Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banten memeriksa alat pengukur suhu udara di Serang, Banten, Jumat (28/7//2023). BMKG merilis imbauan bagi masyarakat untuk mewaspadai dampak kekeringan yang meluas dengan intensitas tinggi mengi | Antara/Asep Fathulrahman

Sains

Perubahan Iklim Dipastikan Lebih Ngeri dari Film Horor

Dunia sedang berada di tengah-tengah kepunahan massal keenam,

Halloween menjadi salah satu budaya populer yang diperingati oleh banyak orang di seluruh dunia. Biasanya orang-orang mengenakan kostum seram ditambah face painting yang menunjang, melakukan trick or treat, dan aktivitas lain.

Namun, di tengah perubahan iklim, Halloween bisa jadi benar-benar menakutkan. Risiko bencana yang ditimbulkan krisis iklim akan menjadi teror yang menakutkan dan mengerikan bagi setiap orang. Dilansir Earthday, Selasa (31/10/2023), berikut lima fakta perubahan iklim yang bisa membuat Anda takut untuk beraksi pada Halloween kali ini.

 

photo
Dunia Kepanasan - (Republika)

1. Dalam dua dekade ke depan, suhu global bisa meningkat 1,5 derajat Celsius

Dalam Sixth Report pada 2021, Intergovernmental Panel on Climate Change PBB (IPCC) menyatakan bahwa sejumlah pemanasan global telah terkunci dan tidak dapat diubah. Mereka melaporkan bahwa dari 2011-2020, suhu global telah mencapai 1,1 derajat Celsius di atas level era 1850-1900.

Diperkirakan juga bahwa dalam dekade ini, suhu global lebih dari 50 persen kemungkinan akan meningkat hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, yang disebut sebagai titik kritis perubahan iklim. Tingkat pemanasan ini diprediksi akan meningkatkan frekuensi kebakaran hutan hingga 8,6 kali lipat.

Pemanasan ini juga membunuh 70-90 persen terumbu karang dan meningkatkan permukaan laut secara global hingga 0,3 meter. Dalam laporan khusus 2018, IPCC memperingatkan, dunia hanya memiliki waktu hingga 2030 untuk mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim.

 

Dunia Kepanasan - (Republika)

  ​

2. 2023 menjadi tahun terpanas

NASA baru-baru ini mengumumkan, musim panas 2023 merupakan musim panas terpanas yang pernah tercatat secara global. Suhunya bahkan melampaui panas yang sangat menyengat yang terjadi pada 2016.

Tidak hanya sistem pangan yang rusak, tetapi juga tubuh kita. Dengan meningkatnya suhu panas, kelembapan pun meningkat hingga ke tingkat yang berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.

Musim panas 2024 diperkirakan akan menjadi musim panas yang memecahkan rekor dan akan menyaingi musim panas 2023 yang penuh bencana. Termasuk dalam hal panas, kelembapan, dan peristiwa cuaca berbahaya. "Dan ini akan menjadi tren jangka panjang bahwa setiap musim panas akan semakin panas,” kata Direktur Goddard Institute for Space Studies (GISS), Gavin Schmidt.

 

photo
Seniman pantomim Wanggi Hoed melakukan pantomim bertajuk Kehidupan Owa Jawa di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Ahad (22/10/2023). Kegiatan tersebut digelar oleh Pusat Studi Komunikasi Lingkungan (Pusdikomling) Universitas Padjadjaran dan Gibbonesia. Kegiatan yang digelar untuk menyambut Hari Owa Internasional yang jatuh pada 24 Oktober tersebut sebagai kampanye positif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendukung upaya pelestarian owa jawa. Owa jawa (Hylobates moloch) merupakan salah satu spesies primata langka di dunia dengan status endangered (terancam punah). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

3. Laju kepunahan melonjak seribu kali lipat dari laju alami

Bayangkan jika Anda memakai kostum katak untuk Halloween dan harus menjelaskan kepada generasi muda tentang apa itu katak dan mengapa katak punah. Faktanya, hampir setengah dari semua amfibi berisiko punah karena perubahan iklim.

