Warga memasukkan pulsa token listrik di rumahnya di Kota Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. | Prasetia Fauzani/ANTARA FOTO

Iqtishodia

Menghitung Nilai Ekonomi dan Pengurangan Emisi dari Penghematan Listrik

Dengan menghemat listrik, rumah tangga sudah berkontribusi terhadap upaya konservasi energi.

OLEH Sarah Alya Nafisah (Alumni PS S2 Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB); Dr Eka Intan Kumala Putri (Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB); Dr Nuva (Dosen Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan FEM IPB)

Konservasi energi dan pengelolaan energi menjadi isu penting mengingat kebutuhan terhadap energi semakin meningkat. Energi dan berbagai sektor kehidupan (industri, transportasi, rumah tangga, jasa, dan lainnya) tidak bisa terpisahkan.

Pada sektor rumah tangga, misalnya, energi digunakan untuk penerangan, memasak, pendingin atau penghangat ruangan serta penggunaan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari. Peningkatan penggunaan energi mengakibatkan peningkatan terhadap emisi CO2 yang dihasilkan karena keduanya memiliki hubungan yang positif. Sumber utama emisi CO2 adalah transportasi, listrik, dan industri, serta aktivitas utama manusia yang menggunakan energi.

Konservasi energi merupakan upaya sistematis, terencana, dan terpadu untuk melestarikan sumber daya energi dan meningkatkan pemanfaatan yang lebih efisien. Konservasi energi berfokus pada upaya yang dilakukan dalam mengurangi konsumsi energi di berbagai aspek.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2023 Pasal 30 menyebutkan konservasi energi dilakukan oleh pengguna energi di berbagai sektor, salah satunya adalah rumah tangga. Upaya konservasi energi yang dapat dilakukan pada level rumah tangga yaitu melalui penggunaan peralatan energi yang lebih efisien maupun pengurangan waktu penggunaan alat listrik di dalam rumah.

photo
Warga menggunakan mesin cuci listrik di tempat jasa pencucian pakaian di Tangerang, Banten, Minggu (26/6/2022). - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) pada tahun 2017 mengusung upaya penghematan energi dengan melakukan Gerakan Hemat Energi “Potong 10%”. Gerakan ini bertujuan untuk menghemat 1 watt dimulai dari langkah yang sederhana dengan cara mematikan lampu, TV, dan alat elektronik lain yang sering digunakan.

Guna mendukung gerakan penghematan energi listrik sektor rumah tangga di Kota Bogor, dalam kajian ini teknik penelitian survei digunakan dengan bantuan kuesioner untuk proses wawancara dengan responden rumah tangga di Kota Bogor. Sebanyak 125 responden pelanggan listrik yang tersebar pada enam kecamatan Kota Bogor, yaitu Bogor Utara, Bogor Selatan, Bogor Barat, Bogor Timur, Bogor Tengah, dan Tanah Sareal. Survei dilakukan dengan menghitung konsumsi listrik rumah tangga pada penggunaan alat listrik di dalam rumah yang digunakan sehari-hari.

Kemudian, dari data konsumsi listrik yang diperoleh selanjutnya dihitung nilai ekonominya dan emisi CO2 yang dihasilkan. Selanjutnya, data konsumsi listrik harian penggunaan alat listrik rumah tangga disimulasikan dengan menurunkan waktu pemakaian.

Nilai penurunan tersebut ditetapkan bersama responden dengan mempertimbangkan fungsi piranti tetap optimal dan kenyamanan pelanggan tidak terganggu. Selain itu, merujuk pada Peraturan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) No 13 Tahun 2012 tentang Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik, pada pasal 3 menyebutkan bahwa penghematan pemakaian tenaga listrik dapat dilakukan sebesar 20 persen selama enam bulan.

photo
Simulasi penghematan listrik. - (Dok IPB)


Berdasarkan hasil simulasi penghematan 20 persen, total kWh yang dikonsumsi rumah tangga pada enam kecamatan di Kota Bogor adalah 39,96 kWh/hari, jumlah tersebut berkurang dari konsumsi sebelumnya yaitu 49,55 kWh/hari. Jika penghematan 20 persen pada konsumsi alat listrik dirupiahkan, maka nilai ekonomi yang dihasilkan adalah Rp 44.790,15/hari dari sebelumnya sebesar Rp 58.742,05/hari.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah emisi CO2 yang dihasilkan rumah tangga pada enam kecamatan di Kota Bogor sebelum melakukan penghematan adalah sebesar 43,11 kgCO2, kemudian berkurang menjadi 34,77 kgCO2 setelah melakukan penghematan 20 persen. Artinya, rata-rata rumah tangga pada enam kecamatan di Kota Bogor dapat mengurangi emisi CO2 sebesar 5,79 kgCO2 setiap harinya.

