulangan DBD berbasis teknologi Wolbachia. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)
 

Riset yang dilakukan Prof Uut sejak 2011 telah diakui sebagai bukti ilmiah terbaik, rekomendasi AIPI dan WHO VCAG. Prof Uut yang juga pernah masuk 100 tokoh berpengaruh di dunia 2021 versi Time itu mengatakan, nyamuk Wolbachia aman bagi hewan, manusia dan lingkungan.

Wolbachia pada Aedes aegypti tidak bisa berpindah ke serangga lain, begitu juga tidak bisa berpindah ke manusia. Aedes aegypti hanya menularkan empat penyakit, yaitu dengue, chikungunya, zika, dan malaria. Jika ada penyakit lain yang disebabkan oleh vektor nyamuk lain, kejadian itu tidak dipengaruhi oleh nyamuk yang bukan vektor perantaranya.

Prof Uut mengatakan, ketika melakukan penelitian terhadap nyamuk Wolbachia pada 2011, Indonesia pernah menempati posisi kedua tertinggi di dunia untuk kasus DBD. Teknologi Wolbachia ini menambah deretan upaya yang sudah ada sebelumnya.

photo
Seorang Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengamati pupa nyamuk Aedes aegypti di Jakarta, Jumat (10/11/2023). Teknik Serangga Mandul (TSM) yang memanfaatkan radiasi gama Cobalt-60 digunakan untuk memandulkan nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) sehingga menekan populasi nyamuk DBD di alam liar. - (Antara/ Ahmad Muzdaffar Fauzan )

“Selama ini, kita mengenal pemberantasan sarang nyamuk, mengurangi sarangnya, mencegah gigitan dan lain-lain. Cara Wolbachia adalah cara melawan virus dengue yang ada di tubuh nyamuk. Wolbachia-nya sendiri menggunakan bakteri alami yang hidup dalam sel serangga dan diturunkan ke generasi berikutnya,” kata peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di sekitar 60 persen serangga, termasuk pada lalat buah dan kupu-kupu. Jika seekor serangga jantan Wolbachia kawin dengan serangga betina tanpa Wolbachia, telur yang dihasilkan tidak akan menetas.

Jika serangga betina ber-Wolbachia kawin dengan jantan tanpa Wolbachia, telur akan menetas dan mengandung Wolbachia. Jika keduanya memiliki Wolbachia, telur akan menetas dan mengandung Wolbachia. 

“Jadi, itu bagaimana Wolbachia diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. kuncinya pada garis ibu. Wolbachia bukan rekayasa genetik. Jadi, bakteri ini alami dan terdapat di lebih dari 60 persen serangga di sekitar kita,” lanjut dia.

Prof Uut menjelaskan, ketika Wolbachia dimasukan pada telur Aedes aegypti, mekanismenya akan menghambat perkembangan dari virus dengue. Maka, ketika nyamuk Aedes menggigit manusia, virusnya tidak ikut berpindah ke manusia. 

Menurut dia, implementasi cara ini juga dilakukan di sekitar 14 negara. Manfaatnya juga telah menurunkan 83 persen kegiatan fogging nyamuk yang notabene menggunakan bahan kimia. Maka, pelepasan Wolbachia ini lebih aman dan ramah lingkungan.

Penelitian yang dilakukan pada 2011 itu dimulai dengan tahapan penelitian fase kelayakan dan keamanan (2011-2012), fase pelepasan skala terbatas (2013-2015), fase pelepasan skala luas (2016-2020), dan fase implementasi (2021-2022). Studi ini menjadi yang pertama di dunia dengan aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) di Yogyakarta menggunakan desain cluster randomized controlled trial (CRCT).

photo
Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung memeriksa jentik nyamuk yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia di kantor Dinkes Kota Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (13/11/2023). Pemerintah Kota Bandung telah mengimplementasikan inovasi bakteri Wolbachia ke dalam telur-telur nyamuk Aedes aegypti guna menekan kasus DBD di Kota Bandung. Kota Bandung merupakan satu dari lima kota pilot project untuk implementasi penanggulangan DBD berbasis teknologi Wolbachia. - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Hasil studi AWED menunjukkan, nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77,1 persen dan menurunkan rawat inap karena dengue sebesar 86 persen. Bahkan, berdasarkan hasil studi tersebut dan hasil di beberapa negara lain yang menerapkan teknologi WMP, teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue telah direkomendasikan oleh WHO Vector Control Advisory Group sejak 2021. 

Saat pertama kali diimplementasikan di Yogyakarta, cara ini juga sempat mengalami penolakan. Namun, dengan edukasi dan sosialisasi, masyarakat akhirnya menerima dan merasakan manfaatnya. 

 

 

 
Wolbachia bukan rekayasa genetik
 
ROF DR ADI UTARINI, Peneliti pionir Wolbachia 
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Nyamuk Berwolbachia ‘Musuh’ DBD Disebar di Jakarta

Penyebaran nyamuk berwolbachia tersebut diharapkan mampu menekan kasus DBD.

SELENGKAPNYA

Dinkes Kota Bandung Sebarkan Telur Nyamuk DBD Terinfeksi Wolbachia

Keberadaan bakteri dalam nyamuk ini menyulitkan virus DBD memperbanyak diri.

SELENGKAPNYA

Perubahan Iklim dan Mengganasnya Nyamuk Demam Berdarah

Vaksinasi kini direkomendasikan oleh asosiasi medis dalam mencegah demam berdarah dengue.

SELENGKAPNYA