Kepunahan adalah fenomena alam, yang merenggut sekitar lima spesies per tahun. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa dunia sedang berada di tengah-tengah kepunahan massal keenam, kepunahan yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.

Menurut laporan 2023, sekitar 48 persen spesies menurun dan sedang menuju kepunahan. Laporan tersebut juga mengungkapkan, 33 persen spesies yang terdaftar sebagai spesies yang tidak terancam oleh daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) justru mengalami penurunan.

Lalu, pada pertengahan abad ini, sebanyak 30 hingga 50 persen dari total spesies yang ditemukan di Bumi akan punah karena tingkat kepunahan saat ini mencapai 1.000 kali lipat dari tingkat kepunahan alami.

4. Perubahan iklim sudah terjadi dan merugikan kehidupan manusia

photo
Petugas kepolisian merekam gambar di lokasi kebakaran lahan, Bukit Parombahan, Desa Aek Sipitudai, Sianjur Mulamula, Samosir, Sumatra Utara, Ahad (7/8/2022) malam. Kepala Daops Manggala Agni Sumatera Utara (MAS) II Anggiat Sinaga menyebutkan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan sekitar 49 hektare lahan di empat desa meliputi Sipitu Dai, Janji Martahan, Simulop, dan Sabulan di daerah itu, sementara hingga Senin (8/8) siang petugas masih mengupayakan pemadaman. - (ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/WS/aww.)

Dampaknya terhadap kesehatan manusia jauh lebih menakutkan daripada film horor. Meningkatnya suhu, ditambah dengan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan dan populasi lansia, telah meningkatkan kematian akibat panas, demikian menurut sebuah studi tahun 2023 di Nature Communications.

Hipertermia bukanlah satu-satunya risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim terhadap kehidupan manusia. Suhu yang lebih tinggi memperburuk kualitas udara berdampak negatif pada produksi tanaman, meningkatkan penyebaran penyakit menular, dan mengancam cadangan air tawar.

Kejadian kebakaran hutan telah meningkat selama beberapa tahun terakhir dan area yang terbakar serta intensitas kebakaran telah meningkat. Pada 2023, terjadi dua peristiwa kebakaran besar di Amerika Utara.

Pada Agustus tahun ini, kebakaran hebat menghancurkan Maui, Hawaii dan merenggut lebih dari 100 nyawa. Di Kanada, sejak bulan Mei hingga musim gugur, kebakaran hutan terus terjadi. Tak kurang dari 44 juta hektar telah terbakar, yang tidak hanya berdampak pada satwa liar tetapi juga manusia.

5. Banyak pemimpin yang belum menganggapi krisis iklim sebagai masalah serius

Dunia telah menyadari perubahan iklim setidaknya sejak Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dibentuk pada 1988. Para ilmuwan dan masyarakat juga telah bersatu untuk mendukung kebijakan lingkungan, tetapi banyak pemerintah dunia yang memiliki pemikiran yang berbeda.

Meskipun sudah tujuh tahun sejak Perjanjian Paris diberlakukan, tidak ada satu pun negara besar di dunia yang berada di jalur yang tepat untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

 

 
Menurut laporan 2023, sekitar 48 persen spesies menurun dan sedang menuju kepunahan.
 
 

 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Gelombang Panas dan Musnahnya Populasi Burung

Panas ekstrem berdampak pada berbagai spesies burung di semua tipe habitat.

SELENGKAPNYA

Menggali Sebab Panas Menyengat yang Berujung Kekeringan

Panas menyengat terjadi karena Indonesia memiliki kondisi miskin awan.

SELENGKAPNYA

BMKG: Panas Terik Hingga Akhir Oktober

Penurunan suhu udara di Jawa dan Nusa Tenggara baru akan terjadi pada November.

SELENGKAPNYA