Jika dikalikan, seluruh pelanggan PLN rumah tangga di Kota Bogor 147.579, maka emisi yang dapat dikurangi adalah sebesar 855.115,08 kgCO2/hari atau 25.653.452,44 kgCO2/bulan. Hasil simulasi penghematan 20 persen cukup besar terkait dengan pengurangan emisi CO2 yang dihasilkan. Dengan pengurangan waktu pemakaian lima alat listrik saja, rumah tangga berpotensi menciptakan lingkungan yang lebih lebih baik kedepannya.

 
Hasil simulasi penghematan 20 persen cukup besar terkait dengan pengurangan emisi CO2 yang dihasilkan
 

Simulasi penghematan pada penggunaan alat listrik dapat direalisasikan dengan mudah melalui langkah-langkah seperti menempelkan post-it/stiker kertas pada stop kontak maupun saklar lampu. Selain itu, penggunaan alarm pada ponsel dapat membantu sebagai pengingat agar tidak menggunakan listrik secara berlebihan.

Penggunaan timer pada remote AC dapat menjadi opsi sebagai penggunaan hemat energi, mengatur waktu yang cukup dalam penggunaan AC saat tidur. Hal ini bertujuan untuk mengatur kebutuhan peralatan listrik terhadap pemakaian pribadi di dalam rumah. Potensi penghematan listrik dari sektor rumah tangga sangat besar.

Berdasarkan simulasi penghematan penggunaan energi listrik rumah tangga sebesar 20 persen dengan mengurangi jam pemakaian alat elektronik rumah tangga, dapat mendukung upaya penghematan energi yang dikampanyekan oleh Kementerian ESDM. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) No 13 tahun 2012.

photo
Warga mengisi ulang token listrik PLN di Rusun Cipinang Besar Selatan, Jakarta, beberapa waktu lalu. - (Republika/Agung Supriyanto)

Ada beberapa cara melakukan penghematan pemakaian tenaga listrik melalui sistem tata udara. Pertama, menggunakan AC hemat energi (berteknologi inverter) dengan daya sesuai dengan besarnya ruangan. Kedua, mematikan AC jika ruangan tidak digunakan. Ketiga, memasang termometer ruangan untuk memantau suhu ruangan.

Adapun penghematan pemakaian tenaga listrik melalui sistem tata cahaya dapat dilakukan dengan cara menggunakan lampu hemat energi sesuai dengan peruntukannya dan mengurangi penggunaan lampu hias (accessories). Selain hal tersebut, dalam rangka mendorong gaya hidup hemat energi pada masyarakat, KESDM terus mengampanyekan gerakan hemat energi melalui berbagai pendekatan, salah satunya dengan menggaungkan gerakan 3M, yaitu mematikan lampu jika tidak digunakan, mencabut kabel, dan mengatur suhu pendingin ruangan menjadi 25 derajat C.

Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 118 dari 125 responden bersedia melakukan penghematan dengan cara mengatur suhu ruangan (penggunaan AC) menjadi 20 derajat C, 114 responden bersedia mengatur suhu ruangan menjadi 23 derajat C, dan 91 responden bersedia mengatur suhu ruangan menjadi 25 derajat C.

Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil simulasi, rumah tangga di Kota Bogor bersedia melakukan penghematan energi listrik melalui pengaturan suhu ruangan dan pengurangan waktu pemakaian. Artinya, rumah tangga di Kota Bogor sudah berkontribusi mendukung upaya konservasi energi seperti yang tertuang pada Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 Pasal 33 tentang Konservasi Energi Sektor Rumah Tangga. Selain itu, hal ini juga dapat mendukung kampanye yang dilakukan oleh Kementerian ESDM untuk gerakan hemat energi.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat