ILUSTRASI Berbagai kisah Syekh Ibrahim bin Adham menunjukkan keteladanan seorang sufi | DOK EPA FAROOQ KHAN

Kisah

Senarai Kisah Inspiratif Ibrahim bin Adham

Syekh Ibrahim bin Adham dikisahkan dalam banyak buku tasawuf.

Bagi para ahli tasawuf abad pertengahan hingga kontemporer, Syekh Ibrahim bin Adham bagaikan mata air. Sosok yang hidup sezaman dengan generasi tabiin itu termasuk yang paling awal mengamalkan dan mengajarkan laku sufi. Konsistensinya dalam zuhud menjadi ciri khas tasawuf yang datang sesudah masanya.

Ada banyak kisah keteladanan ulama tersebut. Misalnya, seperti yang disampaikan Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri dalam kitabnya, Mawaizh Ushfuriyah.

Alkisah, Syekh Ibrahim sedang duduk di sebuah tempat. Di sana, dia membuka bekal makanannya. Tanpa diduga, seekor burung gagak datang mengambil sedikit dari makanan tersebut. Lantas, hewan ini terbang menuju bukit.

Karena penasaran, Ibrahim pun membuntuti burung tersebut. Dia segera membungkus makanannya, lalu menunggangi dan memacu kudanya. Dengan cepat, disusulnya hewan bersayap tadi.

Akan tetapi, burung itu lebih cepat. Ibrahim pun tak lagi mengetahui ke mana hewan terbang itu mengarah. Karena jejak terakhir yang diingatnya ke arah bukit, ia memacu kudanya ke sana.

Sampai di dataran tinggi itu, Ibrahim menemukan seseorang dalam kondisi terikat. Burung gagak itu ternyata ada di dekat orang tersebut. Paruhnya yang membawa makanan kemudian bergerak mendekati mulut orang malang ini.

Sang burung lalu melepas makanannya. Mulut orang itu terbuka dan menelannya. Hal seperti itu terjadi dalam beberapa hari sejak pria tak dikenal itu terjerat. Pada hari keempat, Ibrahim mendekatinya, lalu membebaskannya.

Lelaki itu bercerita, dirinya dalam kondisi demikian sejak disandera dan dibuang kawanan perampok. Dengan kuasa Allah, ia masih hidup dan tetap mendapatkan rezeki untuk makan melalui perantaraan burung gagak.

 
Mustahil Allah SWT membiarkan makhluknya hidup tanpa rezeki.
   

Kisah di atas mengajarkan hikmah. Mustahil Allah SWT membiarkan makhluknya hidup tanpa rezeki. Bahkan, makhluk terikat yang geraknya amat terbatas, seperti yang ditemui Ibrahim bin Adham itu, pun masih mendapatkan rezeki.

Menyadari bahwa Allah telah mencukupkan rezeki tiap makhluk-Nya, itu tidak berarti pembenaran untuk berpangku tangan. Ibrahim bin Adham sendiri memberikan contoh pentingnya ikhtiar.

Walaupun hidup sederhana, dirinya tidak pernah mengemis atau meminta-minta. Salik-pengembara ini tetap bekerja di daerah-daerah manapun yang disinggahinya.

Tadzkiratul Auliya menukil kisah tentang sang salik dalam bekerja: “Aku (Syekh Ibrahim bin Adham) pernah menjadi seorang penjaga kebun. Pada suatu hari, sang pemilik kebun datang. Ia memintaku untuk mencarikan buah-buah delima yang masak.

Aku pun mengambilkan untuknya sejumlah buah delima. Ternyata, buah-buahan itu rasanya masam. Maka, aku mencari lagi buah delima lainnya yang kupikir masak. Sekeranjang buah-buah ini kuberikan kepadanya. Rasanya masam juga.

Majikanku berkata, ‘Bagaimana kau ini? Sudah lama menjadi penjaga kebun, tetapi masih tak bisa juga membedakan antara delima yang masak dan masam?’

photo
ILUSTRASI Manuskrip yang menampilkan Munajat Syekh Ibrahim bin Adham.  - (DOK PUTRAMELAYU)

Kukatakan kepadanya, ‘Aku ini penjaga kebun. Tugasku bukanlah memakan buah delima, apalagi mencicipi mana yang masam dan yang masak.’

Ia kemudian berkata, ‘Dengan sikap amanah ini, engkau pasti Ibrahim bin Adham.’

Setelah itu (terungkapnya identitas diri), aku bersiap pergi meninggalkan kebun tersebut.”

Sebelum bertolak ke Palestina, Ibrahim menyambangi sebuah pasar di pinggiran Makkah. Untuk bekal perjalanan, dirinya pun membeli sekeranjang kurma dari seorang pedagang tua di sana.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat ada sebutir kurma yang tergeletak di bawah wadah timbangan. Disangkanya, sebutir kurma kecil itu adalah bagian dari buah-buahan yang dibelinya. Usai membayar, ia pun langsung berangkat menuju al-Aqsha.

Sesudah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya lelaki ini tiba di tujuan. Seperti biasa, dirinya memilih tempat ibadah di bawah atap Kubah Batu. Saat sedang berzikir, tiba-tiba ia mendengar suara percakapan dua malaikat dari arah atas.

“Lihatlah, ini Ibrahim bin Adham, seorang ahli ibadah yang doa-doanya selalu dikabulkan Allah,” kata malaikat pertama.

“Namun, kini tidak lagi. Doanya tertolak karena beberapa bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang ditemukannya di dekat wadah timbangan seorang pedagang tua di Makkah,” timpal malaikat kedua.

 
Doanya tertolak karena beberapa bulan lalu ia memakan sebutir kurma yang ditemukannya.
   

Astaghfirullah al-azhim!” seru Ibrahim. Ia sangat terkejut, dan menyadari kesalahannya itu. Seketika, sufi ini bangkit dan bergegas pergi ke Makkah.

Akhirnya, sampailah ia ke pasar yang dahulu dikunjunginya. Sayang, pedagang tua itu sudah meninggal dunia. Kini, yang menjaga toko buah tersebut adalah putranya. Setelah menjelaskan secara detail pokok persoalan, anak itu mengaku tidak mempermasalahkan buah yang telah dimakan Ibrahim.

“Namun,” kata pemuda itu lagi, “Sesungguhnya, ayahku memiliki banyak anak. Jumlahnya 11 orang. Tidak hanya aku, tetapi ada juga saudara-saudaraku. Aku tidak berani mengatasnamakan mereka yang mempunyai hak waris yang sama denganku terkait dengan urusan Tuan ini.”

Setelah meminta alamat mereka masing-masing, Ibrahim langsung pergi menemui para anak almarhum itu satu per satu. Walau jarak rumahnya berjauhan, selesai juga permohonan maaf Ibrahim. Mereka semua setuju untuk menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka dahulu yang termakan sang mursyid.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Biografi Sufi, Ibrahim bin Adham

Berbagai riwayat menarasikannya sebagai seorang elite kerajaan yang kemudian menekuni tasawuf.

SELENGKAPNYA

Telusur Sejarah Tasawuf di Tanah Air

Buku ini menghadirkan sebuah narasi sejarah tasawuf dan dialektika pemikiran sufistik di Nusantara.

SELENGKAPNYA

Persidangan Jessica dan Kewajiban Saksi dalam Islam

Allah akan menghitamkan orang-orang yang menyembunyikan persaksian

SELENGKAPNYA