Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir | Wihdan/Republika
23 Feb 2020, 10:33 WIB

Dunia Ekstrem Indonesia

Dalam dunia serba ekstrem, moderasi jadi jalan yang terjal.

Oleh Haedar Nashir

 

Dunia Ekstrem Indonesia

 

Terkait

Musuh terbesar Pancasila ialah agama! Indonesia pun menjadi gaduh. Jika pernyataan kontroversial itu lahir dari fakta kelompok kecil umat yang memandang Pancasila sebagai thaghut, kesimpulan tersebut jelas salah secara logika maupun substansi.

 

Jika Anda melihat kucing hitam hatta jumlahnya banyak, jangan simpulkan semua kucing berbulu hitam. Ini pelajaran mantik paling elementer. Ketika kesalahan logika dasar itu dibenarkan dan diulangi, boleh jadi ada masalah lain yang lebih problematik di ranah personal dan institusional.

 

Kesalahan subtansi menjadi lebih parah. Agama manapun tidak bertentangan dan memusuhi Pancasila. Para pendiri bangsa dari semua golongan telah bersepakat menjadikan Pancasila ideologi negara. Di dalam Pancasila terkandung jiwa dan nilai ajaran agama yang luhur. Bung Karno bahkan berkata, dengan sila Ketuhanan, maka bukan hanya manusianya, melainkan Negara Indonesia itu bertuhan.

 

Indonesia sebenarnya tak perlu gaduh, jika siapa pun yang salah berjiwa kesatria. Bila kearifan itu lahir tanpa kepongahan, reaksi publik tentu positif. Klarifikasi pun tidak diperlukan jika sekadar apologia “post factum”, mencari pembenaran di kemudian hari dengan merakit argumen baru yang esensinya bermasalah. Apalagi, setelah ini meluncur pernyataan serupa yang kian riuh!

 

Paradigma Ekstrem

 

Menyatakan agama musuh terbesar Pancasila sama bermasalah dengan memandang Pancasila sebagai thaghut modern. Setali mata uang dengan pemikiran jika Indonesia ingin maju, tirulah Singapura yang menjauhkan agama dari negara. Berbanding lurus dengan pandangan bila negeri ini ingin keluar dari masalah, harus menjadi negara khilafah.

 

Sejumlah kegaduhan di negeri ini terjadi tidak secara kebetulan. Di ibalik kontroversi soal agama versus Pancasila serta pandangan sejenis lainnya, terdapat gunung es kesalahan paradigma dalam memosisikan agama dan kebangsaan. Di dalamnya bersemi paradigma ekstrem (ghuluw, taṭarruf) dalam memandang agama, Pancasila, keindonesiaan, dan dimensi kehidupan lainnya.

 

 
Pikiran ekstrem dalam hal apa pun akan melahirkan pandangan dan tindakan yang berlebihan. Karena sudah lama dicekoki oleh pemikiran bahwa sumber radikalisme-esktremisme dalam kehidupan berbangsa ialah agama dan umat beragama, lahirlah pandangan dan orientasi yang serbaekstrem tentang agama dan kebangsaan. Agama seolah racun negara dan Pancasila.
 

 

Apalagi, ada realitas induksi ketika sebagian kecil umat beragama mengembangkan paham ekstrem dalam menyikapi dunia dan negara. Kelompok ini dikenal beraliran takfiri dengan memandang pihak lain salah, sesat, dan kafir. Negara-bangsa atau bentuk negara lainnya dipandang sebagai thaghut. Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia produk dari sistem thaghut itu yang harus dilawan.

 

Pola pandang ekstrem beragama ala takfiri ini melahirkan pengikut (//follower//) fanatik buta. Sebaliknya, melahirkan reaksi balik yang sama ekstrem. Tumbuh pula kelompok ekstrem liberal-sekuler, yang tampil dalam kekenesan baru. Dalam situasi paradoks ini negara seolah ikut andil dalam memproduksi ekstremitas melalui program deradikalisme sehingga kian menambah rumit persilangan dunia ekstrem di Republik ini. Plus, berbagai persoalan bangsa yang dibiarkan akut dan menjengkelkan.

 

Dunia serbaekstrem inilah yang melahirkan konflik antarpemikiran yang sama-sama keras. Agama versus Pancasila. NKRI versus khilafah. Ekstrem kanan lawan ekstrem kiri. Radikal dilawan radikal, melahirkan radikal-ekstrem baru. Tariq Ali menyebutnya sebagai "the Clash of Fundamentalism", sementara Michael Adas mencandranya sebagai fenomena sosiologis “the sectarian respons”. Konflik kebangsaan ini akan terus berlangsung jika tidak ada peninjauan ulang terhadap paradigma keindonesiaan yang ekstrem dalam hegemoni nalar positivistik, kuasa monolitik, dan monoperspektif di Republik ini.

 

Jalan Terjal Moderasi

Indonesia menghadapi jalan terjal dunia ekstrem. Dua kecenderungan antagonistik dalam relasi agama dan negara mengemuka di negeri ini. Pertama, ekstremitas atau keekstreman dalam memandang radikalisme hanya tertuju pada radikalisme agama, khususnya Islam. Akibatnya, negara dan kalangan tertentu terjebak pada kesalahan pandangan dalam menentukan posisi agama dan negara. Pancasila dan Indonesia pun dikonstruksi dengan paradigma liberal-sekuler.
 

Kedua, pola pikir keagamaan yang ekstrem, yang memandang kehidupan bernegara serbasalah, thaghut, dan sesat. Pandangan ini beriringan dengan kebangkitan agama era abad tengah yang teosentrisme, millenari, dan hitam-putih. Paham ekstrem keagaamaan ini sering didukung diam-diam oleh mereka yang kecewa terhadap keadaan—dalam istilah Taspinar ekstrem karena deprivasi relatif—sehingga lahir revitalisasi paham ekstrem keagamaan.

 

Bagaimana solusinya? Kembangkan moderasi atau wasathiyah, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. Masalah moderasi telah dipilih banyak pihak untuk melawan masalah mendesak saat ini, yaitu ekstremisme (Haslina, 2018). Jika ingin terbangun kehidupan beragama, berbangsa, dan bersemesta yang moderat, jalan utamanya niscaya moderasi, bukan deradikalisasi.

 

Paradigma deradikalisme menimbulkan benturan karena ekstrem dilawan ekstrem dalam oposisi biner yang sama-sama monolitik. Membenturkan agama versus Pancasila maupun ide mengganti salam agama dengan salam Pancasila secara sadar atau tidak merupakan buah dari alam pikiran deradikalisme yang esktrem. Jika paradigma ini terus dipertahankan, akan muncul lagi kontroversi serupa yang menghadap-hadapkan secara diametral agama dan kebangsaan, yang sejatinya terintegrasi.

 

Mayoritas umat beragama di negeri ini sejatinya moderat, termasuk umat Islam sebagai mayoritas. Masyarakat Indonesia pun dalam keragaman suku, keturunan, dan kedaerahan sama moderat. Hidup di negeri kepulauan dengan angin tropis dan keindahan alamnya membuat masyarakat Indonesia berkepribadian ramah, lembut, toleran, dan saling berinteraksi dengan cair sehingga lahir Bhinneka Tunggal Ika. Pancasila dan negara-bangsa telah diterima sebagai kesepakatan nasional yang dalam paradigma Muhammdiyah disebut Darul Ahdi Wasyahadah.

 

Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai dasar dan ideologi moderat. Sekali Pancasila dan Indonesia dibawa ke paradigma ekstrem, maka berlawanan dengan hakikat Pancasila dan keindonesiaan yang diletakkan oleh para pendiri negara. Siapa pun yang membenturkan Pancasila dengan agama dan elemen penting keindonesiaan lainnya pasti ahistoris dan melawan ideologi dasar dan nilai fundamental yang hidup di bumi Indonesia. Jika ingin Indonesia moderat, jangan biarkan kehidupan keagamaan dan kebangsaan disandera oleh sangkar-besi paradigma dunia ekstrem! n


×